Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Menepati Janji


__ADS_3

Sesuai janjinya pada Dara, sepulang sekolah siang ini Arthur benar-benar ikut ke perusahaan bersama tante Anna, tanpa merasa terpaksa lagi.


Ia diarahkan keruangan CEO yang saat ini dipegang sementara oleh tante Anna, tante Anna juga mengajarkan Arthur tentang hal apa saja yang berhubungan dengan perusahaan.


Di hari pertama Arthur di perusahaan, benar-benar serius, mendengarkan dan memperhatikan yang dijelaskan oleh tante Anna.


Membuat tante Anna tak habis pikir, sekaligus merasa lega, dengan perubahan derastis pada keponakan tercintanya.


"Nih, tante dapet pesan dari pacar kesayangan, entar malem kamu di undang keluarganya, buat makan malam." ucap tante Anna, ketika mereka hendak bersiap untuk pulang, karena jam menunjukan pukul 16:00 sore.


"Eh, seriusan?" balas Arthur membelalakan mata.


Tante Anna berdecak, "Kamu pikir tante tukang bohong."


"Biasanya kan gitu!" Arthur menggidikan bahu.


"Dasar kamu ya, bener-bener keponakan nggak ada ahlak!"


"Tapi kok bisa sih, dia malah ngirimin pesan ke elo tan, bukan ke gue!"


"Dara itu anaknya sopan dan pinter, sebelum dia ngajak kamu, dia itu minta izin tante terlebih dulu, ahh tante jadi ngebayangin kalau dia yang jadi keponakan tante pasti seru deh, anaknya baik, ramah, enak diajak ngobrol, nggak kaya si dia." ucap tante Anna sembari menoleh kearah Arthur.


"Lo nyindir gue tan,?"


"Eh sorry ya, tante bukan tipe orang yang doyan nyindir, tapi kalau kamu ngerasa tersinggung sama ucapan tante, berarti ya itu kamu menyadari sendiri, kalau selama ini kamu bukan keponakan yang baik."


"Anjirr, itu sama aja namanya lo nyindir gue!"


"Serah kamu ah, tante pulang duluan ya, mau mampir ke butik dulu, udah gede, pulang sendiri bisa kan?" tante Anna menepuk d*danya lalu melengos pergi.


"Enak banget main tinggalin gue gitu aja, kagak inget apa kalau dari rumah berangkat bareng," gerutu Arthur.


Karena tidak membawa mobil, Arthurpun memilih untuk memesan taxi online, untuk mengantarnya pulang sampai rumah.


Saat melewati jalanan yang sedikit sepi, Arthurpun mulai menyadari bahwa sejak tadi mobil hitam dibelakangnya terus mengikutinya.


Dan itu terjadi bukan kali ini saja, tetapi sering, kemanapun dia pergi akan ada beberapa orang berseragam hitam mengikutinya.


Arthur berusaha untuk selalu mengabaikan mereka, karena selama ini orang-orang tersebut, tidak pernah menunjukan wajah dihadapannya, ataupun mencelakainya sekalipun.


Meski dalam hatinya selalu bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya mereka, jika diberi kesempatan ia ingin sekali menghajar mereka, dengan alasan ia tak suka di mata-matai.


24 menit perjalanan Arthurpun sampai dirumahnya, rasa cape yang disertai rasa pusing karena harus menghafal apa saja yang berhubungan dengan perusahaan, seketika menghilang, justru kini berubah menjadi senyuman bahagia.

__ADS_1


Kala gadis yang ia cintai mengirimkan pesan langsung padanya, mengenai acara makan malam bersama keluarganya, membuat Arthur kian memiliki semangat yang berkobar.


"Om dengar hari ini kamu terjun juga ke perusahaan., apa itu benar?"


Arthur yang hendak memasuki rumahnya ia urungkan, kala mendengar ucapan dari seseorang dibelakangnya.


Ia menoleh pada seseorang memakai setelan jas rapi di belakangnya, seseorang yang sudah hampir 3 tahun ini tak ia temui.


"Om ngomong sama saya?" tunjuknya pada diri sendiri, setelah memastikan bahwa disana hanya ada dirinya.


Arthur memasang wajahnya sedatar mungkin, bahkan ia tidak memperlihatkan reaksi apapun, layaknya seorang keponakan yang merindukan omnya, karena sudah bertahun-tahun tak bertemu.


"Kamu tidak merindukan om, Ar?" ucapnya sambil terkekeh.


Arthur berdecih dalam hati.


"Katakan, ada perlu apa om kemari?"


"Santai dong Ar, tidak usah bicara seformal itu sama om." tanpa permisi ia pun merangkul bahu Arthur, membawanya menuju kursi yang tersedia di teras rumah Arthur.


"Bagai mana kabarmu, selama 3 tahun ini?"


Arthur bergeming, dengan rahang mengeras.


"Om tidak perlu repot-repot jauh-jauh datang kesini, hanya untuk menanyakan kabar saya."


Om Raffi kembali terkekeh, "Rupanya kau sama kerasnya seperti ayahmu, luar biasa!"


"Jaga ucapan mu om, dan tidak usah bawa-bawa nama ayah saya disini."


"Kenapa, kamu tidak rela,? ayah mu itu sudah mati Arthur, untuk apa kamu membelanya, toh semua itu tidak akan membuat jasad ayahmu bangkit kembali."


"Cukup! keluar dari rumah saya." Arthur beranjak dari duduknya dengan kedua tangan yang terkepal sempurna.


"Kamu berani ngusir saya?"


"Cih, memangnya anda siapa?" tantang Arthur.


"Benar kan yang saya katakan, kalau kamu itu tidak jauh berbeda dari ayah kamu," setelah mengucapkan hal tersebut, om Raffi pun beranjak pergi meninggalkan rumah Arthur.


"Bang sad," umpat Arthur emosi.


Arthur kembali terduduk lesu diatas kursi, sejak orang tuanya meninggal ia harus menerima berbagai macam penghinaan dari om maupun saudaranya yang lain, padahal semasa orang tuanya masih hidup, mereka sama sekali tak memiliki masalah apapun.

__ADS_1


...


Tepat pukul 20:00 malam, Arthur sampai dirumah Dara, untuk memenuhi undangan makan malam dari papa Arga.


"Wah, Arthur gimana kabarnya?" Papa Arga menyambutnya dengan antusias.


"Baik om, om sendiri bagaimana?"


"Syukur kalau begitu, om juga baik, gimana kemarin waktu om tinggal, si Dara bikin ulah nggak?"


Arthur sempat menoleh kearah Dara, yang mulai memakan makanannya.


"Nggak kok om, Dara gadis penurut."


Papa Arga mengangguk-angguk, "Om dengar dari Dara, kamu mulai belajar mengelola perusahaan, betul?"


"Betul om!" balasnya sedikit tersipu.


"Om turut bangga sama kamu Ar, kamu itu persis seperti ayah kamu dulu."


"Kamu tahu Ar, disaat kakak-kakaknya dan adik-adiknya yang lain, selalu menghabiskan masa muda mereka untuk bermain, ayah kamu justru malah menghabiskan masa mudanya untuk bekerja banting tulang membantu orang tuanya."


Arthur terdiam, mendengarkan kelanjutan cerita papa Arga, begitupun dengan Dara, dan mama Sinta.


"Waktu ayah kamu umur 25 tahun, tepat sebelum menikahi mama mu, dia sudah memiliki salah satu perusahaan besar di singapura, tentu saja tanpa sepengetahuan saudarnya, disana dia menitipkan perusahaan tersebut pada seseorang yang sangat ia percaya."


"Apa kamu pernah dengar soal itu Ar?"


Arthur menggeleng, dan menduduk lemah, "Saya sama sekali tidak tahu soal itu om."


Papa Arga pun terdiam sebentar, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.


"Lalu perusahaan yang di Jakarta timur kamu tahu Ar?"


Arthur kembali menggeleng, "Yang saya tahu, perusahaan itu milik om Raffi, sama om Banu om!"


"Kamu sungguh tidak tahu kalau ayahmu juga memiliki perusahaan disana Ar?"


Lagi-lagi Arthur menggeleng, sedangkan papa Arga, menggerenyit bingung.


.


.

__ADS_1


__ADS_2