
Happy reading..
☘️
☘️
Pria berparas tampan itu duduk dengan tenang di kursi kerjanya, sambil memandang kalung yang berliontin huruf A.
'Sampai kapan kau akan menyembunyikan rahasia malam itu, Azkia? Aku sudah lelah mengikuti permainanmu. Aku ingin segera menikahimu. Mungkin saat ini kamu pandai menyimpan rapat-rapat kejadian itu. Tapi sampai kapan? Entahlah!' gumam Jonathan.
Di otak Azkia waktu itu adalah diam lebih baik. Dia sudah menyimpan cerita rahasia malam itu dari siapa pun hingga hari berganti bulan. Tapi tidak dengan Jonathan, meskipun di malam kejadian itu. Jonathan mabuk berat dan dalam pikirannya wanita itu adalah Jessica, kekasihnya yang sudah memutuskan hubungannya sepihak. Namun akhirnya dia datang kembali untuk meminta maaf pada Jonathan dan mengajak balikan lagi, hingga terjadi pergulatan panas di atas ranjang king size kamar hotel yang disewanya.
Tapi ketika Jonathan terbangun dari lelapnya. Wanita yang semalam bersamanya, menghabiskan malam panas itu telah menghilang begitu saja. Bagaikan ditelan bumi.
Jantung Jonathan berdegup kencang lagi, setiap dia membayangkan wajah gadis cantik yang agresif perebut keperjakaan miliknya. Tak akan semudah membalikkan telapak tangan bagi Jonathan untuk melupakan gadis itu di malam panas yang menyatukan mereka.
Dengan cepat Jonathan menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari gadis yang keluar dari kamar hotel berbintang lima tersebut.
Jonathan memegang erat kalung dengan simbol huruf A keluar dari Hotel. Senyuman manisnya tak dapat pudar dari bibirnya sedikit pun. Meskipun malam itu adalah pengalaman pertama baginya dan juga gadis misterius itu.
"Aku harus segera menemukan mu dan bertanggung jawab atas perbuatanku," tekatnya.
Azkia masuk ke ruangan Jonathan tanpa mengetuk pintu dengan wajah yang terlihat kesal.
"Jonathan..!" suaranya memenuhi ruangan yang hanya ada dua orang di situ.
Jonathan melirik jam dinding yang menghiasi tembok ruangannya. Sudut bibirnya terangkat naik, perlahan. Melengkungkan senyum tipis melengkapi wajah tampannya.
Azkia mengebrak meja kerja Jonathan. "Bodyguard minta di PHK beneran ini!" sungutnya.
"Kenapa Kia?" wajah Jonathan dibuat sepolos mungkin.
"Kau mulai berani melupakan batasanmu! Lihat jam itu!" cicitnya seraya menunjuk jam yang menempel di dinding.
"Ada apa dengan jam itu? Dipelototi setiap hari, tetap saja bentuknya bundar tak pernah berganti menjadi segitiga," jawabnya santai tanpa menatap ke arah Azkia.
"Tugas kamu apa, sih!" bentaknya pada Jonathan. "Sampai jam segini tak kasih makan anak orang!"
"Azkia yang cantik nggak boleh marah-marah begitu," goda Jonathan untuk meredakan emosi Kia.
"Lapar?"
Pertanyaan pria yang mode tak bersalah itu, semakin menaikan emosi yang sudah meletup-letup di dadanya.
Dengan cepat Kia memutar lutut dan mengambil langkah seribu untuk cepat pergi dari ruangan tersebut.
Bruagg
__ADS_1
Bantingan yang sangat keras penuh emosi itu, mengagetkan pria yang hendak menahan tubuh Azkia. Tapi Jonathan gagal. Dia sendiri saja terjingkat mendengar suara bantingan pintu coklat tua itu.
Alih-alih marah, Jonathan diam-diam menertawakan tingkah lucu Nona majikannya itu. Jonathan faham betul dengan sifat Azkia. Mengumpat kesal padanya, sudah kebiasaan sehari-hari. Gadis yang biasanya bersikap anggun dan ramah pada siapa pun tanpa memandang status ekonominya itu sungguh membuat Jonathan terpikat. Hingga dia mendeskripsikan tentang kepribadian Azkia dengan satu kata yaitu MENARIK!
***
Jonathan mengambil piring berisi nasi dan juga lauk lengkap dengan sayurnya yang disodorkan oleh Bu Wiji ke arahnya.
"Terimakasih, Bu," ucapnya tersenyum.
Azkia belum memesan makanannya, ia hanya diam membisu dengan meletakkan tangan di dagunya.
Dia masih tak percaya dengan bodyguard nya yang berparas tampan, tapi selera makannya di tidak perlu mengeluarkan budget yang tinggi.
"Malu makan di sini?" tanya Jonathan sebelum memasukkan suapan dari tangannya sendiri.
Azkia menautkan alisnya.
"Enak?"
"Mantap," Jonathan mengacungkan jempolnya. Lalu berdiri dengan tangan kiri yang memegang piring.
"Bu Wiji, tambah lauknya lagi," panggil Jonathan pada penjualnya.
"Tambah lauk apa?" Bu Wiji bertanya pada Jonathan dengan membuka gorden, penutup sederhana agar lalat tidak masuk ke dalam etalase yang dibuat memajang masakannya.
Azkia masih belum juga memesan makanannya juga. Ia menelan salivanya kasar. Sisi hatinya sangat ingin sekali segera memesan makanan yang sama seperti pria yang sedang menikmati makanannya dengan lahap. Tapi satu sisi nya lagi, melarang dirinya agar tidak memakan makanan sembarangan.
"Katanya lapar, kenapa belum juga pesan dari tadi?"
"Beneran aman kan? Tidak buat sakit perut?" bisik lirih Kia di telinga Jonathan, tak enak bila terdengar penjualnya.
Buru-buru Jonathan meraih gelas yang tak jauh dari jangkauannya, lalu meneguk seperempat isinya.
"Aaakk," Jonathan memberikan suapan ke mulut Azkia. Tapi Kia tetap menutup rapat-rapat bibirnya.
"Coba dulu, baru bisa berkomentar," Jonathan menempelkan ujung sendok yang berisi nasi dengan lauk pindang goreng di atasnya.
"Jawab dulu," kekeh Kia.
"Dibuat aman saja. Kalau sakit tinggal panggil ambulans," ujar Jonathan seenaknya.
Azkia menggeleng cepat. "Nggak mau."
"Nih buktinya, aku nggak kenapa-kenapa."
Setelah mendengar perkataan Jonathan barusan, Azkia baru mau membuka bibirnya dan memakan nasi suapan dari Jonathan.
__ADS_1
Jonathan tersenyum lebar. Ternyata dia tidak salah menilai Azkia. Dia juga mau diajak makan di warteg yang sederhana, tapi higenis makanannya.
Jonathan menyuapkan kuah sayur asem ke mulut Kia.
"Kecut banget," Kia bergidik merasakan kuah sayur asem yang tidak biasa dia makan.
"Sesekali merasakan yang kecut, jangan makan makanan yang manis terus nanti---."
"Diabetes," pekik Azkia.
"Seratus buat kamu, besok masuk pagi ya, anak pintar," canda Jonathan.
"Garing, nggak lucu," jawab Kia datar.
"Karena aku bukan Raditya Dika yang pandai stand up komedi."
"Pandainya apa?"
"Memahat hatimu."
"Apa hubungannya! Beda jurusan itu," protes Azkia.
Tanpa disadari Kia, ia mengambil gelas berisi air putih yang sudah diminum seperempat oleh Jonathan. Lalu meminumnya hingga tandas.
Jonathan terbengong.
"Apa?" seru Kia.
"Kalau minta cium bilang aja, nggak usah ngambil dari gelas bekas aku minum," senyum manis Jonathan seraya menyugar rambutnya.
Azkia membulat. "Siapa yang minta cium?"
"Itu kamu minum bekas gelas aku, kan sama aja kita bercumbu lewat situ," seketika Kia mengayunkan tangannya memukul lengan Jonathan.
"Dasar otak-otak bandeng!"
"Haah.." gantian Jonathan yang dibuat melongo Kia.
"Konsep apalagi itu?"
"Konsepnya, otak kamu ini sudah hancur seperti otak-otak bandeng!"
Jonathan mendengkus pelan lalu menarik napas dalam-dalam.
"Otak cerdas begini dibilang otak-otak bandeng! Sungguh terlele kamu, Kinder Joy!"
"Tak apa Kinder Joy kan manis. Disukai banyak orang," ledek Azkia.
__ADS_1
💖💖💖💖