
Tangis Julie kembali pecah. Tangis penyesalan yang teramat dalam begitu ia rasakan. Kini bahkan kata maaf saja tak cukup untuk menghapus segala dosanya.
Ia sudah menyakiti hati banyak orang, tetapi Baim malah memberinya kesempatan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Betapa tak tahu dirinya Julie.
Rumah mungil peninggalan kedua orangtuanya seakan menjadi saksi penyesalan yang Julie rasakan. Menjadi tempat Julie menumpahkan seluruh air matanya yang tak kunjung henti.
****
Azhar sudah beberapa hari tak pulang ke rumah Julie, tak juga ke apartemen Caca. Sehabis dengan emosi memerintahkan security membereskan barang Caca, ia lalu pergi tak tentu arah.
Azhar menghabiskan waktu keluar masuk club malam. Banyak wanita malam yang menemani namun tak satupun yang Azhar gubris. Ia mencari ketenangan namun tak ia dapatkan. Bahkan alkohol yang ia minum mulai terasa memuakkan. Tak lagi ketenangan itu ia rasakan dari tegukan demi tegukan alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.
Penampilan Azhar sudah tak terurus lagi. Terlihat bak pemabuk yang setiap harinya hanya mabuk dan mabuk saja kerjanya. Mommy sangat mengkhawatirkan anaknya namun Azhar bagai hilang ditelan bumi.
Mommy lalu membayar orang untuk menemukan keberadaan anaknya, setelah Caca sulit dihubungi. Mommy menduga ada yang tak beres dengan anaknya, apalagi berita yang ia dengar kalau Azhar sudah mengusir Caca dari kantor.
Mommy sudah mendatangi rumah Azhar dan Julie, namun perempuan tak tahu adab itu juga tak ada di rumah. Menurut keterangan asisten rumah tangganya, Julie sudah beberapa hari tak pulang ke rumah.
Mommy semakin curiga akan apa yang terjadi. Azhar bertengkar dengan Caca dan Julie secara bersamaan lalu menghilang?
Mommy memijat keningnya karena rasa pusing yang melanda. Anaknya hanya satu namun seakan tak pernah bosan kalau membuat masalah saja.
Rasa sayang terhadap anak tak pernah lekang, meski Azhar terus melukai hatinya. Mommy lebih mengkhawatirkan keadaan anaknya dibanding apapun.
Ketika orang yang ia bayar untuk mencari Azhar menemukan anaknya di salah satu hotel, ia pun bergegas menghampiri. Mommy pikir anaknya pasti sedang bersenang-senang dengan wanita lain.
Hari sudah agak siang saat Mommy tiba di hotel. Mommy mengetuk pintu kamar dan tak lama Azhar membukakan pintu. Penampilan Azhar sungguh berantakan. Mukanya kusut, nafasnya bau alkohol dan pakaiannya juga berantakan.
"Mommy?" tanya Azhar sedikit terkejut. Azhar lalu membukakan pintu lebih lebar. "Masuk, My!"
__ADS_1
Mommy masuk ke dalam kamar anaknya yang bau sekali alkohol. Botol minuman keras berserakan di kamarnya. Sudah sekacau apa hidup anaknya sekarang sampai keadaannya menjadi seperti ini?
Azhar lalu masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya agar lebih sadar dari sisa mabuk semalam. Ia pun duduk di tepi kasur miliknya yang berantakan, sementara Mommy duduk di sofa menatap setiap gerak geriknya.
"Apa yang terjadi dalam hidup kamu? Kenapa kamu seperti ini? Ini bahkan lebih parah dari saat kamu dan Julie harus putus dulu!" tanya Mommy.
Azhar terdiam. Ia duduk sambil menautkan kedua tangannya dan menunduk. Sesekali ia mengusap kasar wajahnya yang sudah mulai ditumbuhi rambut tipis.
"Ternyata Caca tak sebaik yang Mommy pikir. Caca tak bedanya dengan Julie, lebih jahat malah. Pernikahan kami hanyalah alat bagi Caca dan keluarganya untuk membalas dendam atas kematian kakaknya pada Julie. Caca memang berencana merusak rumah tanggaku dan Julie, bukan menikahiku karena memang benar-benar mencintaiku." jawab Azhar dengan tatapan kosong namun terlihat ada kesedihan di dalamnya.
"Coba cerita sama Mommy yang jelas dan lengkap. Mommy kok enggak yakin ya Caca seperti itu?" ragu Mommy.
Azhar pun menceritakan semuanya pada Mommy. Mulai dari Caca yang bersikap aneh sampai mengikuti Caca ke pemakaman umum dan mendengar semua yang dibicarakan Caca dan Julie.
Mommy mendengarkan dengan seksama cerita Azhar. Ia memperhatikan perubahan wajah Azhar dan bisa menyimpulkan sesuatu.
"Kamu marah sekali ya karena Caca memanfaatkan kamu? Kamu marah karena ternyata Caca tidak mencintai kamu dan malah menganggap kamu sebagai alat untuk balas dendam?!" tanya Mommy dengan hati-hati, tak mau anaknya yang sedang emosi semakin marah dan membuat hubungan mereka tambah buruk saja.
"Lalu... Kamu enggak marah sama Julie? Menurut cerita kamu, Mommy bisa menarik kesimpulan kalau Julie tak ada bedanya sama Caca. Malah lebih jahat yang dilakukan oleh Julie loh! Dia sudah meninggalkan kekasihnya sampai bunuh diri demi menikahi kamu hanya karena harta. Malah Julie mau meninggalkan kamu jika rencananya dengan Kakaknya Caca berhasil. Lebih jahat mana? Caca atau Julie?!" tanya Mommy dengan tenang.
"Ya... Keduanya memang jahat. Tapi Caca lebih jahat! Dia sudah mempermainkan pernikahan, bahkan menjebak Azhar buat menikahinya." jawab Azhar tanpa dipikir dahulu. Azhar tanpa sadar sudah masuk dalam jebakan yang Mommy buat.
"Julie tidak mempermainkan juga, begitu? Menikahi seseorang lalu berencana meninggalkannya juga termasuk kategori mempermainkan pernikahan loh! Lebih parah malah!" balas Mommy.
"Mommy kenapa bandingin sama Julie terus sih? Ini Caca loh, My! Beda sama Julie!" ketus Azhar.
Mommy tersenyum karena berhasil mempermainkan emosi Azhar. "Mommy enggak bandingkan kok. Sejak tadi malah Mommy menyamakan apa yang Julie dan Caca lakukan. Keduanya salah sudah mempermainkan pernikahan, tapi kenapa kamu lebih marah terhadap Caca dibanding Julie?!"
"Ya... Caca lebih jahat, My!" jawab Azhar tanpa pikir panjang.
__ADS_1
"Karena kamu lebih mencintainya?!" sindir Mommy.
Azhar terdiam. Mommy menggunakan kesempatan ini untuk menyerang anaknya. "Apa yang Caca dan Julie lakukan sama. Keduanya mempermainkan pernikahan. Yang berbeda adalah, kamu lebih kecewa karena Caca lebih menyakiti kamu dibanding Julie. Kamu lebih terluka karena dibohongi Caca, dibanding Julie. Padahal kesalahan mereka berdua sama. Bahkan Julie lebih besar kesalahannya namun kamu tidak marah. Kamu sadar enggak sih, ini tuh bukti kalau kamu sudah sangat mencintai Caca dan melupakan Julie?!"
"Ya... Begitulah." malu-malu Azhar mengakuinya.
"Yaudah bawa balik saja Caca. Jangan bikin rumit!" kata Mommy dengan entengnya.
"Enggak bisa begitu dong, My! Caca udah mempermainkan pernikahan kami!"
"Yaudah ceraikan saja. Tinggal kamu talak saja dan beres? Mudah bukan?"
"Mommy kok ngajarin aku buat cerai sih?"
"Oke. Mommy enggak ngajarin. Lalu bagaimana dengan Julie? Apa yang akan kamu lakukan?!"
Azhat diam tak menjawab.
"Kenapa? Akan kamu ceraikan bukan?" tebak Mommy.
Malu-malu Azhar mengangguk. "Iya."
"See? Ikuti aja deh kata hati kamu! Kamu pasti tau apa yang terbaik buat hidup kamu." nasehat Mommy.
"Kalau kata hatiku salah bagaimana, My?"
"Ya... Jangan kamu ikuti."
"Kata hatiku bilang untuk kembali pada Caca, My. Tapi Caca sudah berbohong padaku!"
__ADS_1
"Ck...ck...ck... Ternyata kamu masih saja bodoh ya! Mommy pikir kamu sudah pintar, ternyata sama saja!"
****