
Happy reading..
☘️
☘️
"Mama, kapan pulang? Tak ada gitu rasa rindu Mama pada putrinya yang cantik ini? Kia tak datang aja ke acara itu, ya? Pasti membosankan acara seperti itu bagi anak muda," Kia merajuk pada Mamanya di sambungan udara.
"Azkia, putri Mama satu-satunya. Jangan buat malu keluarga Wongso!" Mama tak mau kalah dengan rayuannya putri cantiknya.
"Tapi Mama, mendingan Kia di rumah saja. Beneran deh, acara itu pasti tak jauh dari ajang pamer," bibir Kia sudah maju satu senti lagi.
"Pamer apa, Kia Markiya? " kesal Mama Gayatri yang mengganti sebutan nama putrinya.
"Haah, Markiya? Kenapa nama cantik Kia berubah sebutan gitu Mama?" omel Kia tak terima namanya diganti oleh Mama Gayatri mendadak.
"Suka-suka Mama! Yang punya anakkan, Mama!" balas datar Mama Gayatri.
"Ya sudah, Kia juga bisa menolaknya!" cemberutnya dengan meninju guling dalam dekapannya.
"Bisa atau tidak, kamu harus tetap datang! Mama nggak mau dengar penolakan, jangan buat malu Papa! Karena hanya kamu yang bisa menghadiri pesta pernikahan Putra rekan bisnis Papa!" belum juga Kia menjawabnya, Mama Gayatri sudah lebih dulu memutus sambungan seluler tersebut. Karena tak ingin mendengar rentetan rengekan putri cantiknya itu.
Huffft!!
__ADS_1
"Kebiasaan, Mama deh! Selalu tutup telepon sebelum ada kata kesepakatannya! Katanya cuma satu minggu! Tapi sekarang sudah satu bulan berlalu, belum pulang juga! Apa Mama sama Papa, tak rindu putrinya di sini gitu?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa disadari Azkia, ada seseorang yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, sembari bersandar dan mendekap kedua tangannya di depan dada bidangnya.
Sang bodyguard yang selalu setia berada di sisi Nona majikannya. Jonathan Edward yang selalu siap siaga dua puluh empat jam untuk menjaga sang putri pewaris tahta Keluarga Wongso.
"Hei, Nona majikan yang cantiknya paripurna nggak luntur meskipun terkena tetesan air hujan," Jonathan langsung menerobos masuk ke dalam kamar Nona majikannya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Ya salam, Gedebuk! Ketuk pintu dulu nggak bisa kah! Main selonong boy aja!" seru Kia yang hanya memakai hot pant, langsung menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Maaf, emang aku sengaja!" Jonathan mengerlingkan sebelah matanya.
"Ini Indonesia, Bodyguard Gedebuk! Bukan Paris, Jonathan! Kamu harus tahu sopan santun adat orang Indonesia! Emang kamu orang mana sih, nggak tahu adat istiadat!" omel Kia mulai membahana.
"Tidak semudah itu, Bambank!" teriak Kia emosi, terpancing amarah.
"Hei.. Hei, siapa juga itu Bambank?" protes Jonathan. Jelas-jelas itu bukan namanya. "Namaku, Jonathan!" sebutnya.
"No protes! No ngomel!" hardik Kia berkacak pinggang, melupakan apa yang disembunyikan dari tadi dari pria yang kini netra nya membulat sempurna.
Jonathan membulat sempurna, terbengong. Dengan apa yang nampak di depannya, sekarang ini. Sesuatu yang sangat primitif bersembunyi dibalik resleting celana jeansnya, mendadak mengembang. Tersiksa seolah-olah dia menginginkan kebebasannya, segera.
Kia yang berdiri mematung melihat perubahan warna di wajah tampan sang bodyguard belum menyadari juga, karena ulahnya begitu mengakibatkan sakit mata Jonathan oleh pemandangan yang diciptakan oleh Azkia, gadis yang pernah mengarungi malam panas berdua waktu itu.
__ADS_1
Hingga beberapa detik, Jonathan tak mengedipkan matanya. Ia tidak mengalihkan pemandangan yang sangat indah, saat ini.
****
Azkia sama sekali tak menggubris omelan Jonathan. Ia memilih masuk dalam mobil Range Rover lebih dahulu, kemudian mendaratkan punggung ke sandaran jok mobil penumpang di samping kemudi. Lantas mengalihkan pandangan saat Jonathan sudah duduk di belakang kemudi dan mengamati aksinya dengan wajah datar.
'Azkia, kau benar-benar menguji kesabaran seorang Jonathan Edward,' kesel Jonathan dalam batin. 'Coba aja jika kamu bukan Putri dari Keluarga Wongso! Dari kemarin sudah aku bawa kabur!'
Setelah memasang seat belt Jonathan mulai fokus dengan setir bundar di depannya dan mobil mulai keluar dari gerbang rumah, lantas dengan laju sedang ******* jalanan. Kediaman mewah milik Keluarga Wongso perlahan mulai kecil.
Sore telah berganti malam, Azkia menghukum Jonathan dengan traktiran ice cream. Ya, malam itu Azkia sangat ingin memakan ice cream untuk menghilangkan rasa pusing dan mengembalikan moodnya. Perdebatan dia dengan Mamanya, lagi-lagi dimenangkan oleh Nyonya nomer satu di Keluarga Wongso. Meskipun Azkia ngotot tak ingin menghadiri acara rekan bisnis Papanya.
Jonathan tidak memulai pembicaraan dalam mobil, dia hanya mengetuk-ngetuk setir bundarnya dengan satu jari. Dia melirik wanita yang duduk di sebelahnya, mengamati tingkah Nona majikannya. Sedangkan posisi Azkia tetap memandang jalanan dengan sejuta pikiran yang menumpuk dalam otaknya. 'Andaikan memori otakku bisa dihapus seperti file dalam komputer lipatku. Sudah aku pastikan orang nomor satu yang aku delete adalah Harvey. Tinggal tekan tombol delete sudah hilang semua tentang dia. Tapi ini bukan komputer lipat, yang di sini adalah otakku yang tersimpan semua rekaman tentang laki-laki brengsek itu.'
Azkia menghela nafas panjang, lalu mendesah. 'Ya, Alloh. Kenapa aku terlahir hanya seorang diri di keluarga Wongso, andaikan aku mempunyai kakak atau adik, aku pasti sudah bercerita semua tentang keluh kesahku ini. Dan andaikan laki-laki di sampingku ini adalah pasangan halalku, aku ingin segera memeluknya serta menumpahkan isi dalam otakku yang tak bisa aku tampung lagi. Tapi, sepertinya laki-laki ini, begitu sabar menjaga dan mengerti aku,' kata Kia bermonolog sendiri dalam batinnya.
Sementara dalam pikiran Jonathan, sekarang ini adalah masih menerka-nerka tentang wanita yang bersamanya malam itu. 'Apa aku harus bicara dulu pada Kia tentang kejadian naas itu? Sepertinya Kia belum tersadar juga, jika pria yang telah merenggut kesucian itu aku orangnya. Ataukah Azkia mengalami hilang ingatan sekarang ini, hingga dia tidak bisa mengingat kembali memori panas yang pernah kita habiskan bersama malam itu? Hufft, andaikan Azkia telah resmi menjadi istriku, aku akan menjadi pria yang beruntung. Pagi hari bisa menyerang Azkia dengan serangan fajar yang sehat untuk berolahraga di pagi hari,' senyum Jonathan tiba-tiba mengembang menghiasi bibirnya, membayangkan pagi hari yang berbau tentang dua puluh satu plus.
Jonathan berkeyakinan dapat mengembalikan file itu pada otak Azkia, jika memang wanita itu lagi dalam amnesia sesaat. 'Yes! Aku pastikan akan berhasil membuat ingatan yang indah itu dalam pikiran kamu, Azkia. Karena aku nggak rela semua itu hilang begitu saja. Kamu juga orang pertama yang mengambil keperjakaanku. Kamu juga harus bertanggungjawab. Azkia harus bisa menjadi milikku,' tangan Jonathan mengepal kuat.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit. Akhirnya mereka sampai juga di Gerai Ice Cream Sweet Couple, favorit Azkia.
💖💖💖💖
__ADS_1