Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 2


__ADS_3

~Selamat Membaca~


Selesai kajian dan shalat maghrib berjamaah masing-masing peserta kajian meninggalkan area masjid. Begitu juga dengan Zia dan Vina. Mereka berjalan berdampingan menuju ke parkiran mobil.


"Kamu sama abang kamu Vin?" tanya Zia.


"Iya. Abangku sama Alvin udah di mobil. Aku duluan gak apa apa Zi?" tanya Vina.


"Ya gak apa apa dong. Aku juga paling sebentar lagi." kata Zia.


"Yaudah aku duluan ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dari dalam mobil yang memang posisinya tidak jauh dari tempat Vina dan Zia ngobrol. Diam-diam ada seseorang yang memperhatikan mereka, sosok itu ialah Arvan. Memang sejak pertama Arvan bertemu Zia dan tidak sengaja menatap wajahnya, sejak saat itu Arvan merasa ada sesuatu yang menarik yang membuatnya ingin tau lebih jauh, yang membuatnya terasa berbeda. Mulai saat itu Arvan mulai mencari tahu. Tapi nampaknya Allah sangat baik padanya hanya dalam sehari ia bisa bertemu dengan wanita itu lagi.


Arvan ketahuan tengah fokus menatap Zia oleh Alvin yang duduk disampingnya. Alvin merasa aneh dengan Abangnya itu, tidak biasanya Alvin melihat Arvan menatap lawan jenis seintens itu.


"Lihat apa bang?" tanya Alvin sambil mengikuti arah pandang Arvan.


"Cantik ya?" kata Alvin. Tanpa sadar Arvan mengangguk, seolah membenarkan ucapan Alvin.


"Tapi sayang gak boleh dipandang lama lama." kata Alvin lagi.


"Apa sih Vin. Abang gak lihat apa apa kok." jawab Arvan.


"Apaan. Alvin lihat kok, Abang dari tadi natap perempuan itu. Yang disana sama Vina kan? Seneng nih Alvin kalau abang kayak begini. Akhirnya..." ucap Alvin.


"Akhirnya apa?" tanya Arvan.


"Akhirnya abang jatuh cinta."


"HEH." tegur Arvan. Sementara Alvin hanya tertawa.


"Oh iya kamu tahu dia siapa?"


"Temen Vina kayaknya. " jawab Alvin seenaknya.


"Yah kalau itu abang tau. Abang kemarin antar dia sama Vina ke kampus barengan." jawab Arvan.


"Kalau abang udah tahu kenapa tanya Alvin?"


"Ya kali aja kan kamu lebih tahu." jawab Arvan.


Tengah asik ngobrol dengan Alvin, Vina masuk ke dalam mobil.


"Ngobrol apa sih? Dah yuk pulang." ajak Vina.


"Itu teman kamu yang kemarin kan dek?" tanya Arvan.


"Iya."


"Sering ikut kajian ini juga?"


"Sering banget, tiap kajian malah. Vina aja kenalnya dikajian."


"Kok belum pulang dia?"


"Belum masih nunggu orang katanya."


"Nunggu siapa?"


"Gak tau tadi lupa nanya aku." kata Vina.


"Kenapa sih? Tumben abang kepo sama orang?"


"Bukan kepo lagi Vin. Dari tadi ditatap terus gak kedip." ucap Alvin.


"Wah serius?"


"Iya beneran."


"Udah. Malah ghibah, mending pulang." kata Arvan mulai menjalankan mobilnya.


Diam-diam Arvan masih melihat melalui kaca spion. Terlihat dari arah belakang Zia, ada seorang laki-laki yang Arvan kenali muncul dan langsung merangkul bahu Zia dan mengusap kepala Zia. Mereka berjalan menuju mobilnya. Interaksi yang manis dan sangat dekat.


"Woy bang fokus bang." tegur Alvin.


"Vin teman kamu itu datang ke kajian sama saudaranya?" tanya Arvan pada Vina.


"Atau sama abangnya? Atau mungkin udah punya suami? Atau calon suami?" tanya Arvan beruntun.


"Heh? Vina gak tau bang. Kita jarang ketemu kalau ketemu paling dikajian. Kalau chat juga gak pernah bahas itu." jawab Vina.


Jujur saja Arvan yang melihat interaksi antara Rivan dan Zia mulai berspekulasi dengan pikirannya. Iya yang barusan Arvan lihat adalah Rivan, sahabatnya sekaligus rekan kerjanya.


'Apa mungkin dia itu istrinya Rivan? Kenapa Rivan tidak pernah cerita? Atau mungkin dia sepupunya? Masa sepupu, kan bukan mahram. Kayaknya Rivan gak mungkin main rangkul-rangkul. Mungkin dia adiknya Rivan? Tapi sejak kuliah dan berteman baik dengan Rivan hampir tidak pernah Rivan cerita tentang adiknya?' Arvan bingung dengan pertanyaan yang bermunculan di otaknya.


"Abang kenapa sih? Tumben banget kepo sama teman Vina dan sampai banyak tanya begini?" tanya Vina yang ikut heran dengan tingkah Arvan.


"Abang tertarik ya sama temannya Vina?" tanya Alvin yang membuat Arvan kaget dan menginjak rem secara mendadak.


"Astagfirullah. Abang hati-hati dong. Bahaya tahu. Iya oke nanti Vina kasih tahu Abang tentang Zia. Abang gak usah sampai begini bahaya." tegur Vina.


"Abang kenapa sih sampe gak fokus begini? Membahayakan orang lain tahu, bukan cuma kita." tegur Alvin.


"Vina, kayaknya kita bakal punya kakak ipar sebentar lagi." sambar Alvin.

__ADS_1


"Apa sih Alvin. Abang kalau gak fokus, gantian deh sama Alvin nyetirnya bahaya tahu." kata Vina kesal.


"Enggak. Udah diam kalian jangan banyak omong." kata Arvan memutus obrolan dan menjalankan mobilnya.


*


Hari - hari berlalu satu minggu sudah setelah Arvan bertemu gadis beberapa waktu ini mengganggu fokusnya. Setelah pertemuan selesai kajian minggu lalu, Arvan belum pernah bertemu lagi bahkan saat kajian hari ini pun Arvan tidak lagi melihatnya.


Selama seminggu ini pula, Arvan sering menyertakan nama wanita tersebut yang Arvan ketahui bernama Zia, ketika Arvan berdo'a dalam shalatnya agar Allah memberikan petunjuk atas apa yang ia rasakan saat ini. Pernah sekali Arvan melihat sosok tersebut dalam mimpi dia menyapa Arvan dengan senyumnya setelah itu lenyap tidak pernah datang lagi.


Hari ini Arvan sudah bersiap pergi ke rumah sakit, tidak sabar Arvan ingin bertemu Rivan, karena sebenarnya bukan hanya ingi. bertemu. Arvan ingin bertanya pada Rivan, mengenai siapa benernya gadis yang tampak sangat akrab bersamanya itu. Jujur setelah melihat interaksi Zia dan Rivan, hal itu semakin mengganggu fokusnya. Maka dari itu Arvan ingin segera menuntaskan agar bisa mendapat jawaban dan mungkin hatinya bisa lebih lega.


"Assalamualaikum." Arvan masuk keruangan setelah mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam." jawab Rivan yang sudah berada di ruangan.


"Sampai jam berapa jadwal kamu hari ini Van?" tanya Arvan.


"Jam 5 sore ada apa?" tanya balik Rivan.


"Boleh gak ngobrol dulu nanti sebelum pulang?" tanya Arvan hati hati.


"Dih geli. Biasanya juga ngobrol tinggal ngobrol. Pake izin dan nanya jadwal segala. Kayak sama siapa aja kamu Ar." jawab Rivan.


"Ya kan kali ini serius dikit obrolannya." kata Arvan.


"Tumben? Apaan sih? Jadi penasaran." tanya Rivan.


"Yaudahlah nanti. Sekarang jam kerja. Waktunya kerja, bukan ngobrol. Kalau malah ngobrol makan gaji buta namanya."


*


Habis jam kerja, Rivan segera ke mushola untuk menunaikan shalat ashar. Tadi ia sangat sibuk karena ada beberapa pasiennya yang kritis.


Usai shalat ia melihat ponselnya yg bergetar terus menerus, ternyata ada beberapa panggilan dari Arvan. "Apaan sih gak sabaran." gerutu Rivan sebelum menerima panggilan Arvan.


Rivan : Assalamu'alaikum.


Arvan : Wa'alaikumsalam kamu dimana? Aku tunggu di ruangan ya.


Rivan : Mau bahas apa sih? Gak sabaran banget kayaknya.


Arvan : Ada lah pokoknya.


Rivan : Apasih serius banget kayanya.


Arvan : Iya udah pokoknya cepat ke ruangan.


Rivan : Iya dokter Arvan iya. Assalamualaikum.


Setelah shalat Rivan langsung bergegas ke ruangan.


"Boleh deh." jawab Arvan


Mereka berjalan bersamaan keluar dari ruangan menuju resto yang memang tidak jauh dari Rumah Sakit, Arvan dan Rivan langsung memesan makanan dan minuman seleranya masing-masing.


"Apa sih Ar tegang banget kayaknya?" tanya Rivan.


"Tanya aja Ar. Aku siap mendengarnya dan siap jawab juga hahaha." kata Rivan dengan tawanya.


Arvan dan Rivan merupakan teman kuliah bahkan satu kelas saat mereka kuliah.


"Kamu sudah menikah ya Van?" tanya Arvan tiba tiba.


Rivan yang tengah minum pun tampak kaget dan sedikit menyemburkan minumnya.


"Woy. Jorok." cibir Arvan.


"Hahaha Ar ada apa tiba tiba nanya begitu?" tanya balik Rivan sambil tertawa.


"Jawab dulu." kata Arvan.


"Sekarang aku tanya balik deh. Pernah gak kamu nerima undangan pernikahan aku?" tanya balik Rivan.


"Justru itu aku enggak pernah menerima undangan pernikahan dari kamu." jawab Arvan


"Jadi maslahnya apa, tiba-tiba nanya aku udah nikah atau belum?" tanya Rivan.


"Yang jadi pertanyaan. Kalau kamu belum menikah, kenapa kamu berani rangkulan sama perempuan? Di tempat umum lagi. Ayolah Rivan, kalau emang udah menikah jujur aja."


"Kapan? Kapan kamu lihat aku rangkulan sama perempuan? Dimana?"


"Aku lihat kamu pas selesai kajian minggu lalu di masjid B. Jelas aku lihat kamu rangkul terus usap kepala. Apa itu interaksi begitu kalau bukan suami istri?"


Bukannya menjelaskan Rivan malah tertawa terbahak.


"Dokter Rivan. Saya serius nanya!" kata Arvan.


"Sekarang aku faham. Dan aku juga tahu arahnya kemana. Kamu cari tahu sendiri aja ya biar seru. Kalau udah tahu jawabannya baru kasih tahu aku. Sekarang aku pamit pulang duluan ya. Istri aku udah nunggu di rumah. Hahaha." jawab Rivan masih diselingi dengan tawanya.


Obrolan Rivan dan Arvan putus begitu saja tidak sesuai harapan Arvan. Rivan sudah dapat membaca sebenarnya jika Arvan sangat penasaran. Tapi Rivan belum tau kenapa Arvan jadi sepenasaran itu. Rivan membaca sepertinya ada ketertarikan Arvan pada Zia. Tapi emang Arvan tahu Zia?


Sebelum pulang ke rumah Rivan terlebih dahulu menjemput Zia di kampus. Rivan melihat Zia sedang terduduk sendiri di parkiran, setelah melihat Rivan, Zia langsung menghampirinya dengan ekspresi yang kesal dan bibirnya yang sudah maju maju.


"Abang kok lama banget sih? Adek nunggu banget tahu dari tadi." cerocos Zia dengan kesal.


"Istri abang jangan marah-marah ah kan gemas abang jadinya." jawab Rivan asal.

__ADS_1


"Heh. Apa sih abang istri-istri. Kebelet pengen nikah ya? Sana cari calon istri." kesal Zia.


"Ngapain? Orang abang udah punya istri."


"Hah serius abang! Siapa?"


"Kamu hahaha."


"ABANG GAK LUCU!"


"Tahu gak dek. Masa teman abang ada yang ngira kita suami istri. Kan kocak. Padahal jelas banget dan banyak yang bilang juga kalau kita mirip. Masa iya gak bisa menilai dia."


"Serius? Siapa? Maksudnya teman abang yang mana? Kok lucu ya."


"Teman kerja Abang di Rumah sakit. Katanya dia lihat pas mau pulang kajian abang rangkul kamu."


"Cuma karena itu dia ngira kita suami istri?"


"Tapi abang yakin sih dia nanya gitu karena pengen cari tahu tentang adek."


"Eh kok jadi adek."


"Ya emang kenapa? Gak boleh kalau ada laki-laki cari tahu tentang adek?"


"Gak usah bahas itu bisa?"


"Kenapa sih masih aja sensi." Zia memang cukup sensitif ketika membahas tentang laki-laki. Masalahnya, kekecewaan karena batalnya rencana pernikahan Zia beberapa bulan lalu belum sembuh betul.


Sementara mereka mengobrol Vina terlihat lewat dihadapan mereka.


"Hai Zia, belum pulang?" tanya Vina.


"Belum Vina, nih nunggu abang aku jemput." jawab Zia.


"Oh ini Abangnya Zia?" tanya Vina


"Iya abang ku. Bang Rivan namanya." jawab Zia.


"Yasudah Abang Rivan, Zia. Aku duluan ya." kata Vina.


Tidak ada yang menyadari jika Arvan juga saat ini ada di tempat yang sama untuk menjemput Vina, Arvan sejak tadi memperhatikan interaksi mereka. Kali ini sepertinya Arvan harus segera bertanya pada Vina atau minta tolong Vina untuk bertanya langsung pada Zia.


*


Diperjalanan pulang Arvan tampak ragu untuk bertanya pada Vina. Tapi Arvan harus bertanya, Ia harus segera mendapatkan jawaban. Ini semua demi ketenangan hatinya.


"Dek." kata Arvan membuka pembicaraan.


"Iya abang kenapa?" jawab Vina.


"Tadi itu teman kamu yang beberapa waktu lalu berangkat bareng kita karena mobilnya mogok kan? Siapa namanya?" tanya Arvan.


"Iya masih inget aja abang. Zia namanya." jawab Vina tenang.


"Dia sudah menikah ya? Tadi itu suaminya ya? Suaminya itu teman dekat abang." kata Arvan tampak menggebu.


"Hah siapa yg sudah menikah? Zia?" tanya Vina. Arvan hanya mengangguk.


"Hahaha Zia belum menikah bang. Pernah hampir menikah sih tapi batal. Begitu sih yang aku tahu." kata Vina.


"Loh kenapa kok bisa sampe batal? Terus tadi itu siapanya? Atau mereka itu yang batal menikah?" tanya Arvan lagi.


"Abang kenapa sih? Penasaran banget kayaknya? Kalau masalah kenapa bisa batal? Jawabannya aku gak tahu. Karena aku gak mungkin mengorek masalalunya dia sejauh itu." kata Vina  penasaran melihat gerak gerik abangnya yang begitu penasaran tentang Zia.


Arvan tidak menjawab ia memilih tetap fokus pada jalanan di depannya.


"Nah kalau yang tadi. Yang ngobrol sama Zia tadi kan? Kalau itu sih abangnya Zia." jawab Vina tenang.


Tanpa diduga Arvan langsung menginjak rem dan mobil langsung berhenti secara mendadak.


Ciitt


Jdugg...


"Aduh! Apa sih abang ini! Bahaya tahu!" kesal Vina sambil mengusap keningnya yang baru saja terbentur.


"Apa tadi Vin, abangnya? Maksudnya kayak kamu sana abang gitu? Kakak beradik? Atau abang-abangan ketemu gede?" tanya Arvan.


"Hm."


"Tapi laki-laki tadi itu teman abang. Teman kuliah dulu, terus teman kerja.  Dan dia gak pernah sekalipun cerita kalau dia punya adik. Terus beberapa kali abang main ke rumahnya juga gak pernah lihat adiknya."


"Ya menurut abang emang penting seorang kakak laki-laki memamerkan adik perempuannya ke teman-temannya. Apalagi temannya laki-laki. Emang abang pernah cerita ke teman abang kalau abang punya adik perempuan yang bla bla bla?"


"Enggak."


"Yaudah. Terus kenapa abang permasalahkan teman abang yang gak cerita ke abang tentang adiknya?"


'Iya juga ya. Dilihat lagi mereka juga mirip. Gak salah kalau emang adik kakak.' kata Arvan dalam hati.


Arvan tersenyum yang sarat akan makna.


"Apa senyum senyum. Kening aku sakit nih." omel Vina.


"Iya udah maaf. Nanti abang belikan es mambo buat kompres kening kamu." jawab Arvan sambil kembali melajukan mobilnya.


***

__ADS_1


To be continued...


See you next part...


__ADS_2