
Setelah mendapatkan nomor telpon bi Narti asisten rumah tangga lama kakek Firman, yang ia dapatkan dari tante Anna, papa Arga pun mulai menyusun sebuah rencana, untuk segera mengumpulkan berbagai bukti agar bisa segera menyeret para penjahat itu ke dalam jeruji besi.
3 bulan kemudian, keadaan kakek Firman pun semakin membaik, tubuhnya mulai sedikit pulih, dan kembali berisi.
bahkan kakinya sudah kembali berjalan dengan normal, setelah sempat kaku selama beberapa minggu, dikarenakan terkurung dengan posisi duduk.
Sementara itu papa Arga sudah mengumpulkan seluruh bukti kejahatan mereka pada pihak kepolisian, atas bantuan bi Narti, yang selalu memata-matai mereka, tanpa disadarinya.
Dan tepat saat mereka berkumpul dirumah Raffi, beberapa polisi menggerebek rumah tersebut, baik Raffi, Banu, Hera, maupun Rafael berusaha untuk memberontak, namun sia-sia, usaha mereka gagal, karena tangannya sudah di borgol rapat oleh polisi yang menangkap mereka masing-masing.
"Apa-apaan ini pak, kami salah apa, saya yakin kalian pasti salah tangkap orang!" protes Raffi tak terima.
"Diam!"
Keempat orang itu diseret paksa, untuk memasuki mobil, setelah melakukan beberapa kali pemberontakan.
3 hari setelah mereka di masukan kedalam sel tahanan, Kakek Firman pun datang untuk menjenguk keempat orang jahat yang sebetulnya sampai saat ini masih sangat ia sayangi, seperti anaknya sendiri itu.
"Tuan Raffi, ada yang ingin bertemu dengan Anda!" ujar seorang polisi, sembari membuka gembok yang mengunci kuat pintu besi tersebut, lalu mengantar Raffi menuju ruang kunjungan.
Raffi yang semula lemas, kini tubuhnya mendadak kaku, dengan mata yang melotot sempurna, saat kedua matanya bersitatap dengan seorang laki-laki tua, yang terlihat segar dan gagah, sangat jauh berbeda, ketika ia masih melihatnya, disebuah rumah dikampung mati, tepatnya 3bulan yang lalu.
"A-ayah!" ucapnya dengan suara tercekat.
"Raffi, bagaimana kabarmu?" Kakek Firman yang semula dudukpun beranjak untuk menyapa nya.
"A-ayah, tolong keluarkan kami dari sini, saya minta maaf_"
"Maaf Raffi, kali ini ayah tidak bisa mengabulkan keinginan kamu dan juga yang lainnya, karena kesalahan kalian kali ini terlalu fatal, dan membuat semuanya menderita sekaligus tersiksa, sekarang sudah saatnya kalian merasakan apa yang kami rasakan selama ini, dan soal istri dan anakmu, kamu tidak perlu khawatir, karena ayah akan bertanggung jawab pada mereka semua, termasuk biaya hidupnya."
"Ayah permisi!" lanjutnya, tanpa menunggu jawaban dari Raffi, yang masih terbengong-bengong di tempatnya.
Dan beberapa minggu kemudian, hakim telah memutuskan bahwa mereka akan mendapatkan hukuman penjara dengan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
**************
"Kita udah lulus kan?" ucap Arthur, dengan tangan yang memegangi sisi wajah Dara.
"Iya."
"Nikah yuk!"
Dara mengerjap gugup, akhirnya ajakan Arthur untuk yang kesekian kalinya pun keluar dari bibirnya, dan saat ini ia tak bisa lari lagi, atau sekedar mengalihkan nya.
"Gimana, mau ya?" pintanya dengan sorot mata yang terlihat sangat memohon.
"Ar?" Dara menuntun tangan Arthur, dari sisi wajahnya, yang kemudian ia genggam.
"Ada yang ingin aku kasih tahu dulu ke kamu,"
"Apa?"
"Tapi sebelumnya aku minta maaf Ar, karena udah nyembunyiin hal ini dari kamu sejak lama." ujar Dara dengan mata Berkaca-kaca, ini sudah waktunya ia harus jujur pada Arthur tentang keberadaan keluarganya, dan ia sudah siap jika laki-laki itu akan marah ataupun membencinya.
"S-selama ini kakek kamu ada dirumah aku Ar!"
Deg!
"Aku nemuin dia, 4 bulan yang lalu di kampung mati, dalam keadaan terkurung sendirian."
Deg!
"Orang tua kamu juga masih hidup Ar, dan hari ini mereka datang untuk menemui kamu!"
Deg!
Arthur tersenyum kecut, "Kamu pasti bercanda kan sayang, iya kan?"
__ADS_1
"Aku serius Ar!" balas Dara, bahkan kedua pipinya kini telah basah dengan linangan air mata.
Seketika Arthur menarik tangannya dari genggaman Dara, memalingkan wajah, dengan perasaan yang tak menentu.
"Aku minta maaf Ar,!" Dara berusaha meraih kembali tangan Arthur, namun di tepisnya.
"Ak_"
"Arthur?" suara seseorang yang berada dibelakangnya, menghentikan ucapan Arthur, sekaligus membuatnya berbalik menatap kearah pemilik suara.
deg!
Arthur menatap 4 orang dihadapannya, dengan tatapan tak percaya, ia menggeleng-gelengkan kepala, dan mengusap wajahnya kasar, untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat, dan tidak sedang bermimpi.
Kakek Firman, nenek Tiwi, dan kedua orang tuanya berdiri dihadapannya sambil tersenyum, menyambut kehadiran nya penuh suka cita.
"Arthur,?" Nia selaku ibu Arthur tak kuasa menahan air matanya agar tidak keluar, gegas ia berhambur memeluk putra Satu-satunya itu dengan kerinduan yang telah menggunung sejak lama.
"Mama Sangat merindukan kamu nak!" ujar Nia memeluknya erat, sambil menangis terisak-isak.
Sedangkan Arthur hanya diam dengan tubuh membeku, bahkan ia mengunci mulutnya Rapat-rapat.
"Nak," Nia mengendurkan pelukannya menangkup wajah Arthur yang datar tanpa ekpresi.
Kemudian kakek Firman, Gibran, maupun nenek Tiwi ikut menghampiri dan memeluknya.
Sementara itu Dara gegas pergi mencari kedua orang tuanya yang juga datang menghadiri acara perpisahannya disekolah, karena hari ini merupakan hari kelulusan Dara dan juga Arthur.
"Nak, ini mama kamu nggak kangen sama mama?" Nia tak berhenti menangis dipelukan putranya itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" ucap Arthur kemudian, ia tak ingin terlihat lemah, namun nyatanya air bening yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, balas memeluk erat mamanya, wanita yang sudah ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya.
"Acaranya sudah selesai kan, ayo kita pulang, kita bicarakan dirumah saja." ucap tante Anna, yang baru saja datang dari belakang panggung, sejak pagi tante Anna memang sudah berada disekolah untuk mendampingi Arthur.
__ADS_1
.....
Setelah mendengar semua yang diceritakan kakek Firman, tangis Arthurpun semakin pecah, karena tak menyangka bahwa selama ini Om dan tantenya adalah dalang dibalik semua kejadian yang menimpa keluarganya.