
"Maksud Mommy apa?"
"Mommy pikir kamu sudah bisa membedakan mana yang cinta dan mana yang obsesi. Ternyata tidak. Kamu masih belum bisa membedakannya!" kata Mommy.
Azhar terdiam, Mommy pun melanjutkan perkataannya lagi. "Menurut kamu, apa yang dilakukan Julie adalah obsesi atau cinta?" tanya Mommy.
"Obsesi lah!"
"Betul sekali. Lalu apa yang dilakukan Caca menurut kamu bagaimana? Cinta atau obsesi?!" tanya Mommy lagi.
"Itu... Obsesi sepertinya. Obsesi untuk membalas dendam." jawab Azhar lemah.
"Bukan cinta?"
Azhar menggeleng lemah.
Mommy tersenyum melihat kebodohan anaknya. "Inilah yang Mommy katakan kamu masih bodoh. Coba kamu pikir, jika Caca hanya obsesi membalas dendam sama Julie kenapa ia malah membuat hidup kamu lebih baik? Kamu diajak sholat, diurus, disayangi? Mana ada balas dendam kayak gitu? Sadar dong kamu, Zha. Caca tuh tulus sama kamu. Caca memang mau membalas Julie tapi sama kamu tidak. Dia tulus mencintai kamu! Mommy saja yang baru bertemu beberapa kali saja bisa melihatnya, kenapa kamu yang setiap hari bersama Caca tak menyadarinya?"
Azhar mencerna apa yang Mommy katakan. Memang benar apa yang Mommy bilang. Caca tak pernah menjahatinya. Caca malah banyak mengajarkan kebaikan dalam hidupnya. Caca juga yang membuat hubungannya dengan Mommy kembali membaik.
"Lalu aku harus apa, My?!" tanya Azhar terlihat bingung.
"Harus apa? Ya tentu saja kamu harus membawa Caca pulang dan memutuskan pernikahan kamu dengan Julie. Tapi sebelum itu, pulang dan mandi dahulu. Perbaiki penampilan kamu yang berantakan itu!"
Azhar mengangguk setuju. "Iya, My! Doain Azhar ya My!" Azhar salim dahulu pada Mommy sebelum pergi. Ia tahu semua masalahnya hanya satu kuncinya, doa Mommy.
"Tentu, Sayang! Mommy akan doakan kamu! Mommy yakin Caca jodoh terbaik kamu! Usahalah! Kembalikan Caca menjadi menantu Mommy!" dukung Mommy.
"Pasti, My! Azhar pamit, assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Azhar bak mendapat hidayah, ia secepatnya pulang ke rumah dan tak terkejut saat tak mendapati Julie. Istrinya atau lebih tepatnya calon mantan istrinya tak akan kembali pulang setelah kejadian kemarin.
Azhar segera membersihkan tubuhnya dan langsung menuju apartemen. Azhar terkejut saat tak mendapati keberadaan Caca. Semua barang milik Caca sudah lenyap, hanya tersisa beberapa pemberian dari Azhar dan cincin beserta kalung pemberiannya.
Sebuah surat ditinggalkan Caca, berisi tulisan tangan Caca yang rapi.
Untuk suamiku Mas Azhar,
Maaf atas semua perbuatanku yang telah memanfaatkan Mas demi keinginan balas dendamku semata. Maafkan semua kelicikanku, Mas. Aku sadar, kata maaf pun tak akan cukup untuk membayar semua kesalahanku sama Mas.
Aku pergi, Mas. Aku tahu Mas tak lagi membutuhkanku. Kutinggalkan semua barang pemberian Mas karena aku tak layak mendapatkannya. Terimakasih atas semua kebaikan Mas selama ini.
Caca
Azhar cepat-cepat meninggalkan apartemen Caca. Ia tahu surat ini sudah beberapa hari Caca tinggalkan. Ia tak mau sampai terlambat. Ia tak mau kehilangan Caca.
Azhar memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Caca. Nampak sebuah mobil sedan yang lumayan mewah sudah ada di depan rumah Caca. Azhar merasa mobil tersebut pernah ia lihat di parkiran basement.
Cepat-cepat Azhar turun dari mobil dan berjalan menuju rumah Caca. Pintu rumah Caca terbuka dan nampak suara orang sedang mengobrol.
Azhar pun mengucap salam, "Assalamualaikum!"
Seluruh perhatian kini tertuju padanya. Mama, Papa dan Eza yang sedang berkunjung terkejut melihat kedatangan Azhar.
Azhar masuk ke dalam rumah dan salim pada Papa dan Mama. Ia lalu melihat Eza yang nampak sangat disambut kedatangannya di rumah Caca. Azhar merasa tak suka. Ia merasa memiliki saingan.
Belum sempat berkata apa-apa, Caca keluar dari kamarnya sambil mendorong sebuah koper besar. Azhar terkejut, mau kemanakah Caca?
__ADS_1
Rasa takut pun hinggap dalam diri Azhar. Ia takut ditinggal Caca pergi. "Ca..."
Caca juga terkejut melihat kedatangan Azhar, apalagi Azhar memanggilnya dengan sangat hangat. Caca jadi bertanya-tanya, apa tujuan Azhar datang ke rumahnya?
"Kamu mau kemana, Ca?" tanya Azhar di saat Caca tak mampu berkata-kata karena tak menyangka akan kehadiran Azhar di rumahnya.
"Caca mau ikut Eza bekerja di luar kota." Papa yang menjawab mewakili Caca.
"Ke luar kota? Eza?" pandangan Azhar tertuju pada tetangganya yang pernah memisahkan perkelahian Caca dan Julie. Dalam hatinya timbul banyak pertanyaan, sejak kapan Caca seakrab itu dengan Eza? Apa hubungan mereka? Azhar berdoa semoga apa yang ditakutkan jangan sampai terjadi.
"Duduk dulu Zha!" Mama menengahi dan meminta Azhar duduk. Azhar pun menurut. Ia duduk diikuti oleh Caca yang juga disuruh duduk oleh Mama.
"Seperti yang kamu tahu, tujuan pernikahan kalian adalah karena niat keluarga kami. Bukan hanya Caca saja, tapi kami sekeluarga berniat membalas dendam pada Julie yang sudah membuat Baim bunuh diri. Pada akhirnya kami tahu jika Baim memang mengakhiri hidupnya demi kebahagiaan wanita yang dicintainya. Niat balas dendam sudah kami lupakan, Zha juga demikian bukan? Zha memecat Caca tanpa hormat di kantor berarti memang mau mengakhiri rumah tangga kalian bukan?!" ujar Mama langsung terus terang.
"Itu... Aku-" Azhar mau menjawab, namun Mama seakan tak memberi kesempatan Azhar bicara.
"Mama sekeluarga mewakili Caca meminta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu. Tak apa kalau kamu mau mengakhiri rumah tangga kalian. Caca pun sudah ikhlas dan Caca mau memulai hidup baru dengan ikut bekerja pada Eza." sambung Mama lagi.
"Mengakhiri? Siapa yang mau mengakhiri rumah tangga, Ma?!" tanya balik Azhar, membuat semuanya terkejut.
Mama berpikir kedatangan Azhar adalah untuk mengembalikan Caca pada keluarganya secara sopan dan hormat. Namun ternyata tujuan Azhar bukan seperti itu.
"Loh? Bukannya kamu ke sini mau mengembalikan Caca sama Mama dan Papa?!"
Azhar menggelengkan kepalanya, "Aku nggak pernah berniat untuk mengakhiri hubungan rumah tangga aku dengan Caca, Ma. Kuakui, aku sempat sangat marah saat tahu kalau ternyata Caca mempermainkan pernikahan kami. Aku lalu menyuruh security dan HRD untuk memecat Caca secara tidak hormat. Namun ternyata aku nggak bisa hidup tanpa Caca. Aku berusaha menanamkan rasa benci dalam diri aku akan kedua istri aku, ternyata terhadap Caca aku nggak bisa. Aku nggak bisa kehilangan Caca. Aku nggak akan ngelepasin Caca!"
Caca tak menyangka kalau Azhar akan berkata seperti itu. Tadi ia terkejut dan merasa takut karena rasa bersalah yang melingkupinya. Ketakutannya tidak terbukti, karena Azhar justru datang untuk membawanya pulang.
"Ca, ayo kita pulang!"
__ADS_1
****