Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Masalalu Gibran


__ADS_3

Drrtt.. drrtt..


Pukul 23:11 ponsel papa Arga bergetar, membuatnya kian berdecak kesal, pasalnya ia baru tertidur 15 menit yang lalu, setelah membahas beberapa hal penting bersama Arthur.


"Hallo?"


"Hallo ini siapa?" lanjutnya, dengan mata yang setengah terpejam.


Bahkan ia tidak melihat dengan jelas sang penelponnya.


"Aku Gibran Ga, kamu masih ingat?" ucap seseorang dari sebrang sana.


"Hmmm!" ucapnya dengan mata yang kembali terpejam, namun detik kemudian ia terperanjat dari tempat tidurnya.


"Bener I-ini Gibran, aku lagi nggak mimpi kan?" ucapnya, yang kini sudah terduduk dengan kepala yang ia senderkan dikepala Ranjang.


"Iya, ini aku Gibran, maaf Ga mengganggu tidurmu, aku ingin berbicara banyak denganmu, tolong temui aku besok, kita ngobrol berdua."


"Ok, dimana?"


"Di tempat biasa kita dulu."


"Ok."


Setelah sambungan telpon terputus papa Arga kembali merebahkan tubuhnya, untuk melanjutkan tidurnya.


Namun, setelah beberapa menit ia mencoba memejamkan mata, ternyata rasa kantuknya sudah hilang tak tersisa, terganti dengan debaran di dada saking belum mempercayai kenyataan yang tengah terjadi saat ini.


Sahabat yang ia kira sudah tiada, karena mengalami kecelakaan mengenaskan 8 tahun yang lalu, ia masih ingat betul saat mendatangi rumah sakit dan mendapati mayat Gibran, beserta istri dan ibunya yang tak berbentuk, akibat ledakan mobil yang akhirnya membuat tubuh mereka hangus terbakar.


...


"Ar, sebaiknya hari ini kamu istirahat aja, atau keliling bersama Dara, om ada urusan mendadak di perusahaan, sepertinya ada sedikit masalah, kamu nggak apa-apa kan?" ucap papa Arga ketika pagi ini mereka semua tengah menikmati sarapannya.


"Iya om nggak apa-apa." alih-alih kecewa, justru Arthur malah tersenyum bahagia, karena hari ini ia bisa pergi sepuasnya dengan Dara.


..


Dari kejauhan papa Arga sudah gemetar, dengan langkah sedikit gontai, saat memandangi punggung kekar milik sahabat lamanya itu, ia yakin, ia tidak salah lihat, karena nomor meja didalam Cafe tersebut adalah nomor yang sama yang di kirimkan Gibran padanya.


"Gib." ucapnya menyentuh bahunya dari belakang.

__ADS_1


"Arga, akhirnya kamu datang." ucapnya, lalu kemudian beranjak dari duduknya, merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sahabatnya itu.


Lama keduanya berpelukan, layaknya saudara yang sudah sekian lama tak bertemu, bahkan keduanya sama-sama menyusut kedua matanya yang berair.


"Bagaimana kabarmu Gib, ceritakan semuanya padaku, apa yang terjadi?" ucap papa Arga yang sudah tak sabar ingin mendengar cerita dari sahabatnya itu.


Gibran terkekeh, "Seperti yang kau lihat Ga, aku baik-baik saja, aku yakin selama ini kau sudah menganggapku tiada bukan?"


"Tentu saja, aku pikir kau sudah terbang ke Syurga sana." balasnya ikut terkekeh.


"Cepat ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, kau tahu aku sama sekali tak mempercayai perkataan putriku sebelumnya, kalau dia pernah bertemu denganmu dua kali disini."


"Aku lebih tidak menyangka kalau ternyata kau memiliki seorang putri yang sangat cantik dan manis rupanya, aku sangat menyukai tingkah putrimu itu, sangat lucu dan menggemaskan."


"Menggemaskan bagaimana, kau pikir dia anak kecil, dia sudah dewasa Gib, bahkan sekarang dia berpacaran dengan anakmu, kalau kau mau tahu."


Kini Gibran mulai terdiam, bayangan Arthur putra semata wayangnya tiba-tiba melintas dalam ingatannya.


"Bagaimana keadaan putraku Ga, apakah dia hidup dengan baik,?"


"Saat ini keadaannya sedang baik Gib, lalu kapan kau akan datang menemuinya, ku lihat dia kesepian tanpa keluarga disampingnya, kau tahu dia bahkan mau melamar putriku setelah lulus nanti, dan akan segera menikahinya, dengan alasan dia membutuhkan teman hidup."


"Seandainya masalah yang ku hadapi tidak serumit ini, sudah dari dulu aku menemuinya Ga, kau pikir aku tidak rindu padanya, justru aku lakukan ini untuk keselamatan dia Ga." balas Gibran lemah.


Gibran menghela nafasnya yang terasa berat, lalu mulai menceritakan kejadian yang di alaminya 8 tahun yang lalu.


.


.


#Flashback on..


Malam itu seluruh kakak beradik Gibran menginap di rumah orangtuanya untuk membahas pembagian harta warisan, yang akan di sampaikan langsung oleh sang Ayah, kakek Firman.


Kakek Firman menjelaskan, masing-masing diantara ke 5 anaknya mendapatkan 10% dari hartanya, sedangkan untuk Gibran ia berikan 15%, karena sejak ia lulus SMA selalu membantunya dalam bekerja, hingga perusahaan itu menjadi sukses dan berkembang pesat.


"Ayah harap kalian setuju dengan keputusan ayah ini, sejauh ini kalian bisa menempuh pendidikan yang sangat tinggi, sedangkan Gibran dia lebih memilih membantu ayah dan mengorbankan cita-citanya."


Namun, tiga dari anaknya yang lain menentang keputusan kakek Firman, yang menganggap ia telah pilih kasih dengan anak-anaknya.


"Alahhh, Itu paling cuma akal-akalan si Gibran aja, biar bisa dapat warisan yang banyak dari Ayah."

__ADS_1


"Tutup mulut kamu Raffi, kamu pikir membangun usaha dari kecil itu mudah, kamu enak bisa ngomong seperti itu sekarang, tapi asal kamu tahu Ayah dan Gibran bersusah payah untuk melakukannya selama ini."


"Bilang aja Ayah hanya menyayangi satu anak, ya si Gibran itu, cih! kalau tahu dia menggunakan cara licik seperti ini, dari dulu aku pasti sudah ikut membantu ayah." timpal Banu, menatap sinis ke arah Gibran.


"Pokoknya kita nggak terima, di perlakukan begini, ayah harus adil pada kami." Hera yang merupakan saudara paling dekat dengan Gibran ikut protes.


Sedangkan Anna adik bungsunya, hanya terdiam dengan wajah menunduk.


Kakek Firman menggeleng, Ia sudah menebak, bahwa semua ini pasti terjadi.


..


Seminggu setelah kejadian itu, semua perubahan tampak begitu jelas, Banu dan Raffi tak pernah lagi menyapa Gibran di kantor, meski ia berulang kali berinisiatif bertanya terlebih dulu, namun mereka seperti mengibarkan bendera perang setinggi-tingginya.


Gibran yang memang memiliki hati lembut dan tidak mau bermusuhan antar saudara pun, akhirnya memutuskan untuk membujuk sang ayah, agar pembagian harta itu di sama ratakan.


Permohonan Gibran pun di setujui sang ayah, yang kemudian langsung di beri tahukan kembali pada ke 5 anaknya, bahwa masing-masing dari mereka mendapat bagian 11% dari hartanya.


Banu Raffi dan Hera, tentu sangat bahagia, mendengar kabar tersebut, dan kini mereka kembali mau mengobrol dengan Gibran, namun tanpa Gibran sadari mereka sudah merencanakan sesuatu dibelakangnya.


Sedangkan Anna yang saat itu berusia 19 tahun, selalu dianggap anak kecil yang polos oleh kakak-kakaknya, hingga tidak menyadari ia mengetahui seluruh rencana busuk mereka.


.


.


Malam itu Raffi sudah menyusun rencana sematang mungkin, dan untuk menyempurnakan rencananya, ia mengundang Gibran dan istrinya untuk datang ke acara ulang tahun Velicya putri keduanya.


Anna yang saat itu tidak sengaja mendengar pembicaraan Raffi, Banu dan juga Hera, langsung menghubungi Gibran.


Sedangkan Gibran yang mendapat kabar bahwa ia akan celaka, seketika langsung membuat rencana dadakan.


Dan mobil Gibran yang sudah di sabotase oleh anak buah Raffi langsung segera ia perbaiki.


Lalu ia menyuruh anak buah kepercayaannya untuk mengambil 2 jasad wanita dan satu jasad laki-laki, korban kebakaran dari sebuah proyek bangunan yang tidak memiliki keluarga, dari sebuah Rumah sakit.


Gibran, Nia dan nenek tiwi, berangkat menaiki Taxi, sedangkan mobil Gibran dikendarai oleh anak buahnya.


Ditepi jalanan yang mulai sepi, anak buah Gibran segera membakar mobil tersebut, dan meletakan 3 jenajah tadi disamping mobil yang terbakar.


.

__ADS_1


#Flasback of


__ADS_2