
Dara keluar dari kamar mandi sembari menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil, tangannya terulur meraih benda pipihnya yang sejak tadi terus bergetar diatas nakas.
Dengan sedikit ogah-ogahan ia pun mulai menggeser layar pintarnya, untuk menerima telpon dari si penelpon yang bertuliskan Arthur.
"Hallo?"
"Dara bisa kesini sebentar?"
Dara menggerenyit, itu bukanlah suara Arthur, melainkan suara seorang perempuan.
"Ini tante Anna Ra, tolong datang kerumah ya, tante lagi ada urusan mendadak di luar, tante titip Arthur."
Dara kembali menggerenyit, "Memangnya Arthur kenapa tan?"
"Dara lihat aja sendiri nanti kondisinya seperti apa."
"Yaudah tan, Dara siap-siap dulu, abis itu langsung kesana."
"ok sayang, tante tunggu ya!"
Setelah panggilan terputus, Dara bergegas mengganti pakaiannya, dengan perasaan cemas, menebak-nebak sesuatu yang terjadi pada Arthur, dan ia merasa sedikit bersalah karena tadi sempat mengabaikannya.
Lalu Dara bergegas menuju rumah Arthur dengan mengendarai motor maticnya, agar lebih cepat sampai.
..
Tante Anna segera menemui Dara, ketika mang Ramlan penjaga rumahnya memberi tahu jika di depan ada Dara sedang menunggunya.
"Akhirnya kamu datang tepat waktu Ra, 5 menit lagi tante harus buru-buru berangkat." ucap tante Anna dengan Nada gelisah.
"Arthur kenapa memangnya tan?"
"Tante juga nggak tahu, tiba-tiba aja tadi tante di telpon sama pelayan Club yang Arthur datangi, dia bilang Arthur mabuk berat, dan mengganggu para tamu disana."
"Apa tan, Arthur mabuk?" tanya Dara kaget.
"Iya Ra, padahal dia udah lama lho nggak minum-minuman kaya gini."
"Kok bisa sih tan?"
"Entahlah Ra, tapi dari tadi dia nyebutin nama kamu terus, ayo tante antar ke kamarnya Arthur." tante Anna menarik pelan pergelangan tangan Dara.
"Tolong titip Arthur ya Ra, tante akan kembali 2 jam an lagi."
"Yaudah tan, tante hati-hati ya!"
"Ok, sayang."
Setelah tante Anna pergi, Dara pun membuka pintu kamar Arthur, untuk melihat kondisinya.
"Lo kenapa bisa kaya gini sih Ar?" Dara memegang tangan Arthur kemudian di genggamnya.
Tidak lama Arthur kembali bergumam, dengan mata terpejam.
"Gue sayang sama lo Ra."
__ADS_1
Sedangkan Dara kini terdiam, dengan tubuh menegang, sejujurnya sampai saat ini Dara belum sepenuhnya mempercayai Arthur yang mengatakan kalau ia mencintai dan menyayanginya.
Setelah terdiam beberapa saat, Dara pun memutuskan untuk keluar dari kamar Arthur, dan berjalan menuju dapur.
Ia membuka tudung saji di atas meja, dan tidak menemukan apapun disana.
Dara menghela nafas, ia yakin kalau ART dirumah Arthur belum juga kembali, selain tidak ada masakan, terlihat juga dari beberapa ruangan yang kotor dan berantakan.
Akhirnya Dara memutuskan untuk mencari bahan makanan di dalam kulkas, dan saat sudah menemukan yang ia cari, ia pun mulai memasaknya.
Setelah selesai memasak, Dara membersihkan beberapa ruangan yang kotor, termasuk kamar Arthur.
Pukul 17:23 tante Anna kembali kerumah, dan Dara pun berpamitan untuk pulang, khawatir sang ayah mencari dan memarahinya.
...
"Ra, entar siang pulang sekolah kamu ada acara nggak?" ucap Ratih,
ketika keduanya hendak memasuki kelas pagi ini.
"Euhmz nggak ada deh kayaknya tih, kenapa emang?"
"Kalau aku ajak ke angkringan kira-kira kamu mau nggak?" ucap Ratih ragu-ragu, takut jika Dara menolaknya, karena ia yakin gadis cantik dan kaya sekelas Dara tidak mungkin terbiasa mendatangi tempat seperti itu.
"Maksud kamu angkringan yang disamping warung soto betawi bukan sih,?" balas Dara, karena itu adalah satu-satunya angkringan yang ia datangi, saat bertemu dengan puspa waktu itu.
"Kamu tahu tempat itu?" tanya Ratih tak percaya.
Dara mengangguk, "Aku pernah sekali kesana, waktu ketemuan sama temen lama aku."
"Lumayan!"
"Berarti mau dong ya, kalau nanti siang aku ajak kesana."
"Ok."
..
Di dalam kelas Dara memperhatikan Arthur yang terasa berbeda dari biasanya, berulang kali ia menoleh, kesamping dimana cowok itu duduk, berulang kali juga Arthur menghindari tatapannya.
Dara menghela nafas, mengingat-ingat apa yang salah dengan dirinya.
Hingga waktu belajar mengajar berakhir pun, Arthur tak kunjung membuka suara, bahkan untuk sekedar menyapanya pun tidak sama sekali ia lakukan.
Padahal di hari-hari sebelumnya, cowok itu tak pernah berhenti untuk menggodanya, dan selalu memperlihatkan senyum terbaiknya.
Arthur keluar kelas terlebih dulu, yang diikuti oleh ketiga sahabatnya, Damian, Ardi, dan Seno.
Dara mencoba untuk memanggi Arthur ketika cowok itu keluar gerbang dengan mengendarai motornya.
Namun, Arthur melengos, dan pura-pura tidak mendengarnya.
..
"Kamu sering kesini ya Tih?" ucap Dara, ketika melihat interaksi Ratih dengan pemilik angkringan, yang terlihat begitu akrab.
__ADS_1
"Lumayan Ra, hampir tiap minggu malah!"
"Seriously, bareng siapa?"
"Biasanya sih bareng adek." balas Ratih, sembari memasukan satu sendok es cream durian kedalam mulutnya.
"Kamu punya adek?"
"Punya Ra cowok, SMP kelas VII."
"Kok sama sih, aku juga punya lho adek cowok kelas VII juga."
"Wah jangan-jangan mereka sekelas juga sama kaya kita."
"Bisa jadi."
"Ra, lihat deh tuh si Arthur, cewek mana lagi coba yang dia gandeng, perasaan tiap aku ketemu, ceweknya beda terus." seru Ratih, yang seketika membuat Dara mengikuti Arah pandang Ratih.
Deg!
Dara membeku, dengan tubuh yang mulai bergetar, bahkan hatinya kini merasa sangat sesak, terlebih melihat gadis yang disebelah Arthur, mengusap ujung poni Arthur yang mulai sedikit panjang.
Terlihat sederhana memang! Namun terkesan Romantis.
Dara menundukan wajahnya, mengingat sikap Arthur yang hari ini begitu dingin padanya.
Apakah ini alasan Arthur menghindarinya, batin Dara bertanya-tanya.
Sedangkan Ratih ia dibuat bingung dengan sikap Dara, yang terlihat Aneh ketika ia baru saja memberi tahukan tentang keberadaan Arthur dan gadis disampingnya.
"Kamu baik-baik aja kan Ra?" ucapnya kemudian.
Dara tersentak, dan salah tingkah, "Eh, eumz nggak kok, nggak apa-apa." balasnya gugup.
"Kamu kok jadi aneh gitu sih?"
"Aneh kenapa sih tih, perasaan kamu aja kali." Dara berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Oh iya tih, kayaknya aku nggak bisa lama, duh maaf banget ya tih, aku lupa kalau hari ini ada janji sama Darren mau nganterin dia ke toko buku." ucap Dara, yang memang tidak bohong, ia berjajnji pada adiknya itu, bahwa sore ini ia akan mengantarnya membeli buku di sebuah mall.
"Yaudah nggak apa-apa, kan kita bisa kesini lagi kapan-kapan."
Setelah menunggu beberapa menit taxi online yang dipesannya kini sudah sampai di depan angkringan tersebut, Dara pun segera berpamitan pada Ratih.
"Hati-hati Ra."
"Iya."
"Daraaa, tunggu!" teriakan sepontan Ratih cukup kencang, hingga Arthur yang duduk terhalang 3 meja darinya ikut menoleh.
Deg!
"Dompet kamu ketinggalan." lanjut Ratih, sembari berjalan menghampiri Dara yang hendak membuka pintu taxi.
.
__ADS_1
.