
Sementara kegaduhan terjadi di dalam istana, begitupula dengan sebaliknya. Tabib itu berjuang menghindari dari kejaran para prajurit yang mengejar dia.
"Pokoknya harus membawa Pangeran ke dua pergi sejauh mungkin."
Pesan terakhir dari sang ratu adalah perintah yang harus dilakukan oleh tabib itu, dia merasa sangat terhormat mendapatkannya.
Sang tabib ini rupanya sudah mengawasi sangat lama keluarga Kekaisaran, tentu saja itu membuat sang ratu mempercayainya.
Namun, sayang sekali. Terlepas dari jasa sudah melayani keluarga kekaisaran selama beberapa dekade, hanya karena faktor usia dia harus mengalami kesulitan dalam hal berlari.
Dia sudah lupa sejak kapan dia terakhir melakukan itu, tabib ini tahu bahwa dia akan segera ketahuan dan terkejar kalau tidak berhasil mencapai target awal dia.
"Hanya ada satu pilihan lagi. Sepertinya hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan pangeran."
Dalam hati tabib itu berkata, (Semoga jalan mu untuk mengembalikan tahta bisa berjalan dengan mulus, pangeran. Walaupun aku tidak bisa melayani sampai generasi nona Niu melahirkan anak pangeran mahkota, tapi aku sudah sangat bersyukur bisa melayani sampai sejauh ini.)
Tabib itu kemudian tertusuk oleh pedang di perut ketika hendak melawan pada saat ditangkap.
Bersamaan dengan itu, sebelumnya tabib ini sudah membuatkan bayi kecil itu sebuah perahu kecil dan menghanyutkan mereka ke sebuah sungai. Yang nantinya akan menuju ke suatu tempat yang bernama.
"Keluarga Hyu. Aku harus memikirkan cara untuk bisa bertahan disana dan menjadi istri sah dari Tuan Besar Hyu."
Seorang wanita yang menyesali bayi dalam kandungan dia mengalami keguguran tidak sengaja melihat perahu tersebut.
Dia mendengar suara tangisan disana, wanita itu yang merasa menemukan sesuatu yang tidak biasa segera mendekati perahu itu, untuk menemukan seseorang berada disana.
"Sebuah bayi?"
Wanita itu dalam hatinya berkata, (Anak siapa ini?)
Mengabaikan itu, pikiran dia teralihkan pada hal lain.
"Mungkin ini adalah keberuntunganku. Dengan aku yang dianggap berhasil melahirkan anak dari Tuan Hyu, mungkin dia akan mempertimbangkan untuk membiarkan aku tetap menjadi simpanannya."
Pikir dia, yang kemudian membawa bayi itu. Yang kemudian dinamai dengan ...
...----------------...
[Hyu Jin?]
__ADS_1
Mata laki-laki itu menatap tidak percaya, setelah sekian lama. Setelah selama ini, rupanya semua sudah membohonginya. Dari yang awalnya dianggap sebagai anak haram hingga mendadak menjadi manusia dengan darah biru?
"Tunggu, berarti aku berada diatas mereka?"
Seharusnya, Hyu Jin tidak pernah mengetahui hal ini jika System tidak pernah menyinggungnya sejak awal.
Dia merasa bersyukur bisa mengetahuinya meskipun di waktu yang kurang tepat.
[Setelah itu, tetap saja wanita yang mengklaim Master adalah anak dia tewas diracuni oleh istri sah Kepala Keluarga Hyu.]
Lagi-lagi mulut Hyu Jin ingin mengatakan sesuatu.
Menurut penjelasan yang Hyu Jin dapat, seharusnya ibu dia itu meninggal karena penyakit. Namun ini berbeda dari yang dikatakan oleh System.
"Apakah ini fakta?"
Tentu saja, jawabannya masih diluar yang Hyu Jin ketahui. Selama ini dia selalu bertanya-tanya, siapa sebenarnya sosok ibunya yang bahkan dari kecil dia tidak pernah bisa melihatnya.
Berbeda dari saudara-saudaranya yang lain, hidup mereka jelas dari orang tua mana mereka lahir. Kalau Hyu Jin tidak seperti itu, orang-orang di keluarga dia mengganggap dia sebagai anak kurang jelas asal usulnya.
Mengabaikan hal tersebut, pikiran Hyu Jin bercampur aduk sekarang. Antara mempercayai ke dua pemberitahuan itu, dia memilih untuk menenangkan diri sejenak. Tapi, sepertinya sesuatu akan segera terjadi.
• Ting! [Misi utama dan harus dikerjakan! Tema: Mengembalikan tahta ke pewaris asli!]
[Hadiah tambahan: Mendapatkan poin kesetiaan + 1 000 000 dari seluruh bawahan, kekayaan pribadi yang melebihi jumlah pendapatan minimum, modernnisasi seluruh negara, kekuatan militer overpower, berhak mendapatkan harem, dan beberapa hadiah lainnya!]
[Total modal untuk persiapan kudeta: 1.000 000.000. emas.]
Hyu Jin mematung ketika membaca panel tersebut.
Tentu saja, dia mengepalkan tangan setelahnya, "Tanpa di beri tahu pun aku akan melakukannya! Kau pikir aku akan membiarkan keluarga asli ku hancur begitu saja tanpa pembalasan yang setimpal?"
• [Selamat! Mendapatkan 1 Fate Point karena sudah berambisi. Apakah Master akan menggunakannya untuk membangun sebuah kota?]
Hyu Jin mengambil nafas yang dalam-dalam sebelum, "Oke, aku akan mengambilnya!"
...----------------...
• [Tahap pertama sebelum memulai kudeta!]
__ADS_1
[Penting! : Syarat membangun kota]
[1. Menemukan lokasi untuk membangun kota. (Status: Belum Terpenuhi)]
[2. Mengumpulkan beberapa jumlah penduduk sebanyak 10 000 manusia. (Status: Belum Terpenuhi)]
[3. Merekrut 100 tentara pertama. (Status: Belum Terpenuhi)]
Karena Hyu Jin harus memenuhi persyaratan tersebut, jadinya dia belum bisa membangunnya sekarang.
"Tapi aku mungkin bisa melakukannya besok."
Karena Hyu Jin merasa ini sudah hampir malam, nah ... Rumah dia sudah berada cukup dekat dari lokasi dia berada sekarang. Jadi Hyu Jin buru-buru mengajak Niu Jingyi untuk pergi ke belakang rumah.
"Maafkan aku, karena aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan tamu, jadinya tidak membereskan kamarku."
Tepat pada bagian gudang, Hyu Jin menunjukan lokasi yang menjadi tempat bermalam maupun berteduh dia sejak kecil sampai dewasa.
Mereka terbuat dari tumpukan jerami. Untuk bagian ranjangnya. Sementara itu, pada bagian atap, sepertinya telah bocor cukup lama dan banyak. Juga kayu-kayu dinding yang berlubang.
Berbeda dari saudara dia yang mendapatkan kemewahan dalam urusan kamar pribadi. Namun, Hyu Jin bersyukur mendapatkan tempat tinggal meskipun sejatinya ini adalah gudang tempat penyimpanan barang.
Niu Jingyi memperhatikan kamar itu dengan seksama sambil melebarkan mulut.
"Apakah kau ada masalah?" Karena Hyu Jin merasa tidak enak dengan sikap Niu Jingyi, dia bertanya demikian.
Niu Jingyi buru-buru menolak sambil menggelengkan kepala, "Tidak ... Hanya saja aku cukup terkejut melihat ruangan ini yang ditata dengan rapi."
Hyu Jin memiringkan kepala, "Permisi?"
"Tapi sepertinya mereka hanya punya satu ranjang."
"Oh, tentang itu aku bisa tidur dilantai."
Niu Jingyi buru-buru menggelengkan kepala.
"Tidak, aku yang akan tidur disana."
"..."
__ADS_1
Ah, karena Hyu Jin merasa ini mungkin tidak akan ada jalan selesainya. Niu Jingyi sambil malu-malu memainkan jari telunjuk dia dan berkata,
"Bagaimana kalau kita tidur bersama di ranjang?"