Pesona My Hot Bodyguard

Pesona My Hot Bodyguard
Buang Sial


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Azkia akhirnya terbiasa dengan kawalan Jonathan sebagai bodyguard pribadinya.


Pagi itu, Azkia akan memimpin rapat. Menggantikan sang papa. Tapi, dia tidak menyangka akan kedatangan tamu yang tak pernah diharapkan lagi dalam kehidupannya.


Pintu coklat tua itu terbuka lebar, Calisa berusaha mencegah seseorang yang nekat masuk ke dalam ruang kerja Azkia. Dengan menerobos sekretarisnya.


"Apa Bapak tuli, tidak bisa mendengarkan ucapan saya? Kalau hari ini Nona Azkia tidak bisa menerima tamu! Apalagi anda juga belum membuat janji terlebih dahulu!" cerocos Calisa.


"Bapak! Bapak! Aku bukan Bapak kamu!" Laki-laki itu membalas ucapan Calisa sambil menerobos masuk, di saat ada celah.


"Aduh..," tubuh Calisa seketika oleng oleh senggolan bahu pria yang emosi dengan kata-katanya.


"Maaf, Nona Azkia. Saya sudah melarang Bapak ini, masuk ke dalam ruang kerja Nona Azkia. Tapi tetap saja, Bapak ini memaksa ingin bertemu dengan Nona Azkia. Padahal dia belum membuat janji terlebih dahulu dengan Nona Azkia," ucap Calisa yang tidak memperdulikan tatapan tajam yang ditujukan padanya oleh pria yang tidak diinginkan oleh Azkia.


Azkia mengangguk kecil pada Calisa. "Tidak apa-apa, Calisa. Tamu ini biar aku yang mengatasinya. Kamu lanjutkan saja pekerjaan yang sempat tertunda," titah Azkia pada sang sekretaris.


"Baik, Nona Azkia," Calisa pamit undur diri dan pintu kembali tertutup. Menyisakan dua orang yang berbeda gender itu.


Tanpa segan dan malu, Harvey mendekati meja kerja Azkia. Dengan percaya diri bahwa wanita yang duduk di kursi kebesarannya itu, masih menyimpan cinta untuknya. Harvey menampilkan senyum manis disertai kerinduan yang telah lama tak terobati.


"Cintaku, ke mana saja dirimu? Bagaikan ditelan bumi, kau menghilang dari pandanganku dan juga hidupku. Aku begitu merindukan kamu, Azkia," pekiknya dengan tubuh yang tiada jarak lagi dengan Azkia.

__ADS_1


Namun, reaksi yang diberikan Azkia pada Harvey. Tidak seindah yang ada dalam bayangannya. Azkia menolak secara halus pelukan yang akan diberikan Harvey padanya.


"Maaf, aku nggak bisa, Harvey," ucap Azkia tetap fokus pada lembaran demi lembaran berkas yang akan dibuat bahan rapatnya, hari ini.


"Cinta, aku sangat merindukanmu. Apa kamu masih marah denganku?" tanya Harvey penuh perhatian. Tapi bagi Azkia ingin sekali memuntahkan isi dalam perutnya ke muka si breng sek Harvey.


'Dasar pecundang! Tak tau malu! Jelas-jelas dia berselingkuh, masih saya dengan PD nya datang ke hadapanku lagi!' omel Azkia dalam batinnya.


Sebenarnya Harvey sangat mencintai Azkia. Juga sangat memuja tubuh Azkia yang begitu sempurna di matanya. Dengan lekuk tubuh yang pas digenggaman.


Walaupun Harvey hobby datang ke club' malam, dia bukan penganut pergaulan bebas dan berakhir dengan one night stand. Ia hanya menginginkan hubungan itu dengan kekasihnya, yaitu Azkia. Tapi Kia selalu menolak dengan alasan belum halal menjadi pasangan suami istri. Namun karena hasr4t yang tidak bisa dibendung lagi. Akhirnya dia jatuh dalam jebakan yang dibuat oleh temannya sendiri.


"Maaf, aku sedang sibuk. Sebentar lagi, aku juga mau memimpin rapat menggantikan Papa," ucap Azkia dengan menumpu dagu di atas kedua tangannya.


"Mengapa harus minta maaf, Harvey? Apa kamu melakukan kesalahan padaku?" tanya Azkia datar.


"Cinta, please. Kita tidak sedang bertengkarkan? Kamu baik-baik saja kan?" Harvey tetap kekeh tidak mau pergi dari ruangan itu.


"Siapa yang bertengkar? Ini kantor, Harvey. Tidak baik buat membahas masalah pribadi di sini. Kamu harus tahu situasi dan kondisinya. Tolong, bisakah kamu pergi dari sini. Aku masih sibuk dengan tugas yang diberikan oleh Papa," pinta Azkia, cara halus mengusir Harvey dari hadapannya.


Alih-alih pergi dari hadapan Azkia. Pria itu malah menarik tangan Azkia yang tengah sibuk menscroll data-data dari laptop nya. Hingga membuat Azkia terkesiap dengan tindakan yang tak diduga oleh Azkia.

__ADS_1


Tak bisa mengelak, tubuh Azkia langsung terjatuh dalam pelukan si Harvey yang sudah sangat merindukannya. Azkia hanya diam mematung, tidak membalas pelukan pria yang pernah menghancurkan dirinya. Gara-gara dia, Azkia terjebak dalam one night stand dengan seseorang yang belum pernah dia kenal sama sekali.


Cairan bening yang menggenang pada kedua sudut mata indahnya, dengan sekali kedip. Cairan itu akan berhasil lolos membasahi pipinya. Jika mengingat kembali kejadian itu, sangat menyakitkan. Namun, apalah daya Azkia. Hidup tetap berjalan, sekuat apapun kita menolaknya. Jika semua itu sudah menjadi kehendak Alloh, pasti akan terjadi juga. Bagi Azkia, perselingkuhan Harvey kemarin itu, sudah tak termaafkan lagi. Buat apa dipertahankan lagi, bila dari salah satu pasangan sudah tak setia. Jika saling mencintai, tak seharusnya saling menyakiti, bukan.


Selama berpacaran dengan Harvey. Azkia selalu menjaga hati dan tubuhnya hanya untuk Harvey. Bagaikan ditusuk ribuan jarum, hati Azkia tersayat sembilu. Menjijikkan! Sangat menjijikkan kelakuan Harvey dengan si j4 lang itu! Harus dengan pepatah apalagi Azkia mendeskripsikan sakit hatinya. Dia hanya menginginkan tubuhnya bisa menyatu dengan Harvey dalam ikatan pernikahan yang sah dan halal.


'Apa perlu aku perlihatkan bagaimana cara pembalasan dendam pada pria yang telah berkhianat! Hingga dia tidak bisa menemukan kembali hidup yang sempurna! Dengan begitu mudahnya dia berjanji, seolah-olah cintanya tulus dan suci diberikan untukku seorang. Tapi nyatanya, dia yang menghancurkan juga semua harapan dan impian. Tinggal angan-angan yang tertelan bumi. Tapi, aku juga berterimakasih padamu, Harvey. Dari sebuah penghianatmu, aku bisa merasakan bagaimana rasanya sakit hati dan terbuang oleh orang yang sangat kita cintai. Dan kamu juga akan merasakan itu suatu hari nanti. Aku pastikan itu!' monolog Azkia pada dirinya sendiri.


Tok tok tok


Suara ketukan dari luar ruangan Azkia.


Tak ada jawaban dari dalam, hening. Hingga Jonathan memutuskan langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu, tanpa menunggu sang empunya mempersilakan.


Pandangan Jonathan tertuju pada pria yang menatap tajam ke arah Azkia dengan menggenggam erat tangannya.


Penuh kewaspadaan, Jonathan mendekat ke arah Azkia. Dengan ide gilanya, Jonathan mengusir pria itu dari ruangan Azkia.


"Sayang, ternyata kamu masih di sini. Aku sudah menunggu kamu di ruang rapat dari sepuluh menit yang lalu," ucap Jonathan menghampiri Azkia dengan menarik tubuh Azkia ke dalam pelukannya.


Azkia menghela nafas panjang, memejamkan matanya sesaat. Memberi ruang pada otaknya agar bisa berpikir jernih. 'Kenapa aku harus menemui pria-pria gila, hari ini. Ya Alloh,' batinnya menjerit.

__ADS_1


Dari bibir Jonathan terbit senyum kemenangan melihat wanita dalam pelukannya itu, membalas juga pelukan hangatnya. Walaupun dalam hati Azkia kesal setengah mati. 'Ini namanya buang sial dari buaya rawa ketangkap buaya sungai!'


💖💖💖💖💖


__ADS_2