
Sepulang dari rumah Dara, Arthur langsung memasuki kamarnya, merebahkan dirinya di atas kasur king size miliknya.
Menatap langit-langit kamar dengan perasaan gundah, saat ini ia merasa sedang mendapatkan karma atas semua perbuatannya di masa lalu.
Benar kata Damian dan seno, semuanya akan berbalik, ketika kita sudah menemukan orang yang tepat.
Ia menghela nafas, merasa sedikit lega, karena setidaknya dia sudah mengantongi restu dari orang tua gadis yang di cintainya.
Karena Sungguh, mendekati orang tua Dara bukanlah hal yang mudah untuk ia raih, tadi saja dia harus melewati beberapa pertanyaan dari papa Arga, layaknya seperti sedang di introgasi.
Papa Arga mengijinkan dirinya mendekati putrinya dengan satu syarat yang membuat dirinya melongo.
"Om ijinkan anak om pacaran denganmu, tapi dengan satu syarat, lamar dia setelah lulus!"
Begitulah yang diucapkan papa Arga, yang sampai saat ini masih ia ingat dengan jelas.
Namun, sebenarnya Arthur sama sekali tidak keberatan, lebih dari itu pun Arthur sanggup melakukannya.
Walaupun saat ini papa Arga memintanya menikahi Dara sekalipun dia akan menyanggupi, ia justru akan dengan sangat senang hati melakukannya.
Didalam lubuk hatinya yang dalam, ia merasa sangat kesepian, hidup dalam kesendirian selama bertahun-tahun membuatnya merasa kosong dan tak tentu arah.
Dan untuk soal menafkahi, itu bukan masalah besar, dia sudah memikirkannya baik-baik, harta peninggalan orang tuanya sangat banyak dan berlimpah, ia hanya tinggal meneruskan untuk mengelolanya saja.
Drrtt... drrtt..
Sebuah pesan chat masuk, mengembalikan kesadaran Arthur dari lamunan panjangnya.
Ia berbinar senang, ketika mengetahui siapa yang telah mengiriminya pesan.
pujaan hati: (Ar, besok sibuk nggak?)
"Nggak sama sekali, kenapa emangnya?"
Pujaan hati: (Anterin gue ke toko kue, yang berada di dekat gang kampung mati, bisa?)
"Bisa banget, apa sih yang nggak buat kamu."
Pujaan: (ok, gue kabarin lagi besok)
"Ok sayang!"
Arthur meletakan kembali ponselnya diatas nakas, ngomong-ngomong soal kampung mati, mengingatkan kembali ia pada kejadian seminggu yang lalu, saat ia tak sengaja mengikuti sepupunya memasuki wilayah tersebut.
Dan sampai saat ini ia belum kembali ketempat itu, untuk menyelidiki sesuatu yang menurutnya ganjil.
..
Keesokan harinya, Arthur benar-benar menepati janjinya, menjemput Dara kerumahnya, meski Dara belum menghubunginya lagi, ia tetap berangkat kesana, menunggunya di depan rumah Dara.
Dara yang baru selesai mandi, diberi tahu bi Ijah asisten rumah tangganya, bahwa ada seseorang pemuda tampan yang sedang menunggunya didepan.
Ia pun bergegas menemui laki-laki yang disebutkan oleh bi Ijah tadi.
"Kok udah dateng, semalam kan gue bilang mau hubungin lo lagi kalau udah siap."
__ADS_1
Bukannya menjawab, Arthur justru malah terbengong dengan penampilan Dara hari ini, yang terlihat berbeda dari biasanya.
Dara berdecak. "Ar, lo denger nggak sih?"
"Eh, iya sorry-sorry, lo ngomong apa tadi?" ia menggaruk kepalanya kikuk.
"Kok udah dateng, semalam kan gue bilang mau hubungin lo lagi kalau udah siap."
"Gue pikir lebih cepat, akan lebih baik!"
"Elo udah sarapan?"
Arthur menggeleng.
Tanpa bertanya lagi, Dara segera menarik tangan Arthur untuk memasuki rumahnya, dan menyeretnya menuju meja makan.
"Duduk!" titahnya.
"Gue nggak tahu, lo suka sarapan apa, tapi disini adanya nasi goreng, nih cobain." ucapnya, mengangsurkan sepiring nasi goreng kehadapan Arthur.
Arthur terdiam dengan perasaan menghangat, ini adalah bentuk perhatian pertama dari seorang Dara padanya.
"Ihs, malah bengong lagi!" desis Dara.
"Ok, gue makan ya." ia pun mulai memakan makananan nya dengan lahap, dan gantian Dara, yang kini terbengong melihatnya.
Menyadari Dara tak kunjung makan, Arthur pun kini menatapnya, "Kok nggak dimakan, mau gue suapin?"
"Eh." Dara pun segera memakan makanannya sembari menundukan wajahnya.
"Kok dirumah sepi, pada kemana?" ucap Arthur ketika keduanya keluar rumah, dan hendak menaiki motor Arthur.
"Mama papa, sama Darren main ke rumah tante Rita, temen mama yang ada di Bogor, sekalian nginep dirumah om Dahlan katanya,"
"Berapa hari?"
"Mungkin 2 hari, karena Darren harus sekolah."
"Jadi, lo sendirian dirumah?"
Dara mengangguk.
"Entar malam mau gue temenin nggak?" godanya.
"Nggak, makasih!"
..
Sebelum mengantarkan Dara ketempat yang dimaksudnya, Arthur kini membawanya memasuki sebuah Cafe yang bernuansa kontemporer, yang letaknya tidak jauh dari lokasi tempat Dara akan membeli kue.
Kini keduanya duduk diluar, yang mengarah pada pemandangan kebun bunga matahari yang sedang bermekaran.
"Disini suasananya keren banget ya!" ujar Dara yang terlihat berbinar.
"Lo suka?"
__ADS_1
"Suka banget!"
Arthur tersenyum mendengarnya, baru kali ini ia merasa sangat bahagia hanya dengan duduk berdua dengan seorang gadis dihadapannya.
Padahal sebelumnya ia bisa menggandeng 4-5 perempuan dalam satu waktu, namun rasanya tidak se sepesial sekarang.
Dara sudah banyak merubah hidupnya, menjadi lebih berwarna, dan membuatnya memiliki alasan untuk memiliki tujuan hidup yang pasti.
"Ar?"
"Hmm.." Arthur mengangkat wajahnya, setelah menyeruput hot Cappucino yang diantar pelayan Cafe beberapa menit yang lalu.
"Elo pernah denger nggak sih Ar, ceeita soal kampung mati?"
Arthur berpikir sejenak, "pernah sih."
"Lo tahu alasan para warga disana ninggalin kampungnya?"
"Gue nggak tahu pasti sih, tapi menurut cerita warga sekitar, disana tuh terjadi banyak pembunuhan yang dilakukan orang bertopeng, dan terjadi ketika malam hari, tapi pinternya, makhluk itu selalu tahu kapan waktu yang tepat buat beraksi."
"Kok aneh sih, serem juga ya!" Dara bergidik ngeri.
"Emang nggak ada yang lapor polisi gitu?"
"Pernah ada, tapi pagi harinya orang itu mati dalam keadaan mengenaskan."
"Kan bisa di visum, atau di autopsi gitu, biar jelas!"
"Entahlah Ra," Arthur menggidikan bahu acuh.
"Jadi sampai sekarang, semuanya masih jadi misteri gitu, belum ada yang bisa ngungkap siapa sebenarnya dalang pembunuhan itu?"
"Keknya nggak ada yang berani, mungkin mereka terlalu takut, orang yang meliput kejadian itu juga nggak ada, gue juga nggak tahu alasannya kenapa, yang jelas kasus itu ditutup, tanpa tahu kejelasan yang pasti."
"Aneh nggak sih?"
"Entahlah Ra!"
Dara merinding mendengarnya, meski tidak tahu yang dikatakan Arthur ada benarnya atau tidak, tapi ia benar-benar penasaran, pasalnya ia selalu bertanya pada sang papa, tapi ia selalu bilang, tidak usah membahas hal yang tidak berhubungan dengannya.
Membuat Dara pada akhirnya, berhenti untuk bertanya.
"Jadi ke toko kue kan?" ucap Arthur mengalihkan pembicaraan yang tidak mengenakan tersebut.
"Iya jadi."
"Ayo sekarang aja, keburu panas, gue kasihan tar lo kepanasan." Arthur menarik tangannya setelah membayar minumannya dan Dara.
Dara pun hanya menurut, menaiki motor Arthur dan berhenti di sebuah toko kue yang dimaksudnya.
Lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Puspa, yang hari ini sedang berulang tahun.
.
.
__ADS_1