
Dua puluh menit Zia menunggu Rivan di dalam ruangan. Sudah lelah rasanya Zia menunggu. Dan yang bisa Zia lakukan hanya bermain handphone, dari mulai membalas chat, buka media sosial sampai baca-baca artikel.
Suara pintu terbuka, membuat Zia lega karena ia pikir yang baru saja masuk itu Rivan, abangnya. Tandanya sebentar lagi Zia bisa pulang, bisa rebahan cantik.
"Abang kenapa lama banget sih, adek bosen nunggu. Sekarang udah selesaikan? Ayo kita pul.." sambutan Zia terpotong saat ia menegakan pandangannya rupanya yg ia sambut adalah Arvan. Satu kata yang Zia rasakan saat itu 'Belanja palu ke raja ampat. Zia malu gak ada obat.' Pipinya juga sudah memerah karena malu. Kenapa sih harus buat malu, padahalkan sebelumnya Zia lagi malas dengan Arvan. Kalau begini kan jadi buyar.
"Maaf aku pikir abang Rivan." Kata Zia kembali menunduk agar wajahnya yang memerah tidak terlihat dengan jelas oleh Arvan. Tapi sayang Arvan sudah lebih dulu melihat semburat merah di pipi Zia. Arvan sudah ingin tertawa. Tapi kasihan Zia pasti akan lebih malu jika Arvan tertawa. Alhasil Arvan hanya dapat memalingkan wajah ke sembarangan arah, yang penting tidak melihat Zia. Karena ia tidak menjamin bisa menahan tawa lebih lama jika melihat Zia.
Arvan dan Zia masih sama-sama berdiri di depan pintu, hingga Rivan masuk ke ruangan.
"Ada apa ini semua di depan pintu? Menghalangi jalan tau." kata Rivan sambil masuk ke ruangannya dan membereskan barangnya.
"Ayo dek kita pulang. Ar kamu masih lama?" ajak Rivan pada Zia dan tanya Rivan pada Arvan.
"Enggak ini aku juga mau pulang." jawab Arvan.
"Oke aku sama calon istri kamu duluan ya?" kata Rivan sambil menepuk bahu Arvan. Mendengar Rivan berbicara seperti itu Zia menjadi salah tingkat.
"Iya. Titip ya bang. Jangan digoda. Nanti makin merah pipinya. Nanti gemas makin gak ada obat." kata Arvan. Zia sudah manyun manyun kesal digoda oleh Rivan dan Arvan sekaligus.
"Kenapa bilang begitu sih di depan Arvan?" tanya Zia dengan kesal saat mereka sudah sampai di mobil.
"Adek panggil siapa tadi?" tanya Rivan.
"Arvan!"
"Gak boleh gitu sayang. Adek abang yang paling cantik, harus dibiasakan sopan sama calon suami."
"Ih abang mah."
"Kenapa sih? Abang gak salah kan? Arvan emang calon suami adek."
"Iya udah gak usah diulang ulang terus. Abang juga jangan goda adek dengan bilang calon istri gitu di depan dia." kata Zia sambil manyun.
"Kenapa?"
"Kok kenapa? Adek malu lah bang. Abang tahu gak. Adek itu lagi kesel sama dia. Abang pake goda-goda begitu. Nyebelin."
"Kok marahnya jadi sama abang?"
"Bodo."
"Iya udah maafin abang ya?" Zia diam saja.
"Di maafin gak nih?"
"Tau."
"Huh yaudah kalau marah, tadinya abang mau ajak adek beli es krim baskin robins dulu."
"MAU!" kata Zia dengan antusias.
"Dih tadi marah."
"Adek lagi bad mood. Gak mau tau beliin es krim."
"Iya ndoro."
*
Esok harinya Zia disibukan dengan agenda persiapan KKN. Rencananya hari ini Ia dan Vina akan membeli kebutuhan untuk KKN. Berangkat dari rumah pukul 10 pagi. Zia dan Vina sudah mengahabiskan waktu dua jam untuk berbelanja.
Ketika sedang membeli kebutuhan, sebuah panggilan masuk ke handphone Zia. Ternyata oranh yang meneleponnya adalah orang yang ingin Zia hindari lebih dulu. Tapi percayalah saat ini Zia sedang salah tingkah ketika menerima telepon dari Arvan. Ada apa sih ini kenapa Zia selalu gugup dan jika ada sesuatu yang berhubungan dengan Arvan.
On the phone
zia : Assalamu'alaikum.
arvan : Wa'alaikumsalam. Kamu dimana? Sampai gak sempat balas chat. Handphone Vina juga gak aktif.
Zia : Di supermarket. Vina lagi sibuk beli kebutuhan buat KKN. Ada apa?
Arvan : Masih lama? Kita ketempat undangan sekarang memastikan yang mana jadinya. Bisa?
__ADS_1
"Vin masih lama gak?" tanya Zia pada Vina yang bisa didengar jelas oleh Arvan.
"Bentar lagi sih. Kenapa? Disuruh pulang ya sama abang?" Zia mengangguk, "Mau ke tempat buat undangan katanya." "Yaudah suruh jemput aja. Bentar lagi kok tinggal bayar."
Arvan : Kirim lokasinya ya. Aku jemput kesana sekarang. Assalamu'alaikum.
Selesai menelepon Arvan, Zia melanjutkan belanjanya sambil bercerita pada Vina. Zia dan Vina sudah selesai berbelanja dan sekarang mereka sedang menunggu Arvan. Sebuah chat masuk ke handphone Zia.
Abang Arvan
'Di parkiran depan'
Zia dan Vina berjalan bersama menghampiri Arvan, sambil membawa belanjaan mereka.
"Bukannya masuk, bayarin. Malah diam di parkiran." gerutu Vina pada Abangnya.
"Males Abang. Jadi anak bawang kalau kalian udah berdua." kata Arvan.
"Ini gak ada banget yang mau dusuk di depan?" tanya Arvan saat Zia dan Vina sudah nyaman duduk di belakang.
"Enggak ada." jawab Vina. Sedangkan Zia hanya diam.
"Mode supir banget ini." kata Arvan sambil menjalankan mobilnya.
"Yang ikhlas kenapa sih bang. Gerutu terus deh heran." omel Vina.
"Iya ikhlas tuan putri."
"Bagus. Jalan pak." perintah Vina.
Selesai dengan urusan undangan, Arvan mengantarkan Zia pulang karena Vina sudah pulang lebih dulu. Katanya ada urusan mendadak dengan kawannya. Terpaksa hanya ada Zia dan Arvan dalam satu mobil.
"Gak usah diantar ya. Aku sendiri aja." tolak Zia saat mereka sudah berada di parkiran.
"Terus mau pulang naik apa? Sama siapa?" tanya Arvan.
"Nanti bisa naik taksi atau naik damri." jawab Zia.
"Udah masuk aja. Gak ada bedanya, naik taksi juga dua-duaan sama yang bukan mahram." kata Arvan.
"Cepat naik Zi. Aku harus ke rumah sakit lagi."
"Aku naik taksi aja."
"Zi, naik ya. Biar aku belajar bertanggung jawab."
Zia merasa tidak punya lagi alasan untuk menolak. Zia akhirnya menuruti perintah Arvan yang akan mengantarnya ke rumah.
"Makasih." ucap Zia ketika sudah sampai di rumah.
"Sama sama. Yaudah cepat masuk." ucap Arvan.
*
Hari ini tepat hari yang sudah ditentukan Zia, Vina dan 13 lainnya pergi ke tempat KKN untuk survey lokasi sekaligus mencari kontrakan untuk mereka selama disana.
Empat jam perjalanan mereka tempuh untuk menuju tempat tersebut. Sampai disana mereka berkeliling desa untuk menemui kepala desa dan para tokoh masyarakat kemudian mencari rumah yang dikontrakan. Sempurna sudah lelah hari ini sejak pukul 6 pagi hingga pukul 7 malam Zia baru sampai di rumah.
Zia langsung masuk ke kamarnya membersihkan diri kemudian shalat isya dan tidur. Zia yang sejak tadi sudah lelah dan sampai di rumah langsung tidur. Tidak menyadari jika sejak tadi Arvan selalu menghubunginya.
Saat bagun tidur ia baru menyadari jika ada beberapa panggilan dan pesan dari Arvan. Merasa bersalah, Zia mengirimkan pesan untuk Arvan.
'Assalamu'alaikum. Maaf kemarin gak sempat banyak pegang handphone. Ada perlu apa?' begitulah pesan yang Zia kirim pada Arvan.
'Wa'alaikumsalam. Dibalas juga akhirnya. Gak ada apa apa, abang cuma khawatir. Karena kemarinkan perjalannya jauh.' begitu balasan dari Arvan.
*
Saat ini tiba saatnya Zia dan teman seangkatannya melaksanakan KKN. Setiap kelompok difasilitasi 1 bus berukuran sedang untuk transportasi ke desa serta membawa segala macam keperluan.
Setelah berpamitan dengan ayah bundanya dan berpamitan melalui telepon dengan calon mertuanya. Zia pergi ke kampus diantar Rivan. Sedangkan Vina pergi ke kampus bersama Arvan dan Alvin.
Rivan dan Zia sampai lebih dulu di kampus. Rivan membantu Zia memasukan barang bawaannya. Tidak banyak yang dibawa, Zia hanya membawa 1 koper ukuran besar dan satu totebag berukuran sedang yang berisi barang kelompok dan tas selempang yang berisi dompet handphone dll nya benda pribadi yang penting.
__ADS_1
"Ini udah semua dek?" tanya Rivan.
"Insya Allah udah abang." jawab Zia.
"Adek hati-hati ya. Jangan lupa makan harus teratur. Abang tahu adek itu paling malas makan. Apalagi kalau gak ada yang selera." kata Rivan sambil mengelus kepala Zia.
"Iya abang. Udah ah abang jangan buat sedih gini." kata Zia sambil memeluk Rivan.
Sebuah mobil BMW berwarna putih tampak memasuki parkiran yang sudah banyak orang ini. Setelah terparkir rapi, Vina keluar lebih dulu, menghampiri Zia dan kawan kawan dan pergi untuk absen. Arvan dan Alvin membantu memasukan barang Vina ke bus. Setelah memasukan barang Vina, Arvan menghampiri Zia yang sedang bersama Vina dan Aya.
"Boleh bicara dulu?" kata Arvan.
"Abang nanya sama siapa?" tanya Vina yang sedang bersama Zia.
"Zia." jawab Arvan singkat.
"Oh sama Zia. Yang jelas dong subjeknya. Yaudah Zi, sana ikuti aja. Kamu mau dikasih petuah-petuah kali."
"Yuk." ajak Arvan
Zia hanya mengangguk. Kemudian Arvan berjalan menjauh dan Zia hanya mengikuti di belakang Arvan. Langkahnya terhenti di samping mobil Arvan.
"Zia." panggil Arvan lembut
"Iya" jawab Zia.
"Jaga diri baik baik, Jaga kesehatan setelah KKN, Insya allah masih ada hajat yang lebih besar acara pernikahan kita. Abang gak mau denger nanti calon istri Abang ini kecapean apalagi sampai sakit. Abang juga bilang sama Vina kalian harus bisa saling menjaga dan mengingatkan. Abang juga tahu, kalau selama persiapan pernikahan ini kita sering beda pendapat dan kamu sering kesal sama Abang. Tapi tolong dengar kata-kata Abang ya. Jaga diri, jaga kesehatan." kata Arvan semakin melembut.
Mendengar penuturan Arvam yang lembut dan terkesan penuh kasih sayang pipi Zia seketika memerah, selain ucapan Arvan yang lembut yang membuat Zia memerah juga ketika mendengar ucapan Arvan menyebutnya calon istri. Jadi malu-malu meong kan Zia.
"Iya makasih sudah diingatkan." jawab Zia semakin menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. Arvan hanya menahan senyum melihat Zia. Gemas rasanya, ingin segera ia boyong ke KUA.
"Jangan malas makan. Katanya kamu ini malas makan." ucap Arvan.
"Iya." jawab zia mencoba tenang menetralkan detak jantungnya yang terasa beda saat bersama Arvan.
"Handphone kamu stand by ya. Abang takutnya susah kalau mengurus pernikahan kita sendiri dan ambil keputusan sendiri." kata Arvan lagi.
"Iya." jawab Zia. Arvan hanya tersenyum gemas melihat Zia yang sejak tadi menunduk dan malu malu.
"Gak mau kasih nasihat buat abang?" tanya Arvan.
"Apa?" tanya Zia.
"Ya mungkin aja gitu bakal bilang. Abang juga baik baik ya. Jaga kesehatan, jangan terlalu sibuk. Kerjanya jangan capek capek. Begitu mungkin?" kata Arvan. Mendengar Arvan berkata seperti itu Zia malah semakin menunduk malu.
Zia memalingkan pandangannya kebelakang melihat teman temannya yang sudah menaiki bus.
"Udah selesai? Kalau sudah aku pamit teman teman aku sudah masuk semua tuh." kata Zia sambil menunju kearah bus.
"Iya sudah hati hati ya." kata Arvan.
Zia mengulurkan tangannya hendak bersalaman. Arvan mengerutkan dahinya heran.
"Yakin?" tanya Arvan.
"Astagfirullah maaf lupa. Aku kira abang Rivan. Assalamualaikum." kata Zia sambil berbalik dan berjalan buru buru karena malu dengan sikapnya sendiri. Arvan hanya senyum senyum geli. Sabar Arvan tahan gemasnya. Tahan keinginan buat unyel-unyel pipi yang selalu merah tiap berhadapan dengan Arvan.
"Ar aku lihat loh ini dari tadi. Kamu apakan adik aku sampe salting begitu?" tanya Rivan dengan ekspresi pura pura marah.
"Haha adek kamu lucu gemas apalagi kalau lagi depan aku, suka malu malu dan mendadak pelupa tadi aja hampir mau salim karena lupa dan ngira aku ini kamu. Gak sabar pengen cepet cepet halal." kata Arvan pandangannya tak beralih dari bus yang dinaiki Zia dan mulai melaju itu.
"Jangan dipandang lama lama adik aku. Kalian belum halal juga." kata Rivan mengingatkan.
"Iya maaf maaf."
"Dimaafkan. Jangan diulang. Yaudah aku duluan ya Ar." pamit Rivan
Arvan mengangguk. Setelah ini hingga sebulan kedepan. Ia harua mengurus persiapan pernikahannya sendiri. Bisa tidak ya?
***
To be continued...
__ADS_1
See you next part...