
Caca lalu duduk tegak dan mengambil kotak perhiasan yang Azhar letakkan. "Buat aku?!"
Caca begitu terpukau dengan kalung yang Azhar berikan. Selama ini saat melihat kalung mahal ini dipajang di Mall elit, ia hanya sanggup menatap dengan tatapan penuh harap. Kapan bisa membeli dan memakainya?
Kini hal yang selama ini Caca harapkan malah ia dapatkan tanpa ia duga. Azhar mengeluarkan kalung dari kotak perhiasan dan memakaikannya di leher jenjang Caca.
"Wow!" Caca memuji betapa cantiknya kalung yang dikenakan di leher putihnya. "Bagus sekali."
Azhar memeluk Caca dari belakang. Mengecup pundak Caca yang polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi. "Kamu yang membuat kalung itu terlihat lebih cantik lagi."
Caca tersenyum senang. Ia tahu dirinya sedang digombali, namun hatinya tetap saja senang. "Mas bisa aja."
"Kamu tahu, Mas beli kalung itu saat mengajak Julie jalan-jalan loh di Mall. Bahkan, Julie tidak Mas belikan! Saat Julie sedang melihat tas, Mas ijin ke toilet dan diam-diam membeli untuk kamu. Mas kepikiran kamu terus. Sehari enggak tidur bareng kamu, Mas sudah rindu berat. Makanya Mas ajak kamu honeymoon. Mas mau terus menghabiskan malam-malam kita berdua. Kita jangan bertengkar ya! Karena waktu kebersamaan kita lebih berharga untuk kita habiskan hanya dengan bertengkar saja." Azhar memeluk Caca makin erat.
Caca mengangguk seraya memegang kalung terindah miliknya. "Maafin aku ya, Mas. Aku sudah memaksakan keinginan aku sama Mas. Aku yakin, Mas pasti akan membuat keputusan yang terbaik."
"Tentu dong! Contohnya sekarang, Mas mau kita memadu kasih lagi seperti tadi. Malam ini kita bersenang senang. You're mine."
****
Hari sudah agak siang saat Caca terbangun keesokan harinya. Tubuhnya terasa lelah seperti dipukuli orang satu kampung. Belum lagi banyak bekas percintaan panas mereka di tubuhnya.
Azhar benar-benar tak pernah merasa puas dengan Caca. Bahkan saat tidur pun, Caca tak dibiarkan jauh dari Azhar. Terus ia peluk dengan erat.
Caca membuka matanya dan disambut dengan harum kopi yang menyerbak memenuhi kamar hotel. Nampak Azhar begitu tampan, sedang duduk di sofa seraya memperhatikan layar laptop miliknya dan menyeruput kopi panas.
"Morning Princess!" sapa Azhar yang terlihat segar meski semalaman mengajak Caca mencapai puncak gairah berkali-kali.
"Morning." jawab Caca dengan suara serak. Caca duduk dengan tegak seraya meregangkan tubuhnya yang pegal semua.
__ADS_1
"Kamu mau sarapan apa? Biar aku pesankan saja! Atau mau ke restoran langsung?" tanya Azhar.
Caca menggelengkan kepalanya. "Pesankan saja nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Aku mau mandi. Tubuhku pegal semua."
Caca turun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan santai tanpa memakai sehelai benang pun. Ia berjalan menuju kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya sehabis percintaan semalam.
"Suit...suit!" Azhar pun bersiul. "Pagi-pagi udah lihat bidadari polos berjalan. Gimana tidak makin segar pemandangan aku? Rasanya aku jadi pengen mandi dua kali deh." ujar Azhar dengan tatapan penuh maksud.
"Jangan macam-macem deh! Kita harus pergi ke Bali! Jangan sampai ketinggalan pesawat! Aku akan mandi dan mengunci pintu, jadi kamu telepon restoran dan siapkan sarapan aku sambil lanjut bekerja saja ya!" Caca mengambil handuk mandi dan masuk ke dalam kamar mandi.
Caca menatap dirinya di cermin. Penampilannya berantakan dengan banyak bekas kissmark di tubuhnya. "Kenapa aku malah terjebak dalam hubungan suami istri ini? Kenapa juga aku begitu menikmatinya? Bagaimana nanti aku akan mengakhiri semua ini tanpa harus merasa tersakiti?" gumam Caca pelan.
Caca membuang nafasnya kasar. Ia segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk sarapan. Azhar tidak nampak di kamar. Caca melihat sekat ruangannya terbuka dan mengintip apa yang Azhar lakukan.
Rupanya Azhar sedang video call dengan Julie. Azhar nampak sedang membujuk Julie untuk bersabar menunggu dirinya pulang.
Caca menutup sekat kamar mereka dengan rapat. Hatinya sakit mengetahui suaminya berbicara mesra dengan wanita lain, sekalipun istrinya sendiri.
"Lapar banget! Aku sampai ditinggal sarapan." sindir Azhar yang baru selesai menelepon.
"Kenapa juga aku harus menunggu suami istri yang asyik video call dengan mesra sementara perut aku udah kelaparan?!" balas Caca.
Azhar mendekat dan mencium pucuk kepala Caca. "Ingat, waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan bertengkar saja!"
Azhar lalu duduk di samping Caca dan memakan sarapannya. "Julie tuh harus dikasih alasan yang tepat, jadi enggak akan curiga. Karena itu aku video call dia. Biar meyakinkan."
"Terserah Mas aja. Aku udah habis sarapannya. Aku mau beresin barang-barang kita sebelum check out."
Azhar dan Caca check out setelah selesai sarapan. Mereka langsung menuju bandara dan bersiap terbang ke Bali.
__ADS_1
Lagi-lagi Caca tertidur selama di perjalanan. Energinya seakan terkuras habis setelah semalam melayani Azhar. Demikian dengan Azhar yang juga tertidur pulas.
Sampai di Bali mereka sudah lebih segar. Azhar langsung mengajak Caca makan siang sebelum melakukan sidak ke salah satu anak perusahaannya yang berada di Bali.
Azhar mengambil beberapa foto selama di Bali dan mengirimkannya pada Julie, sebagai bukti dimana dirinya berada. Meski sebal karena Azhar masih saja memikirkan Julie di tengah honeymoon mereka, Caca biarkan saja. Ada rencana Caca yang lebih gila lagi.
Azhar sedang membahas pekerjaan dengan para kepala bagian. Kesempatan ini Caca manfaatkan untuk membaca pesan yang masuk dari sim card milik Kak Baim.
Sudah beberapa kali Julie mengirimi pesan ke nomor Baim. Caca hanya membaca namun tak membalasnya.
"Baim, bisa kita ketemuan sekarang?"
"Balas dong pesan aku!"
"Kamu marah ya karena aku omeli?"
"Maafkan aku, waktu itu suamiku marah karena kiriman bunga dan cokelat dari kamu. Aku terpaksa melakukan itu. Jangan marah lagi ya?!"
"Baim, please.... Aku kangen banget sama kamu!"
"Aku tahu kamu baca pesan aku. Aku kangen kamu! Suamiku sedang pergi ke luar kota. Bisa kita ketemuan? Aku tunggu kamu di rumahku!"
Caca tersenyum membaca pesan dari Julie. "Teruslah kamu berharap Julie, tak akan ada yang datang hari ini. Biar kamu tahu rasanya menunggu itu sangat tidak enak." batin Caca.
Caca kembali menonaktifkan SIM card milik Kak Baim. Ia pergi ke toilet dan merapikan dandanannya. Ia akan melayani Azhar selama di Bali ini dan memastikan akan menendang Julie dari hati Azhar.
Caca duduk kembali di kursinya. Ia lalu mengirimkan pesan ke Hp Azhar. Membuat meeting yang sedang serius bisa berakhir dalam waktu singkat.
"Mas, ke hotel yuk! Bosan nih! Lebih enak bersenang-senang sama kamu!"
__ADS_1
Tak lama pintu ruang meeting dibuka. Azhar bergegas keluar dengan senyum di wajahnya. "Ayo kita pergi!"
****