Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Menjaga jarak


__ADS_3

Dara terdiam, mendengar suara Arthur yang begitu lembut dari biasanya.


Namun, detik kemudian ia segera menepisnya, bagi Dara seorang playboy tetaplah playboy, mungkin dibalik kelembutannya ia menyimpan jutaan trik, untuk menjebak dirinya agar memasuki perangkapnya. batin Dara.


"Elo kok jadi ngelantur gitu sih ngomongnya, Kayanya elo perlu tidur dan istirahat deh, udah sana pulang, elo kan lagi sakit." Dara mendorong tubuh Arthur yang bersender di pintu gerbang rumahnya.


"Ra?" Arthur menangkap kedua pergelangan tangannya, yang masih bergerak berusaha mendorongnya keluar.


"Gue juga bisa jadi lebih baik Ra, kalau lo ngasih kesempatan."


"Kesempatan apa, maksud lo?"


"Ra?"


"Asal lo tahu, dari awal kita bertemu, lo udah ngasih kesan buruk dihadapan gue, dan kemarin lo udah nyakitin temen gue."


"Dia emang salah!"


"Iya dia salah, tapi dia udah berusaha minta maaf sama lo, tapi lo masih nggak terima kan, terus elo langsung maen pukul aja?" Dara berteriak kesal, didepan wajahnya.


"Ok gue salah." ucap Arthur, baru kali ini ia merendahkan dirinya, didepan seorang gadis bernama Adara Nashwa Larasati.


"Emang!"


"Udah sana pergi, bentar lagi bokap gue pulang!" ucap Dara gelisah, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, jika sang papa mengetahui, ada seseorang laki-laki yang berkunjung kerumahnya, malam-malam begini.


"Emangnya kenapa?"


"Bokap gue belum ngijinin gue pacaran." balas Dara, meski kedengarannya kuno, namun Dara berharap setelah ini Arthur mengerti, dan berhenti untuk terus mengganggunya.


Arthur terkekeh, "Jadi selama ini lo belum pernah pacaran." ucapnya, yang terdengar seperti sebuah ejekan bagi Dara.


"Itu semua nggak penting."


"Gimana kalau malam ini gue tungguin disini, sampai bokap lo datang."


"Maksud lo apaan sih, jangan bikin ulah yang aneh-aneh lo ya!"


"Nggak aneh-aneh kok, gue cuma mau minta restu buat macarin elo, nikahin kalau perlu."


"Gila lo ya!"


"Elo yang buat gue tergila-gila begini."


Bukannya tersanjung dengan ucapan Arthur, justru kini Dara semakin muak padanya.


"Mau kan jadi pacar gue?"


Sebuah kalimat yang sontak membuat Dara menggerenyit sekaligus bingung.


Semudah itukah bagi seorang Arthur, jika ingin memacari seorang wanita, terdengar datar dan tak serius.

__ADS_1


"Gue nggak mau." tolaknya cepat.


"Kenapa?"


"Gue udah bilang, gue nggak suka cowok playboy, yang banyak cewenya dimana-mana."


"Gue bisa putusin mereka semua, detik ini juga, atau kalau perlu didepan mata kepala elo."


"Lo nggak perlu repot-repot ngelakuin itu, karena jelas gue bakal nolak, gue nggak sudi punya pacar playboy kaya lo."


Malas meladeni terus menerus, akhirnya Dara pun meninggalkannya begitu saja.


Arthur kembali terdiam, dengan tubuh mematung, ada perasaan nyeri dalam dadanya, ketika Dara mengucapkan hal demikian.


Ia tersenyum kecut, tak percaya, baru kali ini ada seorang wanita menolak pesona dirinya.


Padahal diluar sana, puluhan gadis mengantri ingin menjadi pacarnya, bahkan banyak diantara mereka yang dengan suka rela menyerahkan diri, tanpa imbalan.


Jangankan mereka, sepupunya sendiripun tergila-gila padanya.


..


"Minggu pagi, seperti biasa, Dara melakukan aktifitas rutinnya bersama sang adik, lari pagi keluar gang perumahan elitnya, hingga sampai pasar minggu yang selalu menjajakan cemilan ringan, maupun berat.


"Dek, berhenti di tukang ketoprak yuk, kakak laper nih!" ucap Dara sembari mengatur nafasnya yang tersengal, ngos-ngosan, melirik pada Darren sang Adik, yang masih segar bugar, tanpa terlihat loyo sedikitpun.


"Ok, enak tuh kayaknya."


.


"Ngomongnya sih mau olah raga, biar badan bagus, tapi cape dikit langsung minta diisi." kekeh Darren.


"Ya dari pada pingsan di tengah jalan, kuat emang kamu gendong kakak nyampe rumah?"


"Kecil." jawabnya, yang dibalas dengusan oleh sang kakak.


"Kak, aku mampir kesana ya!" tunjuknya pada sebuah lapangan yang dipenuhi anak-anak muda yang tengah balap sepeda.


"Ngapain sih?" desisnya.


"Kakak, kalau mau lanjut jalan, jalan aja, aku mau nyamperin kesana, ada si Theo sama si Damar juga, seru keknya."


Tanpa menunggu persetujuan sang kakak, iapun segera menghampiri kedua sahabatnya kepinggir lapangan.


Dara mendesah, "Gitu tuh kalau udah ketemu temennya, gue dicuekin kan?" bergumam sendiri.


Akhirnya mau tidak mau, Dara kembali melanjutkan berjalan kakinya, bergabung diantara para ibu-ibu serta muda-mudi lainnya.


Dan ketika ia sedang berlari kecil, ia kembali dikagetkan dengan seseorang yang berada disampingnya.


"Lo, rajin lari ya," ucapnya, membuat Dara mendesah tak percaya.

__ADS_1


Ia diam saja, mengabaikan ucapan Arthur, dan menganggapnya seperti tidak ada.


"Ternyata bener, yang di bilang si kunyuk Damian dan Seno, Lagi jutek aja, lo cantik banget."


Dara menoleh, dengan memasang raut judesnya, "Elo kalau mau ngegombal jangan sama gue, nggak bakal mempan!"


"Siapa yang gombal sih, ini tuh beneran sayang."


Dara berbelok, memasuki sebuah taman yang terlihat ramai dikunjungi anak-anak serta orang dewasa lainnya.


Ia menoleh kekiri dan kekanan, mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan beristirahat.


Dan kini pilihannya jatuh pada sebuah pohon rindang, dengan akar yang berbelit diluar tanah.


Duduk lalu Tersenyum, melihat pemandangan yang menyejukan mata, melihat keceriaan anak-anak yang saling berkejaran sembari tertawa riang.


Ahh, masa kanak-kanak memang sebahagia itu, batinnya, dimana dia tidak di tuntut oleh hal-hal lain, selain bermain dan jajan tentunya.


Sedangkan Arthur yang ikut duduk disampingnya, tak berhenti-berhentinya memandangi wajah Dara, yang menurutnya tak bosan-bosannya untuk di pandang.


Dan rasa ingin memiliku itu, kini semakin kuat memenuhi hatinya.


"Ra?"


Dara tidak menjawab, namun ia menoleh kearahnya.


membuat Arthur tersenyum senang.


Tidak bisa Dara pungkiri, dalam hatinya, ia mengakui pesona seorang Arthur, laki-laki berkulit putih, dengan hidung mancung, alis tebal, serta bibir tipis sedikit gelap itu memanglah sangat tampan dimatanya.


Namun, ia sangat menyayangkan akan sikapnya yang kasar dan seorang playboy tentunya.


Ia berusaha menjauh, dan menjaga jarak, agar ia tidak merasakan hal sama dengan gadis yang lainnya.


Dirayu, dipuja-puja dan pada akhirnya, ditinggal disaat ia sedang sayang-sayangnya.


"Kok malah liatin gue gitu sih, baru sadar ya, kalau gue ganteng!"


Dara berdecih, sembari melengos memalingkan muka, rupanya laki-laki disampingnya memang mempunyai kepercayaan yang sangat tinggi batinnya.


"Ngapain sih lo ngikutin gue mulu, risih tahu nggak?"


"Namanya juga lagi berjuang Ra."


Dara menghela nafas, "Jadi begini, cara lo ngedeketin cewek-cewek di luar sana?" sebuah pertanyaan yang sontak membuat Arthur menggerenyit.


Arthur tergelak kecil, "Lo bakalan percaya nggak, sama apa yang gue bilang, asal lo tahu aja Ra, selama ini yang ngerayu tuh bukan gue, tapi mereka, mereka yang minta gue pacarin."


.


.

__ADS_1


__ADS_2