Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Mommy


__ADS_3

Azhar sudah terbangun keesokan subuh. Ia melaksanakan sholat subuh seperti yang Caca ajarkan.


Julie yang tidak mendapati suaminya lalu membuka mata dan melihat suaminya sedang bersimpuh pada Yang Maha Kuasa. Lagi-lagi Julie merasa Azhar begitu asing, seperti bukan suaminya.


"Kamu sudah bangun, Zha? Pagi sekali!" tanya Julie seraya mengucek matanya.


Azhar tak menjawab pertanyaan Julie. Ia khusyuk berdoa sekaligus memohon ampun atas segala dosanya selama ini. Dosa karena sudah durhaka pada Mommynya.


Julie bangun dari tidurnya. Ia mengambil luaran baju tidur satin miliknya dan memakainya. Ia hendak menyiapkan sarapan untuk Azhar. "Kamu mau sarapan apa?"


Azhar yang sudah selesai berdoa lalu melipat sajadah miliknya. "Terserah apa yang bibi masak saja!" jawab ketus Azhar.


Julie merasa hatinya sudah disakiti di pagi hari. Ia hanya mengangguk dan pergi ke bawah. "Biar saya saja yang buat sarapan, Bi." ujar Julie.


Meski heran karena tak biasa masak untuk majikannya, Bibi mengangguk patuh. Julie pun membuat sarapan yang simpel. Roti bakar.


Azhar yang sudah siap bekerja turun untuk sarapan. Nampak Julie sedang mengoles selai di roti bakar buatannya. "Aku buat sendiri loh, Sayang!"


Azhar tak berkomentar apa-apa. Ia duduk dan mengambil roti yang sudah selesai dioles lalu memakannya. Azhar juga meminum susu hangat yang ada di meja makan.


"Aku berangkat sekarang!" Azhar hanya memakan sepotong roti dan menyelesaikan sarapannya.


"Kok sedikit sekali sih makannya Sayang? Nambah lagi ya?! Aku udah buat banyak nih!" bujuk Julie.


Azhar tak menjawab dan tetap pergi meninggalkan rumah. Tak ada ciuman di kening Julie seperti biasanya. Azhar benar-benar bersikap dingin pada Julie.


Julie mengepalkan tangannya menahan amarah yang tak bisa ia luapkan. Julie pun pergi ke kamarnya dan mulai menghubungi Baim.


****


Caca melirik ponsel miliknya yang terus berdering. Ia sengaja mengaktifkan nomor Baim, sudah menduga kalau Julie akan menghubungi Baim saat sedang bertengkar dengan Azhar.


Beberapa kali Julie menelepon namun Caca tak menjawabnya. Caca biarkan kekesalan Julie makin bertambah.


"Sayang! Aku mau telepon! Angkat telepon aku!"

__ADS_1


Caca tersenyum membaca pesan yang Julie kirimkan. Ia kembali menonaktifkan SIM Card milik Baim.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Azhar yang membuat Caca terlonjak kaget.


"P-Pak... Pagi, Pak!" sapa Caca dengan hormat.


"Siapa yang kirim pesan sama kamu sampai kamu tersenyum kayak gitu?!" tanya Azhar lagi.


"Enggak ada. Aku lagi dengerin Stand Up Comedy di Youcube." Caca celingukan takut ada yang mendengar. "Mas udah sarapan belum? Aku bawain sarapan nih!"


"Belum. Kamu ke ruangan aku aja!" Azhar lalu masuk ke dalam ruangannya. Caca membawa wadah makan berisi sarapan buatannya dan ikut masuk ke dalam.


Azhar sudah berdiri di dekat kursinya seraya merentangkan kedua tangannya. Caca tau kalau suami sekaligus bosnya itu akan bersikap manja dan memintanya membukakan jas miliknya.


"Manja banget sih!" protes Caca seraya melakukan tugasnya.


"Iya dong! Aku suka dimanja sama kamu!" Azhar memeluk Caca yang sedang menggantung jas dari belakang. "Kangen wangi parfum kamu!"


Caca berbalik badan dan memeluk Azhar balik. "Aku juga kangen sama kamu! Bagaimana situasi rumah kamu? Melihat kamu tidak pulang ke apartemen aku pertanda semalam baik-baik saja bukan?!" tebak Caca.


"Enggak dong! Aku buat sendiri di magic com. Gampang tinggal cemplung-cemplung beres." Caca menghampiri Azhar dan bersiap menyuapi suaminya.


"Cerita dong semalam gimana? Udah baikkan dan habis bermesraan ya?" sindir Caca.


Azhar memakan sarapan buatan Caca dengan lahap. Jauh lebih enak buatan Caca dibanding roti yang Julie buat.


"Kami bertengkar hebat. Julie bahkan punya foto kita berdua saat di Bali dan terus mencecar aku dengan pertanyaan." jawab Azhar.


"Foto kita? Kok bisa? Saat kita bersama kayaknya kita terlalu asyik menikmati momen kebersamaan kita deh dibanding bermain Hp. Lantas siapa yang memotret kita?" tanya Caca pura-pura tak tahu.


Azhar mengangkat kedua bahunya. "Entah. Yang pasti aku akhirnya mengaku kalau wanita di foto itu adalah istri siri aku. Untunglah wajah kamu ditutupi sticker, jadi Julie belum tau siapa kamu."


Caca tak menyangka kalau kemajuan usahanya semakin pesat saja. "Lalu reaksi Bu Julie bagaimana?"


"Marah tentu saja. Dia nangis dan kami bertengkar hebat. Julie bahkan berjanji akan merubah sikapnya."

__ADS_1


"Mas percaya?" tanya Caca.


"Tadi pagi sih dia mulai siapin aku roti bakar."


Caca menaruh sendok yang dipegangnya dalam wadah dan menutupnya. "Kalo udah sarapan, enggak usah sarapan lagi!"


"Yah jangan gitu dong, Sayang! Aku tadi sarapannya cuma sedikit. Aku suka banget masakan buatan kamu. Penuh cinta. Jangan marah ya! Please... Kasihan dong nanti aku kurus!" bujuk Azhar.


"Bokis ah!"


"Bener, Sayang! Tadi aku makan karena menghargai usahanya aja. Besok aku enggak sarapan deh supaya kamu senang." rayu Azhar.


Caca pun tertawa, tak bisa lama-lama marah pada Azhar. "Enggak usah kayak gitu juga, Mas. Sarapan ya sarapan aja. Sudah ayo aku suapi lagi. Kita harus mulai kerja karena ada meeting nanti siang."


Sedang asyik menyuapi Azhar, tiba-tiba ada yang masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Azhar dan Caca pun terkejut. Ternyata Mommy yang datang.


"Wah... Pengantin baru lagi suap-suapan ya?!" goda Mommy yang langsung duduk di sofa dan menatap kemesraan anak dan menantunya tersebut.


"Mommy... Kok tahu?!" tanya Azhar heran.


"Iyalah. Apa sih yang Mommy enggak tau? Apalagi tentang kamu!" jawab Mommy dengan penuh percaya diri.


Caca menaruh makanan yang ia pegang lalu salim pada Mommy dengan penuh hormat. "Begini nih seharusnya jadi menantu. Sopan dan menghargai mertuanya. Bukan menantu satu lagi yang hobbynya cuma menghabiskan uang suami saja!" sindir Mommy.


"Sejak kapan Mommy tahu?!" selidik Azhar.


"Hmm... Sejak melihat keakraban kalian waktu itu. Mommy sudah menduga kalau di antara kalian ada sesuatu. Lalu kamu dan Julie juga mulai renggang, terbukti kamu jarang pulang. Pasti tinggal di tempat Caca. Benar begitu bukan?!"


Azhar mengangguk kagum akan analisa Mommynya. "Hebat Mommy bisa tau."


"Iya dong. Mommy tuh punya feeling seorang ibu. Mommy tahu mana yang terbaik untuk anaknya." Mommy lalu menggenggam tangan Caca. "Terkadang kamu harus bertemu orang yang salah dulu sebelum tau mana yang terbaik untuk kamu."


Caca menunduk malu. Timbul rasa tak enak dalam dirinya. Ia tak merasa dirinya sebaik itu, mengingat niatnya untuk membalas dendam.


"Jadi kapan kalian akan memberi Mommy cucu? Mommy sudah tak sabar nih mau memamerkan cucu Mommy sama teman-teman arisan Mommy. Apa perlu kalian honeymoon lagi?!"

__ADS_1


****


__ADS_2