Perjalanan Halal

Perjalanan Halal
Perjalanan 1


__ADS_3

~Selamat Membaca~


Batalnya rencana pernikahan tiga bulan lalu membuat Zia sedih. Walaupun keputusan sudah disepakati oleh dirinya dan keluarga besar. Tapi tetap saja, luka itu ada karena impiannya untuk bisa menikah muda tidak terwujud dalam waktu dekat.  Bukan karena Zia terobsesi ingin menikah muda, tetapi Zia pada saat itu Zia sudah banyak berharap. Mungkin ini pelajaran yang bisa Zia ambil dari kejadian batalnya Zia. Pelajarannya kita tidak boleh terlalu menggantungkan harapan pada manusia. Karena sebaik-baiknya rencana manusia ada tangan Allah yang lebih berkuasa.


Setelah kejadian beberapa bulan lalu, sepertinya Zia harus sedikit mengesampingkan keinginannya. Keinginan untuk menikah muda, mengikuti jejak sang bunda. Tapi tidak apa, manusia punya jalan hidupnya masing-masing. Sejauh ini prinsip itu yang Zia pegang.


Saat ini Zia banyak menyibukan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif untuk melupakan kesedihannya dan mengisi waktu luangnya agar bermanfaat. Zia sering mengikuti kajian rutin mingguan yang sering diselenggarakan oleh Rivan dan kawan-kawannya. Zia sering mengikuti kajian yang diselenggarakan oleh Rivan dkk. Tapu Zia tidak termasuk pengurus. Zia hanya sekedar mengikuti kajian tersebut.


Kajian biasanya diadakan setiap hari minggu waktunya tak menentu kadang siang ataupun sore, lokasinya pun selalu berpindah pindah tujuannya agar tidak membosankan. Kegiatan mingguan itu berhasil membuat Zia lebih sibuk selain dengan kegiatan kuliah dan liqo. 


Zia senang mengikuti kajian. Karena selain mendapat ilmu, Zia juga bisa mendapat banyak kenalan, selain teman dekat di kampusnya yaitu Anin, Aya dan Hanum. Sering ikut kajian Zia juga dipertemukan dengan teman baru yang beberapa kali ia temui saat kajian dan ternyata teman satu kampusnya hanya berbeda jurusan. Vina dan Tiara mereka teman baru Zia mereka pun mahasiswa semester 5 disalah satu universitas negeri di Bandung yang sama dengan Zia namun mereka dari jurusan manajemen bisnis. Baru bertemu beberapa kali saat kajian tidak disangka mereka sudah merasa dekat.


Pada suatu waktu saat Vina diantar oleh Arvan untuk pergi kuliah, Vina memang terbiasa pergi dengan Arvan karena Alvin kuliah di Universitas Negeri yang berbeda. Pagi itu tidak sengaja vina melihat Zia sedang kebingungan di pinggir jalan disamping mobil honda jazz berwarna putih. Vina meminta Arvan untuk berhenti dan menepikan mobilnya. 


"Kenapa sih dek?"


"Itu bang temen aku. Kenapa ya? Sebentar ya. Aku kesana dulu."


"Yaudah cepat ya. Abang telat nanti ke Rumah Sakit."


"Oke."


*


"Assalamu'alaikum.  Zi, kamu kenapa kok bingung gitu mukanya? " Tanya vina


"Ehh Vina. Waalaikumsalam,  ini Vin mobil aku mogok bingung harus gimana.  Aku lupa bawa handphone lagi." jelas Zia mencoba untuk tetap tenang.


"Ya Allah Zi, oh kamu tumben bawa mobil sendiri?" tanya Vina.


"Iya ini pertama kali pergi sendiri. Karena enggak ada yang bisa antar aku Vin." jawab Zia.


"Oh gitu. Kamu ada jadwal kuliah jam berapa?"


"Jam 09."


"Wah sebentar lagi dong?"


Zia mengangguk.


"Gini deh. Yaudah kamu bareng sama aku dan abang aja ya. Nanti aku pinjamkan hp untuk kamu telpon orang di rumah. Yuk enggak ada penolakan. " kata Vina menarik tangan Zia.


"Eh Vin, gak merepotkan?"


"Enggak Zi. Kita kan sekampus. Jadi ya sekalian. Kamu kunci dulu mobilnya udah?"


"Udah kok. Vin makasih ya."


"Santai."


*


"Bang kenalkan ini temen aku,  dia mobilnya mogok. Gak apa apa ya bareng kita. Dia sekampus juga sama aku." kata Vina pada Arvan saat mereka sudah sampai di samping mobil. Vina dan Zia menghampiri Arvan di dekat kemudi. Arvan melihat kearah Zia, sementara yang dipandang hanya menunduk.


"Abang ih malah bengong. Hayu katanya takut kesiangan." kata Vina yang berhasil mengagetkan Arvan.


"Yaudah ayo kita berangkat sama sama." kata Arvan.


"Terimakasih." kata Zia pelan masih sambil menunduk.


Sampai ditujuan Zia dan Vina turun dari mobil. Vina menyalami Arvan sementara Zia hanya mengucapkan terimakasih.  Zia dan Vina masuk dan berjalan berbeda arah ke tujuan masing masing. 


Setelah mengantar Vina, Arvan sedikit kurang fokus ada yang berbeda dengan dirinya, sejak tadi jantungnya ia rasa tak normal.  Ya Allah apakah Arvan terkena penyakit jantung sekarang? 


"Astagfirullah. Kenapa sih jadi gak fokus gini." gerutu Arvan.


Ditempatnya bekerja Arvan sudah mulai bisa mengontrol dirinya. 

__ADS_1


"Gak. Gak. Sadar Arvan baru lihat sekali masa bisa sampe ngerusak fokus."


"Assalamualaikum. Dokter Arvan." seseorang masuk mengagetkan Arvan.


"Astagfirullah. Waalaikumsalam,  kamu ini pagi-pagi udah bikin kaget." kata Arvan pada temannya.


"Aku udah ketuk loh. Gak dengar aja kamu Ar.  Ada apa sih? Kamu gak fokus atau emang sedang melamun?" tanyanya.


"Gak apa apa aku cuma sedang membaca data data pasien saja." kata Arvan.


"Baca data pasien tapi gak ada tuh lembar yang dibuka."


"Ini lagi dibaca kok." kata Arvan mulai membuka lembar demi lembar.


"Haha yaudah gak usah gugup dong. Aku pulang ya, abis jam kerja ku. Kerja yang benar. Yang fokus. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Udah cepat sana pulang."


Pukul 17.00 Zia keluar dari kelas berjalan menuju parkiran. Berharap sudah ada abangnya atau siapapun keluarganya yang menjemput karena pagi tadi Zia memberi tahu melalui hp Vina jika mobilnya mogok dan Zia tidak membawa hp dan meminta tolong untuk dijemput pada abangnya. Beruntung saat sampai di parkiran abangnya sudah menjemput.


"Alhamdulillah abang jemput." kata Zia setelah mencium tangan Rivan.


"Kok bisa sampai gak bawa hp?" tanya Rivan.


"Iya adek lupa bang."


"Kebiasaan. Untung ketemu teman adek. Kalau enggak gimana coba?"


"Iya. Alhamdulillah ketemu Vina."


"Gimana ceritanya sih kok bisa sampe bawa mobil sendiri?" tanya Rivan.


Zia menceritakan kejadian pagi tadi dan merasa bersyukur bertemu Vina dan abangnya yang Zia tak tau namanya. 


Satu jam perjalanan sampailah Zia dan Rivan di rumah mereka. Setelah bersalaman dengan ayah dan bundanya Zia bergegas pamit ke kamar untuk bersih bersih dan bersiap shalat maghrib.


Usai shalat isya seperti biasanya Zia dan bunda duduk di ruang keluarga, menunggu abang dan ayah pulang dari masjid.


Berkumpul di ruang keluarga sebelum tidur merupakan cara quality time keluarga mereka.


"Adek gimana kuliahnya? " Tanya ayah tiba tiba.


"Alhamdulillah lancar aja yah. Sekitar sebulanan lagi adek UAS terus udah itu semester 6 dan di semester 6 nanti adek KKN." jelas Zia dengan lembut.


"Adek jangan kecapean loh yaa." kata bunda mengingatkan.


"Bunda tenang aja adek kan selalu dikasih vitamin sama abang.  Iya kan abang? " kata Zia sambil melihat kearah abangnya.


"Ya vitamin sih vitamin tapi kalau makannya gak teratur sama gak pandai jaga kesehatan tetap juga lah vitamin gak akan bantu adek ku yang pintar." kata Rivan sambil mengusap kepala adiknya yang duduk disampingnya. Zia yang merasa sangat nyaman diperlakukan seperti itu oleh abangnya hanya tersenyum ke arah Rivan.


"Iya abang. Adek juga gak capek-capek kok. Cuma kuliah dan kegiatan biasa."


"Bunda tahu loh beberapa waktu ini adek menyibukan diri banget." kata bunda. Zia hanya bisa menanggapi ucapan bunda dengan cengiran.


Mereka semakin seru dengan perbincangannya tak sadar waktu sudah semakin larut.


"Abang besok kajian jam berapa?" tanya Zia yg sudah mulai mengantuk.


"Jam 4 sore sampai maghrib. Kenapa?" tanya balik Rivan.


"CFD yukk udah lama loh gak CFD kita minggu kemarin kajian pagi. " kata Zia.


"Baru bunda bilang jangan kecapean loh dek." tegur bunda.


"Kan ke CFD itu buat refresh bun."


"Adek mah niat ke CFD bukan buat olahraga bun. Dia mah pengen jajan."

__ADS_1


"Ish sebel deh. Besok pokoknya CFD an dulu ya sebelum sorenya kajian. Boleh ya bun."


"Yaudah. Tapi sama abang. Bunda gak izinkan kalau gak sama abang."


"Siap."


"Bunda sama Ayah ke kamar ya. Kalian tidur jangan malam-malam." kata Ayah.


Zia dan Rivan hanya mengangguk.


"Ya bang besok ke CFD yaa." kata Zia sambil menguap.


"Iya. Udah sana adek tidur. Bangunkan abang ya besok pagi." kata Rivan.


"Oke siap.  Good night abang. Assalamualaikum."  Kata Zia.


Pukul 05.30 Rivan dan Zia telah siap pergi ke CFD.  Karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah mereka memutuskan pergi kesana menggunakan motor. Sekitar 20 menit mereka sampai di lokasi CFD.  Sudah cukup ramai di lokasi CFD ada yang memang berniat olahraga dengan bersepeda dan berlari. Tapi banyak juga yang sekedar jalan-jalan. Zia dan Rivan awalnya berlari lari kecil. Tapi baru beberapa menit Zia sudah merengek capek.


"Bang, adek capek. Adek udahan ya, adek tunggu abang disini aja ya." kata Zia.


"Yaudah. Abang lanjut ya. Adek jangan jauh-jauh." pamit Rivan sambil mengusap kepala adiknya sebelum melanjutkan larinya.


Beberapa menit Zia menunggu Rivan, akhirnya Zia melihat abangnya menghampirinya. 


"Lama banget sih. Nih abang minum dulu." sambil menyerahkan botol minum air putih. 


"Maaf deh.  Soalnya abang tadi ketemu temen abang disebelah sana. Jadi ya ngobrol dulu." kata Rivan sambil menunjuk kesebelah kanan. 


"Teman abang siapa?"


"Tumben kepo sama teman abang?"


"Ih nanya doang padahal. Yaudah yuk pulang udah jam 08.00 nih nanti keburu panas." ajak Zia pada Rivan.


"Nih adek pakai topi abang biar gak panas." kata Rivan sambil menyerahkan topinya pada Zia.


"Makasih abang." kata Zia sambil memakai topi milik abangnya.


Sepulang CFD sambil menunggu waktu kajian Zia menyibukan diri dengan membaca buku. Sementara Rivan dia sibuk dengan game di handphone nya. Keduanya asik sendiri walaupun fisiknya berada di ruangan yang sama.


"Abang kita berangkat jam berapa?" tanya Zia mengalihkan pandangannya  sesaat ke arah Rivan.


"Jam 14.00 an aja. Kita shalat ashar di sana. Soalnya lumayan jauh nanti macet. Abang juga kan mau persiapan dulu." jawab Rivan tanpa menoleh ke arah Zia.


"Oke deh." jawab Zia kembali membaca bukunya.


"Adek gak pengen ikutan jadi pengurus gitu? Padahal adeknya teman abang juga banyak yang seusia adek ikutan.


"Adek gak ada yang kenal hehe."


Pukul 14.00 Rivan sudah siap untuk berangkat kebetulan lokasi kali ini cukup jauh dari rumah. Jadi mereka butuh waktu yg cukup lama belum lagi takutnya nanti diperjalanan macet.


"Adek siap belum? Abang tunggu di mobil ya." kata Rivan sambil mengetuk kamar Zia.


"Iya abang sebentar lagi. " kata Zia sedikit berteriak agar dapat didengar Rivan.


Sampai di tempat kajian Zia dan Rivan terpisah, disana Zia hanya janjian dengan Vina karena teman temannya yg lain tidak dapat ikut kajian karena satu dan lain hal. 


Tema kali ini cukup menarik namun sedikit membuat Zia kembali membuka lembar yang sudah perlahan ia tutup.  Namun kajian nya menyadarkan Zia bahwa ketetapan Allah merupakan yang terindah. 


"Alhamdulillah dapat ilmu lagi tentang pernikahan. Oh iya Zi kalau boleh tahu. Kamu ada rencana gak sih buat nikah muda?"


***


To be continued...


See you next time...

__ADS_1


__ADS_2