
Semarang
Chita
Pukul 11.00wib Pesawat yang aku tumpangi sudah mendarat di Semarang. Kali ini aku dijemput Mama dan Pak Rahmad. Sebelumnya aku sudah curhat ke Mama kalau aku bingung harus pakai baju yang mana untuk acara Makrab bersama Mas Dewang. Alhamdulillah, punya Mama yang hebat, selain jago memasak, aku percaya Mama sudah malang-melintang menghadiri acara-acara penting, apalagi mendapingi Makrab, aku jamin Mama udah pernah sebelumnya. Sama Papa ku dong tentunya.
Dan akhirnya, disini lah kami. Aku dan Mama melipir ke Citraland Mall.
"Udah lama ya Mbak Chita, kita nggak nge-Mall bareng. _Bu Satrio
" Astaghfirullah Mama, kayaknya sebulan yang lalu kita masih nge-Mall bareng deh Ma. _Chita
"Masa sih mbak Chita? Hihihi Mama lupa. _Bu Satrio
" Mama kali yang jarang ke Mall, ngurusin cuan mulu. _Chita
"Ah enggak, minggu lalu Mama ke Mall sama Papa, nonton juga. Nostalgia waktu jaman muda. _Bu Satrio
" Wah.. wah.. Mama nih bikin iri aja. Pelanggaran banget. _Chita
"Hehehehe.. nanti kamu ada saatnya mbak Chita, Kalau kata anak muda jaman sekarang, seorang wanita akan menjadi ratu kalau sudah bertemu dengan laki-laki yang tepat. Mungkin ini masih on proses bersama Mas Dewang. _Bu Satrio
" Hahaha.. Mama dapet kata-kata itu dari mana? _Chita
"Hehehe dari Instagram. _Bu Satrio
Mama menjawab dengan malu-malu. Mama, Papa ku memang termasuk aktif di sosial media. Terkadang masih sering berbalas komentar di setiap postingan kami. Oke.. mari kita tinggalkan pembahasan Instagram.
Setelah memasuki salah satu store langganan kami, aku sama Mama langsung memilih. Di toko pertama, Mama memilihkan beberapa midi dress potongan A-line. Mama selalu suka melihat aku memakai Dress, Mama bilang aku terlihat manis jika memakai Dress. Selesai di store pertama, kita masih pindah ke beberapa toko, hingga pukul 14.00wib kami memutuskan untuk makan siang bersama.
Setelah makan siang, Mama meminta untuk ditemani mencari Tas dan Sepatu. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meminta jajan Sepatu ke Mama.. Hehehe I love Mama.
Tak terasa hari sudah menjelang sore sebelum adzan maghrib aku dan Mama sudah sampai rumah. Sesampainya di rumah, Papa belum pulang dinas, tadi di jalan sempat menghubungi jika terjebak macet.
Rumah
"Udah pesen tiket balik ke Medan mbak Chita? _Bu Satrio
" Ini lagi mau pesan Ma. Dibawain oleh-oleh apa ya Ma, buat Bu Sandrina sama Pak Gumelar? Semua keluarganya baik semua Ma. _Chita
"Udah nanti Mama masakin aja Mbak Chita, besok sama lusa Mama longgar. Nggak ada pesanan. Gimana? _Bu Satrio
"Waaaah.. Makasi banyak ya Ma. Mama yang terbaik deh. _Chita
__ADS_1
" Berangkat jam berapa ke Magelangnya mbak Chita? _Pak Satrio
"Habis sholat subuh aja Pa, terus langsung pulang semarang habis acara. _Chita
" Dari Semarang dapat flight pagi ya mbak Chita? _Pak Satrio
"Iya nih Pa.. _Chita
Obrolan berlanjut di makan malam bersama, mulai dari selama aku di Medan, sampai kenangan acara Makrab dan Pestakor Papa dan Mama waktu dulu.
Magelang.
Pagi ini pukul 07.00Wib aku bersama Pak Rahmad sudah memasuki Kota Militer. Sudah nggak asing bukan dengan sebutan kota ini? Karena terdapat banyak markas militer di wilayah sekitarnya, Magelang sering disebut dengan Kota Militer.
Sesampainya di rumah keluarga Mas Dewang yang ada di Magelang, aku sudah disambut oleh Bu Fatmi dan Pak Dadang. Beliau bilang, Minggu lalu Mas Dewang telepon kalau minggu depan calon istrinya bakal bertamu di rumah Magelang untuk ikut menghadiri acara di Akademi Militer bersamanya.
Bukan itu saja, Mas Dewang juga berpesan jika aku sudah sampai langsung diminta istirahat di kamarnya. Bukan di kamar tamu. Pipiku semakin bersemu merah, hatiku meleleh dibuatnya.
"Langsung istirahat saja mbak Chita, mari Ibu antarkan ke kamarnya mas Dewang. _Bu Fatmi
" Maaf Bu sebelumnya, kok dikamarnya mas Dewang? apa enggak apa-apa Bu? _Chita
"Nggak apa-apa mbak Chita, itu udah pesannya mas Dewang minggu lalu seperti itu. _Bu Fatmi
Sekilas mengenai Makrab nanti malam. Setiap Taruna yang udah tingkat 4 atau tingkat akhir, dan mendekati Praspa pasti akan mengadakan makrab. Sebenarnya sering juga para Taruna mengadakan makrab, namun bedanya di makrab tingkat akhir ini para Taruna diperbolehkan membawa rekanita khusus Taruna Mayor satu. Begitu yang aku dengar cerita dari Mama dan Papa semalam. Sebenarnya aku nggak pernah bayangin sebelumnya sampai diajak makrab seperti nanti malam. Namun untuk saat ini ada rasa haru dan bangga menyeruak di relung hatiku.
Sore Hari
Setelah selesai berdandan, aku mengambil handphone yang berdering. Ada panggilan masuk dari Mas Dewang.
"Assalamu'alaikum sayang, udah siap? _Dewang
" Alhamdulillah sudah mas. jadi gimana? _Chita
"Yaudah, berangkat sekarang aja sayang. Minta tolong diantarkan Pak Dadang saja ya. Pak Dadang udah tahu Pos mas Dewang. Pak Rahmad biar balik Semarang aja sayang, pulangnya mas yang antar. _Dewang
" Oh gitu ya, baik mas. yaudah Chita berangkat sekarang ya. Assalamu'alaikum _Chita.
"Waalaikum salam, hati hati sayang. _Dewang
Setelah telepon aku matikan, aku pun keluar dari kamar mas Dewang, dan turun kebawah. Berpamitan dengan Bu Fatmi dan Pak Rahmad sekaligus meminta tolong untuk diantarkan Pak Dadang sesuai dengan permintaan mas Dewang tadi.
Saat tiba di pos, mas Dewang sudah menunggu didepan bersama rekan-rekannya. Dan ada beberapa pasangan dari Taruna-Taruna lain yang sudah datang. Karena berangkatnya memakai mobil mas Dewang, mas Dewang pun langsung menghampiri dan membukakan pintu mobil untukku.
__ADS_1
"Kamu cantik banget sayang. Duh.. jadi nggak ikhlas kalau harus dilihat laki-laki lain ini. _Dewang
" (Aku sempat terkejut dengan ucapan mas Dewang, namun aku sedikit menggodanya) Jadi gimana mas? Apa aku pulang aja? _Chita
"Eeeh.. ya nggak dong sayang. Aku mau pamerin malahan, kalau pacarku yang tercantik. ayok turun, aku kenalin sama kakak asuh sama eyang pos juga. _Dewang
Tak kupingkiri, saat aku turun dari mobil dan berjalan di samping mas Dewang. Banyak beberapa pasang mata yang memperhatikan kami. Bahkan ada yang sengaja untuk berhenti, untuk melihat kami.
Setelah sampai di pos, aku diperkenalkan dengan Taruna lain, kakak asuh, dan eyang pos oleh mas Dewang.
"Uayu tenan Wang, rugi iki nek gak sampe pelaminan. _Kakak asuh
" Hahaha.. Makasi bang. Doanya ya. _Dewang
Pukul 16.30Wib, aku dan mas Dewang beserta Taruna dan rekanita yang lain berjalan dari pos menuju depan gerbang Akmil. Untuk menunggu bus penjemputan.
Ini pertama kalinya aku masuk ke Akmil, ternyata sangat luas. Selama di dalam bus, mas Dewang memberitahuku sekaligus menerangkan apa saja yang kita temui di jalan menuju paviliun. Mulai dari tempat untuk apa, nama gedungnya, dan kegiatan apa saja. Sampai di depan paviliun, bus berhenti. Mas Dewang beserta Taruna yang lain turun dan masuk ke dalam paviliun untuk berganti seragam. Selama mereka turun, ada beberapa kakak asuh yang masuk ke dalam bus, ternyata untuk pengecekan pakaian dari rekanita.
Alhamdulillah.. satu bus lolos semua. Tak lama dari para Kakak asuh turun, Mas Dewang dan Taruna yang lain sudah kembali masuk ke dalam bus dan sudah berganti seragam. Kemudian bus pun kembali berjalan menuju ke salah satu gedung tempat acara.
Sesampainya di depan gedung, aku dan mas Dewang mengisi buku daftar hadir, foto di booth foto, dan melihat-lihat koleksi foto-foto yang digantung. Disana aku juga menemukan salah satu foto mas Dewang. Karena acara belum dimulai, dan suasana sore ini cukup syahdu, aku dan mas Dewang masih menikmati beberapa makanan yang diambilkan olehnya.
"Tadi gimana perjalananya sayang? macet enggak? Pasti capek banget ya, dari Medan baru sampai Semarang udah langsung jalan lagi ke Magelang. Maaf ya sayang, mas Dewang ngerepotin. Cuma mau bagaimana lagi, Mas Dewang ingin Dhek Chita menemati mas, mulai dari Makrab sampai Praspa nanti. _Dewang
"Alhamdulillah lancar mas, cuma memang nanti langsung balik Semarang. Tadi sempet diajak rekenita untuk ngumpul besok disini. Sekalian ngedate, tapi aku nggak bisa. Aku minta maaf ya mas, besok nggak bisa nemenin seperti yang lain. _Chita
" Sayang udah mau nemenin, sempetin dateng hari ini aku udah seneng banget kok sayang. Gimana di Medan? Nggak ada kendala apa-apa kan? _Dewang
"Alhamdulillah lancar mas. Pemilik rumah sekaligus pemilik Kebun Kelapa sawit nya itu satu keluarga baik semua. kami bener-bener dianggep seperti keluarga sendiri disana. Nggak dibeda-bedain. Masyarakat disana juga baik-baik semua, ramah-ramah mas. _Chita
" Iya sayang, pemilik kebun kelapa sawit itu udah malang melintang masuk majalah beritanya. Selain kesuksesan nya, Beliau juga terkenal keramahannya. dan selalu loyal dengan para karyawannya. _Dewang
"Hihihi, aku malah nggak tahu mas. Eh mas, itu permainan menembak ya? _Chita
"Iya sayang, mau nyoba? mari kita buktikan putri kesayangan Kapolda Jawa Tengah apakah memiliki kemampuan seperti Papanya? Hehehe _Dewang
" Ii iiih.. apaaan sih mas Dewang, jangan ngomong gitu ah. Malu diliat temen-temen yang lain. _Chita
Memang iya, karena ucapan mas Dewang banyak beberapa Taruna dan rekanita yang kembali melirikku. Aku mencoba permainan menembak ini, sebenernya ini bukan yang pertama kali aku memegang senjata, aku beberapa kali ikut menemani Papa dan Dek Anggarda jika ada kesempatan untuk olahraga latihan menembak di Lapangan Tembak Kodam IV.
Mas Dewang dan beberapa Taruna yang melihat kemampuanku memberikan tepung tangan yang cukup keras pada saat aku selesai menembak semua sasaran dengan tepat dengan waktu yang singkat. Mas Dewang pun menghampiri ku dan memujiku kalau aku hebat.
Acara pun dimulai, aku dan mas Dewang sudah duduk didalam gedung dan menikmati dari acara yang formal hingga hiburan. Sambutan-sambutan dari pejabat Akmil, menyanyikan himne Taruna, menyaksikan pemutaran video para Taruna-Taruni selama 4tahun, ada semacam award-award juga, musik penampilan dari beberapa junior mas Dewang, sampai acara yang terakhir semua maju kedepan dari Taruna sampai rekanita untuk berjoget bersama. Kecuali aku dan mas Dewang, namun cukup menikmati melihat mereka berjoget bersama. Tepat pukul 00.00wib acara baru selesai dengan pelepasan balon sambil meneriakkan "GO Praspa 2022" bersama-sama.
__ADS_1
Mas Dewang bilang, Taruna wajib mengantarkan rekanita mereka pulang sampai dirumah. Ada tiga titik penjemputan saat itu, Jogja, Semarang, dan di depan Artos Magelang. Sebelum mengantar pulang, mas Dewang bersama Taruna yang lain melakukan apel malam. Setelah selesai, mas Dewang pun menghampiriku. Kami pun kembali menaiki bus dan turun didepan Akmil. Kemudian kita berjalan ke pos masing-masing, Setelah selesai berkemas aku dan mas Dewang diantarkan Pak Dadang untuk kerumah mas Dewang kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Semarang.