
Happy reading..
☘️
☘️
"Ahh, Mama. Apa-apaan sih. Kia bukan penjahat kelamin yang sedang berburu mangsa," Kia menggeleng meneguk ludah.
"Tapi Jonathan tampan kan?" balas Mama nya serius menatap ke layar sentuh.
Kia menggeleng lagi, menelan salivanya kasar. "Tampan sih, tapi apa Mama tahu kalau dia belum punya pasangan? Apa Mama juga tahu asal usul dia dari mana? Main sambar aja," protes Kia.
"Kia dengar Mama, kalau tahun ini kamu belum punya pasangan juga, jangan salahkan Papa sama Mama tetap menjalankan perjodohan itu!" ultimatum Mama Gayatri akhirnya keluar juga.
"What? Wait! Mama tidak sedang bercanda kan?" netra Kia membola menatap lurus ke arah layar ponselnya dengan spontan dia berdiri dari duduknya.
"Bercanda? Siapa yang sedang bercanda, Kia? Mama bicara serius! Setinggi apa pun sekolah kamu, tetap saja predikat ibu rumah tangga itu, kamu sandang juga. Apalagi kamu itu putri satu-satunya dari keluarga Wongso. Mama nggak ingin keturunan dari keluarga Wongso punah begitu saja!" suara Mama Gayatri mendengung di rungu Kia yang terdengar mengomel sepanjang kereta.
Pufff!
Ponsel di tangan Kia, hampir saja terjatuh. Wanita itu buru-buru menyambar gelas di dekatnya. Meneguk isinya yang tinggal separuh hingga tandas. Lalu kembali menatap ke layar, yang menampilkan sosok Mamanya yang juga balas menatapnya tanpa berdosa.
Azkia mendengkus, ingin mengumpat tapi takut kualat.
Gayatri Wongso, Ibu kandung dari Azkia. Yang berarti Ibu Negara dalam keluarga Wongso. Segala titahnya tidak ada yang berani membantah.
Tapi, hanya Kia orang nya yang selalu membantah titah Mamanya. Berapa kali Kia menggagalkan perjodohan yang telah direncanakan oleh Mama Gayatri. Dan kini, sepertinya sudah habis kesabarannya. Dia akan lebih tegas lagi pada putrinya itu.
"Kalau orang tua sedang bicara itu, didengarkan, Azkia! Bukannya masuk telinga kanan keluar telinga kiri!"
"Iya-iya, Mama. Kia selalu dengar omongan Mama. Tapi kan sekarang Kia lagi serius bantuin Papa ngurusin perusahaan," Kia berkilah lagi.
__ADS_1
"Selalu dan selalu banyak alasan! No.. No! Perusahaan juga sudah ada yang urusin, walaupun Papa kamu pensiun! Harta Papa kamu tidak akan habis untuk membiayai hidup kamu sampai kamu memiliki cucu sekalipun. Yang perlu kamu kerjakan sekarang adalah menikah. Jika sampai akhir tahun ini kamu belum juga ada pasangan. Jangan salahkan Mama, jika jalan perjodohan harus ditempuh!" tegas Mama Gayatri membuat pusing kepala Kia seketika. Untung tidak kejang-kejang.
"Astaga, Mama. Azkia aja belum ada dua puluh lima. Sudah main jodoh-jodohan lagi," dengkus nya kesal. "Ingat, Ma. Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Sekarang sudah canggih, banyak berseliweran wanita karier yang mandiri."
"Ohh, kamu mau jadi wanita karier yang mandiri? Oke, Mama acungi jempol sepuluh! Tapi kamu harus siap tercoret dari KK Keluarga Wongso!" Mama Gayatri mempertegas ucapannya.
"Haah, Mama!" Kia terkejut dengan ucapan Mamanya. "Kenapa bisa begitu, Mama?"
"Karena dalam Keluarga Wongso tidak menerima istilah perawan tua!" suara Gayatri menggema seketika.
"Astaga, Mama," teriak frustasi Kia.
Dadanya terasa sesak. Bibirnya mangap-mangap seperti ikan koi dalam aquarium yang kehabisan oksigen.
Semua laki-laki yang pernah dijodohkan dengan Kia selalu mendapatkan tolakan mentah-mentah dan berbagai alasan. Dari yang terlalu serius, seperti kutu buku. Terlalu cerewet seperti wartawan atau pembawa berita. Bahkan lebih cocok jadi sales marketing obat daripada suami Kia. Ada juga laki-laki yang sok dengan harta keluarganya. Dan yang terakhir menolak Albert yang beberapa bulan yang lalu ditolaknya, dengan alasan anak Mami yang manjanya tak ketulungan.
Tuuuttt..
Azkia mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Diam-diam Jonathan mengamati wanita yang tengah memijat pelipisnya itu. 'Kenapa kia tidak menerima panggilan itu? Apa Nyonya Gayatri benar-benar marah besar sama Kia?' pertanyaan yang belum ada jawabannya itu menguar begitu saja.
Jonathan mendekati Kia. "Kenapa nggak diterima telepon dari Nyonya Gayatri?"
Kia menaruh kepalanya di atas meja, "Pusing dengan permintaan Mama yang aneh?" jawab Kia, malas.
"Aneh gimana?" Jonathan makin penasaran.
"Aku disuruh cepat nikah tahun ini. Kalau tid--," Kia malas melanjutkan kalimatnya.
Jonathan nyengir kuda. "Kalau tidak dicoret dari KK Keluarga Wongso. Harus mau menjalani perjodohan. Bla-bla," serentetan kata-kata yang keluar dari bibir Jonathan, membelalakkan bola mata Kia.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu semua itu? Atau jangan-jangan dari tadi kamu menguping pembicaraan aku dengan Mama, ya?" selidik Kia.
"Aahh, kenapa jadi ribet begini," Kia mendesah kasar.
"Tidak ada yang ribet, Nona Azkia. Jika Nona mau menerima dengan lapang dada keputusan Tuan dan Nyonya Wongso," kata Jonathan tiba-tiba.
"Enak saja kamu bilang! Kalau aku nggak cinta, bagaimana?" seru Kia.
Cinta?
"Apa perlu ya dalam cinta dalam perjodohan?" tanya Jonathan sok polos.
"Ya harus lah! Cinta itu penting dalam satu pernikahan! Percuma saja menikah kalau tak ada cinta di antara keduanya! Kata Chef yang ahli dalam masakannya, akan terasa hambar. Jika kurang bumbu tambahannya, apalagi bahan utamanya. Sama dengan cinta. Dalam satu ikatan janji suci yang terucap oleh pria yang menjadi imam dalam keluarga. Dia akan menjadikan istrinya ratu dalam istana megahnya, sebagai cinta sejati tanpa harus ada cinta yang lain, cukup dua kursi singgahsana tak ada kursi-kursi para selir lainnya.
Karena bagi seorang suami, akan menjadikan istrinya. Satu-satunya wanita yang ada dalam pandangan matanya, pusat segala-galanya dari perhatiannya, kasih sayangnya, penghasilannya. Bahkan suami akan terbiasa dengan kehadiran istrinya di kehidupannya dan juga di hatinya. Menerima segala kekurangan istrinya. Dan suami juga hanya mengagumi satu wanita saja yaitu istrinya," panjang sekali Kia mengeluarkan segala uneg-uneg hatinya.
"Bagaimana jika suami Nona Azkia mengagumi wanita lain?" pertanyaan yang membuat dongkol hati Kia.
"Nggak boleh!"
"Jika itu Ibu kandungnya, bagaimana?"
"Jonathan...!" teriak histeris Kia.
Kekehan Jonathan semakin membuat panas indera pendengaran Kia.
'Kenapa semakin ke sini aku semakin mengagumi kamu, Azkia? Meskipun bibirmu itu mengeluarkan kata-kata pedas sekalipun. Bagiku itu adalah kata-kata biasa yang menjadikan aku mulai terbiasa dengan kehadiran kamu, di sisiku. Bagaimana jika kamu kelak menikah dengan orang lain? Aku pasti akan merindukan semua tentang kamu. Cerewetmu, usilmu, manjamu, bandelmu, genitmu! Ya, Tuhan. Ada apa dengan hatiku. Kenapa jantungku berdebar begini, jika berdekatan dengan Azkia?'
"Bagaimana kalau kita menikah?" ucap Jonathan tersenyum dengan sangat manis.
"Jonathan..! Dasar manusia gedebuk!" suara Kia lebih histeris lagi.
__ADS_1
Jonathan terkekeh melihat wajah kesal Azkia. Yang terlihat sangat imut di matanya.
💖💖💖💖💖