Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Berbicara Berdua


__ADS_3

Caca terdiam sejenak, semua ini serasa mimpi baginya. Tak pernah ia duga kalau Azhar memang benar-benar sangat mencintainya dan bahkan memaafkan semua luka yang pernah ia berikan. Ia sudah sangat menyakiti Azhar dengan mempermainkan pernikahan mereka namun Azhar malah mengajaknya untuk kembali pulang.


Tanpa kuasa air mata Caca menetes di kedua pelupuk matanya. Rasa haru, menyesal dan sedih bercampur menjadi satu.


"Mungkin, Caca butuh ruang untuk bicara dengan Azhar berdua saja?!" usul Mama. Caca mengangguk. Ia lalu mengajak Azhar bicara di kamar Baim.


Azhar memang tak pernah menemukan satu buah pun foto Baim di rumah Caca. Kini, foto Baim sudah terpajang di ruang tamu sambil tersenyum. Azhar tahu ada kamar kosong di bawah namun Caca tak pernah memberitahu apa isi kamar tersebut.


Kini, Caca malah mengajaknya masuk ke dalam kamar yang tak pernah ia masuki sebelumnya. Kamarnya unik, ciri khas para arsitek yang menyukai menggambar melebihi keinginan untuk mencari uang. Di kamar ini, ada dua buah foto Baim. Yang berukuran 10R dan foto berbingkai kecil yang ada di atas meja kerja.


Caca berdiri tepat di depan foto Baim. "Kenalin, Mas. Ini kakak aku satu-satunya, Kak Ibrahim atau yang biasa dipanggil Kak Baim. Kakakku ini sangat suka menggambar. Dia juga terkenal sebagai karyawan yang tekun dan rajin bekerja di.. salah satu anak perusahaan Mas."


Azhar sangat terkejut mendengar informasi yang baru saja dikatakan oleh Caca. "Baim kerja di salah satu perusahaanku?" Azhar menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya. Mungkin Mas nggak akan mengenal Kak Baim, karena Kak Baim hanyalah pegawai biasa. Jauh sekali dengan Mas yang merupakan anak pemilik perusahaan. Kak Baim selama ini lebih menyukai menggambar dibanding memikirkan masa depannya namun suatu ketika Kak Baum cerita sama aku kalau ia menemukan seorang perempuan cantik yang terlihat sedih,"


"Perempuan itu lama-kelamaan mulai akrab dengan Kak Baim. Mereka pun memutuskan untuk berpacaran. Kak Baim itu terlalu menghormati dan menghargai Julie sebagai seorang wanita. Dia tak mau berlama-lama berpacaran dan malah mengajak Julie untuk menikah di tanggal yang sama dengan tanggal Mas nikah dengan Julie," Caca tersenyum getir.


"Hari itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan sekali buat Kak Baim. Aku tak sabar mau merasakan kebahagiaan kakakku. Sayangnya aku sempat ketinggalan kereta, karena itu aku datang agak telat ke Jakarta. Saat aku tiba di rumah, Kak Baim tak sempat aku temui. Kak Baim seolah menghilang tanpa pesan,"


"Kami sekeluarga panik dan mencari kemana-mana sampai lapor polisi namun bukan berita baik yang kami dapat malah berita buruk yang kami terima. Di saat Mas dan Julie sedang bahagia hari itu, Kak Baim mengakhiri hidupnya. Keluarga kami semua menangis histeris karena tak percaya. Aku dan Papa bahkan melihat langsung tubuh kaku Kak Baim,"


"Rasa marah dalam diri kami begitu menggelegak. Mama sampai syok, terus menerus menangis dan sedih sampai akhirnya Mama berada di fase sangat terpukul dan hampir depresi. Kalian berdua berbahagia, pergi bulan madu dan memadu kasih sementara keluarga aku di sini menderita. Aku hanya ingin Julie merasakan semua penderitaan keluarga kami, karena itu aku pergi untuk menghancurkan rumah tangganya,"


Caca menatap Azhar dengan lekat seraya sesekali menghapus air mata yang menetes jatuh. "Kami memang bukan keluarga kaya yang bisa dengan mudah menjentikkan jari maka uang dalam jumlah besar akan ada di depan mata. Bagi orang kecil seperti kami, punya uang banyak itu adalah suatu anugerah dan hal yang seakan mustahil. Namun keinginan kuat Kak Baim untuk menolong wanita yang dicintainya begitu besar. Mama yang meminta aku menjalankan amanat terakhir Kak Baim. Maka aku pun melupakan semua dendam itu,"


"Saat itu kita ketemu di kuburan Kak Baim, aku sudah ingin melepaskan semua beban yang begitu menghimpit dadaku. Tak kusangka ternyata Mas malah mengikutiku dan mendengar percakapanku dengan Julie. Aku sedih... Kenapa disaat aku ingin mengakhiri balas dendamku, aku malah justru diusir, ditinggalkan dan seolah dibuang begitu saja?! Aku tahu aku salah, tapi aku mau memperbaiki kesalahanku. Aku sedih. Aku terpuruk. Aku udah nggak tahu apa yang aku inginkan sampai Eza datang dan membuat aku merasa punya keinginan lagi untuk mengisi hidupku,"

__ADS_1


"Rencananya aku akan bekerja dengan Eza dan mengisi hidupku dengan hal yang baru. Aku sudah sangat senang melihat Mama sudah bisa mengikhlaskan kepergian Kak Baim. Papa juga sekarang lebih baik menghabiskan waktu bersama Mama daripada menyiksa diri terus bekerja demi melupakan semua kesedihannya. Yang tak kusangka adalah kedatangan Mas ke rumahku. Aku pikir Mas akan jijik dan tak mau menemuiku lagi." Caca menundukkan kepalanya lagi. Merasa bersalah karena Azhar juga dijadikan alat untuk membalas dendamnya.


"Aku enggak akan pernah jijik sama kamu, Ca. Aku pernah bilang bukan, kalau aku bisa bedakan mana yang obsesi dan mana yang cinta? Aku yakin, aku memang cinta sama kamu. Meski kamu memang berniat tak baik padaku, tapi kamu banyak mengajarkan hal baik dalam hidupku. Kamu yang mempererat kembali hubungan aku dengan Mommy. Kamu yang mengajarkanku untuk kembali melaksanakan kewajibanku sholat lima waktu. Saat kamu tak ada, seakan aku juga tak ada yang mengingatkan. Tak ada tujuan. Mommy yang menyadarkanku, Ca. Kamu adalah yang aku butuhkan. Kamu yang selama ini aku cari." Azhar lalu menggenggam tangan Caca.


"Aku tahu masih banyak luka yang kita rasakan. Aku akan berusaha menghapus lukamu, dan kamu juga akan menghapus lukaku. Aku tanpa kamu, tak ada artinya. Begitu pun sebaliknya bukan? Aku mau kamu kembali mengisi hari-hariku. Aku mau kita menikah resmi. Aku hanya mau kamu, Ca!" Azhar bahkan tak kuasa menahan air matanya.


"Bagaimana dengan Julie?" tanya Caca sebelum menjawab permintaan Azhar.


"Julie... Tak pernah pulang sejak kejadian itu. Aku rasa dia pulang ke rumah orangtuanya. Entahlah!" jawab Azhar dengan acuh.


"Mas tidak mencarinya? Bagaimana kalau Julie kenapa-napa? Aku harus menemui Julie, Mas!" Caca bergegas hendak pergi namun Azhar menahannya.


"Untuk apa?!"

__ADS_1


"Untuk Kak Baim, Mas. Aku tak mau kematian Kak Baim sia-sia jika Julie berbuat nekat! Aku harus memastikan Julie baik-baik saja, seperti pesan yang Kak Baim minta." Caca lalu keluar kamar diikuti Azhar.


****


__ADS_2