Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Aksi Saling Jambak


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Ca?!" tanya Mama setelah berhasil menenangkan dirinya.


"Entah, Ma. Kak Baim terlalu menyayangi Julie sampai rela mengorbankan dirinya demi kebaikan Julie. Padahal apa coba yang dia lihat dari Julie? Suaminya saja dikhianati!"


Mama menatap Caca dengan tatapan kosong. Mama juga seperti Caca. Setelah tahu kepergian anaknya demi menolong wanita yang ia cintai rasanya semua rasa penasarannya selama ini seolah terjawab sudah. Mama bahkan tak peduli akan balas dendam lagi.


"Lebih baik kita jalankan saja amanat kakak kamu, Ca. Mungkin dengan cara itu kakak kamu bisa tenang." jawab Mama dengan lemah.


"Tapi, Ma-"


"Mengenai rumah tangga kamu, itu terserah kamu Ca." Mama lalu merengkuh wajah Caca dan berbicara sambil menatap mata putrinya. "Lakukan apapun yang membahagiakan kamu! Mama sudah ikhlas sekarang. Anak Mama sekarang hanya tinggal kamu seorang, selama kamu bahagia maka Mama akan bahagia."


Caca memeluk Mama dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita urus asuransi Kak Baim dahulu?"


Mama melepaskan pelukan Caca. "Ayo! Mama akan ganti pakaian dulu."


Sambil menunggu Mama, Caca membuka Hp miliknya. Terlihat banyak panggilan tidak terjawab dari Azhar. Suaminya pasti sangat khawatir karena dirinya tiba-tiba pergi tanpa meninggalkan pesan sama sekali.


Caca pun menelepon Azhar balik.


"Kamu dimana, Sayang? Kenapa kamu pergi tiba-tiba? Ada masalah? Atau kamu sakit?" Caca langsung diberondong pertanyaan oleh Azhar.


"Aku ada urusan mendadak. Aku mau mengantar Mama mengurus surat penting. Maaf Mas tadi aku pergi buru-buru."


"Huft... Syukurlah! Aku pikir kamu kenapa. Kamu pulang jam berapa? Aku jemput ya?!" tanya Azhar yang kini terlihat sudah lebih tenang tidak sekhawatir sebelumnya.


"Aku belum tahu. Aku kabari lagi nanti ya, Mas. Mas, Mama sudah siap. Aku pergi dulu ya!"


"Iya. Hati-hati ya, Sayang!"


Caca memutuskan sambungan teleponnya dan pergi bersama Mama mengurus asuransi milik Baim. Proses pencairan asuransi dipermudah karena semua syarat sudah terpenuhi.


Mama sesekali menangis melihat uang asuransi besar yang anaknya wariskan pada wanita yang dicintainya sampai rela mengorbankan nyawanya. Betapa Baim begitu mencintai wanita tersebut.


Sehabis mengurus asuransi, Caca pun mengantar Mama pulang. Hari sudah maghrib ketika mereka sampai rumah Mama. Ternyata Azhar sudah menunggu Caca. Azhar berjalan menghampiri Mama dan Caca lalu salim dengan Mama.

__ADS_1


"Kok kamu sudah datang, Mas? Aku 'kan belum memberi kamu kabar?!" tanya Caca seraya mengulurkan tangannya untuk salim.


"Mas khawatir. Kamu tadi pulang mendadak tanpa memberi pesan sama Mas. Meskipun kamu bilang baik-baik saja tapi Mas tak tenang bekerja." jawab Azhar.


Mama tersenyum mendengarnya. Ia yang semula menyetujui pernikahan Caca demi balas dendam malah melihat menantunya yang sangat mencintai anaknya tersebut. Sebagai seorang ibu, Mama hanya ingin anaknya bahagia.


"Masuk dulu, Zha!" ajak Mama.


Caca menjawab mendahului Azhar. Caca tak mau Azhar masuk ke dalam rumah karena kamar Kak Baim masih berantakan karena ulahnya tadi.


"Kita langsung pulang aja, Ma." ujar Caca.


"Iya, Ma. Kita langsung pulang aja." ujar Azhar menyetujui jawaban Caca.


"Ya sudah. Hati-hati ya kalian! Nanti main lagi ke rumah Mama, akan Mama masakkin yang enak-enak!" jawab Mama sambil tersenyum hangat. Senyum tulus pertanda ia sudah menerima menantunya tersebut.


Caca dan Azhar lalu pamit pulang. Sepanjang jalan Caca hanya terdiam saja. Ia banyak pikiran. Beberapa kali Azhar mengajaknya bicara namun hanya jawaban singkat yang ia berikan.


Azhar tak lagi banyak bertanya. Ia ikut terdiam sampai mereka tiba di apartemen Caca. Sesampainya di apartemen, Caca langsung membersihkan dirinya dan hendak sholat. Azhar juga melakukan hal yang sama.


Azhar lalu memesan makan malam dan turun untuk mengambilnya di security. Caca memilih duduk sambil menonton TV. Tak lama pintu apartemennya ada yang mengetuk.


"Ibu Julie?!" tanya Caca tak percaya.


Lalu tanpa disangka sebuah tamparan melayang ke wajah Caca.


Plakkkk


"Dasar pelakor! Jadi kamu yang sudah merebut Azhar dari aku! Wanita tak tahu diri! Dasar murahan!" Julie lalu menjambak rambut Caca dan terjadilah keributan.


Caca berusaha melepaskan tangan Julie. Ia bahkan membalas dengan menampar balik Julie. Keributan mereka yang terjadi di luar memancing rasa ingin tahu para tetangga.


Eza yang memang sedang membuat design di ruang tamu rumahnya mendengar suara ribut-ribut di depan dan penasaran. Eza terkejut saat melihat kalau yang sedang bertengkar adalah Caca.


"Sekretaris tak tahu diri! Sekretaris murahan! Pelakor! Mati saja kamu!" teriak Julie yang kini rambutnya sudah berantakan karena Caca juga balas menjambaknya.

__ADS_1


"Kamu yang tak tahu diri! Dasar pembunuh! Wanita sialan! Azhar tak pantas punya istri wanita jahat kayak kamu!" balas Caca tak mau kalah. Meluap juga emosi Caca apalagi saat tahu kakaknya mengakhiri hidupnya demi wanita yang tak pantas ini.


Eza lalu maju dan melerai pertikaian keduanya. "Ca udah, Ca! Mbak lepasin Caca!"


Pertikaian kedua wanita tidak semudah itu dilepaskan! Keduanya saling tampar dan jambak. Ada beberapa luka cakar di tubuh masing-masing. Kekuatan mereka seimbang jadi sama-sama mendapat banyak luka di tubuhnya.


Azhar yang baru saja kembali sehabis mengambil makanan di security terkejut melihat keributan kedua istrinya. "Ada apa ini? Berhenti kalian berdua!"


"BERHENTI AKU BILANG!" teriak Azhar membuat Caca dan Julie akhirnya menghentikan aksi saling jambak mereka.


Eza menghela nafas lega. Ia masih memegangi tubuh Caca dan Azhar tak suka melihatnya.


"Heh kamu! Lepaskan istri saya!" perintah Azhar tegas.


Eza terkejut. "Istri?" Ia menatap Caca yang penampilannya berantakan namun mengangguk menjawab pertanyaannya.


Eza pun melepaskan tubuh Caca dan tak mau ikut campur.


"Cih! Mengakui juga kamu kalau dia istri kamu! Sudah aku duga, wanita ini bukan wanita baik-baik. Ternyata benar, pelakor!" cibir Julie.


"Diam kamu! Kalian berdua, masuklah!" perintah Azhar tegas.


Caca menatap Julie dengan sebal dan masuk ke dalam apartemennya. Julie pun melakukan hal yang sama.


Azhar menatap para tetangga yang ingin tahu dengan tatapan tajam, membuat mereka bubar tanpa disuruh. Azhar masuk ke dalam dan melihat Caca dan Julie duduk berjauhan di sofa.


Azhar menaruh makanan yang ia bawa lalu duduk dan menatap kedua istrinya yang sama-sama terluka. Rambut mereka berantakan, make up Julie luntur dan keduanya banyak memiliki cakaran di tubuh masing-masing.


"Kekanakkan sekali kalian berdua!" cibir Azhar.


"Kamu yang kekanakkan! Kenapa kamu selingkuh dengan sekretaris kamu sendiri! Apa yang kurang dari aku, Zha?! Tega sekali kamu mengkhianati pernikahan kita!" balas Julie sambil marah.


"Karena aku mencintai Caca!" jawaban Azhar yang membuat Julie terdiam.


"Cinta? Lalu aku?" Julie menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Maafin aku, Julie. Aku baru menyadari kalau selama ini perasaan aku sama kamu hanyalah obsesi. Bersama Caca, aku menyadari kalau dialah cintaku."


****


__ADS_2