
Siang itu proses belajar mengajar memang sudah selesai, namun kebanyakan dari mereka, terutama anak cewek-cewek memilih untuk tetap berada disekolah.
Untuk sekedar menyaksikan dan memberi semangat bagi pujaan hati mereka, yang sedang berlatih basket bersama timnya, siapa lagi kalau
bukan si Playboy tampan, Arthur Reynald Al-tezza.
"Pulang dari sini enaknya kita kemana, bro?" Seru Seno sembari mendrible bola pelan.
"Ke angkringan, asik keknya." Damian antusias.
"Wah ide bagus tuh, kangen gue sama kopi hitamnya bang Rojak." timpal Ardi.
Sedangkan Arthur, ia sama sekali tidak mendengarkan ucapan ketiga sahabatnya, karena sejak tadi Fokusnya hanya tertuju pada seorang gadis cantik yang ikut menonton aktifitasnya, sembari membaca buku ditangannya.
"Woyyy Ar, ikut kagak lo?" teriak Seno.
Namun Arthur bergeming, dengan tatapan yang terarah pada beberapa gadis yang duduk sembarang dipinggir lapangan.
"Sakit, bego!" umpatnya, tersentak kaget saat Damian dengan sengaja melemparkan bola, mengenai kepalanya.
Damian menyengir, sembari menyatukan kedua tangannya, "Sorry bro, tepat sasaran!"
"Si Kunyuk!"
"Lagian, gue panggil-panggil lo diem aja, malah bengong!"
"Lihatin apaan sih?" lanjutnya penuh keingin tahuan, menghampiri Arthur, lalu mengabsen beberapa wajah dipinggir lapangan.
"Keknya Gue tahu ni, apa yang lo lihatin dari tadi, si cantik Dara kan, ngaku lo!" Damian mencubit pelan perut Arthur gemas.
"Paan sih lo, cabut yuk!"
"Euumz masih kagak mau ngaku ni bocah!" gerutu Damian, yang mengekor di belakangnya.
Setelah merasa latihannya cukup, keempat pemuda tampan itu kembali ke loker untuk mengganti bajunya.
..
"Woy bang, rame nih!" seru Damian ketika baru saja sampai di angkringan.
"Mayanlah, eh ngomong-ngomong tumben lo sekarang pada jarang dateng kemari." balas bang Rojak sembari meracik kopi ala baristanya.
"Biasalah bang anak muda, sibuk dikit!"
"Gue kira lagi pada bokek." kekeh bang Rojak.
"Bisa aja lu bang." ia balas terkekeh.
"Ngomong-ngomong itu bocah satu kenapa, kek ngelamun gitu, abis putus cinta?" Tunjuk bang Rojak menggunakan dagunya kearah Arthur yang sedang terbengong, diatas bangku diantara Ardi dan Seno yang sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Elaahhh biasa itu mah drama doang bang, akhir-akhir ini tuh si kampret emang sering begitu." kekeh Damian.
"Gue kira lagi sedih karena baru diputusin."
"Ah elo bang, kek nggak tahu aja tuh bocah kek gimana, mana ada seorang Arthur Reynald Al-tezza playboy seantero Jakarta selatan, bakalan galau cuma gara-gara diputusin satu cewek, Ewhh enggak bangetlah!"
__ADS_1
"Yang lo bilang ada benernya juga sih!" bang Rojak manggut-manggut.
"Yaudah bang, gue kesana dulu, bikinin minuman buat gue sama 3 kunyuk yang disana, seperti biasa ya!" ucapnya, sembari bangkit hendak menghampiri ketiga sahabatnya.
"Siiip!"
..
Saking asiknya mengobrol, mereka tidak menyadari bahwa waktu kini semakin sore.
"Gue cabut duluan ya," ujar Arthur sembari mengenakan jaket jeans kesayangannya.
Ketiga sahabatnya mendongak, dengan kernyitan didahinya menatap bingung kearah Arthur yang sudah bersiap menaiki motornya.
"Kagak salah denger gue, si kampret mau balik duluan." gumam Damian, yang masih terdengar jelas oleh Ardi dan juga Seno.
"Buru-buru kali dia!" jawab Ardi acuh.
"Kebelet keknya tuh bocah." timpal Seno sekenanya.
Sedangkan Damian menggelengkan kepala, lalu kembali menyesap kopi hitamnya.
..
Saat dalam perjalanan pulang, kilasan matanya tak sengaja menatap mobil yang ia kenali berada tepat dihadapannya.
Ia berhenti sejenak, mengamati mobil tersebut yang berbelok kearah jalan yang tidak semestinya.
Ia memang masih anak SMA, namun ia juga tidak sekuper itu untuk mengetahui sedikit hal-hal diluaran.
Jalan yang mobil itu lewati, adalah jalan menuju kampung mati, yang sudah ditinggalkan warga selama 5 tahun lebih, karena suatu tragedi.
Dari jarak yang agak jauh, Arthur ikut berhenti, saat mobil didepannya berhenti disalah satu bangunan besar, yang ia yakini adalah bekas pabrik yang terbengkalai.
Salah seorang pria muda, yang ia ketahui sebagai sepupunya keluar lebih dulu, lalu kemudian diikuti oleh dua orang pria berbadan tegap yang menenteng 2 keresek hitam yang isinya entah apa?
memasuki bangunan tua itu.
Arthur mendorong motornya pelan, dan memasukannya kedalam sebuah gubuk reyot disebelahnya, untuk berjaga-jaga, khawatir orang-orang itu mengetahui keberadaannya.
Matahari mulai tenggelam, menandakan bahwa Hari kini semakin sore, berulang kali Arthur menggaruk tubuhnya yang terasa gatal, karena gigitan nyamuk dan semut, namun orang-orang tersebut belum juga keluar.
Setelah menunggu selama 15 menit, merekapun keluar dengan tangan kosong, lalu memutar balik mobilnya.
Arthur menghela nafas, hingga detik kemudian ia hampir terjungkal karena melihat ular sedang menggelantung bebas dilangit-langit gubuk tersebut.
Niat untuk mengecek kearah bekas pabrik, kini ia urungkan, selain karena takut ular, hari juga sudah mulai gelap, terlebih ini adalah kampung mati, ia tidak bisa senekat itu saat ini.
dan langkah terakhir yang ia ambil adalah pulang kerumahnya.
..
..
Saat tinggal selangkah lagi menuju gang rumahnya, Arthur tiba-tiba menghentikan motornya, lalu secepat kilat membalikan motornya menuju rumah Dara.
__ADS_1
Tiga kali ia menghubunginya, namun gadis itu tak kunjung menjawab telponnya, hingga ia memutuskan untuk mengirim pesan padanya.
Drrtt.. drrtt..
Sesaat setelah chatnya terkirim, kini ponselnya bergetar, dan menampilkan nama "Pujaan hati." dilayar pintarnya.
Dengan senyum terkembang, secepat kilat ia segera menekan tanda hijau dilayar pintar tersebut.
"Hallo cantik, gue diluar nih!" ucapnya dengan tubuh bersender didepan motor, dengan gaya coolnya.
Sesaat hening, hanya terdengar helaan nafas, serta desisan dari sebrang sana.
"Ngapain sih lo, malam-malambegini nelponin gue, nggak ada kerjaan banget."
"Kangen!"
"Apa? "
"Kangen sayang, turun dong!" ucapnya, yang terdengar seperti sebuah kombinasi rayuan dan gombalan receh bagi Dara.
"Apaan sih?" desisnya.
"Please!" ucapnya, yang terdengar memohon.
"Ngapain sih kesini?" bisik Dara, ketika ia sudah keluar dan menghampiri Arthur, sesekali ia menoleh kebelakang, khawatir sang papa memeregokinya, karena ketahuan menemui teman laki-lakinya diluar.
"Gue kangen banget, sumpah!"
"Berhenti ngegombal, dan pulang!" Dara mendorong Arthur, agar menjauh dari halaman rumahnya, namun Arthur tak peduli.
"Ra?" ia menahan kedua tangan Dara, lalu di genggamnya.
"Tatap gue Ra?" Arthur mengangkat dagu Dara dengan sebelah tangannya.
"Apa yang salah sama gue Ra?"
Dara bergeming, balas menatap tatapan Arthur, yang sulit ia artikan.
"Gue sayang sama elo Ra, sayang banget!" lanjutnya.
"Coba deh lo pegang dan rasain, yang ada di dalam sini." mengarahkan tangan Dara, agar memegangi dadanya.
Seperti terhipnotis Dara hanya diam menurut, dengan tatapan yang tak beralih dari mata indah Arthur.
"Gimana?" lanjut Arthur.
Dara bergeming, bisa ia rasakan detak jantung Arthur yang berdetak sangat kencang dan tak beraturan.
"Jadi pacar gue, mau ya?" Arthur kembali menggenggam tangannya.
Alih-alih menjawab, Dara malah melepaskan tangannya dari genggaman Arthur, berlalu pergi meninggalkannya, tanpa mengucap sepatah katapun.
Sedangkan Arthur tersenyum kecut, menatap nanar telapak tangannya.
Ia menghela nafasnya yang terasa berat, "Masih banyak waktu Ra, gue nggak akan nyerah gitu aja, gue pasti bisa dapetin hati lo." gumamnya.
__ADS_1
.
.