Pesona My Hot Bodyguard

Pesona My Hot Bodyguard
Cerita Hati


__ADS_3

Happy reading..


☘️


☘️


Di Cafe favoritnya itu, adalah tempat yang istimewa bagi Azkia. Banyak cerita hati yang tidak dapat terlupakan begitu saja.


Tempat yang selalu dikunjunginya bersama Harvey, laki-laki yang telah mengecewakan


dan tega melukai hatinya.


Mata Azkia tertuju pada seorang wanita yang terlihat cemas. Sekilas dia melirik benda bundar yang melingkar di pergelangan kirinya, lalu menyesap kembali cairan yang ada dalam cangkir di depannya. Sesekali menatap hujan deras yang turun di luar jendela.


Menunggu!


Pekerjaan yang sangat membosankan dan juga menjenuhkan!


'Wanita itu pasti sedang menunggu seseorang yang spesial di hatinya!' gumam Kia. 'Entah sudah lama atau masih baru menghabiskan satu cangkir minuman yang dipesannya,' monolog Kia yang terus memandang ke arah wanita itu.


Hingga satu jam berlalu, namun seseorang yang ditunggunya pun tak kunjung datang. Jika ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa akan ada pelangi setelah hujan. Tapi tidak bagi wanita itu.


Mungkin hatinya telah lelah menunggu pelangi yang tak kunjung terbit di matanya. Hujan yang deras berganti menjadi rintik-rintik yang hanya menyisakan air yang tak turun bersamaan.


Terdengar suara wanita Pegawai Cafe yang datang kembali ke mejanya untuk menawarkan minuman atau makanan lainnya. Tapi hanya sebuah gelengan kepala yang menjadi jawaban wanita itu.


"Terimakasih, tidak perlu diisi lagi cangkir yang telah kosong," akhirnya wanita itu menyuarakan penolakan yang telah ditawarkan oleh Pegawai Cafe tersebut.


"Tak perlu sungkan, mbak. Minuman ini memang sudah disediakan untuk setiap pengunjung cafe yang masih setia duduk di sini," Pegawai cafe memberikan penjelasan sesuai aturan yang telah dibuat oleh sang owner cafe.


Jonathan yang duduk di depan Azkia yang terpisah dengan meja. Menatap lurus ke arah Azkia, lantas beralih mengikuti arah pandang wanita yang terdiam di hadapannya.


"Eheem.." deheman Jonathan membuyarkan fokus Azkia.


"Apa?" netra Kia membulat.


"Adakah kesamaan nasib kamu seperti dia?" pertanyaan konyol terlontar juga dari bibir bodyguard yang selalu bersamanya.


"Sama apaan! Beda lah!" tolak langsung oleh Azkia.


"Tapi, sorot mata kamu mengartikannya bukan itu," kekeh Jonathan. "Bahkan bisa dibilang pernah merasakan kecewa yang sama seperti wanita yang di sana," tunjuk Jonathan pada seseorang yang berjarak tidak jauh dari mereka.


"Huuh, sok tahu! Kayak paranormal!" seru Azkia lalu mencibir.

__ADS_1


"Kan aku memang paranormal yang bisa baca pikiran dan hati kamu," jawab santai Jonathan.


"Nih, mulai ngarang-ngarang! Kalau mau menghalu itu jangan jauh-jauh! Seorang penulis aja menghalunya tidak begitu!" oceh Azkia.


"Kata siapa?"


"Kata aku barusan, Bambank!" kesal Kia.


"Dari sebuah kehaluan tingkat dewa yang akan menciptakan karya-karya indah yang terkumpul dalam satu cerita novel yang digemari oleh para reader kesayangan yang selalu menunggu di bab-bab selanjutnya. Entah itu kebucinan atau kesedihan yang tertuang di setiap goresan hasil karyanya. Mood booster seorang penulis juga bisa datang dari komen positif para reader kesayangan. Bahkan juga bisa menjatuhkan ke dasar jurang yang terjal bagi segelintir reader yang julid akan karya receh seorang penulis yang baru merangkak," ujar Jonathan pada Azkia yang mendengar dengan bibir yang melongo. Dia tidak pernah membayangkan bahwa seorang Jonathan bisa juga berkata seperti itu.


Sedetik kemudian, pandangan Azkia kembali lagi pada meja yang kini telah berdiri seorang pria dengan membawa mawar putih untuk dipersembahkan pada wanita yang sedari tadi menunggunya dan hanya mengucapkan satu kata, MAAF!


Wanita itu hanya terdiam, tak menjawab dan juga tak menerima mawar putih yang disodorkan oleh pria yang masih berdiri di depannya.


Azkia menghempaskan nafasnya. Lantas menggerutu hingga terdengar oleh Jonathan.


"Haah! Hanya dengan kata maaf saja yang terucap dari bibir pria itu!" dengkusnya.


"Kalau aku jadi wanita itu, sudah aku pastikan. Aku cabik-cabik mukanya!" omel Azkia sambil *******-***** tisu yang ada di genggaman tangannya.


"Dia bukan kamu," jawab Jonathan datar.


"Hufft!" tangan Kia menghantam udara.


"Laki-laki sama saja! Selalu memakai kata saktinya, MAAF! Dikira maaf itu bisa mengobati hati yang terluka gitu!" cerca Azkia seolah menyerukan kekesalan hatinya.


Azkia beranjak dari duduknya. Lalu melangkah ke arah toilet cafe.


"Maaf..," kata Azkia yang menyenggol sikut laki-laki yang hendak meminum kopi dari cangkir yang didekatkan di bibirnya.


Laki-laki itu baru saja merasakan aroma kopi yang mengalir ke otaknya untuk meredam emosi jiwanya, karena sang wanita memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka.


Laki-laki itu bangkit dan membersihkan celana kainnya yang basah oleh siraman kopi yang belum sempat dinikmatinya.


Merasa bersalah, Azkia langsung menyambar tisu di atas meja, lalu langsung berlutut membersihkan celana laki-laki tersebut dan membersihkan pecahan cangkir yang berserakan di lantai.


Kedua netra mereka bertemu. Laki-laki itu berusaha mengingat wajah cantik wanita yang berdiri di hadapannya, kini.


Azkia pun juga kaget dengan melihat wajah laki-laki yang sekarang tengah mengamatinya.


Bagaikan menemukan sebuah mutiara di dasar lautan yang telah lama diimpikannya. Laki-laki itu langsung menyebutkan sebuah nama tanpa ada keraguan lagi.


"Azkia?" pekiknya.

__ADS_1


Pemilik nama yang disebutkan hanya memandang wajah laki-laki itu dalam-dalam. Dia masih belum menemukan satu nama dalam otaknya. Hingga laki-laki itu menyebutkan identitasnya sendiri.


"Agung! Agung Bramantyo!" sebutnya berulang-ulang. Hingga menyebutkan nama lengkapnya.


Azkia meneliti wajah laki-laki itu, dilihatnya dari sisi kanan dan kiri tubuh yang berusaha meyakinkannya.


"Beneran kamu Agung Bramantyo?" Azkia masih tak percaya.


"Iya, aku, Agung Bramantyo. Salah satu fans berat kamu, Azkia," balasnya lagi.


Azkia tersenyum malu, wajahnya bersemu merah merona. Brangkas file-file yang berserakan berusaha dikumpulkan kembali.


"Duduk dulu, Kia," Agung mempersilakan Kia untuk duduk bersama satu meja dengannya. Tapi Azkia hanya menjawab dengan senyuman.


"Sama teman?" tanya Agung yang langsung bisa menebak pikiran Kia.


"Eh, iya. Bukan teman tap--," kata-kata Azkia mengambang.


Agung langsung menyambarnya. "Pacar?"


Azkia menggeleng pelan, "Bukan."


"Lalu, siapa?" terlihat di wajah Agung yang menegang menatap intens Azkia. Karena dari tatapannya, laki-laki itu sepertinya menyimpan perasaan untuk wanita yang berdiri di hadapannya.


Dari jauh Jonathan mengomel sendiri. "Damn it! Siapa lagi itu laki-laki? Mau bersaing dengan seorang Jonathan! Oh, tentu tidak bisa! Azkia hanya milik Jonathan! No.. No.. Yang lain!"


"Sama siapa Azkia? Apa aku mengganggu kencan kamu?" tanya laki-laki itu lagi sembari menggoyangkan tangan Azkia untuk menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Eh, aku nggak ada kencan. Lagi sama bodyguard aku," jawab Azkia agak ragu, takut si bodyguard gedebuk itu, tersinggung dengan ucapannya barusan.


"Ohh, hanya bodyguard. Aku kira kekasih kamu," Agung tertawa singkat.


Tiba-tiba dari arah belakang tubuh Agung, datang seorang pria yang sengaja menyenggolkan bahunya pada bahu Agung.


"Hanya seorang bodyguard, tapi bukan bodyguard biasa!" sahut Jonathan dengan suara baritonnya, hingga hampir seluruh pengunjung cafe memandang ke arah mereka bertiga.


Azkia melirik sekilas pada Jonathan, lalu menggeleng.


"Kenalkan, Aku Jonathan. Seorang bodyguard penjaga dan sekaligus pemilik hati Azkia!" ucapnya tegas tanpa keraguan dan kebohongan sedikitpun di mata Jonathan, ketika mengucapkan kata-kata itu.


Azkia menelan salivanya kasar, lalu menyipitkan pandangannya ke arah Jonathan.


"Sayang, yuk kita pulang. Sudah larut malam nanti kamu diculik kalong!" ujar Jonathan menyindir laki-laki yang masih terbengong.

__ADS_1


💖💖💖💖


__ADS_2