Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 6


__ADS_3

Karena sekitar 2 minggu lagi Zia akan berhadapan dengan kegiatan KKN. Jadi segala hal yang berkaitan dengan pernikahannya sudah ia cicil mulai dari sekarang.


Dan hari ini sehari setelah acara lamaran Zia beserta ayah bundanya dan Arvan bersama ayah ibunya pergi ke salah satu butik untuk membuat gaun pernikahannya. Semua keluarga inti ikut karena akan diukur untuk pembuatan seragam keluarga.


"Jadi untuk mempelai wanitanya akad pake kebaya adat, terus untuk resepsi malam baru pakai gaun. Begitu?" kata desainer tersebut mengkonfirmasi ulang agar sesuai dengan konsep.


"Iya begitu." jawab Zia.


"Kalau untuk para ibu gimana?"


"Buat orang tua mah dibuat dress aja kali ya mbak Nada." kata bu Aliya.


"Iya begitu aja."


"Mbak, buat Vina juga bikinnya dress aja. Biar bisa kepake juga diacara lain. Kalau kebaya kan jarang dipake." kata Vina pada desainer tersebut yang kebetulan sudah dikenal.


"Terus untuk prianya akad pakai setelan adat. Resepsinya pake tuxedo modern. Gitu ya?" kata sang desainer pria.


"Iya."


"Yaudah kalau gitu kita ukur dulu."


Setelah pengukuran dan menentukan warna untuk keluarga. Satu persatu sudah meninggalkan butik tersisa Arvan, Zia dan Vina sebagai orang ketiga.


"Jadi tinggal pengantinnya nih mau warna apa?"


"Kalau untuk akad putih pasti." kata Arvan.


"Terus buat resepsi warna apa?"


"Ada katalog warnanya gak mbak? Tapi pengennya warna-warna pastel." kata Zia.


"Iya ada sebentar."


"Nih sok dipilih aja dulu."


"Mau warna apa?" tanya Zia pada Arvan, setelah menerima katalog warna.


"Terserah aja." jawab Arvan.


"Mana ada warna terserah. Kayak cewe lagi ngambek deh Abang haha." kata Vina.


"Iya maksudnya warna apa aja Abang ikut."


"Bener ya warna apa aja?" kata Vina, yang langsung diangguki Arvan.


"Pink bagus loh Zi. Kalian kan konsepnya pastel. Lucu tuh warna baby pink." kata Vina.


"Iya lucu sih." jawab Zia. Zia ini menyukai warna-warna pastel. Jadi konsep pernikahan juga maunya pastel biar manis, begitu katanya.


"Boleh gak warna baby pink?" tanya Zia pada Arvan.


"Enggak. Enggak yang benar aja. Masa pake warna pink." protes Arvan.


"Tapi ini bukan pink yang mencolok kok." kata Zia.


"Iya tapi yang benar aja. Pink itu kan identik warnanya perempuan."


"Mana ada warna mandang gender. Perempuan, sah sah aja pakai warna hitam, biru tua." kata Vina.


"Tapi benar lucu loh warna baby pink. Apalagi Zianya putih jadi cerah." kata mbak desainer.


"Benar gak boleh warna baby pink?" tanya Zia sambil melihat Arvan.


"Jangan ya, masih ada warna lainkan? Aku gak PD pakainya. Kan acaranya bukan sejam dua jam." tolak Arvan. Yasudah Zia juga gak bisa dan gak boleh maksa kan? Ini pernikahan berdua jadi keduanya harus nyaman. Gak boleh ada yang terpaksa. Begitu pikir Zia.


"Kalau warna peach gimana?" kata Zia sambil menunjukan contoh warna pada Arvan.


"Ini warna pink lagi?"


"Ini peach."


"Gak ada bedanya sama yang tadi. Ini pink juga. Jangan deh." kata Arvan kembali menolak. Aneh ya Arvan ini, tadi bilang terserah. Tapi sekarang yang ini jangan, yang itu jangan.


"Warna baby blue deh. Kemarin kan pas lamaran gak apa apa pakai warna baby blue." kata Zia lagi.


"Yang lain deh." kata Arvan.


"Yang netral aja gitu warnanya emang gak ada? Biru tua, abu tua, hitam, hijau tua, coklat atau apa gitu. Jangan warna-warna peminim." kata Arvan lagi.


"Ya gak cocok sama tema dong bapak Arvan yang terhormat." kata Vina.


Zia kembali menawarkan beberapa warna yang menurutnya bagus. Tapi Arvan lagi-lagi menolak pilihannya. Sudah 8 warna yang Zia rekomendasikan dan ditolak Arvan. Lama-lama kesal juga, Zia yang pilihannya tidak pernah sesuai dengan kemauan Arvan akhirnya menyerah.

__ADS_1


"Yaudah nih sekarang pilih aja maunya warna apa. Aku ikut aja." kata Zia sambil meyerahkan katalog warna pada Arvan. Arvan menatap Zia sekilas. Arvan kaget, Ia kira Zia akan kembali memilih.


Sedangkan mbak dan mas desainer sejak tadi sudah meninggalkan mereka bertiga. Karena faham calon pengantin biasanya sering beda pendapat ketika menentukan warna dan model pakaian.


"Pilih warna apa aja sesukanya, Aku gak akan protes kok. Aku ke kamar mandi dulu ya." pamit Zia pada Arvan dan Vina.


"Abang sih rewel banget. Jadi BT kan Zia nya. Gimana sih, tadi bilangnya terserah. Tapi yang Zia pilih Abang tolak semua. Lagian kan kemarin pas bahas konsep warna abang udah acc sama maunya Zia, pake warna pastel. Sekarang udah tinggal milih warna pakaian malah rewel." kata Vina yang menjadi kesal pada Abangnya.


"Lagian nih ya. Masalah warna kan bisa dikombinasi. Misalnya tadi warna pink. Kan bisa kemejanya warna pink tapi tuxedonya nanti warna abu gitu kan bisa. Gak harus dari atas sampai bawah warna pink." kata Vina.


"Warna baby blue tuh kenapa gak mau? Kemarin lamaran aman aman aja pake kemeja baby blue." kata Vina lagi.


"Pikirkan deh. Aku susul Zia ke toilet dulu. Terus jangan lupa minta maaf." kata Vina.


"Minta maaf?"


"Bang, perempuan itu biasanya punya wedding dream. Terus setahu aku biasanya kalau menjelang pernikahan begini suka sensitif. Jadi abang baiknya tekan dikit egonya. Kalaupun benar-benar gak setuju. Ya ngobrol tapi jangan di tempat orang begini." kata Vina lagi sebelum menyusul Zia ke toilet.


Zia yang baru keluar toilet berpapasan dengan Vina yang hendak menyusulnya.


"Vina mau ke toilet juga? Tau gitu tadi barengan." kata Zia.


"Zi, maafin Abang ya. Gitu emang suka nyebelin, rewel, banyak mau." kata Vina.


"Iya." jawab Zia singkat. Mereka sama-sama kembali ke tempat semula.


"Dari warna yang tadi, yang paling kamu mau warna apa?" tanya Arvan ketika Zia dan Vina sudah kembali dari toilet. Arvan mengalah, Ia mau setuju dengan warna apapun pilihan Zia.


"Terserah." jawab Zia. Vina melirik Arvan seolah-olah berkata 'SUKURIN'


"Aku serius, kamu mau warna apa? Aku gak nolak." kata Arvan.


"Iya aku juga serius. Terserah mau warna apa." mendengar jawaban Zia membuat Arvan tarik nafas dalam. Ia melihat wajah Zia sekilas. Wajahnya sudah tidak seantusias tadi. Arvan jadi bingung harus memilih warna apa diantara banyak warna yang tadi Zia tawarkan.


Warna biru muda atau baby blue akhirnya dipilih untuk menjadi warna kedua setelah putih. Arvan yang memutuskan, karena jujur saja walaupun ia mengalah. Tapi tetap saja tidak percaya diri ketika harus berdiri berjam-jam di depan tamu undangan dengan mengenakan paju pink.


*


Sehari ini mereka baru ke butik untuk membuat baju dan ke toko perhiasan untuk custom cincin pernikahan. Di sini Alvin mulai meredam ego. Ia lebih banyak bertanya pada Zia. Zia juga tidak banyak menuntut dan lebih banyak mengikuti mau Arvan. Karena selain sudah hilang mood, Zia juga tidak ingin kejadian di butik terulang lagi.


Akhirnya kegiatan hari ini selesai. Zia diantarkan pulang oleh Arvan dan Vina. Kurang lebih 1 jam perjalanan dan sudah hampir maghrib mereka baru sampai di rumah Zia.


"Eh adek udah pulang." sapa bunda yang kebetulan sama baru pulang.


"Iya bun." jawab Zia.


"Oh iya Arvan sama Vina shalat maghrib disini aja. Kalau kerumah nanti gak keburu." ajak bunda.


"Iya udah hayu masuk udah adzan tuh." kata ayah.


Mereka sudah bersiap untuk shalat berjamaah di rumah karena sudah keburu adzan jika ke masjid.


"Arvan imam ya silahkan?" kata Ayah mempersilakan.


"Eh iya yah." kata Arvan gugup.


Selesai shalat maghrib, Arvan dan Vina masih di rumah Zia. Mereka masih di rumah Zia hingga makan malam bersama.


Seminggu menjelang KKN, Zia harus disibukan dengan persiapan KKN dimulai dari pembagian kelompok serta survey ke lokasi dan perencanaan kegiatan. 


Rencana Allah memang indah Zia dan Vina satu kelompok untuk KKN dan satu teman Zia lagi yaitu Aya. Hari ini sesuai kesepakatan mereka akan melakukan survey ke lokasi. Untuk mencari rumah tinggal mereka salama sebulan di sana dan bersosialisasi dengan pengurus desa serta tokoh masyarakat disana.


"Gimana dek persiapannya?" tanya Rivan.


"Persiapan apa bang?" tanya Zia.


"Persiapan KKN lah. Eh iya adek kan punya dua persiapan ya lupa abang. Persiapan Nikah sama KKN. Awas jaga kesehatan. Udah siap banget nikah dek, abang dilangkahi nih haha." Kata Rivan.


"Ah abang goda aja terus. Ya abang ada gak anak gadis orang yg mau dilamar biar barengan gitu hehe." jawab zia seenaknya


"Gampang ya ngomongnya kirain lamar anak orang itu kaya beli permen kali yah duh. Abang itu lelaki dek. Pertimbangan abang untuk menikah bukan sekedar menikah dan asal sah. Tapi abang harus bisa menjamin kalau anak gadis orang yang abang ambil dari keluarganya itu bisa hidup layak dari segala sisi." kata Rivan.


Zia terkesima mendengar perkataan Rivan, biasanya abangnya itu selalu bercanda. Tapi saat ini abangnya begitu serius.


"Iya adek percaya sama abang." ucap Zia.


Sampai di rumah Zia langsung bergegas ke kamar untuk membersihkan diri dan istirahat.


Saat sedang bersantai sambil membaca buku tiba tiba hp nya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Abang Arvan


'Assalamualaikum . Ada di rumah? Istirahat ya, jaga kesehatan. Persiapan pernikahan saja udah melelahkan apalagi ditambah persiapan KKN.  Kita berdo'a semoga semuanya bisa berjalan lancar sesuai rencana.'

__ADS_1


Ya begitulah pesan yang masuk dari arvan. Kalau boleh jujur sebetulnya Zia sedang malas sekali dengan Arvan akhir-akhir ini. Karena saat persiapan ini tuh mereka banyak sekali beda pendapatnya.


Zia


'Iya.'


Karena terlalu lelah Zia pun sudah tertidur dengan lelap.


Siang ini adalah jadwal Zia bersama beberapa kawannya untuk liqo, kali ini Zia berangkat bersama Anin dan Aya.


Setelah liqo Zia beserta kawan kawannya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menjenguk kawannya yang sedang sakit. Sampai di rumah sakit rupanya rumah sakit tempat temannya dirawat itu adalah rumah sakit yang sama dengan tempat abang dan calon suaminya itu bekerja.


Karena Anin dan Aya ada acara lain Zia tak bisa pulang bersama mereka. Zia mencoba menelepon abangnya.


On the phone


Zia : Assalamualaikum. Abang.


Rivan : Waalaikumsalam. Ada apa adek?


Zia : Abang hari ini pulang jam berapa?


Rivan : Abang sebentar lagi selesai tinggal visit beberapa pasien lagi. Kenapa? Adek dimana?


Zia : Adek di rumah sakit.


Belum selesai Zia berbicara Rivan langsung memotong ucapannya


Rivan : Astagfirullah adek kenapa di rumah sakit adek sakit? Di rumah sakit mana? Abang bilang apa jaga kesehatan sakit kan. Sekarang kasih tau abang adek di rs mana nanti abang kesana.


Rivan panik. Sementara Arvan yang sedang berada di ruangan yang sama dengan Rivan pun ikut panik. Ia mendekat ke arah Rivan.


Zia : Ya Allah abang, sayang banget ya sama adek hehe. Mangkanya dengar dulu adek gak sakit, adek tadi jenguk teman. Ini adek di rumah sakit tempat abang kerja, kebetulan temen adek ada kegiatan lain jadi gak bisa pulang bareng.


Rivan : Ya Allah begitu, abang kira adek sakit. Cemas abang, eh iya ini ada Arvan juga loh dek. Kayaknya cemas juga dia hahaha.


Rivan mulai dengan kebiasaannya menggoda adiknya dan calon adik iparnya. Arvan yang digoda jadi salah tingkah. Sedangkan zia pipinya sudah memerah untung tak ada yang melihat.


Rivan : Adek kesini aja ke ruangan abang. Abang sekitar 1 jam lagi pulang.


Zia : Gak usah lah adek tunggu di sini aja ya di kamar rawat teman adek dia gak ada yg jaga sekarang. Abang kabari kalau udah selesai ya. Udah dulu ya bang. Assalamu'alaikum.


Rivan : Oh gitu yasudah iya nanti abang kabari. Wa'alaikumsalam.


Setelah menutup telepon Rivan langsung ditanyai oleh Arvan.


"Ada apa Van? Apa katanya?" kata Arvan.


"Itu Zia lagi jenguk temannya yang sakit di sini di rumah sakit ini juga. Tadi dia nanya kapan pulang. Mau bareng aku gitu." kata Rivan.


"Ah syukurlah." kata Arvan tak kalah lega.


"Panik kamu Ar?" tanya Rivan.


"Yaiyalah namanya juga sama calon istri. Mangkanya segera Van biar rasakan juga haha." kata Arvan sedikit bergurau.


"Sombongnya. Gak jadi aku restui, tahu rasa kamu." kata Rivan pura pura kesal.


"Jangan lah abang Rivan. Hahaha." kata Arvan sambil tertawa.


"Udahlah aku mau visit dulu." kata Rivan.


Mereka pun keluar ruangan untuk melalukan visit. Saat Arvan hendak masuk ke dalam ruangan pasien bersama dua orang perawat. Bertepatan dengan Zia yang keluar ruangan hingga mereka berpapasan di depan pintu.


"Zi, tunggu sebentar." Kata Arvan singkat sambil menatap Zia yg tertunduk.


"I.. Iya." jawab Zia gugup.


Zia menunggu Arvan di kursi depan kamar rawat temannya. Tidak lama Arvan keluar bersama para perawat. Kemudian para perawat permisi untuk pergi ke nurse station.


"Ayo ikut. Rivan mungkin masih visit. Tunggu di ruangannya aja." Kata Arvan pada Zia dengan lembut.


"Aku disini aja, gak enak sama dokter yang lain." Jawab zia


"Ruangan Rivan hanya diisi oleh tiga dokter itu Rivan, abang dan Randy. Tapi Randy sedang cuti hari ini. Tunggu di sana, daripada menunggu di sini banyak orang berlalu lalang. Masuk ke kamar teman mu juga kan tidak memungkinkan karena ada lelaki lain kan? Aku gak akan masuk karena masih harus visit." kata Arvan lagi.


Zia hanya mengangguk kemudian berjalan mengikuti Arvan yang hendak mengantarnya ke ruangan Rivan. Ingatkan Arvan jika Zia saat ini masih malas berkomumikasi dengan Arvan.


***


To be continued...


See you next part...

__ADS_1


__ADS_2