
"Jadi Yang Mulia, saya ingin agar Anda memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin."
Penasehat Yao sudah menjelaskan garis besarnya, tinggal Hyu Jin memikirkan rencana selanjutnya.
"Nah, kau ingin agar aku merencanakan penyerbuan ini gagal?"
Tentu saja, dalam hatinya Hyu Jin menolak keras pemikiran itu.
"Tapi aku ingin agar Yang Mulia melakukannya, dengan militer kita yang sekarang ini, itu mungkin sudah cukup untuk membentuk regu yang bertugas untuk menyabotase ..."
Hyu Jin menggelengkan kepala tidak setuju.
"Kau pikir berapa banyak ibu yang akan kehilangan suaminya ketika para pria prajurit itu dihabisi seluruhnya?"
Yah, Hyu Jin tentu saja paham maksud Penasehat Yao yang ingin kegagalan menimpa pasukan kekaisaran Yulong, dan dalam prosesnya mereka rencananya akan memanfaatkan itu untuk menyebarkan protes kepada pihak pemerintahan sehingga terjadi bibit-bibit pemberontakan.
Namun, sekali lagi Hyu Jin merasa mengorbankan nyawa warga sendiri demi kekuasaan bukan hal yang dia inginkan.
"Mengambil tahta atau tidak, jika dilakukan dengan mengorbankan rakyat sendiri, apakah itu yang namanya pemimpin yang baik?"
Karena dalam pikirannya Hyu Jin tahu bahwa sebagian besar penyerang ini merupakan berasal dari rekrutan penduduk sipil yang dipaksa bertarung.
Nah, akan dalam bahaya kalau semuanya tewas begitu saja. Mereka adalah andalan keluarga masing-masing.
"Jadi Yang Mulia inginnya apa?"
Hyu Jin bergumam dalam hati, "Tenang ... Ini hanya tentang menyelamatkan penduduk sipil yang tidak bersalah. Jadi aku punya rencana lain yang hanya menargetkan pengikut lawan setia."
Penasehat Yao dalam waktu kebingungan sekarang, dia tidak mengerti maksud Hyu Jin. Ketika laki-laki itu berkata seperti.
"Nah, bukan berarti aku tidak ingin penyerbuan ini gagal. Hanya saja aku menginginkan agar hanya pengikut setia Paman yang dikurangi, kau paham maksud dari ucapanku?"
__ADS_1
Hyu Jin ingin bercerita lebih lanjut ketika seseorang dari dalam bayangan mendatanginya sambil berbisik.
"Ada yang mencari Yang Mulia."
Hyu Jin menemukan seorang gadis berjubah hitam yang kemudian mengarahkan dia ke sebuah jendela istana. Penasehat Yao mengikuti, Hyu Jin kemudian menemukan bahwa ada wajah asing disana.
"Tunggu dulu ... Apa yang dilakukannya disini?"
...----------------...
Hyu Jin tidak pernah menyangka, bahwa suatu saat nanti dia bisa melihat wajah kakak dia yang babak belur.
"Saudara Mo, apa yang terjadi kepadamu?"
Dia memang Hyu Mo, ketika Hyu Jin memanggilnya begitu pria itu tampak semakin terkejut.
"Kau, apa-apaan ini? Kenapa bisa ada kota, lalu kenapa desa Qudong dihancurkan?"
Dia sebelumnya pernah membahas ini kepada Penasehat Yao, agar menggunakan seluruh kekayaan dia saat ini. Termasuk sebagian besar Saldo untuk kudeta dan menyerahkan mereka ke tangan orang kepercayaan.
Hyu Jin tentu tidak begitu saja melakukannya, dia menguji terlebih dahulu kinerja Penasehat dia itu sebelum menilainya layak untuk memegang 1 milyar emas.
Hyu Mo tentu mulutnya sekarang melebar. Pasalnya ketika dia mendengar kata yang 1 milyar, wajahnya tampak begitu terkejut. Hyu Jin juga pernah melihat ekspresi serupa pada seorang pria tua sebelumnya.
Menurut cerita Hyu Mo selanjutnya, ketika Hyu Mo pergi ke desa Qudong dengan beberapa pengawal dia dan menanyakan keberadaan Hyu Jin, Hyu Mo dipukuli oleh warga.
"Maafkan saya Yang Mulia, tapi sepertinya orang ini sudah berani menghina Yang Mulia karena menyebut yang mulia sebagai anak ..."
Warga itu yang merupakan salah-satu pelaku membenarkan insiden itu sambil memberikan opini kronologi kejadian.
Hyu Mo meledek tidak percaya, "Huh, yang mulia katamu?" Dia tertawa keras selama beberapa waktu, "Memangnya, kau berasal dari keluarga kekaisaran?"
__ADS_1
Urusannya panjang jika Hyu Jin tidak melakukan sesuatu, jadi untuk mempermudahnya. Hyu Jin memberikan 1 Fate Point yang akan digunakan untuk berbagai kisah masa lalu kepada Hyu Mo.
Wajah pria itu sekarang dipenuhi rasa keterkejutan tinggi. Mulut dia hanya bisa mengeluarkan suara serak sekarang.
"Nah ... Kau percaya sekarang?"
Hyu Jin tersenyum kecil melihat tingkah konyol saudara yang diketahui selama ini menganiaya dia.
...----------------...
Hyu Mo tertegun sejenak, pasalnya pemandangan yang dia lihat didepannya adalah yang lebih megah dari istana Kekaisaran di ibu kota.
"Tidak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi? "
"Nah, ini adalah Desa Qudong."
Hyu Jin menjelaskan garis besarnya, tentang Desa Qudong yang mendapatkan sedikit pembaharuan.
Tentu saja, itu akan membuat bangunan lama akan ditinggalkan untuk kemudian direnovasi kembali jika seandainya kota ini terlalu memiliki populasi yang berlebih.
(Buset ... Aku tidak tahu kalau desa Qudong ternyata sebuah kota. Lalu, kenapa Ayah tidak pernah bilang tentang ini? Sial, seharusnya aku yang datang duluan!)
Sepertinya Hyu Mo mengambil kesimpulan yang salah, terbukti ketika dia menangkap lain maksud Hyu Jin tentang Kota Qudong itu.
"Hei ... Bocah ... Kau tadi bilang ini adalah desa Qudong, bukan?"
Hyu Jin mengganguk setuju, dalam prosesnya ... Hyu Mo terlihat menyeringai sekarang.
"Nah ... Kalau begitu dengan kekuasaanku, aku memerintahkan mu untuk menyerahkan seluruh pemerintahan serta jabatan, kepengurusan, kepemilikan dan lainnya kepadaku! Tidak ada yang perlu dibahas lagi selain kau pergi sekarang!"
Demikian pernyataan Hyu Mo, dia dengan lantang mengatakannya meskipun berada dihadapan banyak orang. Penasehat Yao dan penduduk Qudong yang paling terkejut mendengarnya.
__ADS_1