Pesona Penggoda Nakal

Pesona Penggoda Nakal
Sebuah Surat


__ADS_3

Foto yang Caca lihat adalah foto Kak Baim sedang merangkul Eza sambil tersenyum lebar. Barisan gigi putihnya menampilkan kebahagiaan yang terpancar.


Kak Baim dan Eza terlihat sangat akrab. Rambut Kak Baim masih gondrong dengan kaos besar yang ia gunakan. Caca ingat sekali kaos tersebut sempat dijadikan kain lap oleh Mama karena sudah sebal melihatnya dipakai terus sama Kak Baim meski sudah sobek di sana-sini.


Ya, foto tersebut adalah foto yang diambil beberapa tahun silam. Foto kala Kak Baim masih kuliah di luar kota.


"Aku dan Baim satu kampus dan satu kontrakkan. Waktu itu aku tetap nekat ingin menjadi arsitek meski Papaku melarang. Aku bekerja part time demi membayar uang kuliah dan biaya hidup sehari-hari,"


"Saat aku susah dulu, Baim yang menolongku. Dia mengajakku tinggal di kontrakkannya dan memberiku makan kala aku tak punya uang sama sekali. Baim cerita kalau ia memiliki adik yang sangat cantik dan teramat ia sayangi. Tak kusangka ternyata adik Baim adalah kamu, Ca."


Eza tersenyum seakan baru menyadari ada sedikit kemiripan antara Caca dan Baim. Sorot mata mereka begitu mirip. Eza merasa bodoh karena baru menyadarinya sekarang.


"Waktu itu Baim mengirimiku undangan pernikahannya. Wajah Baim sangat bahagia karena akan menikahi wanita yang menurutku aneh. Wanita ini tak pernah mau jika diperkenalkan dengan kami teman-temannya. Banyak misterinya. Namun sebagai seorang sahabat, aku menghargai apapun keputusan Baim,"


"Aku sudah rapi dan sampai di gedung tempat resepsi diadakan namun aku terkejut karena menurut security acaranya dibatalkan. Aku bertanya-tanya apa yang sudah terjadi? Kenapa sampai batal? Apa wanita aneh itu menyakiti hati Baim sahabatku?"


"Aku lalu mulai menghubungi Baim namun Hp miliknya tidak aktif. Kebodohanku adalah tidak pernah main ke rumah orangtua kalian. Kalau aku tahu dimana kalian tinggal, aku pasti sudah tahu kalau Baim meninggal. Aku tanya sama anak-anak yang lain, semua tak tahu karena memang mereka tinggal di luar kota semua. Saat kamu menyebut nama Baim, aku jadi teringat sahabatku dan ternyata benar kalau kamu adiknya yang selama ini ia banggakan."


Caca menunduk dan kembali menangis. Betapa Kak Baim sangat menyayanginya dan selalu membanggakan dirinya di depan siapapun.


"Jangan nangis lagi, Ca. Aku bisa memahami kenapa kamu sampai menjadi seorang pelakor. Semua karena rasa sayang kamu sama Kakak kamu. Semua sudah terjadi. Jangan terlalu menyesali nasib. Tadi kamu mau pulang bukan? Ayo aku antar, sekalian aku mau bertemu Mama dan Papa yang suka mengirimiku makanan dan uang jajan. Mereka juga orangtuaku loh, Ca." Eza mengusap kepala Caca dengan penuh kasih. Timbul tekad dalam dirinya untuk menjaga adik kesayangan sahabatnya tersebut.


****


Mama memeluk Caca yang datang sambil menangis. Mama bahkan meminta maaf berkali-kali pada Caca. Mama merasa bersalah. Dirinya juga salah satu faktor yang membuat Caca mau melakukan balas dendam.


"Maafin Mama, Ca. Maafin Mama!" ujar Mama sambil menangis sesegukan.

__ADS_1


Caca tak dapat berkata-kata. Ia lebih memilih untuk menangis meluapkan isi hatinya.


Setelah keduanya lebih tenang dan bisa menerima apa yang terjadi, Mama baru menyadari kalau Caca tak datang seorang diri. Ada yang menemani namun sejak tadi hanya diam memperhatikan kesedihan keduanya sambil sesekali mengusap air mata yang bandel dan menerobos keluar. Eza sudah salim dengan Papa saat Caca dan Mama sedang berbagi kesedihan.


Eza yang hanya sahabatnya Baim saja begitu merasa kehilangan sahabat baiknya tersebut, apalagi Caca dan kedua orangtuanya?! Baim memang punya hati baik. Sangat baik malah. Kalau sudah menolong seseorang maka tak akan segan-segan.


Sayangnya berita kematian Baim tidak tersebar luas. Kalau teman-teman Baim tahu berita tersebut, maka akan lebih banyak lagi yang bersedih dan kehilangan.


"Kamu....?" Mama mencoba mengingat pemuda tampan yang berada di depannya. "Reza bukan? Sahabatnya Baim?" akhirnya Mama bisa mengenali Eza.


Eza mendekat dan salim lalu memeluk Mama. "Iya, Ma. Ini Eza. Maaf Ma, Eza baru tahu tentang Baim. Eza turut berduka cita ya, Ma."


"Iya, Za. Maaf Mama merahasiakan tentang Baim. Sudah cukup berita miring tentang anak baik Mama. Sampai meninggal pun Baim masih memikirkan orang lain. Anak itu... memang terlalu baik..." suara Mama tercekat menahan kesedihannya.


Eza kembali memeluk Mama dan menenangkannya. Papa pun melakukan hal yang sama. Menenangkan Mama agar jangan sampai kembali seperti dulu lagi. Sedih teramat dalam sampai melupakan keadaan sekitar.


Caca tak menemani, ia pamit ke kamarnya dan mengurung diri. Sampai Eza pulang, Caca tak juga keluar kamar. Caca butuh waku untuk sendiri saat ini.


****


Julie baru menyadari hari sudah gelap ketika udara di sekitarnya menjadi dingin. Pemakaman sangat sunyi dan menyeramkan, namun tidak bagi Julie.


Dengan baju yang kotor sehabis memeluk tanah makam tempat Baim dikuburkan. Matanya bengkak dan tatapan matanya kosong. Ia mau menghabiskan lebih lama lagi waktu meratapi kesedihannya, namun Julie sadar Baim tak mau melihatnya sedih.


Julie berjalan dengan gontai ke tempat mobil sedan putih miliknya yang diparkirkan. Dengan tangan gemetar ia membuka kunci dan berakhir dengan jatuhnya kunci yang ia pegang.


Julie mengambilnya dan kembali memasukkan ke lubang kunci. Berhasil. Ia pun menginjak pedal gas dan pergi ke tempat paling tenang. Rumah mungil peninggalan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Julie menatap rumah yang tetap ia rawat dengan baik meski sudah menikah dengan Azhar. Rumah yang dulu ingin Julie tinggalkan karena dianggap terlalu biasa untuk seorang Julie.


Setelah masuk ke dalan, Julie pun mengunci pintu dan merebahkan tubuhnya di atas karpet yang berada di dalam kamarnya. Julie terpejam sebentar dan terbangun masih dengan keadaan gelap. Berarti hanya sebentar ia terlelap.


Air mata di wajah Julie seakan sudah mengering. Sudah tumpah ruah di makam tadi. Julie bangun dan menyalakan lampu, namun ternyata lampu kamarnya putus. Julie lalu menyalakan senter dan membuka lemari tempat ia menyimpan lampu cadangan.


Mata Julie terpaku pada selembar kertas yang dilipat dan ada nama dirinya tertulis di sana.


...Teruntuk Julie-ku Tersayang...


Cepat cepat Julie mengambil surat tersebut dan melupakan niatnya memasang lampu. Julie pergi ke ruang tamu dan membaca surat peninggalan Baim.


Julie Sayang,


Saat membaca surat ini, aku pasti sudah tak ada di dunia ini. Maafkan aku meninggalkanmu.


Aku memang bodoh karena memilih mengakhiri hidupku dibanding menunggu kamu menunaikan janjimu. Bukan aku tak percaya namun aku tak mau melihat kamu menikah dengan orang lain karena terpaksa.


Andai aku punya banyak uang, aku akan memberikan semua harta milikku padamu. Sayangnya, aku hanya berasal dari keluarga sederhana saja. Tak bisa melindungi kamu dari masalah yang menimpamu.


Kamu jangan khawatir, aku memiliki asuransi yang akan bisa menyelamatkan kamu kalau aku sudah tiada kelak. Datanglah dan minta Caca mengurusnya. Pergunakan uang tersebut untuk hidup bahagia bersama lelaki yang mencintai dan menerimamu apa adanya.


Aku minta satu hal sama kamu, tolong jaga dan sayangi keluargaku seperti kamu menyayangi keluargamu sendiri. Sekali lagi maafkan aku. Berjanjilah kamu akan hidup lebih bahagia lagi mulai dari sekarang.


*Dari lelaki pengecut yang menyayangimu,


Baim*.

__ADS_1


****


__ADS_2