
Azhar pulang ke rumahnya bersama Julie tanpa semangat sama sekali. Ia sudah menduga kalau pertengkaran mereka akan semakin sengit.
Lelah seharian bekerja membuatnya sangat mudah tersulut emosi. Julie pun sudah bersiap untuk mencecar Azhar. Foto yang baru saja dikirimkan oleh Baim membuatnya semakin yakin kalau suaminya tersebut memang memiliki selingkuhan.
Azhar berjalan melewati Julie yang melipat kedua tangannya sambil menatap Azhar dengan lekat. Seakan tak peduli, Azhar langsung masuk ke dalam kamar dan menaruh jas miliknya ke sembarang arah.
Azhar lalu duduk di sofa diikuti dengan Julie. Ia tahu, sebentar lagi pertengkaran di antara mereka akan segera dimulai.
"Zha, kamu sudah mau menjawab pertanyaan aku atau belum?!" tanya Julie memulai percakapan di antara mereka.
"Nggak ada yang perlu aku jawab!" jawab Azhar dengan acuh. Azhar lalu mengangkat kedua kakinya dan menaruhnya di atas meja. Ia santai saja menghadapi Julie yang terlihat begitu marah.
Julie lalu mengeluarkan handphone miliknya dan membuka foto yang tadi dikirimkan oleh Baim. "Termasuk setelah melihat foto ini?!" Julie menunjukkan foto di handphonenya tersebut pada Azhar.
Azhar mengernyitkan keningnya, bukan karena takut Julie menerima foto tersebut namun karena ia bertanya-tanya siapa yang telah memfoto dirinya dengan Caca saat mereka berada di Bali? Timbul rasa penasaran dalam dirinya. Apakah Julie memang mengirimkan orang untuk memata-matai dirinya?
"Sudah aku duga, kamu memang ada hubungan dengan wanita ini! Jawab aku Zha, siapa dia?!" cecar Julie.
Azhar tersenyum sinis, "Tanya saja pada orang yang mengirimkan kamu foto itu! Siapa wanita dalam foto tersebut dan apa hubungannya denganku?!" tantang balik Azhar.
Julie semakin geram dengan jawaban Azhar. Suaminya tidak berusaha untuk menutup-nutupi ataupun berbohong pada dirinya.
__ADS_1
Selain perasaan marah, Julie pun mulai dilanda rasa takut. Ia takut, kalau Azhar memang benar ada hubungan dengan wanita tersebut dan pada akhirnya memilih untuk meninggalkannya.
"Zha, aku mau kita bicarakan masalah dalam rumah tangga kita baik-baik. Kalau memang kamu ada hubungan dengan wanita ini, aku mau mengenal wanita tersebut. Siapa dia? Bagaimana latar belakangnya? Sudah sejauh apa hubungan kalian? Kalau memang antara kalian berdua ada hubungan yang serius, aku minta kamu mengakhiri hubungan dengannya. Masa depan rumah tangga kita dipertaruhkan di sini! Aku nggak mau hanya karena orang lain, rumah tangga yang kita bangun dengan susah payah akan hancur berantakan." Julie menahan amarahnya dan memilih membicarakan masalah ini baik-baik. Membuang rasa gengsi demi keutuhan rumah tangganya.
"Wanita itu... adalah istriku." jawab jujur Azhar.
Julie terbelalak kaget mendengar jawaban jujur yang Azhar katakan. Ia sampai menggelengkan kepalanya karena tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Istri? Maksud kamu apa, Zha? Lalu aku ini siapa kamu?!" Julie tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia merasa dikhianati dan teramat sangat kecewa atas apa yang Azhar lakukan padanya.
"Ya... Kamu istri aku dan wanita itu adalah istri siriku. Aku tak berusaha untuk menutupi pernikahan kami. Aku cuma menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini sama kamu. Sebentar lagi, Mommy juga akan aku beri tahu. Sekarang, kamu sudah tahu 'kan bagaimana hubungan aku dengan wanita tersebut? Jadi aku minta kamu jangan lagi mengganggu urusan aku!" ujar Azhar dengan ketus.
Julie mulai menangis mendengar perkataan Azhar yang begitu menyakiti hatinya. Memang, pernikahan mereka terjadi karena Julie membutuhkan uang dari Azhar. Julie juga berencana pergi meninggalkan Azhar nanti, tapi ada rasa tak rela saat tahu kalau Azhar memiliki wanita lain dalam hatinya. Egois? Memang! Itulah sifat dasar manusia.
"Menceraikan dia?! Aku nggak ada tuh niatan untuk berpisah dari istri aku sendiri! Aku mencintai dia, sangat mencintai dia. Melebihi cinta aku sama kamu. Berada di dekatnya membuat aku merasakan rasanya benar-benar dicintai. Bukan seperti kamu yang selama ini hanya memperalat aku untuk dijadikan ATM berjalan! Kamu pikir aku nggak tahu kalau dalam pernikahan kita yang kamu pikirkan itu cuma uang, uang dan uang?!"
"Apa kamu pernah memikirkan kebahagiaan aku? Kamu tahu 'kan aku menginginkan kamu dan Mommy bisa akur? Tapi apa usaha kamu? Sama sekali kamu nggak pernah mendekatkan diri kamu sama Mommy. Kamu bahkan membuat aku semakin jauh dari Mommy, ibu kandung aku sendiri yang telah melahirkanku!" Azhar pun meluapkan emosinya.
"Tapi bukan dengan cara mengkhianati pernikahan kita, Zha! Kita susah payah membangun rumah tangga dan kamu dengan mudahnya mengkhianatinya." balas Julie.
Azhar lalu berdiri dan mulai berkata pedas. "Oh ya? Yang susah payah kayaknya aku deh. Yang banyak berkorban sampai menentang Mommy juga aku! Apa pengorbanan kamu?! Apa kamu pernah menjalankan tugas kamu sebagai seorang istri dengan baik?"
__ADS_1
Julie mulai menangis. Ia tak menyangka Azhar akan berkata pedas seperti itu padanya. Azhar sudah berubah. Ia tak lagi bersikap lembut dan selalu mengalah padanya.
Julie semakin takut saja. Takut kehilangan Azhar. "Oke. Aku akan berubah. Aku akan menjadi istri yang baik buat kamu! Aku janji! Aku akan melakukan yang ia lakukan sama kamu tapi aku mohon sama kamu Zha, ceraikan dia!"
"Jangan ngaco kamu! Jangan kamu pikir hanya karena permintaan kamu, aku akan menceraikan wanita baik seperti dia?! Sudahlah aku capek! Aku mau mandi!"
"Aku siapkan handuk dan pakaian kamu ya, Zha. Kamu mau makan malam tidak? Aku akan siapkan juga!" Julie menghapus air matanya dan hendak melayani Azhar.
"Terserahlah! Toh bukan kamu juga yang masak!" Azhar lalu berjalan ke kamar mandi meninggalkan Julie.
Julie pun mulai mempersiapkan baju ganti untuk Azhar. Sambil menunggu Azhar mandi, ia menyiapkan makan malam untuk Azhar. Tentunya meminta asisten rumah tangga mereka untuk melakukannya.
Makanan siap sedia, Julie melayani Azhar di kamar. Memberikan baju ganti dan mengajak Azhar makan malam. Azhar makan dengan diam. Julie beberapa kali mencairkan suasana dengan mengajak Azhar mengobrol namun tetap saja Azhar cuek.
Julie menemani Azhar kemanapun suaminya pergi. Merasa risih, Azhar pun memutuskan untuk tidur saja.
Tak putus asa sampai di situ, Julie pun mulai memancing gairah Azhar. Hal yang selama ini tak pernah bisa Azhar tolak. Nyatanya malam ini Azhar menolaknya. Menambah deretan rasa kecewa yang Julie rasakan.
Julie meneteskan air matanya. Sedih karena merasa diabaikan. Azhar bahkan tidur sambil memunggungi dirinya.
Julie teringat Baim. Kekasih hatinya itu selalu mengalah dan menuruti apa yang ia mau. Baim selalu menyayanginya. Julie merasa tak bahagia dengan pernikahannya. Ia rindu Baim. Hati Julie semakin sakit dan ia pun menahan tangis sampai jatuh tertidur.
__ADS_1
****