
Setelah memakai seragam lengkapnya, Dara melangkah riang menuruni tangga, namun ketika ia berada di 3 anak tangga terakhir, tidak sengaja samar-samar mendengar kedua orang tuanya sedang membicarakan dirinya.
"Mau mama yang ngomong atau papa yang ngomong." ucap papa Arga, ketika pagi ini keduanya berada di meja makan, untuk sarapan bersama.
"Ihs papa, biarin sih pa, Dara anak kita bukan anak kecil lagi, biarkan dia mengenal cinta di usia mudanya." desis mama, tak setuju dengan usulan sang suami, yang selalu melarang putrinya untuk mengenal laki-laki.
"Dia masih sekolah ma," lanjut papa bersikukuh.
"Iya, mama juga tahu, kalau Dara masih sekolah, tapi dia udah kelas XII SMA lho pa, bukan anak kelas 2 SD lagi."
"Pokoknya Dara nggak boleh pacaran sebelum lulus sekolah."
"Kecuali ada yang lamar." lanjut papa Arga sembari terkekeh.
"Papa ihs."
..
Di ujung tangga Dara masih terdiam, mencerna obrolan mama dan papanya, hingga kemunculan sang adik membuyarkan lamunannya.
"Dorr!"
"Dih, masih pagi udah ngelamun, ngelamunin pacar ya?" tegurnya, dengan gaya tengilnya.
"Apaan sih anak kecil, sok tahu!" balasnya, lalu berjalan menuju meja makan.
"Pagi ma, pa." ucapnya dengan suara lesu.
"Pagi sayang, ayo sarapan dulu." mama Sinta menyodorkan piring yang berisi nasi goreng kearahnya.
Sedangkan Papa Arga menoleh sekilas, hanya sekilas, kearah putrinya, kemudian berdehem.
"Semalem kamu nemuin siapa Ra?" ucap papa Arga, tanpa mengalihkan tatapannya dari piring yang berisi sarapan miliknya.
Dara yang baru saja memasukan satu suap nasi goreng kedalam mulutnya, dengan susah payah ia segera menelannya.
"M-maksud papa?" ucapnya, setelah berhasil menelan makanan didalam mulutnya.
"Semalem papa nggak sengaja lihat kamu keluar, dan nemuin anak laki-laki, didepan gerbang rumah kita."
Deg!
Dara menundukan wajahnya, membayangkan kemungkinan-kemungkinan, berbagai macam hukuman yang akan diberikan sang papa padanya.
"Dara dengar papa, kamu ini masih sekolah, nggak boleh pacar-pacaran, bukankah selama ini papa sudah sering mengingatkan, kenapa kamu langgar, kamu mau jadi anak pembangkang hah?" bentak papa, yang membuat air matanya meleleh seketika.
Mama Sinta yang hendak mengambil selai ke belakang, sontak membalikan badan, lalu menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Papa apa-apaan sih, pagi-pagi udah bentak-bentakin anak, nggak banget deh papa." mama balik memarahinya.
Karena ibarat kata pepatah, segalak-galaknya seorang ibu, dia tidak akan rela jika anaknya dimarahi orang lain, meskipun itu adalah suaminya sendiri.
Sejak kecil Dara memang selalu mendapat didikan yang tegas dari sang papa, dengan alasan karena ia anak perempuan, sebenarnya bukan hanya itu alasannya, tetapi karena dia juga mengalami trauma yang mendalam atas meninggalnya sang adik 20 tahun yang lalu.
Saat itu, kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sedangkan papa Arga dan kedua kakak laki-lakinya sudah menikah, dan memiliki rumah masing-masing, membuat sang adik tak ada yang mengawasi.
Hingga suatu hari, tiba-tiba saja sang adik di temukan dalam keadaan sudah tak bernyawa di dalam kamarnya, setelah mengkonsumsi obat penggugur janin.
Sejak saat itulah papa Arga bertekad, jika memiliki anak perempuan, sebisa mungkin ia akan selalu mengawasinya.
"Dara berangkat ma pa!" ucapnya, sembari mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya.
"Papa belum selesai bicara Dara, duduk!" titahnya.
"Maaf pa, Hari ini Dara masuk lebih awal."
"Dara?"
"Udah pa cukup, Biarin Dara berangkat sekolah." bentak mama, yang melihat mata Dara kembali berkaca-kaca.
"Darren juga berangkat sekarang aja deh, ma pa bareng kak Dara, dianterin mang Rahmat." ucap Darren yang sudah menyampirkan tas dibahu kirinya, ia tidak mungkin berlama-lama satu meja dengan sang papa yang terlihat sedang meledak-ledak karena emosi.
"Yaudah, kalian pada berangkat aja gih." balas mama.
..
Kebanyakan dari mereka, berhamburan memenuhi kantin dan tempat penjual makanan lainnya yang terletak di area sekolah tersebut.
Hari ini, Ratih satu-satunya teman Dara tidak masuk sekolah, dikarenakan sedang menemani ibunya yang sedang dirawat di Rumah Sakit.
Kini Dara memilih duduk sendirian ditaman belakang sekolah.
Jika biasanya Dara menghabiskan waktu istirahatnya untuk makan dan jajan, tapi tidak untuk kali ini.
Karena kali ini, perutnya sama sekali tidak merasakan lapar, meski dari tadi pagi hanya terisi 3 sendok makan nasi goreng.
"Kok sendirian sih, temennya kemana?" ucap Arthur tiba-tiba, dan tanpa permisi ia pun mendudukan dirinya disamping Dara.
Dara bergeming, tiba-tiba bayangan kemarahan sang papa melintas dalam ingatannya.
"Bisa nggak sih lo jangan deketin gue?"
"Nggak bisa." jawab Arthur seadanya.
"Gue minta tolong, lo jauh-jauh dari gue."
__ADS_1
"Nggak bisa Ra, gue tuh sayang banget sama lo, jadi mana mungkin gue bisa jauh dari elo."
"Lagian kenapa sih Ra, salah gue dimana coba, kenapa lo selalu ngehindar dan nyuruh gue menjauh." lanjut Arthur.
"Gue_"
"Apa yang harus gue lakuin Ra, biar elo bisa percaya , kalau gue nggak seberengsek dulu!"
"Lo nggak akan ngerti." gumamnya, yang masih terdengar jelas ditelinga Arthur.
"Makanya jelasin ke gue."
"G-gue udah pernah ngomong kan, kalau gue dilarang pacaran sama bokap."
"Itu bukan alasan yang masuk akal Ra." tawa Arthur hampir meledak, namun urung kala mendapati wajah serius Dara.
"Lo pikir gue bohong,"
"Ok, entar malem tunggu gue dirumah!" ucap Arthur, lalu beranjak dari duduknya.
Sedangkan Dara, ia masih terbengong, mencerna kata-kata yang diucapkan Arthur barusan.
..
Pukul 19:41 malam, Dara termenung dikamarnya, ia enggan beranjak dari kamar, bahkan kini ia melewatkan makan malamnya, bentakan dari sang papa tadi pagi masih terngiang-ngiang ditelinganya, hingga membuat ia tak mau bertemu dengannya sampai waktu yang tak ditentukan.
Saking asik larut dalam lamunanya, hingga ia tidak menyadari kehadiran sang mama yang masuk kedalam kamarnya.
"Ra, anak mama yang cantik kok ngelamun sih?" ucapnya, padahal tanpa ia bertanyapun tentu mama Sinta sudah tahu penyebab putrinya menjadi seperti ini.
Ia membelai sayang kepala putri sulungnya tersebut dengan penuh kelembutan.
"Maafkan sikap papa yang terlalu tegas padamu selama ini nak."
"Satu hal yang Harus Dara tahu, papa begitu karena dia sangat menyayangimu, dia nggak mau kalau putri kesayangannya, salah dalam pergaulan."
Dara mendongak menatap wajah cantik mama yang masih terlihat bersinar, walau sudah termakan usia.
"Tapi, Dara juga mau ma, kaya teman-teman Dara yang lain." ucapnya yang sudah mulai terisak dipelukan hangat sang mama.
"Mama akan coba bicara sama papa, tapi sekarang Dara kebawah dulu yuk nak, ada seseorang yang udah nungguin dibawah."
"Siapa ma?"
Mama tidak menjawab, melainkan hanya tersenyum, dan merangkulnya menuju lantai bawah.
.
__ADS_1
.