
Julie menatap wanita yang semula ingin meminta maaf padanya namun urung begitu tahu kalau dirinya yang ditabrak. Wanita itu malah tertawa melihat Julie jatuh.
"Heh pelakor, kita bertemu lagi!" ujar wanita tersebut dengan senyum sinis di wajahnya.
Julie berdiri sendiri, rasa amarahnya semakin bertambah saat melihat siapa yang telah menabraknya. Ia balas tersenyum sinis.
"Masih pakai tas merk kayak gitu?! Memang suaminya enggak mampu beliin yang baru?! Oh iya lupa, suaminya 'kan tukang selingkuh ya?! Jadi enggak punya uang buat jajanin istrinya sendiri, semua habis buat selingkuhannya yang baru!" sindir Julie.
Wanita di depan Julie mulai naik pitam. Tak disangka perempuan yang pernah menjadi selingkuhan suaminya dan pernah ia pukuli namun diam saja kini berani membalas ucapannya. Julie sudah berubah, ia tak lagi seperti dulu yang hanya diam saja saat dipukuli.
Wanita tersebut melihat tas branded yang dikenakan Julie. Terkejut karena mengetahui dengan pasti berapa harganya. "Masih jadi simpanan rupanya? Dapat bos mana lagi? Atau... Sekarang sudah terang-terangan open BO?!"
Julie mengambil paperbag miliknya yang terjatuh. "Simpanan? Hari gini masih jadi simpanan? Enggak level ya!" pamer Julie dengan bangganya. "Asal kamu tau ya, perusahaan suami kamu juga bisa suami aku buat bangkrut dalam sekejap!"
Wanita itu menertawakan Julie. "Oh ya? Yakin? Siapa sih cowok bodoh yang mau tergoda sama perempuan murahan kayak kamu?!"
Julie tertawa makin keras. "Lupa?! Suami anda yang pertama tergoda sama saya. Iya sih suami anda memang bodoh. Namun suami saya bukan orang bodoh. Dia sangat mencintai saya dan begitu royal pada saya!"
Wanita itu semakin memerah wajahnya. Harga dirinya terinjak oleh mantan simpanan suaminya yang sombong tersebut. "Coba sebutin siapa suami kamu! Kalau ngibul awas ya! Saya buat kamu makin melarat!"
"Kenal Azhar Malik? Pengusaha muda yang menggantikan papinya memimpin perusahaan! Dia suami saya sekarang!" Julie pun menunjukkan foto pernikahannya, membuat wanita itu mengerutkan keningnya dan hilang keberaniannya. Mana berani dia melawan perusahaan milik Azhar Malik?
"Kenapa? Takut?!" Julie berjalan memutari wanita yang tadi begitu angkuh. Ia menatap dengan remeh wanita yang dulu memukulinya dengan tas tersebut di taman. "Cepat minta maaf! Kalau tidak, akan saya perpanjang perbuatan kamu barusan!"
Wanita tersebut berkecil hati mendengarnya. Demi masa depannya, wanita itu pun meminta maaf pada Julie.
Julie tersenyum puas akan kemenangannya kali ini. "Ternyata uang memang segalanya! Andai dulu aku punya uang, pasti hidupku akan baik-baik saja!" batin Julie.
__ADS_1
****
Sementara itu di rumah makan Padang, Caca yang kelaparan memakan menu yang dihidangkan secara prasmanan dengan lahap. Azhar sampai geleng-geleng kepala, tak menyangka dengan tubuh kecil Caca mampu makan banyak.
"Pelan-pelan Sayang makannya! Nanti kamu tersedak! Kamu bebas kok mau makan apa saja!" ujar Azhar seraya memberikan air teh hangat pada Caca.
"Enak banget loh, Mas. Saat lapar, makan nasi Padang memang tak ada duanya!" Caca mengacungkan jempolnya memuji kelezatan makanan di depannya.
"Iya. Makanlah yang banyak. Habis ini kamu mau kemana?!" tanya Azhar. "Nanti malam mau party enggak?!"
"Party di kamar? Bosen ah!" jawab Caca sambil tetap makan dengan lahap.
"Ya enggaklah! Di club. Kita party! Jalan-jalan di Bali kalau enggak ke club mana seru?!" ajak Azhar.
"Enggak ah! Aku enggak suka ke tempat kayak begitu! Bau asap rokok, banyak orang mabuk dan musiknya memekakkan telinga. Lebih baik kita ke cafe pinggir pantai, nongkrong sambil menikmati live musik. Udaranya lebih bersih. Beli minuman yang tidak memabukkan. Lebih sehat, lebih halal pula." jawaban Caca membuat Azhar terdiam.
Dengan Caca semua berbeda. Makan di pinggir jalan. Tak mau di ajak ke club malam. Maunya makan makanan yang biasa saja bukan di restoran mewah dan yang istimewa adalah sesi bercinta mereka yang tak pernah membuatnya puas.
Azhar menggelengkan kepalanya. Mengusir pikiran-pikiran yang membuatkannya terus membandingkan kedua istrinya.
Yang membuat Azhar heran adalah dirinya tidak merindukan Julie sama sekali selama berada di dekat Caca. Biasanya, jauh dari Julie sebentar saja dirinya sudah beberapa kali menelepon Julie. Kemana rasa rindunya yang kini seakan hilang ditelan rasa nyamannya bersama Caca?
"Mas! Ayo! Kamu yang bayar ya! Aku habis browsing, katanya ada cafe yang keren banget dekat sini. Ayo kita kesana!" ajak Caca.
"Eh... Iya." Azhar tersadar dari lamunannya. Bergegas membayar makanan mereka dan menyusul Caca yang sudah menunggu di parkiran mobil.
Caca terlihat memainkan Hp miliknya. Azhar mengernyitkan keningnya. Perasaan curiga kembali menyelimutinya. "Kenapa cengar cengir sendirian? Lagi chat sama cowok?!" Azhar mengintip ke layar Hp Caca.
__ADS_1
"Lagi nonton video di aplikasi Itok Itok. Lucu. Banyak orang gabut yang bikin video dan membuat orang tertawa. Mas mau lihat?!" Caca menunjukkan layar hp miliknya.
"Enggak usah. Kita jadi ke cafe yang kamu mau datangi enggak?!" tanya Azhar.
"Jadi dong! Aku udah penasaran sama cafe ini. Viral loh. Katanya sehabis kebakaran dan pindah tempat malah lebih ramai lagi." cerita Caca dengan penuh antusias.
"Iya... Iya... Mau kemana saja, Mas turuti. Ayo naik!" Azhar membukakan pintu mobil untuk Caca.
Mereka lalu menuju cafe yang Caca ingin kunjungi. Tarbi Cafe. Cafe yang mengusung konsep berbeda dengan cafe kebanyakan.
"Kamu mau makan lagi? Masih lapar?!" tanya Azhar yang agak ragu dengan pilihan cafe Caca.
Caca menggelengkan kepalanya. "Mau ngemil dan... sholat. Udah masuk waktu sholat dzuhur. Aku mau sholat dulu di dalam. Mm.... Mas mau ikut sholat?!" tanya Caca.
Azhar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya jarang sholat namun diajak Caca sholat. Kalau diminta jadi imam bagaimana? Azhar panik sendiri. Mana bisa dirinya?
"Kamu aja deh! Aku mau ke toilet dulu. Nanti aku tunggu di meja kita." tolak Azhar.
Caca mengangguk. "Iya. Tunggu ya!"
Azhar tersenyum tak enak. Dipikirnya Caca akan menasehati panjang lebar menyuruhnya sholat, ternyata tidak. Caca membiarkan dirinya dengan keputusannya sendiri.
Azhar merasa tak enak sendiri. Sesampainya di cafe, mereka berpencar. Caca menuju mushola kecil yang berada di samping cafe, sementara Azhar memilih tempat duduk di dalam cafe.
Siang ini cafe dengan dekorasi yang keren dan nyaman ini terlihat ramai dengan pengunjung. Azhar melihat pesanan yang banyak dipesan oleh pengunjung. Risol dan teh tarik. Pasti ada nilai plus kenapa risol dan teh tarik di cafe ini banyak dipesan. Apalagi kalau bukan karena rasanya yang enak?!
Azhar duduk di meja yang kosong. Dari tempat duduknya bisa melihat live musik yang sedang berlangsung. Azhar pun memesan risol dan teh tarik sambil menunggu istrinya selesai sholat.
__ADS_1
****