
Azhar tak pernah menyangka kalau hari ini ia akan mengetahui sebuah kebenaran yang menyakitkan. Sejak berangkat dari kantor mengikuti Caca, fikirannya sudah buruk saja.
Azhar berpikir Caca selingkuh sampai janjjan dengan orang lain saat jam istirahat tiba. Di pemakaman pula.
Azhar agak terkejut saat melihat yang Caca temui adalah Julie. Ia semakin berpikir buruk saja. Ia berpikir Caca dan Julie sedang bekerja sama untuk menjebaknya.
Namun yang terjadi sungguh di luar dugaan. Saat Caca berdiri di depan makam sambil mengusap batu nisan dengan penuh rasa sayang, Azhar semakin merasa aneh.
Kenapa ke makam harus janjian dengan Julie?
Siapa yang dimakamkan di sana?
Apa hubungan Caca dengan Julie?
Semua seakan tanda tanya besar yang terus membuat rasa penasaran dalam dirinya semakin besar. Azhar mendekat dan bersembunyi dibalik pohon besar namun masih bisa mendengar percakapan kedua istrinya tersebut.
"Aku yang selama ini menghubungi kamu. Aku yang mengirim semua foto itu! Aku yang selama ini menyamar menjadi Kak Baim dan mengirimkan buket bunga untuk kamu!"
Azhar terkejut mendengarnya. "Caca yang mengirimnya? Bukan Baim? Tapi untuk apa?!" batin Azhar.
Azhar menajamkan telinganya dan mendengar Caca berkata lagi, "Rencanaku adalah menghancurkan hidup kamu, seperti kamu yang sudah membuat Kak Baim mengakhiri hidupnya."
"Baim?!" Azhar semakin penasaran saja, namun perkataan Julie selanjutnya membuatnya tau siapa Caca sebenarnya.
"Jangan bilang kamu... Cantik? Kamu adiknya Baim?" tanya Julie. Azhar pun terkejut. Ternyata Baim adalah kakaknya Caca? Lalu kenapa Caca tak pernah cerita?
"Awalnya aku mau merebut semuanya. Aku berhasil. Aku merebut semuanya. Aku merebut cinta Azhar. Aku merebut kasih sayang Mommy. Aku... Aku memiliki semua yang kamu miliki. Aku juga... Mencintai Azhar, lelaki yang seharusnya tak aku cintai."
"Cinta? Kamu bilang itu cinta? Pembohong kamu, Ca! Ternyata selama ini kamu hanya memanfaatkanku saja!" marah Azhar.
Azhar pun keluar dari persembunyiannya. Berjalan semakin dekat dengan Caca yang tak menyadari keberadaannya. Rupanya percakapan Caca dan Julie sudah selesai. Julie nampak menangis penuh sesal dan saat Caca berbalik mata mereka pun bertemu.
Hati Azhar terasa sangat sakit. "Tega kamu Ca melakukan hal itu sama aku?!"
__ADS_1
"Maaf, Mas. Aku-" belum selesai Caca bicara Azhar pergi meninggalkannya dengan penuh luka dan marah.
Caca menangis sedih. Ia merutuki kesalahannya. Caca pun segera menyusul Azhar ke kantor. Namun hasilnya nihil. Suaminya tak ada di kantor. Bahkan Azhar meminta security untuk membereskan barang milik Caca.
Caca diusir dari kantor Azhar tanpa hormat. Ia sadar semua memang kesalahannya. Mungkin saja ini akhir pernikahan sirinya.
Sambil membawa tas miliknya, Caca pulang ke apartemen. Ia pun merapihkan barang-barangnya dan hendak pulang kembali ke rumah Mama dan Papa.
Nyatanya meninggalkan apartemen penuh kenangan itu tak semudah yang Caca pikir. Rupanya perasaannya terhadap Azhar sudah sedemikian mendalam. Ia sangat mencintai Azhar.
Sebenarnya Caca tak berniat meninggalkan Azhar. Ia hanya ingin menjalankan amanat Baim dan melupakan dendamnya lalu berterus terang pada Azhar dan melanjutkan kembali rumah tangga mereka tanpa rahasia. Namun ternyata....
Semua seakan sudah menjadi hukuman bagi Caca. Ia sudah menyakiti hati Azhar dan inilah hukuman untuknya. Menderita dalam sepi.
Apartemen sudah gelap. Caca sengaja tak menyalakan lampu. Ia merenung dan menangis dalam gelap sampai sebuah ketukan di pintu apartemen menyadarkannya.
Caca berjalan dengan gontai dan membuka pintu apartemen. Ia pikir Azhar akan datang meski tak mungkin. Suaminya bisa masuk tanpa harus mengetuk pintu.
Caca pun kembali menumpahkan air matanya. Eza tak tahu apa yang terjadi, ia pun memilih memeluk Caca dan membiarkannya menangis sampai puas.
Apa yang membuat Caca menangis? Pertanyaan yang mengusik Eza sejak tadi. Meski kini Caca sudah lebih tenang dan melepas pelukannya tetap saja wajahnya nampak sedih.
"Kalau kamu enggak mau cerita, enggak apa-apa Ca. Menangislah sampai hati kamu lega." ujar Eza menenangkannya.
Caca menggelengkan kepalanya. Ia menghapus air mata yang menetes di wajahnya. "Maaf ya, Za. Aku malah nangis saja sejak tadi. Ada apa kamu ke apartemen aku?!" tanya Caca dengan suara serak karena terlalu lama menangis.
"Aku mau ngajakkin kamu ngopi di cafe yang baru buka. Enggak jadi deh. Kamu udah makan belum?" tanya Eza.
Caca menggelengkan kepalanya. "Aku masih kenyang."
Tak ada keinginan untuk makan dalam diri Caca. Padahal terakhir ia makan adalah saat sarapan tadi pagi bersama Azhar. Itu pun hanya sedikit karena pikirannya berada di tempat lain.
"Yakin? Aku tahu kamu pasti belum makan, Ca. Mau aku belikan apa? Makanlah dulu agar kamu tidak sakit." bujuk Eza.
__ADS_1
Caca kembali menggelengkan kepala lemah. "Daripada membelikan aku makan, boleh aku minta tolong sama kamu Za?!"
"Selama aku bisa, aku pasti akan menolong kamu."
"Bisa antarkan aku pulang?"
"Pulang?" Eza mengernyitkan keningnya. Ia tahu dari pertengkaran kemarin kalau Caca adalah istri kedua dan tidak setiap hari suaminya datang. Tadi saat Eza ke bawah, Eza melihat Caca pulang sambil menangis. Ia khawatir dan menunggu tapi Caca masih mengurung diri di kamarnya. Dengan alasan mau mengajak minum kopi, Eza mau melihat keadaan Caca.
"Ya. Pulang ke rumah Mama aku." Caca lalu berdiri dan membereskan barang-barang miliknya.
"Maaf Ca bukan bermaksud ikut campur. Bagaimana dengan suami kamu?!" tanya Eza takut Caca tersinggung.
"Sepertinya... Rumah tangga kami sudah berakhir." jawab Caca dengan sedih.
"Karena... Ketahuan istri pertamanya?" Eza menyadari kelancangannya berbicara. "Maaf, Ca. Aku tak bermaksud-"
"Aku mengerti kok, Za. Aku memang istri siri. Aku adalah seorang pelakor yang berniat merusak rumah tangga orang lain."
"Berniat?"
Caca memasukkan barang-barang yang memang miliknya. Tak ada satu pun barang pemberian Azhar yang ia bawa. Caca bahkan melepaskan kalung pemberian Azhar dan menaruhnya bersama secarik kertas berisi pesan.
"Ya. Tujuan awalku untuk membalas dendam karena istri suamiku meninggalkan kakakku hanya karena suamiku kaya. Kakakku mengakhiri hidupnya. Aku dan keluargaku berpikir karena Kak Baim patah hati, tapi ternyata tidak. Demi kebahagiaan kekasihnya yang terlilit masalah ekonomi, ia mengorbankan dirinya dan memberikan uang asuransinya agar kekasihnya bisa bahagia? Ironis sekali bukan?!"
"Tunggu, Baim? Maksud kamu... Ibrahim?" Eza mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan sebuah foto yang ia miliki. "Baim ini bukan yang kamu maksud?!"
Caca meninggalkan tas miliknya dan berjalan mendekati Eza. Ia terkejut melihat siapa yang sedang bersama Eza. "Iya. Itu Kak Baim. Bagaimana kamu bisa mengenalnya?!"
"Karena Baim adalah sahabatku!" jawaban Eza membuat Caca semakin terkejut.
"Sahabat?"
****
__ADS_1