
Merasa malas untuk terus mendengarkan ucapan Arthur, Dara pun beranjak dari duduknya, berniat untuk segera pulang.
Namun ketika ia sudah berjalan beberapa langkah, ia pun berhenti sejenak, lalu menoleh kearah Arthur.
"Elo ngapain sih masih ngikutin gue terus?"
Dara kembali melayangkan protes pada Arthur yang terus saja mengekor dibelakangnya.
"Mau nganter lo pulang!" jawabnya santai, sembari memasukan kedua tangannya kedalam saku hoodie miliknya.
"Ck, lo pikir gue anak kecil, yang harus di anter-anter segala, lebih baik lo pulang aja sana," usirnya.
"Apa salahnya sih nganter doang aelah,"
"Jelas salah, pertama gue ngerasa keganggu, kedua gue ngerasa risih, ketiga gue nggak mau di cap pelakor, karna jalan sama pacar orang, dan keempat gue nggak mau bokap gue lihat, gue lagi jalan sama cowok, paham?"
"Nggak!" Arthur menggidikan bahu, membuat Dara kesal bukan main.
"Susah ya emang, ngomong sama orang model kek lo ini!" Dara pun akhirnya melanjutkan kembali langkahnya dengan cepat.
Tak peduli lagi dengan Arthur yang masih mengikutinya atau tidak.
..
Sedangkan Arthur, setelah memastikan Dara sampai rumah dengan Aman, ia pun memutuskan untuk pulang kerumahnya.
Namun sebelum pulang, ia mengambil motornya yang ia titipkan terlebih dahulu.
"Mau ngambil motornya ya mas?" ucap salah satu pegawai bengkel, yang berada dekat taman yang dikunjungi Dara tadi.
"Ya." balasnya singkat.
Setelah membayar sewa penitipan motor, Arthur pun segera melajukan motor kesayangannya menuju rumah.
Didalam rumah tampak sepi, ia baru ingat, jika hari ini tante Anna pulang ke apartemennya.
"Den udah pulang?" sapa bi Ambar, asisten rumah tangganya.
"hmmm." balasnya, sembari membuka sepatu dan melemparkannya ke sembarang arah.
Lalu Menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
Ia berdiri memandangi jendela kaca kamarnya, sembari mulai menyalakan sebatang rokok, untuk kemudian dihisapnya, menatap keluar, dengan tatapan kosong.
Begitulah keadaan Arthur jika sedang sendirian, terlihat sangat rapuh dan menyedihkan.
Arthur menyentuh foto dengan ukuran besar, yang menggantung kokoh di dinding kamarnya, ia bertekad, jika suatu saat ia akan menemukan apa penyebab kecelakaan yang menimpa pada sang nenek dan kedua orang tuanya.
Dulu, Arthur kecil tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bisa menangis, dan mendoakan mereka agar ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya.
...
__ADS_1
...
"Kalau aku perhatiin muka kamu sama Arthur, kok kaya ada mirip-miripnya gitu ya, wah jangan-jangan jodoh nih!" celetuk Ratih, yang membuat Dara hampir tersedak, jus melon yang sedang di minumnya.
"Apaan sih, amit-amit ya tih, jangan sampai aku berjodoh sama cowok model gitu, males banget ih."
Ratih tergelak, sembari menutup mulutnya.
"Kenapa sih kamu malah ketawa, ada yang lucu?" ucap Dara dengan raut wajah yang berubah kesal.
"Kalau si Arthur sama cewek-cewek disini barusan denger, kamu ngomong gitu, aku yakin dia nggak akan percaya."
"Lah, memangnya kenapa?"
"Yaampun Ra, semua cewek disini tuh mengidolakan banget si Arthur, secara dia itu cowok paling terpopuler, pinter, gantengnya kebangetan, tajir pula, siapa yang nggak tertarik sama pesona seorang Arthur coba?"
"Termasuk kamu?"
"Hah!"
"Iya, termasuk kamu, salah satu cewek yang mengidolakan dia?"
Ratih menyengir sambil cengengesan, "Ya iyalah, siapa sih yang nggak suka sama cowok ganteng tajir melintir kaya dia Ra."
"Bukannya waktu itu, kamu sendiri bilang kalau dia itu playboy ya?"
"Iya sih, dia emang playboy."
"Itukan dulu Ra, tapi menurut aku nih ya, kalau suatu saat dia nemuin orang yang tepat, pasti dia bakalan berubah, dan ninggalin kebiasaan buruknya."
"Sok tahu kamu tih!"
Ratih kembali tergelak, "beneran tahu."
Tidak jauh dari tempat mereka duduk, dikantin yang sama, Arthur dan ketiga sahabatnya sedang asik mengobrol dan bercanda, dan sesekali diam-diam Arthur mencuri pandang ke arah Dara.
"Woyy, gue perhatiin dari tadi lo ngelihatin mulu bidadari gue, naksir lo ya!" ucap Seno, membuat Arthur gelagapan.
"Kemarin aja lo diem mulu, kek kagak tertarik gitu, tapi diem-diem lo nikung kita, kambing lo!" timpal Damian.
"Gue saranin, mendingan lo bertiga jangan gangguin si Dara deh, kasian gue sama dia, karena menurut gue cewek baik-baik model si Dara itu kagak pantes buat cowok model kaya kita begini." Ardi ikut bersuara.
"Lo harus tahu Ar, justru cewek yang beginian ini nih, yang mesti di perjuangin, kan jarang-jarang cuy!" balas Seno.
"Ok, jangan di perdebat lagi, kita bakalan bersaing secara sehat buat dapetin Dara, dan nanti siapapun yang dia pilih, maupun yang nggak kepilih, diantara kita harus berlapang dada menerimanya." sambung Damian
"Ok deal!"
..
Didepan gerbang sekolah, Dara kebingungan sendiri harus pulang dengan siapa, pasalnya baru saja mang Rahmat menelpon, bahwa ia tidak bisa menjemputnya, karena sedang darurat mengantar istrinya yang hendak melahirkan ke Rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan disekitarnya sudah mulai sepi, karena keseluruhannya sudah pulang, beberapa menit yang lalu.
"Belum di jemput?" sebuah pertanyaan, yang sontak membuat Dara menoleh kearah suara.
"Hmmm!" balasnya jutek, sembari memalingkan wajah, karena sudah tahu siapa orangnya.
"Gue anter, mau ya!" Arthur memegang tangannya.
"Apaan sih lo pegang-pegang, kurang ajar banget, lepas nggak?" bentak Dara.
"Ok ok, gue lepas!" Arthur mengangkat kedua tangannya ke udara.
"S-sorry Ra, tapi mau ya gue anter pulang."
Dara bergeming, masih dengan wajah judesnya.
"Ayolah Ra, bahaya tahu nggak, cewek cantik kaya lo sendirian begini."
"Gue bilang, Nggak usah gombal didepan gue, nggak mempan!"
Arthur memijit pelipisnya frustasi, sesusah inikah mengambil hati gadis seorang Adara Nashwa Larasati batinnya.
"Gue lagi nggak ngegombal Ra,"
"Ayo, gue anter pulang!"
"Nggak mau."
"Kenapa sih?" Arthur berdecak, karena kesabarannya mulai di uji oleh gadis yang kini berada dihadapannya.
"Gue nggak mau jalan sama pacar orang."
"Gue bakal putusin semua cewek gue Ra, demi lo!"
Arthurpun akhirnya menarik tangan Dara dengan paksa, lalu menaikannya keatas motor miliknya.
"Gue bilang gue nggak mau kenapa lo maksa sih?" Dara memukuli dada Arthur kesal.
"Ok, kalau lo nggak mau gue anter pulang sekarang, entar malem lo harus siap nerima lamaran gue, kerumah orang tua lo."
Deg!
Arthur mendekatkan wajahnya ke wajah Dara, hingga hanya menyisakan jarak beberapa centi saja.
"Lo dengerin gue baik-baik Ra, gue nggak pernah main-main sama ucapan gue!"
Dara yang semula memberontak, kini diam seketika, kali ini ia hanya bisa menurut pasrah, khawatir ucapannya barusan benar, dan Arthur nekat menemui orang tuanya.
.
.
__ADS_1