Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Apa yang disembunyikan Caca?


__ADS_3

"Alasan macam apa itu?! Aku yakin kamu hanya tergoda sesaat dengan wanita murahan itu!" balas Julie.


"Berhenti menyebutnya wanita murahan! Caca tidak semurahan itu! Setidaknya, aku adalah lelaki pertama dalam hidup Caca, tidak seperti kamu!" Azhar tak terima Caca dihina oleh Julie.


Julie menarik nafas untuk mengisi stok sabarnya. "Oke. Aku tak akan menghinanya lagi. Sekarang, kamu ceraikan dia. Toh pernikahan kalian masih belum tercatat secara resmi! Aku istri sah kamu, Zha. Aku tak mau ada orang ketiga dalam rumah tanggaku!"


"Aku tak bisa mengabulkan permintaan kamu. Caca juga istriku dan aku akan mendaftarkan pernikahan kami!" jawab Azhar tak mau kalah.


"Ceraikan dia!"


"Tidak mau! Kalau kamu tak bisa menerima Caca, aku akan melepas kamu!" jawab Azhar penuh keyakinan.


"Karena wanita ini kamu mau melepas aku? Kemana janji dan kata-kata cinta kamu, Zha? Kamu lupa bagaimana perjuangan kita? Kamu lupa banyak cobaan yang kita lalui demi menyatukan cinta kita?!" Julie mulai menangis, mengeluarkan senjata yang biasanya membuat Azhar luluh.


"Maafkan aku. Pulanglah! Malam ini aku akan tinggal bersama Caca."


Julie sangat marah dan merasa dikhianati, ia berdiri dan meninggalkan apartemen Caca dengan kesal. Sepeninggal Julie, Azhar lalu mengobati luka di tubuh Caca. Beberapa kali ia meminta maaf namun Caca hanya terdiam.


Mereka terus saling diam. Tidur pun berjauhan. Pikiran Caca berkecamuk. Sampai Caca melihat pesan masuk di SIM Card milik Baim yang tadi sengaja ia aktifkan.


Sudah Caca duga, Julie akan menghubungi kakaknya. Caca melirik Azhar yang dipikirnya tertidur pulas lalu bangun dan membalas pesan Julie di sofa.


"Sudah saatnya semua ini harus diakhiri!" ucap Caca pelan namun bisa didengar oleh Azhar yang rupanya sejak tadi masih terjaga dan merasa gerak-gerik Caca begitu mencurigakan.


Caca pun membalas pesan Julie yang memintanya untuk bertemu. Caca kembali mematikan kartu Sim Card Kak Baim dan pergi tidur.


Azhar semakin mencurigai Caca. Ia tahu kalau ada yang disembunyikan Caca. Tiba-tiba Caca pergi meninggalkan kantor, lalu mata Caca dan Mama yang terlihat bengkak sehabis menangis namun masih menutupinya dengan senyuman dan sekarang malah membaca Hp di sofa. Kalau tidak ada yang disembunyikan untuk apa Caca melakukan itu?!

__ADS_1


"Apa yang Caca sembunyikan? Kenapa saat Julie meminta aku menceraikan Caca, dirinya hanya diam saja tak membantah? Apakah selama ini Caca tak pernah mencintaiku? Lantas kenapa ia sampai memiliki kartu Sim Card lain? Semuanya terlalu aneh!" batin Azhar. " Akan kucari tahu sendiri dan menemukan jawabannya!"


Keesokan harinya Caca masih murung. Ia tak banyak bicara selama perjalanan ke kantor. Wajahnya masih terlihat sedih dan menutupi bekas perkelahian kemarin dengan make up yang lebih tebal dibanding biasanya.


Caca juga tak menyuapi Azhar seperti biasanya. Sikapnya seolah acuh dan seperti sedang bimbang. Azhar pun tak lagi mengajak Caca bicara, namun Azhar terus mengawasi Caca. Tak ia biarkan Caca menghilang sedetikpun dari pandangannya.


Sampai tibalah waktu istirahat tiba. Caca masuk ke dalam ruangan Azhar dan tiba-tiba minta ijin istirahat ke luar kantor. Alasannya mau makan siang bersama Papa.


Azhar tau Caca sedang berbohong. Azhar mulai mengenal Caca dan tau mana yang bohong dan yang benar. Namun Azhar mengiyakan saja permintaan Caca. Ia akan mencaritahu kemana Caca pergi.


"Pergilah! Sampaikan salamku sama Papa ya! Kamu mau aku suruh supir mengantar?" tanya Azhar berbasa-basi.


"Tak usah, Mas. Aku naik taksi saja. Aku pergi dulu ya, Mas!" Caca pun pamit dan pergi meninggalkan ruangan Azhar.


Cepat-cepat Azhar mengambil jaket dan topi miliknya yang ada di lemari dan berjalan keluar mengikuti Caca. Azhar melihat Caca sedang menyetop taksi, tak mau tertinggal Azhar pun melakukan hal yang sama.


"Baik, Pak!"


Azhar terus mengawasi mobil taksi di depannya. Mobil tersebut berbelok ke sebuah komplek pemakaman. Kening Azhar mengerut.


"Kok ke pemakaman? Bukankah mau makan siang sama Papa?! Sudah aku duga kalau Caca menyembunyikan sesuatu!" batin Azhar.


Mobil taksi yang Caca tumpangi benar-benar berhenti di depan pemakaman. Azhar menunggu Caca turun lalu dirinya turun setelah membayar ongkos taksi.


Bukan hanya kepergian Caca saja yang membuat Azhar, ia juga melihat sebuah mobil sedan putih terparkir tak jauh dari pemakaman. Mobil yang ia sangat kenal siapa pemiliknya karena dirinya yang membelikannya. Ya, itu adalah mobil Julie.


"Mobil Julie juga ada? Apa mereka janjian di sini? Untuk apa?!" tanya Azhar dalam hati.

__ADS_1


Azhar pun masuk ke dalam setelah memastikan kalau mobil Julie pun tak ada orangnya. Artinya Julie sudah masuk ke dalam.


****


Caca berjalan ke dalam area pemakaman dengan langkah tegap. Tatapannya lurus ke depan. Dikeluarkannya sebuket bunga yang tadi ia pesan online dan ia sembunyikan dari Azhar agar suaminya tersebut tidak curiga.


Di depan kantor pengurus makam berdiri seorang wanita cantik mengenakan gaun berwarna putih dengan sepatu berwarna senada. Kacamata hitam besar membingkai wajahnya dan menutupi bekas luka perkelahian kemarin.


Ia duduk sambil mengipasi dirinya yang kepanasan di udara siang hari. Melihat Caca mendekat ia reflek berdiri. Terkejut dan tak menyangka kalau yang datang bukanlah kekasih hatinya yang sejak tadi ia tunggu.


"Loh? Kok kamu? Ngapain kamu di sini? Kamu pasti mau memata-matai aku dan melapor sama Azhar bukan?! Heh, kurang cukup apa kamu merusak rumah tanggaku?!" semprot Julie.


Sementara itu dari kejauhan Azhar menutupi rambutnya dengan hodie jaket dan berjalan mendekat namun sebisa mungkin tak membuat mereka mengenalinya. "Julie? Benar dugaanku! Rupanya mereka memang janjian bertemu! Apa yang mau mereka lakukan?!" batin Azhar.


"Untuk apa? Toh kamu datang ke sini untuk menemui orang lain bukan? Ikutlah! Akan kuberitahu dimana orang itu berada!" ujar Caca dengan dingin.


Julie tentu saja bingung dengan apa yang Caca katakan. Darimana Caca tau kalau dirinya mau menemui orang lain? Julie jadi curiga kalau Caca memang menyuruh orang memata-matai apa yang ia lakukan selama ini.


Caca lalu berjalan melewati beberapa makam. Ia terus berjalan ke tempat yang sudah sangat ia hafal.


Julie semakin curiga saja. Untuk memenuhi rasa penasarannya, ia pun mengikuti langkah Caca. Caca terus berjalan dan berhenti di sebuah makam yang rumputnya tertata indah dan terlihat masih baru.


Caca mengangkat tangannya, berdoa sejenak lalu mengusap wajahnya setelah selesai berdoa. Caca lalu meletakkan buket bunga yang ia bawa di dekat batu nisan.


Julie sudah berada di dekat Caca. Ia pun bisa mendengar apa yang Caca katakan.


"Kak, hari ini aku bawa wanita yang Kakak cintai untuk menemui Kakak!"

__ADS_1


****


__ADS_2