Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Honeymoon


__ADS_3

Caca memasang senyum di wajahnya. "Aku tahu Mas capek. Jadi aku biarkan Mas tidur lebih lama. Masalahnya perut aku tak kuat menahan lapar. Jadi, daripada mengganggu istirahat Mas ya lebih baik aku pergi sendiri saja. Ini aku belikan untuk Mas."


"Kenapa lama sekali?" tanya Azhar lagi.


"Kalau itu...." Caca tak mau mengatakan kalau dirinya bertemu Eza. Bisa salah paham dan masalahnya akan menjadi lebih rumit lagi. "Aku udah kelaperan banget, Mas. Kalau di minimarket sedia air panas, yaudah aku buat saja di minimarket."


"Kenapa tidak bangunkan aku dulu? Ini bukan di Jakarta, Ca. Ini di Bali. Kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Kamu tuh tanggung jawab aku! Aku terbangun dan mencari kamu tapi kamu enggak ada. Aku khawatir tapi masih kasih kamu kepercayaan. Lain kali aku enggak mau kamu seperti ini lagi!" omel Azhar.


Caca terdiam, Azhar rupanya lebih mengkhawatirkan keadaannya dibanding marah karena ditinggal sendirian. "Apakah Azhar kini sudah menyayangiku? Apakah ia akan tetap menyayangiku kalau tau aku menikahinya karena ingin balas dendam saja?!" batin Caca.


"Ca! Kok kamu malah melamun sih? Kamu dengar enggak sih aku bilang apa?!" tanya Azhar menyadarkan Caca yang asyik dengan pemikirannya sendiri.


Caca mendekat ke arah Azhar dan memeluknya. "Maafin aku ya, Mas. Aku sudah buat Mas khawatir. Aku... Aku tak terbiasa begitu dikhawatirkan orang lain. Aku biasa mandiri. Apa yang Mas lakukan padaku, baru pertama kali aku rasakan. Maafkan ketidakpekaan aku ya, Mas. Aku janji tak akan pergi tanpa ijin kamu lagi. Kalau perlu aku akan menahan laparku sampai kamu bangun-"


"Ya enggak begitu juga, Ca. Kamu enggak boleh nahan lapar. Aku enggak mau kamu sakit! Siapa yang mengurus aku kalau kamu sakit?" Azhar sudah tak lagi marah pada Caca.


Caca melepaskan pelukannya pada Azhar. "Ya... Ibu Julie lah! Wanita yang paling Mas cintai," sindir Caca. "Jadi Mas mau aku buatkan Popmie tidak?!"


"Julie? Nanti kuku palsunya patah kalau suapin aku! Iya, buatkan saja. Aku juga lapar. Aku butuh makanan untuk menghukum kamu yang nakal kabur dari kamar malam-malam! Biar kamu lelah dan ketiduran." Azhar tersenyum penuh maksud.


"Iya, Mas. Aku siap saja. Kenapa aku harus menolaknya? Tunggu sebentar ya!"


****


Keesokan harinya lagi-lagi Caca bangun kesiangan. Tubuhnya terasa lelah semalaman melayani hasrat Azhar yang tiada habisnya. Ia bangun pukul 8 lewat.


Azhar sedang asyik menikmati kopi seraya sarapan roti bakar yang ia pesan dari restoran hotel. "Udah bangun, Sayang?" tanya Azhar yang terlihat begitu segar pagi ini. "Pulas sekali tidurnya."

__ADS_1


"Ini semua karena kamu! Tubuh aku pegal banget nih! Aku butuh dipijat!" Caca turun dari tempat tidur dan mengambil bathrobe. Bukannya langsung mandi, Caca malah duduk di samping Azhar dan memakan roti bakar yang belum suaminya makan tersebut.


"Ih jorok kamu! Cuci muka dulu dong Neng! Masa baru bangun tidur langsung sarapan?!" omel Azhar.


"Laper, Mas. Laper. Semalam aku cuma makan Popmie satu bungkus tapi kamu ajak aku lembur semalaman!" jawab Caca. "Sekarang, aku bangun tidur teramat kelaparan. Kamu tuh udah menguras semua energi aku! Kalau di film-film Cina aku tuh kayak habis dikuras energinya sama siluman, tahu nggak?! Lemes banget kayak cuma tinggal tulang doang, udah nggak ada tenaganya sama sekali. Disenggol dikit aja rubuh kali aku!"


"Masa sih rubuh? Coba aku senggol?!" Azhar lalu mulai menggelitik tubuh Caca yang kegelian akibat ulah jailnya.


Caca tertawa karena ulah Azhar. "Mas udah ah, aku lagi sarapan nih!" protes Caca.


Azhar menghentikan ulah jahilnya. "Mau nambah lagi enggak sarapannya?!"


Caca menggelengkan kepalanya. "Enggak mau. Aku mau makan nasi Padang. Makan roti doang kayak begini sih enggak nampol!"


"Hah? Nasi Padang? Sayang, kita tuh lagi di Bali. Kenapa makannya nasi Padang sih!?" protes Azhar.


"Loh memangnya kenapa? Aku dari kemarin kayak kenyang tapi kesel gitu loh Mas. Perut lapar, energi tercurah tapi makannya enggak pas gitu. Pokoknya aku mau nasi Padang!"


Caca cepat- cepat berdiri. Ancaman Azhar seperti itu justru lebih menakutkan Caca. Tidak ada waktu istirahat untuk tubuhnya nanti. "Siap bos! Aku mandi dulu!"


Caca pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lalu mengenakan sebuah dress bermotif bunga-bunga dengan cardigan untuk menutupi dress tanpa lengannya tersebut. Azhar begitu terpukau dengan penampilan sederhana Caca.


Azhar tahu, dress yang Caca gunakan bukanlah dress mahal seperti yang biasa dibeli oleh Julie. Namun, justru dress tersebut terlihat lebih mahal saat dikenakan oleh Caca. Warna dress tersebut begitu menyatu dengan kulit Caca membuatnya semakin terlihat menarik saja dan lebih cantik.


"Kalau lihat kamu secantik ini sih lebih baik kita di kamar saja, Sayang!" goda Azhar.


"No! Aku mau makan lalu jalan-jalan. Bosan Mas dikurung kamu di kamar terus. Kita honeymoon bukan? Yuk kita nikmati honeymoon kita dengan we time."

__ADS_1


Azhar tersenyum, "Bisa aja kamu! Ayo kita pergi istriku, sebelum aku kembali tergoda oleh pesona kamu yang nakal!"


Caca melingkarkan tangannya di lengan Azhar. "Ayo suamiku yang selalu penuh gairah!"


"Panggilan apa itu? Eh tapi iya sih! Suka-suka kamu lah!" Azhar tertawa dan terlihat begitu bahagia bersama Caca.


****


Julie berjalan mondar-mandir di kamarnya. Menurut Julie, Baim kembali berulah. Kembali menghilang bagai di telan bumi.


Julie menghubungi lagi nomor Baim, namun kembali tidak aktif. Julie pikir, saat Azhar sedang keluar kota dirinya bisa bermesraan dengan Baim, tapi ternyata? Dihubungi saja Baim sangat sulit!


"Im, kamu kemana sih? Aku tuh kangen banget sama kamu!" gumam Julie.


Ia kembali menatap layar ponsel miliknya. Pesan yang dikirimkannya sudah dibaca oleh Baim tapi belum dibalas juga.


"Mulai deh sibuk sendiri! Kenapa sih masih saja mau jadi budak korporate? Aku bisa kasih uang bulanan lebih besar juga! Sok idealis deh!" omel Julie.


Julie yang kesal dan bosan lalu mengganti bajunya dan pergi ke luar rumah. "Kesempatan kayak gini tuh enggak datang dua kali! Kalau Baim sibuk, aku akan bersenang-senang sendiri!"


Julie lalu pergi ke Mall kalangan atas tempat ia belanja barang branded nan mahal. Ia sedang membeli sebuah syal seharga 5 juta dan dress seharga 10 juta. Uangnya masih ada untuk membayarnya, apalagi Azhar membekali uang yang lumayan besar sebelum pergi.


Baru saja keluar toko tiba-tiba....


Bruuukkkk....


Seseorang menabrak bahu Julie dengan kencang. Paper bag yang dibawanya pun terjatuh dan barang-barang yang baru dibelinya keluar semua.

__ADS_1


Julie menatap siapa yang menabraknya dan wajahnya kembali pucat. Bayangan masa lalu kembali menampilkan trauma dalam dirinya.


****


__ADS_2