
Arthur termenung didepan teras rumahnya, sejak awal ia memasuki kampung mati tersebut, ia merasa bahwa ada hal janggal disana, namun ia sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya tersembunyi dibalik semua itu.
Sebelumnya ia sudah sangat antusias mencari tahu apa saja yang tersimpan disana, juga ingin mencari tahu tentang alasan sepupunya yang pernah memasuki kampung itu berkali-kali.
Namun, saat mendengar ucapan seorang kakek tua tadi pagi, nyalinya kini menciut seketika, gaya bicara kakek tersebut terdengar merinding dan penuh isyarat penekanan.
"Inget pulang juga ternyata!" ucap tante Anna yang seperti sebuah sindiran keras bagi Arthur.
Arthur sempat melirik sekilas kearah tante Anna yang sedang menenteng beberapa kresek cemilan.
"Iyalah pulang, rumah gue disini!"
Tante Anna tersenyum singkat, "Kemana aja kamu semalem Ar, nggak bikin ulah kan?"
"Nggak lah, guekan anak baik-baik!" balasnya dengan pedenya.
"Cih, anak baik-baik dari mananya.?" ucap tante Anna, yang melengos pergi memasuki rumah Arthur, sedangkan Arthur ikut mengekor dibelakangnya.
Arthur mengambil salah satu cemilan dari belanjaan yang tante Anna bawa, membuka dan membawanya keatas meja makan, menarik salah satu kursi, untuk kemudian ia duduki, lalu mulai memakan cemilannya dengan sedikit ogah-ogahan.
Setelah selesai memasukan seluruh belanjaannya kedalam lemari pendingin, tante Anna ikut bergabung bersama Arthur.
"Ar?"
"Hmmm!"
"Sampai kapan sih kamu mau kaya gini terus, ayo dong Ar, belajar sedikit-sedikit tentang perusahaan, kamu harus inget dong Ar, kalau semua itu milik kamu sepenuhnya."
"Kan udah ada tante yang handle, ngapain gue musti ikutan-ikutan pusing ngurusin."
Ck!
Tante Anna berdecak dalam hati, entah harus berapa lama lagi ia menunggu Arthur untuk dewasa, ia sudah begitu pusing dengan jalan berpikir Arthur yang sama sekali tidak peka.
"Ar, kamu tahukan selama ini mereka nganggep tante gimana, ngertiin sedikit posisi tante dong Ar, tante nggak mau jadi bahan omongan mereka, yang terus-terusan ngatain kalau tante mau menguasai perusahaan sendiri."
"Ngapain peduli sama omongan orang sih tan, udah cuekin aja sih, ribet banget!"
Tante Anna menggeleng lemah "Percuma tante ngomong sama kamu tuh, nggak ada masuknya sama sekali."
"Yaudah, makanya jangan maksa-maksa gue lagi."
"Ok!"
Tante Anna kemudian terdiam, lalu berpikir keras mencari cara agar Arthur mau menuruti kata-katanya, belajar mengelola perusahaan.
"Ar, waktu itu kamu bilang lagi suka sama seorang cewek, gimana udah berhasil kamu taklukin belum?"
Arthur menoleh sekilas, kemudian terdiam, tangannya menggeser kantong cemilan yang hanya dimakan sedikit.
Dari ekpresi yang tante Anna lihat, ia yakin Arthur gagal dalam mendapatkan hati gadis tersebut.
__ADS_1
"Kalau tante boleh kasih saran, coba ajak gadis itu kesini Ar."
Arthur menaikan sebelah alisnya, "Mau ngapain?"
"Mau tante ajak cerita."
"Lo gaje banget sih tan, nggak nyambung tahu nggak, apa hubungannya coba."
"Eh kamu ya, maen nyamber aja kaya induk ayam, tante tuh punya cara sendiri biar cewek itu jatuh hati sama kamu."
"Caranya?!"
"Caranya ya, nanti tante praktekin sendiri lah."
"Jangan aneh-aneh deh, Dara itu bukan gadis sembarangan tan, dia nggak mudah jatuh cinta sama siapapun, contohnya sama gue aja dia nolak berkali-kali." ucap Arthur, yang sontak membuat tante Anna tertawa.
"Oh, jadi namanya Dara, pasti orangnya cantik ya?"
"Pastilah cantik, kalau nggak cantik nggak mungkin kan keponakan tante sampai uring-uringan begini." lanjut tante Anna, sembari tersenyum kearah keponakannya.
"Dia bukan cuma cantik, tapi dia juga gadis baik-baik."
"Tahu gadis baik-baik juga ya ternyata," sindir tante Anna.
"Iyalah, walaupun gue playboy, tapi gue juga tahu cewek seperti apa yang pantas buat di jadiin istri."
"Dih, gayanya udah ngomongin calon istri aja, yaudah buruan gih jemput Dara, karena besok-besok tante udah nggak sesantai sekarang, banyak kerjaan dikantor, udah numpuk banget."
"Iyalah, kapan lagi, kamu mau emang kalau Dara di ambil orang,"
"Ck, yaudah gue pergi dulu!"
"Hati-hati Ar."
"Hmmmm!"
Arthur mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, karena sebenarnya ia juga sangat merindukan gadisnya.
Sesampainya dirumah Dara, Arthur segera menelponnya dan memintanya untuk segera turun, dengan alasan ada hal penting yang harus dibicarakan.
Dengan wajah gugup Dara keluar dari balik gerbang pintu rumahnya, sejujurnya ia masih belum sanggup untuk bertemu Arthur sekarang ini, namun laki-laki yang kini berdiri dihadapannya, terus memaksanya untuk keluar.
"Ada apa sih?" ucapnya ketus, untuk menghindari kegugupannya.
"Gue disuruh tante gue buat jemput lo!"
Dara terperangah, "Hah, mau ngapain?"
"Dia pengen banget ketemu sama lo!"
"Kok bisa tahu gue, kita kan belum pernah ketemu sebelumnya."
__ADS_1
"Ya makanya itu, dia pengen kenalan sama lo."
"Nggak mau."
"Please dong Ra, kalau gue nggak berhasil bawa lo, gue dilarang masuk kerumah selama 3 hari, lo nggak kasian sama gue." bohongnya.
"T-tapi gue."
"Please Ra." ucapnya, dengan raut memohon.
Dara berpikir sejenak, lalu kemudian mengiyakan ajakannya, dengan satu syarat, Arthur harus mengantarkannya pulang sebelum jam 5 sore.
...
"Tan?" teriak Arthur ketika sudah sampai dirumahnya, yang diikuti Dara di belakangnya.
"Bisa nggak sih nggak usah teriak, tante masih bisa denger Ar!" ucap tante Anna yang baru saja turun dari tangga.
"Nih Daranya udah gue jemput."
"Ehhh, mana?" Tante Anna berjalan antusias mendekati Dara.
"Yaampun, kamu bener-bener cantik ya, pantesan aja nih si Arthur sampai tergila-gila, kenalin saya Anna, tantenya Arthur." tante Anna mengulurkan tangannya, yang disambut Dara dengan wajah tersipu.
"Dara tante."
"Yaudah yuk, ngobrolnya di atas aja, disini ada yang nguping!" tante Anna melirik Arthur yang sedang memperhatikan keduanya.
Dara terbengong, memperhatikan isi kamar khas laki-laki yang begitu berantakan, seprei yang sudah tidak pada tempatnya, baju kotor tergeletak disetiap pojok, dan masih banyak barang lainnya yang menambah kesan berantakan, didalam kamar tersebut.
"Ini kamarnya si Arthur Ra, kamu pasti ilfeel banget kan, harus kamu tahu, dia itu tampang doang yang keren, tapi aslinya jorok!" bisik tante Anna sambil terkekeh.
"Emang nggak ada bibi yang beresin tan?"
"Asisten rumah tangga yang kerja disini lagi pulang kampung anaknya sakit katanya."
"Dara mau beresin sebentar boleh tan?"
"Hah?" tante Anna terperangah, niat ingin memperlihatkan keburukan Arthur, tetapi ternyata tanggapan Dara jauh dari spekulasinya.
Dara yang memang tidak menyukai tempat berantakan dan kotor, tanpa berpikir panjang, ia langsung merapikan dan memunguti pakaian kotor Arthur.
Setengah jam ia berkutat, pekerjaannya pun selesai, sedangkan tante Anna sudah tak lagi ada disana, pergi entah kemana.
Namun tidak lama kemudian tante Anna kembali membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan.
"Nih Ra, tante bawain cemilan, dimakan ya!" ucap tante Anna, lalu meletakannya diatas Nakas.
"Wahhh, rapih banget!" tante Anna memandang takjub kamar Arthur yang sangat rapi dan bersih.
.
__ADS_1
.