Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Pengaruh Si Nakal


__ADS_3

Azhar mengemudikan mobil yang disediakan khusus untuknya sambil bersenandung riang. Mereka sedang dalam perjalanan ke hotel yang sengaja Azhar pilih lokasinya agak jauh dari perusahaan.


Bali....


Caca menghirup aroma laut dalam-dalam. Pemandangan laut biru yang membentang luas di depannya membuat rasa penat dalam dirinya menguap.


"Mas, berhenti dulu yuk!" ajak Caca.


"Berhenti? Bukannya kamu mau ke hotel dan bersenang-senang dengan aku?!" tanya balik Azhar.


"Masih ada nanti malam dan besok, Mas. Sekarang kita bersenang-senang dulu seraya menikmati pantai di sore hari. Mas mau 'kan?!" bujuk Caca.


Mana bisa Azhar menolak permintaan Caca? Wajah Caca begitu memohon dan tak kuasa untuk ditolak.


"Oke! Sesuai permintaan kamu saja!"


"Yeeeyyyy!"


Azhar pun memberhentikan mobilnya di tepi pantai. Caca langsung berlari menuju pantai dan bermain air layaknya anak kecil.


Azhar yang menyusul turun memperhatikan istri sirinya begitu bahagia berkejaran dengan ombak. Caca melambaikan tangannya memanggil Azhar agar ikut bergabung dengannya. Azhar menolak. Alasannya, karena takut kotor.


Bukan Caca namanya kalau semudah itu menerima penolakan. "Copot dulu sepatu Mas!"


"Nanti kotor, Ca. Banyak pasirnya." tolak Azhar.


"Ah enggak seru nih hidupnya! Enggak asyik! Masa sih sama kotor aja takut?! Kalau enggak mau aku sendiri saja!" Caca lalu berbalik badan. Mengambil botol air mineral lalu mengisi dengan air laut dan...


Byurrr...

__ADS_1


Celana Azhar sukses dia guyur. Azhar tentu saja tak menyangka istri nakalnya akan berbuat hal yang tak terduga.


"Dasar nakal! Awas ya!" Azhar melepas sepatunya dan berlari mengejar Caca.


Caca tertawa puas melihat Azhar yang akhirnya ikut bermain air. Mereka berkejaran di pasir pantai. Azhar berhasil menangkap Caca dan menggendongnya lalu memutar tubuhnya.


Caca terus tertawa bahagia, menikmati momen kebersamaan mereka. Azhar pun demikian. Sejak kecil, Mommy terlalu banyak peraturan. Jangan main air, nanti sakit! Jangan main pasir, kotor! Nanti ada kumannya!


Azhar tak bisa menyalahkan Mommy sepenuhnya. Semua karena Mommy terlalu menjaga anak semata wayangnya dengan ketat. Tak mau anaknya sampai sakit.


Sekarang Azhar merasakan serunya bermain air di pantai. Berkejaran dengan ombak dan becanda dengan Caca.


Saat Azhar lengah, Caca melepaskan diri dan melompat ke punggung Azhar. Azhar memegang kaki Caca agar tidak terjatuh lalu mengajaknya berlari. Caca memeluk leher Azhar dengan kencang, takut terjatuh.


Azhar yang semula tak mau bermain air kini malah basah kuyup semua. Hanya sepatu miliknya yang aman bersama sepatu milik Caca. Keduanya saling menatap dan tertawa bersama.


Puas bermain, mereka pun pergi ke hotel tempat mereka menginap yang letaknya tak jauh dari pantai tempat mereka bermain. Resepsionis hotel menatap mereka sambil mengernyitkan kening.


Bukan resepsionis saja yang menatap mereka dengan heran, tamu yang berpapasan dan pekerja hotel juga menatap mereka. Keduanya asyik saja berjalan sambil bergandengan tangan. Tak peduli pandangan orang lain.


Caca dan Azhar kembali memesan dua kamar namun dengan pintu sekat di antara kedua kamar. Caca menaruh kopernya di kamar miliknya dan Azhar pun demikian.


Caca baru saja mengambil handuk dan hendak mandi di kamar mandi miliknya ketika Azhar masuk ke dalam kamar dan menarik tangannya. "Mandi barengnya di kamar aku aja!" perintah Azhar tanpa mau mendengar jawaban Caca.


Caca tak membantah, ia tahu kalau tak mungkin mereka hanya mandi bareng. Pasti babak pertama honeymoon di Bali akan dimulai. Benar saja perkiraan Caca, baru saja melepas pakaian dan menyalakan shower, Azhar sudah memojokkan dirinya ke dinding dan menciumnya dengan penuh gairah.


Mereka pun memadu kasih di bawah pancuran air shower. Suara erangaan penuh kenikmatan menggema di ruangan kamar mandi yang luas tersebut. Acara mandi pun berlangsung lebih lama dari biasanya.


Keluar dari kamar mandi, Caca yang sudah memakai pakaian lalu menunaikan sholat. Azhar tak heran melihat Caca sholat. Istrinya memang rajin beribadah, beda dengan dirinya yang entah kapan bersujud kepada Sang Pencipta.

__ADS_1


Caca mengulurkan tangannya untuk salim. Azhar pun memberikan tangannya. Caca lalu lanjut berdoa dan melipat mukena beserta sajadahnya.


"Kamu kok enggak pernah ngajak aku sholat sih?" tanya Azhar. "Biasanya istri suka mengajak suaminya sholat. Alasannya biar masuk surga bareng."


Caca tersenyum dan meminum air mineral botol yang disediakan pihak hotel lalu duduk di samping Azhar. "Itu Mas udah tau kenapa harus sholat. Enggak perlu aku ajak lagi bukan? Aneh aja, kenapa sholat harus diajak. Itu sih kesadaran sendiri saja. Jadi umat manusia yang dikasih kehidupan paling sempurna tapi untuk menyembah penciptanya saja begitu sombong dan angkuh!" kata Caca dengan pedas.


"Maksudnya sombong dan angkuh apa?" tanya Azhar dengan wajah serius. Caca memang beda, tidak mengajak sholat namun perkataan pedasnya lebih menyentil dirinya.


"Ya kalau sholat tuh kan ada gerakan sujud, manusia terlalu sombong. Tak mau bersujud padahal nikmat yang dirasakan dalam hidup ini begitu banyak. Apa bedanya dengan setan yang dikeluarkan dari surga karena kesombongannya?!"


"Wow kamu kalau ngomong pedas juga ya?!" komentar Azhar.


Caca tersenyum, "Masa sih? Orang tua aku memang bukan yang fanatik banget terhadap agama, namun mereka tau mana yang wajib dan tidak. Sholat adalah yang wajib, jadi mereka begitu tegas jika menyangkut sholat."


Azhar terdiam. Ia memperhatikan Caca yang mengambil ponsel miliknya dan menelepon kedua orang tuanya rupanya membicarakan orang tuanya membuat Caca kangen dengan mereka.


Azhar mendengar Caca menanyakan kondisi Mama yang membuat wajah Caca tersenyum senang menandakan kalau ibu mertuanya baik-baik saja. Caca pun berbicara dengan Mamanya lalu berpesan agar Mamanya jangan terus bersedih dan meminta Mama menikmati hidupnya.


"Mama bersedih? Bersedih kenapa?!" tanya Azhar dalam hati. "Apa yang membuat Mama bersedih? Seingatku, Mama orang yang ramah dan tak terlihat sedih. Hanya ada lingkaran hitam saja di bawah mata."


Caca menutup panggilannya setelah berpesan banyak pada Papa dan Mamanya. Azhar tersenyum mendengar istrinya yang bawel namun demi kebaikan. Terlihat sekali kalau Caca amat menyayangi kedua orang tuanya.


Azhar teringat dengan Mommy-nya. Sejak memutuskan kembali pada Julie, Mommy seakan menjauh darinya. Mommy terlihat sedih dan kecewa saat Azhar lebih memilih menikahi Julie.


Hubungan mereka merenggang dan semakin tak baik-baik saja. Azhar pun mengetikkan pesan di ponsel miliknya. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Baru ia lakukan kali ini, dan ini semua karena tergerak dengan apa yang Caca lakukan.


"Mommy sedang apa? Sudah makan belum? Mommy mau makan apa? Aku akan pesankan."


****

__ADS_1


Hi Semua!


Udah lama nih aku belum menyapa kalian. Udah vote belum? Yuk vote novel ini, like setiap bab dan add favorit ya untuk buat aku semangat lagi nulisnya. Makasih semua 😘😘😘😘


__ADS_2