Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Sakit


__ADS_3

Dara turun dari motornya, lalu menghampiri laki-laki tersebut.


"Lo kenapa?"


Namun belum sempat menjawab, laki-laki itu pun tergeletak pingsan.


Hal yang terakhir ia lihat adalah, bayangan seorang gadis menyentuh pundaknya.


..


"Kok gue bisa ada dirumah tan?" ucapnya, ketika hendak menyantap sarapannya pagi ini.


"Kamu nggak inget?"


"Kalau gue inget, nggak mungkin kan gue nanya!" ketusnya.


Tante Anna terkekeh, keponakan tampannya itu, memang limited edition banget, batinnya.


Karena, Selain susah diatur, dia juga kasar, ceplas-ceplos, dan susah diajak bercanda.


"Tante sih nggak tahu ya, gimana ceritanya, kamu sampai pingsan di pinggir jalan, tapi yang pasti semalem tuh, kamu nelpon tante, tapi bukan kamu yang ngomong."


"Dia nanya, kalau tante kenal apa enggak sama kamu, terus tante jawab, kamu keponakan tante."


"Terus?" ucap Arthur dengan alis bertaut.


"Ya terus dia bilang kamu pingsan, dan nyuruh tante buat datang ke alamat itu."


"Tante ketemu orangnya nggak?"


Tante Anna menggeleng, "Nggak."


Sedangkan Arthur kini terdiam, menerka-nerka siapa gadis yang sudah menolongnya.


"Minggu besok, kamu nggak kemana-mana kan thur? "


"Gue sibuk!"


"Alahhh kamu, sibuk apaan, kelayapan, mabuk-mabukan, apa pacaran?" sergah tante Anna, menyebutkan semua kebiasaan Arthur.


"Ada yang kurang tuh!"


"Oh, ada yang kelewat?" kekeh tante Anna.


"Basket, Berantem, modusin cewek-cewek, dugem, taruhan." ucapnya tanpa menoleh kearah sang tante.


"Yaampun, makasih lo Ar, udah di kasih tahu." tante Anna kembali terkekeh.


"Sama-sama." balasnya acuh.


Hening, sejenak..


"Ar?" tante Anna kembali membuka suara.


"Hmmm!"


"Bisa nggak sih, kamu kurangin main-main kamu itu, dan belajar mengurus perusahaan."


"Nggak bisa!" potongnya cepat, sembari beranjak dari duduknya.


"Lho lho, mau kemana?"


"kamar!"


"Tante belum selesai ngomong, Arthur?" teriaknya.


"Bodo!"


..


Disekolah...


Di bangku sebelah kiri Dara, terasa sangat sepi, karena hari ini Arthur tidak masuk sekolah.

__ADS_1


Menurut informasi dari ketiga sahabatnya, Arthur sedang sakit, hal yang justru menjadi bahan ejekan sahabatnya, pasalnya selama ini Arthur sama sekali tidak mengenal rasa sakit.


"Woyy, ayang gue kemana sih, kok hari ini nggak masuk, lo semua pasti tahu kan alasannya kenapa?" tanya Monica, pada Ardi, Damian dan Seno.


"Sakit!" balas Seno singkat.


"What? pangeran gue sakit, kok elo nggak ada yang ngasih tahu gue sih?" pekiknya.


"Ini udah dikasih tahu!" timpal Damian malas.


"Harusnya dari tadi." bentaknya.


"Yeee siapa elo, lagi elo juga kagak nanya." sergah Seno, berurusan dengan Monica, memang selalu membuat mereka mendadak emosi.


"Sialan lo bertiga!" ia pun lalu pergi meninggalkan ketiganya.


"Dasar ular berkepala tiga!" gerutu Seno.


"Emang ada?" ujar Ardi polos.


Seno mendesis, diantara mereka bertiga, memang Ardi lah, yang paling telat berpikir. "Yang barusan sih!"


Sedangkan Ardi, menggaruk kepalanya sembari berpikir berulang-ulang, membuat Seno dan Damian gemas, dan menoyor kepalanya.


"Pikirin sampai lulus!" ujar mereka, lalu bangkit dari duduknya, meninggalkan Ardi yang masih berpikir dalam, mengenai ular berkepala tiga.


..


Didalam kamarnya, Arthur kembali merebahkan diri, dengan posisi kedua tangannya yang dilipat sebagai bantal, mendongak menatap langit-langit kamar, dengan pikiran yang melanglang buana.


Sebersit bayangan seorang gadis menghampirinya tadi malam, tiba-tiba melintas dalam pikirannya.


Membuat ia penasaran, siapa sebenarnya gadis dalam bayangannya itu?


Hingga suara getar yang berasal dari ponselnya, membuyarkan lamunan panjangnya.


"Hallo?" ucapnya, setelah panggilan tersambung.


"Gue meluncur kerumah!"


Ck!


Arthur berdecak, "Dasar Damian kunyuk!" umpatnya, melempar sembarang ponselnya ke atas kasur.


15 menit berlalu, 3 sahabatnya datang menerobos kamarnya tanpa ijin, atau mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Wahhh, wahhh, ternyata yang di bilang tante Anna bener juga ya, kalau lo lagi sakit!"


Damian mencolek pipinya yang penuh lebam.


"Sakit, Anjir!" menepis kasar tangan Damian.


"Sorry Thur, gue kagak tahu lo dapet musibah begini," ujar Ardi, yang memang kemarin tidak ikut gabung dengan sahabatnya.


"Gila, kagak nyangka juga ya, luka lo bakal parah begini?" Seno ikut mencolek pipinya.


"Bang sad, Sekali lagi tangan lo nyentuh muka gue, gue patahin!"


"Ihhh sereemm," ucap Seno tanpa rasa takut.


Arthur mendengus, "Ngapain sih lo pada kesini, ganggu istirahat gue aja tahu nggak."


"Elaahh, lagi sakit aja lo masih galak, kita kesini tuh punya niat baik, mau jengukin elo, nih gue bawain rokok buat elo!" Seno mengeluarkan 2 bungkus rokok dari saku celananya.


Yang kemudian mendapat toyoran dari Damian.


"Dimana-mana, orang sakit itu dibawain buah, bukan dibawain rokok, dasar oneng lo!"


Seno meringis, "Ah iya gitu, sorry deh Thur, kapan-kapan gue bawain buah deh, elo mau gue bawain buah apa? melon, semangka, durian apa kelapa?"


"Dia kagak suka buah begituan Sen." timpal Damian.


"Terus?"

__ADS_1


"Buah D*da." balas Damian sambil tergelak.


"Otak lo perlu dicuci deh kayaknya Dam, gue khawatir isinya kotoran semua!" ujar Seno sembari melempar bungkusan Rokok, tepat mengenai wajahnya.


"Gampanglah kapan-kapan gue cuci!" ia kembali tergelak sendiri.


"Eh, ngomong-ngomong lo besok masuk kan Thur?"


"Besok hari minggu kunyuk!" lagi-lagi Damian menimpali ucapannya.


"Iya gitu, rajin banget berarti gue ya?" Seno terkekeh.


...


Malam harinya, Arthur tiba-tiba teringat pada sosok cantik Adara, dengan sigap ia pun mengambil ponselnya, lalu menghubungi Dara.


Berulang kali ia menghubunginya, namun tak kunjung tersambung, membuat Arthur pada akhirnya memutuskan untuk datang kerumahnya.


Dara yang saat itu baru selesai makan malam, diberi tahu sesuatu oleh mang Adang, security yang berjaga didepan rumahnya.


"Apa mang?" ucapnya, terlonjak tak percaya.


"Betul non,"


"Terus sekarang dia dimana mang?"


"Ada non, didepan!"


"Suruh pulang aja deh mang."


"Tapi non,"


"Mamang."


"Begini non, si aden nya bilang, nggak bakal pulang, kalau belum ketemu sama non."


Dara mendesis tak percaya, "Yaudah deh!" akhirnya ia pun berjalan kedepan menemui Arthur.


Dara melangkah cepat, dengan perasaan kesalnya.


"Ngapain sih lo, malam-malam kerumah gue?" ucap Dara to the point.


"Emang nggak boleh?"


"Iya, nggak boleh."


"Masih sore lho ini, baru juga jam 8." Arthur memperlihatkan jam dipergelangan tangannya.


"Menurut lo masih sore, menurut gue udah malem."


Arthur tersenyum, "Salah sendiri telpon gue kagak di angkat-angkat. "


"Gue sibuk, tahu nggak sih!"


"Nggak!"


Ck!


"Kenapa sih lo, kalau ketemu gue bawaannya ngambek mulu, salah gue apa coba?"


"Lo mau tahu kesalahan lo apa?"


"Apa emang?"


"Karena lo playboy, gue nggak suka cowok playboy."


Deg..


Arthur terdiam, sembari menatap lekat wajah dara dihadapannya.


"Terus, kalau gue udah nggak playboy, lo bakalan suka sama gue?" ucap Arthur dengan suaranya yang berubah lembut.


.

__ADS_1


.


__ADS_2