
Happy reading..
☘️
☘️
Duduk bersisian di dalam mobil dengan Jonathan, sungguh membuat hati Azkia tak tenang. Mobil sedan hitam yang mereka tumpangi memecah kemacetan jalanan kota.
Azkia memperbaiki posisi duduknya sambil tetap melempar pandangannya di luar jendela.
Jonathan berdehem. "Ada yang lebih menarik di luar?" tanyanya.
Suara Jonathan terdengar nyaring di telinga Kia, hingga membuyarkan fokus Kia yang melihat ke jalan.
'Matanya fokus ke mana? Pendengarannya ada di mana? Jeli banget orang satu ini,' gerutu Kia dalam batin. Padahal sejak tadi Jonathan sang bodyguard tampak fokus pada layar sentuhnya. Azkia tak menyangka, jika sejak tadi pergerakannya diperhatikan oleh pria tampan yang duduk dengan tenang di sampingnya.
Kia memutar mata malas. Tidak akan pernah habis berdebat dengan pria itu. Ujung-ujungnya tetap dialah yang akan kalah dalam perdebatan panjang dengan pria bawel seperti Jonathan Gedebuk. Dari luarnya saja terlihat seperti patung salju yang duduk diam mematung, tapi aslinya nyebelin banget.
Kendaraan roda empat itu terus melaju mendekati hotel yang mereka tuju. Jonathan sedikit menyerongkan posisi duduknya ke arah Kia. "Ingat, jangan jauh-jauh dari aku. Demi keamananmu di acara pesta itu. Kita datang ke pesta itu, sebagai pasangan. Jadi tetap berada di sisiku, jika kamu tak ingin terjadi sesuatu," Jonathan berkata tanpa ada senyuman sedikit pun di bibirnya. Sebaliknya tatapan tegas yang Kia lihat di netra pria tampan itu.
Kia mengangguk pelan. Jika dia membantah semua omongan Jonathan. Bisa dipastikan, selanjutnya adalah siraman rohani Mama Gayatri yang Kia dengar.
"Good!" suara kemenangan terdengar juga dari bibir pink tua milik sang bodyguard.
Mobil sedan mewah berhenti di depan pintu lobby hotel. Keduanya turun dari mobil, Jonathan mengaitkan kancing jas. Lalu menekuk siku berdiri di samping Kia untuk menggamit lengannya. Sangat terlihat macho dan laki sejati. Pasangan yang sangat serasi di depan kamera pencari berita. Perlahan, mereka berjalan memasuki tempat acara digelar dengan senyum manisnya, Kia dan Jonathan tidak melepaskan tautan tangan keduanya.
__ADS_1
'****! Apa dunia ini memang sempit?'
Azkia tak percaya dengan yang baru saja dilihat nya. Dengan jelas dia dapat menangkap sosok yang ia kenal sedang berdiri dengan bahagianya bersalaman dengan para tamu yang datang.
"Angkat dagu, tatap balik orang yang meremehkan kamu. Anggap mereka hanyalah nyamuk pengganggu penjilat penghisap darah yang akan memuji dirimu setinggi langit hanya untuk mendapatkan keuntungan, setelah berhasil mendapatkan semua. Dia akan melemparkan dirimu ke dasar jurang," bisik Jonathan yang santai menghadapi orang-orang penjilat yang berada di pesta macam itu.
Sebenarnya Kia merasa jengah dan malas berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Tapi dia tidak berani membantah titah sang Mama. Demi kelancaran dan tidak terjadi sesuatu pada dirinya, Kia hanya bisa menurut pada Jonathan, saat ini. Orang kepercayaan Papa dan Mamanya.
Singkat cerita, acara tersebut terus berjalan sesuai dengan rencana sang empunya acara.
Semakin malam, ballroom hotel itu semakin dipenuhi oleh para tamu undangan yang terus berdatangan.
Kia bernafas lega. Seusai meneguk cairan orange yang menyegarkan tenggorokannya. Dia mengedarkan pandangan memperhatikan para tamu yang begitu banyak. Dan baru dia sadari, bahwa dia sudah tidak bersama sang bodyguard lagi. Sekarang dirinya tengah berdiri sendiri di ramainya pesta.
"Harvey..." tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Rasa ketakutan yang menghinggapi dirinya. 'Jonathan kamu di mana? Cepat tolong bawa pergi aku dari sini!' teriaknya kencang dalam batin. Bibirnya terkunci rapat tanpa bisa berkata-kata.
"Akhirnya kamu datang juga di acara pertunanganku. Aku tidak menyangka kamu masih punya nyali juga hadir di pesta aku," Kia pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan oleh sang mantan brengseknya itu.
"Maaf, aku permisi dulu," pamit Kia yang dibalas dengan tarikan kasar oleh Harvey pada lengannya. "Mau ke mana, Kia. Disini dulu temani aku malam ini. Apa kamu tidak ingin memelukku untuk yang terakhir kali?" oceh Harvey yang tak digubris Kia.
"Jaga sikap kamu Harvey! Lepaskan tanganku! Mana sopan santunmu pada tamu undangan keluarga besar kamu!" Kia menghempas tangan sang mantan dengan kasar.
"Azkia.. Azkia.. Jangan sok jual mahal kamu!" tangan nakal Harvey melingkar ke bahu Kia.
"Apaan sih, Harvey!" seru Kia berjalan tergesa-gesa meninggalkan Harvey yang berusaha mengejarnya.
__ADS_1
"Aahh, kenapa hatiku masih sakit, jika melihat dia bersama wanita lain? Move on, Azkia!" wanita itu, berlari ke arah toilet. Menepi dari keramaian pesta di ballroom hotel.
Menyandarkan punggung pada dinding dan bertelanjang kaki. Sepasang sepatu high heels tergantung di jemari tangan kirinya, salah satu haknya patah.
Gila!
Azkia menatap ke arah cermin besar di hadapannya dan menemukan kenyataan bahwa dia benar-benar harus bisa membuka hati untuk orang lain. Buang si brengsek Harvey. Tidak bisa dipungkiri oleh wanita yang kini matanya sembab oleh tangisan konyolnya. Harvey adalah sosok pria yang pertama kali menyatakan cinta pada Azkia. Dan kesalahan tidak sepenuhnya ada pada diri Harvey. Tapi bagi Azkia yang tidak menganut s3 x bebas seperti kebanyakan gaya berpacaran anak jaman now. Dia memegang prinsip malam pertama akan dilakukan dengan orang yang menjadi suami halalnya, namun semua diluar kemauannya. Malam naas itu telah merenggut semuanya. Dia kekeh menolak ajakan Harvey, tapi malah berakhir di atas ranjang pria lain yang sama sekali tidak dia kenal.
Tangan besar seseorang tiba-tiba membekap mulut Kia. Dari aroma yang menyeruak ke indera penciumannya, bisa dipastikan orang itu adalah laki-laki. Bau parfum khas seorang pria.
Siapa dia?
Azkia terus meronta agar dilepaskan. Bukannya dilepaskan, pria itu berbisik di rungu Kia. "Apa kamu masih mengharapkan dia kembali?" deru napas itu membuat bulu kuduk Kia berdiri. Pikirannya melayang serasa terhipnotis.
Perlahan pria itu membalikkan tubuh Kia menghadap ke arahnya.
"Jonathan.."
Azkia mengerjapkan matanya beberapa kali, lantas mengurut pelipis. Ia melakukannya beberapa saat. Tanpa tendeng aling-aling, telunjuknya diarahkan ke dada Jonathan.
"Apakah kau akan berlabuh di hatiku? Untuk menggantikan pria brengsek itu?"
"Tak hanya untuk sesaat berlabuh menggantikan seseorang nama yang telah melukainya," kini Jonathan yang berkata, lalu menunjuk dada wanita cantik yang tengah rapuh jiwanya. "Kamu bisa merasakannya di sini," ucapnya sembari menunjuk dada Azkia berkali-kali. "Karena rasa itu bukan ada di sini," jari telunjuk Jonathan berpindah ke kepala wanita yang masih terdiam dan mencoba menelaah semua deretan kata-kata yang terucap dari bibir Jonathan yang menatapnya lekat.
💖💖💖💖
__ADS_1