
Happy reading..
☘️
☘️
Perlahan Jonathan meninggalkan Kia sendiri. Dia berjalan menuju mobilnya yang berada di pelataran hotel. Di sana Jonathan ditawari oleh sopir pribadi keluarga Wongso yang mengantarkannya ke pesta. Lalu dia menghidupkan api rokoknya sembari bersandar pada bagian depan mobil menunggu Kia. Dihembuskannya asap rokok ke udara membentuk huruf O sambil membayangkan wajah Nona majikannya yang cantik. Ia tak rela harus melihat wanita itu kesakitan bahkan ia harus kehilangan wanita yang sudah mengobrak-abrik hatinya.
Bodoh! Memang Harvey bodoh! Kenapa wanita secantik dan sebaik Azkia disakiti lalu dicampakkan begitu saja? Andaikan aku yang memiliki wanita itu. Aku pastikan akan menjaga dan membahagiakannya. Jangan sampai dia terluka kembali untuk sekian kalinya!
Jonathan menggelengkan kepalanya. Mungkinkah kesempatan itu ada? Akan kah Azkia juga mempunyai hati yang sama seperti yang dirasakan Jonathan, saat ini? Konyol sekali!
Kaki kanannya menendang kerikil yang ada di bawah sepatunya.
"Jika sudah yakin dengan hati kamu, kejarlah dan dapatkan dia. Sebelum orang lain mengambilnya dari sisimu!"
Jonathan terkesiap mendengar suara seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Eh, apa maksudnya?" Jonathan menoleh ke samping, di mana laki-laki itu berdiri. Tapi belum sempat Jonathan mendapatkan jawabannya. Terdengar suara wanita menjerit kencang.
"Azkia..?"
Jonathan berlari kencang mencari sumber suara berasal.
"Azkia.."
"Kamu di mana?"
Jonathan berhenti berlari, terengah-engah mengambil napas sejenak. Lalu dihembuskan kasar. Pandangannya tertuju pada wanita yang bersandar di body samping mobil yang terparkir asal. Azkia tertunduk sambil menangis ketakutan. Sangat nampak sekali dari bahu Kia yang turun naik menahan isak tangis yang begitu menyesakkan dada.
Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangannya. Dia sangat ketakutan saat ini. Dalam hatinya terus berdoa agar pertolongan untuknya segera datang.
__ADS_1
"Tenang Kia, ada aku di sini," Jonathan menepuk punggung Kia dengan lembut.
Azkia terjangkit. Reflex berteriak sekuat tenaga. Namun, belum juga suaranya keluar. Tangan kekar Jonathan sudah membungkam mulut Kia terlebih dahulu.
"Ini aku, Jonathan!" dengan cepat Jonathan membalikkan tubuh Kia menghadapnya.
Ekor mata Nayla perlahan melihat ke arah pria jangkung yang berdiri di hadapannya. Setelah mastikan kalau pria itu adalah sang bodyguard tampannya. Segera Azkia memeluk tubuh tegap itu.
"Aku takut Joe! Bawa pergi aku dari sini!" isaknya lagi.
Jonathan meneguk salivanya yang terasa getir, saat menyaksikan Nona majikannya yang sangat dipuja nya itu dalam keadaan kacau seperti itu.
Jonathan membiarkan sejenak Kia menangis untuk mengeluarkan segala amarah dan rasa sakit dikecewakan dan dicampakkan begitu saja oleh orang yang kita cintai.
"Mari kita pulang," ajak Jonathan pada Kia yang mulai tenang.
"Dia menyakitiku!" suara Kia terbata-bata.
"Bukan! Wanita ja l4ng itu!" ucap Kia lagi.
Azkia mendongak lalu menatap wajah Jonathan dengan deraian air mata yang kembali mengucur deras.
Jonathan tampak terkejut, melihat wajah cantik Kia yang membekas tamparan seseorang. Dan di sudut bibirnya ada sedikit sisa darah yang mengering.
"Joe! Sakit hatiku!" pekik Kia. Semakin mengeratkan lingkaran tangan di belakang punggung Jonathan dan menangis sejadi-jadinya di ceruk lehernya.
"Pinjam bahumu, sebentar," masih sempat Kia berbisik lirih di telinga Jonathan. Membuat sang empunya merinding disko.
Jonathan mengangguk samar. Entah Azkia melihatnya atau tidak. Yang dia rasa hanya bagian dadanya kini basah oleh buliran bening milik Azkia yang mengalir deras dari mata wanita cantik itu.
Dalam perjalanan pulang ke rumah. Azkia tetap saja tak mau memindahkan posisinya dari pelukan hangat Jonathan yang membuatnya nyaman. Mata Kia terpejam dengan tangan yang mengetat melingkar di leher kokoh milik Jonathan.
__ADS_1
Jonathan menghembuskan napasnya yang terasa berat. 'Sial!' runtuknya. Gelenyar asing yang seketika melanda sekujur tubuh lantaran ulah si Nona majikannya. Bagaimana bisa Jonathan bertahan dalam situasi seperti itu. Ada sesuatu yang ingin bergerak bebas di bawah sana. Semakin menahannya semakin pusing pulah kepalanya. Untuk kaca pembatas di tengah-tengah telah ditutupnya, agar pak sopir tidak bisa melihat bebas ke arah belakang.
Pada akhirnya, Jonathan ikutan juga mengeratkan pelukannya di tubuh Kia.
Hidup tak seindah yang dibayangkan. Terkadang semuanya berjalan tidak sesuai ekspetasi. Di saat kita sudah sangat mencintai pasangan kita. Tapi, dengan seenaknya dia bermain api di belakang kita. Giliran terbakar, berteriak minta tolong. Ingin gebukin nggak yang model begituan?
Sesampainya di rumah. Jonathan membuka pintu mobil sangat pelan agar tidak membangunkan Kia. Jonathan membopong tubuh Kia ala bridal style menuju kamar tidurnya.
Suasana rumah yang sudah sepi. Para penghuninya sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing.
Perlahan dan sangat hati-hati Jonathan membaringkan tubuh Kia di atas ranjang king size yang bersprei pink dengan corak bunga-bunga.
Jonathan merapikan anak rambut yang menutupi wajah Kia, kemudian menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Kia yang masih lengkap memakai gaunnya.
Setelah melakukan tugasnya dengan baik. Sejenak Jonathan menatap wajah Kia yang tampak terlelap nyaman di atas ranjang. Dan tak lupa juga Jonathan mengatur suhu ruangan kamar tidur Kia, agar dia tidak terjaga dalam mimpinya. Setelah dirasa sudah semua, Jonathan menghela nafas lega sambil meregangkan otot persendian yang terasa pegal.
Lalu, Jonathan beranjak dari tempatnya sekarang, namun tiba-tiba lengannya ditarik seseorang dari belakang. Reflex Jonathan memutar tubuhnya dan menoleh ke belakang. Azkia menjulurkan tangannya, menggenggam lengan Jonathan dengan erat masih dengan terpejam kedua matanya.
"Jangan pergi.. Jangan tinggalin Kia.." rengeknya.
'Astaga Kia, aku bisa gila!' Jonathan menggelengkan kepalanya dengan perasaan tak karuan. Suhu tubuhnya tiba-tiba naik melihat Azkia yang merengek memeluk erat lengannya. Hingga posisi Jonathan saat ini terbaring tepat di sebelah tubuh Kia.
Semakin gugup, semakin tak karuan jantung Jonathan berdetak kencang saat ini. Terlebih lagi, Kia yang terus memindahi tangan Jonathan melingkari tubuh rampingnya yang tak tertutup selimut dengan sempurna. Sementara tangan Kia berpindah ke leher kokoh Jonathan.
'Ambil napas, keluarkan,' gerutu Jonathan dalam batin. 'Setebal apa pun imanku, Kia. Kalau berhadapan dengan mu seperti ini. Rasa ingin sekali segera nyungsep ke dasar lebah yang tak bertuan itu!' omelnya. Apalagi tanpa membawa peta Dora sekalipun Jonathan pasti tidak akan tersesat di dalamnya.
Seperkian detik Jonathan menahan nafasnya. Meredakan rasa gugup dan panas dingin yang kian melanda dirinya. Namun, usahanya sia-sia. Wajah cantik nan mulus itu semakin dekat dengan wajahnya. Nyaris tak berjarak.
'Apa aku tahan tidak menerkamnya kembali? Hanya author somplak yang tahu selanjutnya! Atau aku memaksa saja biar dibuat tambah seru cerita aku dan si cantik Azkia!'
💖💖💖💖💖
__ADS_1