Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Mencari tahu


__ADS_3

"Apaan sih kok malah senyum-senyum?" Dara menatapnya jengah.


"Emang kenapa sih, nggak boleh?" balas Arthur sembari menyudutkan tubuh Dara ke arah dinding.


"B-bukan gitu," Dara mencoba menahan dada Arthur yang hendak menempel pada tubuhnya.


"Terus apa, hm?"


"Itu A-aku_"


Arthur kembali tersenyum, "Aku suka dengan panggilan aku kamu, jadi mulai sekarang, kita biasain ya."


Dara menggigit bibir bawahnya, namun detik kemudian ia mengangguk.


"Kenapa sih musti gigit bibir segala hm,?" Arthur mengusap lembut bibir Dara menggunakan ibu jarinya, yang seketika memunculkan rona merah di wajah Dara.


"Ikut aku yang, ada yang musti aku omongin, penting!" Arthur menarik tubuh Dara, tanpa menunggu persetujuan Darinya.


"Kenapa musti dikamar sih ngobrolnya, diluar kan bisa!" protes Dara.


Arthur tak menghiraukan ocehan kekasihnya itu, ia justru malah mendudukan Dara dipinggir kasur miliknya.


"Aku minta maaf sayang, aku mau ngasih tahu kalau besok aku nggak bisa temenin kamu, selama libur nanti aku bakalan menyelidiki semua yang berhubungan dengan papa."


"Bareng om Arga, papa kamu." lanjutnya.


"B-bareng papa, kapan dia bilang begitu, bukannya waktu itu papa bilang, cuma mama dan Darren yang ikut?" tanya Dara yang memang tidak mengetahui apapun.


"Semalem om Arga telpon, kalau aku juga harus ikut."


"Kok papa nggak ada bilang ke aku sih." gumam Dara.


"Mungkin belum sayang."


"Ya udah, sekarang anterin aku pulang." ucap Dara hendak berdiri dari duduknya.


"Kok buru-buru sih yang?"


"Aku harus tanya soal ini ke papa langsung."


"Nanti kan bisa, emang kamu nggak kangen sama aku, seminggu lho kita nggak bakal ketemu."


"Mau peluk Ra, boleh ya!"


Arthur memeluk tubuh Dara dengan segenap cinta yang ia miliki, sesekali ia menghirup leher Dara, yang mengeluarkan Aroma khas Dara, yang membuatnya kini selalu ingin menghirupnya setiap hari, dan setiap saat.


Arthur melonggarkan pelukannya dari tubuh Dara, lalu beralih menatap matanya dengan tatapan mendamba.


Selanjutnya ia mendaratkan satu k*cup*n lembut di bibir Dara, lalu melum atnya dengan gerakan perlahan, dan semakin lama semakin menuntut.


15 menit, Arthur melepaskan pagutannya, meski tak rela, ia khawatir kebablasan dan merusak kesucian gadis tercintanya, Karena ia sudah berjanji, akan menjaganya hingga waktunya tiba.


"Ayo, aku antar pulang!" ucap Arthur lembut, meraih tangan Dara kemudian di genggamnya.


Sedangkan Dara, setelah melewati adegan barusan, kini tubuhnya merasa lemas tak bertenaga, namun ia tetap memaksa kakinya untuk melangkah mengikuti Arthur.


.

__ADS_1


.


Dara memasuki rumahnya dengan sedikit tergesa, sedangkan Arthur segera kembali kerumahnya untuk berkemas.


"Papa?" ucapnya, ketika berada didepan sang papa.


"Kenapa Ra, datang-datang kok cemberut gitu, ada apa, hm?" balas sang papa sembari merapikan beberapa lembaran kertas di tangannya.


"Papa kok nggak bilang sih, kalau ke singapura nya bawa Arthur juga?"


"Memangnya kenapa, lagian biasanya kamu juga nggak mau kalau papa ajak jauh-jauh kesana."


"Dara mau ikut pa."


"Papa nggak salah dengar Ra, atau jangan-jangan kamu mau ikut, karena ada Arthur, iya?"


"Bukan ihs papa, Dara cuma mau mastiin tentang penglihatan Dara aja."


"Maksud kamu apa sih nak, papa nggak ngerti."


"Waktu Dara ikut papa ke singapura 2 tahun yang lalu, Dara nggak sengaja ketemu sama seseorang, dia bilang dia asli orang indonesia, dan katanya tempat tinggalnya nggak jauh dari perusahaan papa."


"Siapa sih yang kamu maksud nak?" papa Arga mengganti posisi, menjadi duduk berhadapan dengan putrinya.


"Euhmz itu pa, orang yang mirip sama papa nya Arthur."


"Kamu yakin?"


"Nggak terlalu yakin sih, tapi Dara penasaran pa."


"Dara boleh ikut ya pa, please!"


"Ya sudah, sekarang kemasi pakaian mu, karena kita akan berangkat pagi-pagi."


"Beneran boleh pa?" teriak Dara, dengan mata berbinar.


"Boleh,"


"Makasih papa!" ia menciumi wajah papanya bertubi-tubi.


"Iya iya, buruan gih beresin bajunya."


"Ok papa!"


..


Setelah menempuh penerbangan yang memakan waktu hampir 2 jam, kini papa Arga, mama Sinta, Darren, Arthur dan juga Dara sampai di bandara Changi Singapura, lalu di jemput oleh Deon asisten kepercayaan papa Arga.


"Berhubung kamar dirumah ini hanya ada 3, jadi Darren tidur bareng kak Arthur ya!" ujar mama Sinta, rumah itu memang terbilang tidak terlalu besar, karena papa Arga, tidak menempatinya setiap saat.


hanya sesekali saja, ketika ia mengunjungi perusahaannya.


"Iya ma," ujar Darren patuh.


..


Setelah makan siang, papa Arga segera mengajak Arthur untuk melihat perusahaan papanya.

__ADS_1


Sedangkan Dara berangkat menuju tempat yang ia tuju.


Dara menginjakan kakinya disebuah Restaurant, yang 2 tahun lalu ia masuki, tempat yang sama saat ia dua kali bertemu dengan seseorang yang ia yakini mirip papa Arthur.


Hampir 2 jam Dara menunggu, bahkan ia sudah menghabiskan satu piring chicken rice, dan segelas milo dinosaurus.


Merasa bosan ia pun memutuskan untuk pulang, dan akan melakukan pencarian besok.


Namun, saat kakinya hendak melangkah, kilasan matanya tak sengaja menangkap sosok tegap yang baru saja memasuki area Restaurant.


Tak ingin kehilangan kesempatan, Dara segera menghampirinya, dengan sedikit tergesa.


"Om, maaf boleh saya ikut duduk disini." ucapnya, tanpa basa-basi.


Sedangkan yang ia ajak ngobrol pun mengangguk, dengan sedikit menggerenyit.


"Om, sebelumnya kita udah pernah ketemu 2 kali lho om, om inget nggak, euhmmz kira-kira 2 tahun yang lalu lah om."


"Masa sih?" ucapnya sembari menyangga dagunya menggunakan kedua tangannya, mengingat-ingat.


"Om inget gak, dulu ada seorang anak perempuan yang numpahin jus kearah kemeja om, karena dia tersandung kaki meja, om inget?"


Orang yang dipanggil om itu berpikir sejenak, dan detik kemudian ia mengangguk, dan tersenyum.


"Oh iya iya, saya inget, jadi kamu gadis yang waktu itu, wah nggak nyangka ya, nggak ketemu dua tahun, sekarang udah sebesar ini, cantik lagi."


Dara yang mendapat pujian tersebut, seketika meringis malu.


"Oh iya, om apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat, saya baik, bahkan sangat baik."


"Mau pesan makan nggak, om belum makan siang soalnya." ucapnya sembari menyerahkan 1 buku menu kearah Dara.


"Maaf om, sebenarnya barusan saya baru aja selesai makan, tapi waktu saya mau pulang, eh nggak sengaja lihat om, jadi nyamperin deh, maaf ya om, saya ganggu ya?"


"Nggak nggak, sama sekali saya tidak terganggu, justru saya merasa sangat senang, ada teman ngobrol disini."


"Kamu kesini lagi liburan ya?"


"Eh, iya om, kebetulan papa saya punya perusahaan disini, jadi sekalian papa berkunjung, saya ikut untuk liburan."


"Oh begitu, beneran udah makan?" tanyanya, saat ia hendak memakan makanannya yang baru saja diantarkan oleh pelayan.


"Udah om, om makan aja!"


"Euhmz om ngomong-ngomong kenal sama papa saya nggak om?"


"Memangnya siapa nama papa kamu?" tanyanya, sembari mulai mengunyah makanannya.


"William Argantara om!"


Deg!


..


..

__ADS_1


__ADS_2