Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Penemuan Dara


__ADS_3

"Kamu kok diem aja sih sayang, kenapa?" Arthur mengusap kepala Dara dengan penuh kelembutan, hari ini merupakan hari terakhir liburnya, karena esok hari Ia harus kembali pada rutinitas nya disekolah.


"Jujur Ar, aku bener-bener masih penasaran sama kampung mati itu, sampai sekarang pun aku nggak bisa lupa sama apa yang aku lihat, dan aku denger waktu itu."


Arthur terdiam.


"Yang?"


"Hmmm!"


"Sebenernya aku juga udah pernah kesana du kali."


"Hah?" Dara menatapnya tak percaya.


"Kamu tahu apa yang aku lihat disana?"


"Apaan?" Dara menatapnya penasaran.


"Aku udah dua kali lihat rafael masuk sana."


El melirik sekilas kearah sekitar, dari jarak yang cukup jauh, dia melihat ada beberapa orang berpakaian serba hitam sedang berpura-pura mengobrol.


Ia yakin orang-orang itu adalah orang yang sama yang selalu mengikutinya kemanapun.


"Rafael itu siapa?"


"Sepupu aku."


"Ngapain dia kesana?"


"Aku sendiri nggak tahu sayang, coba kamu lihat orang-orang yang berseragam hitam didepan gang merah, tapi kamu harus melihat mereka seakan kamu tidak sedang melihatnya." ucap Arthur.


Kemudian Dara pun mengikuti apa yang diucapkan Arthur padanya, ia menoleh kearah mereka dengan tatapan menyamping, Dara terkejut ketika melihat mereka yang ternyata sedang memperhatikannya.


"Are, mereka itu sebenarnya siapa sih, serem banget deh!"


"Begini sayang, semenjak orang tuaku nggak ada, aku selalu diikuti oleh ke enam orang itu, kemanapun aku pergi."


"Jadi setiap aku ingin mencari tahu sesuatu yang mencurigakan, akan ada seseorang yang Menghalangiku."


"Siapa?"


"Seorang kakek-kakek, aku yakin dia sengaja ngirim kakek-kakek, biar aku nggak tega mukulin dia."

__ADS_1


"Aneh nggak sih Ar,?" ucap Dara kembali berpikir.


..


Senin Sore, tante Anna kembali kerumah Arthur, setelah menginap selama dua hari di apartemennya.


Dara yang sejak beberapa hari lalu sudah merindukan tante Anna pun sore itu langsung menuju rumah Arthur, setelah meminta izin terlebih dulu kepada kedua orang tuanya.


"Tan, elo belum nemuin titik terang mengenai keberadaan kakek?" ujar Arthur, sembari memainkan jemari Dara yang sedang duduk disampingnya, meski Dara berulang kali menepisnya namun, Arthur tak kunjung berhenti, tanpa merasa kesal, atau malu dilihat oleh tantenya.


"Elo tahu nggak tan, akhir-akhir ini gue mimpiin kakek terus, dalam mimpi gue kakek kaya lagi kesakitan gitu,"


Tante Anna terdiam, lalu menghela nafas, "Tante Udah berusaha Ar, tapi nyatanya tante selalu gagal nemuin kakek, kita doakan agar kakek selalu baik-baik saja."


Ketiganya pun terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.


..


Setelah Arthur mengantarnya untuk pulang sore itu, Dara pun bergegas memesan taxi online untuk mengantarnya ke kampung mati.


Dara tidak ingin menyerah sampai disini, ia harus bisa mengesampingkan rasa takutnya, dan memastikan sendiri bahwa seseorang yang saat itu sedang menangis adalah seorang manusia, bukan makhluk halus atau sejenis makhluk lainnya.


Dara memasuki pintu masuk yang pertama kali ia masuki dulu, mengambil jalan kanan untuk berjalan menuju rumah yang berada dipaling atas, kali inj ia berjalan lebih cepat, karena khawatir akan kemalaman disana.


tidak ada siapapun disana, akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka pintu, namun pintu itu dalam keadaan terkunci.


Dara menghela nafas beratnya, ia belum bisa pergi sampai mendapatkan jawaban yang sebenarnya, tak ingin berputus asa, Darapun mencari cara lain agar bisa memasuki rumah tersebut.


Dara mengelilingi rumah itu Frustasi, hingga kilasan matanya menangkap sebuah jendela yang tidak tertutup rapat, dengan senyum terkembang ia pun mulai menarik jendela itu, dan ia berhasil memasuki rumah tersebut.


Dara berjalan pelan, dengan memegangi dadanya yang berdebar tak karuan, kondisi rumah yang lumayan besar, serta tidak adanya penerangan, membuat Dara merasa sedikit ketakutan.


Klutaaakkkk...


Sebuah benda yang seperti terjatuh sontak membuat Dara terlonjak kaget, dan mundur satu langkah.


Hening..


Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, membuka satu persatu kamar dirumah itu, yang berjumlah 6 kamar.


Dan saat ia membuka satu kamar terakhir, Dara mematung dengan kedua tangan menutup mulutnya, disana tampak seorang kakek tua dengan tubuh kurus kering, sedang duduk diatas kursi roda, dengan keadaan kedua kakinya terikat, serta mulutnya tertutup rapat oleh lakban hitam.


Dara menggelengkan kepala, seseorang berwujud seperti apakah, yang telah tega mengurung kakek tua itu, didalam hutan seorang diri, tanpa pencahayaan, tanpa teman, dan tanpa tempat yang layak. batinnya.

__ADS_1


Dengan tubuh bergetar Dara mulai berjalan pelan menghampirinya, kakek itu sempat terkejut dengan mata melotot, saat Dara mulai mendekat padanya.


"Kakek, jangan takut ya, saya Dara, saya bukan orang jahat, Saya akan membawa kakek pergi jauh dari tempat ini." bisik Dara sambil menangis.


"kakek bisa bicara, kakek bisa dengar saya?" ucapnya, setelah membuka lakban yang menutupi mulut sang kakek.


"Sebaiknya kamu segera pergi nak, ini bukan tempatmu, disini sangat berbahaya, sebentar lagi mereka akan kesini untuk menjenguk kakek." balasnya.


"Tidak kek, kakek harus ikut saya pulang," balas Dara dengan suara terisak, ia pun segera Mengirimkan pesan pada mang Rahmat, agar menjemputnya dibawah gapura.


Dengan susah payah Dara mendorong kursi roda yang sedang di duduki sang kakek, melewati rerumputan yang sudah setinggi lutut, dalam hati ia tak henti-hentinya merapalkan doa-doa agar ia dan kakek itu bisa selamat hingga sampai dirumah kedua orangtuanya.


Dengan perasaan cemas, sambil terus terisak sekuat tenaga Dara terus mendorong kursi roda, kearah area pabrik yang keseluruhannya telah di pasang Vaping block.


sedikit Memudahkannya untuk lewat, karena rumputnya tidak terlalu tinggi seperti diarea perumahan tadi.


Ia akhirnya bernafas lega, setelah sampai di bawah gapura, dan tidak lama mang Rahmat turun dari mobil dengan berjalan sedikit tergopoh.


"Aduh non, ini siapa?" ucap mang Rahmat, ketika melihat kakek yang hanya menyisakan tulang yang terbungkus kulit dihadapannya.


"Mang cepet, bantu Saya masukin kakek ini ke mobil, dia dalam bahaya mang, ayo cepetan!" ujar Dara sambil terus melihat kekiri dan kekanan.


..


Saat tiba dirumah orangtuanya Dara segera membawa kakek tersebut, dengan di bantu mang Rahmat, dan ART di rumahnya, sore itu papa Arga serta mama Sinta tak berada dirumah, karena sedang Menghadiri acara pernikahan anak sahabatnya.


Sedangkan Darren, ia sedang bermain dirumah temannya, ditetangga sebelah.


..


Setelah membersihkan tubuh sang kakek, serta mengganti bajunya yang di ambil dari lemari sang Papa, dan di bantu oleh mang Rahmat tentunya, Dara pun memberinya makan, dan setelah nya ia pun mulai mengajak ngobrol kakek tersebut.


.


.


Hallo readers tercinta😘


Semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia ya🥰🥰🥰


mohon maaf beberapa Hari kemarin Author tidak sempat up di dalam karya Author yang satu ini, dikarenakan sedang up di Karya Author yang lain..


Semoga kedepannya Author bisa membagi waktu, hingga karya ini selesai. terimakasih 😊😊

__ADS_1


.


__ADS_2