
Happy reading..
☘️
☘️
"Sabar ya, Joe. PMI biasanya cuma satu minggu. Kalau Kia sudah tidak mengibarkan bendera Jepang lagi, nanti Mama siapin paket honey moon biar kalian berdua tidak sungkan sama Papa dan Mama. Jika mau bangun kesiangan tak ada yang gangguin, biar bebas hambatan jebol gawang Kia."
Mama Gayatri tersenyum menoleh ke arah Kia sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda putri semata wayangnya yang sudah dewasa.
Azkia mendengus kesal. 'Apa-apaan sih Mama! Pakai acara honeymoon segala. Bisa tambah besar aja itu kepala si Gedebug. Belum tahu aja si Mama, kalau gawang putrinya sudah dibobol duluan sama manusia gelato itu! Kalau tahu, bisa-bisa dikuliti itu si bodyguard gelato!'
Malu?
Sudah pasti!
Anak sendiri dibully!
Dasar Mama Durjana! Papa juga ikut-ikutan. Ingin rasanya muka Kia masuk dalam kobokan agar segera hilang warna merah bak kepiting rebus di wajahnya.
__ADS_1
Azkia akhirnya angkat bicara untuk menolak acara honeymoon yang dipersiapkan oleh Mama Gayatri.
"Di kantor masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan, Ma," tolak Kia dengan nada lembut dan santun.
"Pekerjaan nomor belakang! Buat cucu nomor satu."
Azkia langsung mendelik plus dengan mulut yang menganga, mendengar Papa Devian bersuara. Ditambah lagi dengan gerakan yang menyenggol lengan Mama Gayatri, meminta dukungan atas ucapannya barusan. Semakin membuat merah bersemu di pipi Kia.
"Harus itu, Pa. Buat cucu nomor satu! Pekerjaan bisa diurus yang di kantor. Lagian ngapain bingung, harta keluarga Wongso tidak akan habis sampai cucu, cicit hingga kejindil-jindilnya," cicit Mama Gayatri menambah panas suasana di meja makan, saat ini.
Jonathan hampir saja tersedak, buru-buru Kia mengambilkan air putih di depannya, lantas menyodorkan ke arah Jonathan.
"Ya ampun, Nyonya Gayatri Devian Wongso. Ingat umur, jangan lebay!"
Azkia memutar bola matanya, jengah. "Gini aja, dibilang so sweet. Mama belum tahu aja, kalau si Jonathan itu orangnya nggak bisa romantis!"
"Kata siapa?" Jonathan tersenyum devil menatap Kia yang jadi kelimpungan ditatap seperti itu oleh si bodyguard hatinya.
"Kamu kali, Kia. Yang nggak bisa romantis pada Jonathan. Maka nya jadi istri itu harus perhatian sama suami. Biar banyak mendapatkan pahala. Menyenangkan suami itu juga ibadah loh, Kia."
__ADS_1
Memberengut, Azkia beranjak dari duduknya. Ia tak lagi bisa menyembunyikan kekesalannya yang sedari tadi dibully oleh Papa dan Mamanya.
Jonathan bergerak cepat dengan mencekal tangan Kia, agar tidak beranjak dari duduknya. "Mau ke mana, Sayang? Habiskan dulu makannya, tidak baik membuang-buang rezeki yang telah diberikan oleh Alloh untuk kita nikmati hari ini."
Kedua orang tua paruh baya berbeda gender itu terlihat kaget dengan apa yang diucapkan pada Putri kesayangannya itu.
Mama Gayatri langsung mengusap lengan Papa Devian. Seolah berbicara lewat matanya. Kita tidak salah pilih menantu, Pap.
Sedangkan Azkia sudah memajukan bibirnya, bisa-bisa dikucir bibirnya. Tapi beda di mata Jonathan, baginya Kia selalu mengemaskan.
"Pingin dicium, ya. Bibirnya kok dimajuin begitu," lirih Jonathan tapi tetap saja bisa terdengar di indera pendengarannya Mama Gayatri.
"Widihh.. Udah main templok menemplok nih, Pap. Si pengantin baru. Kita jadi beneran bisa pamer foto sambil gendong cucu, Pap," ujar Mama Gayatri yang mendapatkan anggukan kepala dan senyuman manis dari Papa Devian.
"Tuh, kan. Mama mulai lagi!" Azkia menghentakkan kakinya ke lantai.
"Omongan Mama ada benernya juga, Sayang. Semakin cepat kita blender jus alpukat dimix pisang sunpride, semakin besar peluang dapat cucunya," goda Jonathan yang langsung mendaratkan cubitan panas di pinggangnya.
"Sayang.. Sayang..! Emangnya tahu kalau aku juga sayang sama kamunya?" bisik Kia dengan mengapit daging empuk yang ada di pinggang Jonathan.
__ADS_1
"Aduh.." ringis Jonathan. "Jangan dicubit tapi disayang gitu loh, yang," Jonathan menggenggam erat jemari Kia.