Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Tangisan Mama


__ADS_3

Caca dan Azhar saling pandang. Keinginan Mommy sama seperti keinginan Azhar namun tidak dengan keinginan Caca. Misinya belum selesai dan ia harus segera menyelesaikan misi balas dendam yang ia buat sebelum semakin menyakiti hati semua orang.


"Sabar dong, Mi. Kita berdua 'kan belum lama menikah. Kalau ditanya, aku pasti pengen banget segera punya anak, namun segalanya butuh proses. Sebenarnya aku harus memperkenalkan Caca dulu pada Mommy lalu memberitahu tentang hubungan kami pada Julie. Namun karena Mommy sudah tahu, tugas aku ya memberitahu Julie baru kami bisa berencana untuk memiliki anak." jawaban Azhar membuat Caca bernafas lega. Setidaknya Azhar tak akan menaruh curiga jika dirinya tak kunjung hamil.


"Kalau begitu, kapan kamu akan memberitahu Julie?! Perlu Mommy bantu?!" desak Mommy. Mommy sangat tidak sabar ingin segera memiliki cucu. Ia kini yakin menantu mana yang terbaik untuk putranya.


"Tak perlu, Mi. Julie sudah tahu kalau Azhar punya istri lain."


"Bagus dong! Tinggal kamu bilang saja sama Julie kalau istri kamu itu adalah sekretaris kamu sendiri, Caca. Lalu kamu dan Caca melegalkan hubungan kamu di mata hukum dan kalau perlu, kamu ceraikan saja Julie! Dia cuma membawa pengaruh buruk saja buat kamu!" ujar Mommy.


"Iya, Mi. Azhar akan lakukan hal itu secepatnya. Jujur saja, Azhar semakin tidak nyaman dan banyak ketidakcocokkan antara Azhar dengan Julie. Mommy benar, Azhar telah salah memilih istri." sesal Azhar.


Mommy meraih tangan Azhar dan menepuknya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Terkadang kita memang harus bertemu dengan orang yang salah dahulu untuk tahu mana yang terbaik buat kita. Bertemu Julie salah satunya, kamu jadi sadar mana yang salah dan kamu bisa melihat sisi baik dari seorang Caca. Selagi masih bisa memperbaiki, perbaikilah kesalahan kamu!" nasehat Mommy dengan penuh bijaksana.


Caca merasa tak enak hati mendengarnya. Ia terlalu dipuji, padahal dirinya tidak sebaik itu. Caca mulai dihinggapi perasaan bersalah karena sebenarnya Azhar tidak salah dalam misi balas dendamnya. Azhar adalah korban, sama seperti Caca dan keluarganya yang kehilangan Baim karena Julie.


Caca jadi lebih pendiam, dan hanya menyimak saja percakapan Mommy dan Azhar berikutnya. Ibu dan anak tersebut terlihat semakin akrab saja. Tak ingin mengganggu mereka berdua, Caca pun pamit untuk kembali ke ruangannya.


Caca pun mulai bimbang. Ia mulai dihadapkan pada persimpangan jalan untuk memilih di antara dua pilihan. Tetap melanjutkan balas dendamnya atau berhenti dan menghabiskan hidupnya dengan Azhar. Caca ingin mengakhiri semua balas dendamnya. Sebuah keputusan yang berat dan mungkin akan membuat Mama kecewa.

__ADS_1


Dering telepon yang berbunyi menyadarkan Caca dari lamunannya. Ia pun mengangkat telepon tersebut dan ternyata yang menghubunginya adalah salah satu teman yang lulus interview bersama Caca dulu. Ia meminta Caca mengirimkan email yang pernah dikirimkannya dulu saat mereka masuk kerja.


Caca lalu mengiyakan permintaan temannya dan memintanya menunggu sambil mencari di antara tumpukan email yang jarang ia baca. Caca melirik sekilas ke arah ruangan Azhar, Mommy dan Azhar masih mengobrol dengan akrab. Caca putuskan untuk membersihkan email miliknya yang berisi promosi dan hal-hal tidak penting. Seraya mencari email milik temannya yang pernah dikirimkan dulu.


Setelah mencari dan membersihkan email miliknya, Caca pun menemukan apa yang temannya request dan mengirimkan balik email tersebut. Karena sedang senggang, Caca memutuskan kembali membersihkan email yang tidak terpakai.


Mata Caca terbelalak melihat ada pesan yang dikirimkan oleh Baim, kakaknya.


"Kak Baim? Kenapa Kak Baim kirim email ke aku?" batin Caca.


Caca pun cepat-cepat membuka email tersebut. Tangannya bergetar dan degup jantungnya bertalu dengan kencang. Rasa penasaran pun membuncah. Ia baca email yang dikirimkan oleh Baim. Tanggal yang tertera adalah 2 hari setelah kakaknya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Caca kemudian membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan kantor. Azhar melihat Caca pergi dengan terburu-buru namun tak sempat mengejar istrinya tersebut.


Azhar menelepon Caca namun semua panggilannya tak ada yang diangkat oleh Caca. Caca terus menangis selama berada di taksi. Ia putuskan untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Kedatangan Caca tentu saja membuat Mama terkejut. Tidak biasanya pada siang hari Caca pulang ke rumah. Mama pikir, Caca sedang sakit dan ingin bermanja ria pada dirinya namun ternyata tidak.


Sehabis salim dengan Mama, Caca masuk ke dalam kamar Baim tanpa sepatah kata pun. Mama pun dilingkupi rasa penasaran yang mendalam. Mama lalu mengikuti Caca dan melihat Caca sedang mencari sesuatu ditumpukan barang milik anaknya yang sudah tiada tersebut.

__ADS_1


"Kamu cari apa, Ca?!" tanya Mama namun tidak digubris oleh Caca. Anak perempuannya tersebut sibuk membongkar barang-barang Baim dan bahkan membuat seisi kamar berantakan.


Caca akhirnya menemukan apa yang ia cari. Sebuah kotak berukuran dokumen beserta nama perusahaan asuransi ia temukan rapi di bawah baju milik Baim. Benar-benar disembunyikan oleh Baim dengan rapi.


Sambil menangis, Caca membuka kotak tersebut. Tertulis nama Mama sebagai ahli waris atas asuransi jiwa milik kakaknya. Hal tersebut membuat Caca menangis sesegukan. Kakaknya memang bodoh. Ia mencintai Julie sampai sebegitu dalamnya padahal cewek itu nggak pantas untuk dicintai.


Mama yang penasaran lalu mengintip apa yang Caca lihat sampai menangis dengan sesegukan seperti itu. Mata Mama membulat tak percaya saat membaca kalau dirinya adalah ahli waris dari asuransi jiwa milik Baim dengan jumlah yang lumayan besar.


"Apa ini, Ca? Kamu tahu dari mana Kakak kamu memiliki asuransi seperti ini?!" bukannya menjawab pertanyaan Mama, Caca malah memeluk Mama dan menangis semakin kencang.


Mama pun ikut menangis meski belum tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Caca sampai menangis sesedih ini pasti ada hal yang sangat menyakiti hatinya dan itu berkaitan dengan Baim.


Setelah puas menangis dan menumpahkan air mata yang seakan tak berhenti, Caca pun menenangkan dirinya. Ia menghapus dengan kasar air mata di wajahnya dan menatap Mama yang terlihat kebingungan namun sangat sedih.


Caca lalu mengeluarkan handphone miliknya dan menunjukkan email yang dikirimkan oleh Baim. Mama membacanya pelan-pelan dan ia kembali menangis. Jauh lebih sedih daripada tangisan yang Caca keluarkan. Tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya karena anaknya rela berkorban untuk wanita lain.


Kini gantian, Caca memeluk dan menghibur Mama. Mereka adalah dua orang yang sama-sama terluka karena Baim lebih memilih membahagiakan seorang wanita yang tak layak untuk dicintai dibanding keluarga yang amat menyayangi Baim.


****

__ADS_1


__ADS_2