Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Merahasiakan


__ADS_3

Papa Arga mengangguk-angguk mengerti, dengan apa yang diceritakan oleh Gibran.


"Lalu, apa kamu tahu tentang keberadaan pak Firman Gib, Arthur bilang beliau menghilang sejak 5 tahun yang lalu."


"Iya Ga, Anna dan anak buahku sedang mencarinya, tapi sampai sekarang belum mendapat titik terangnya." jelas Gibran.


"Ga, aku titip Arthur anakku, aku percaya kau bisa menjaganya dengan baik, selama ini aku mengirim beberapa pengawal agar selalu mengikuti kemanapun dia pergi, tapi sepertinya Arthur mulai menyadari keberadaan mereka."


"Kamu tenang saja Gib, aku akan menjaga calon mantuku dengan baik." ucap papa Arga sambil terkekeh.


"Ah benarkah kita akan jadi satu keluarga, sulit di percaya!" balas Gibran ikut terkekeh.


"Soal perusahaanmu yang di Jakarta timur, bagaimana?"


Gibran menghela nafas, "Mereka sudah mengambilnya Ga,"


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


"Aku akan Membiarkan dulu mereka Melakukan apapun Yang mereka inginkan, sampai aku benar-benar menyelesaikan misiku sendiri."


"Dan tolong jangan beritahu dulu Arthur tentang keberadaan ku, ini belum saatnya Ga."


"Ok, lalu bagaimana dengan Keadaan istri Dan ibumu sekarang?"


"Baik, mereka semua dalam Keadaan baik, Dan berada di tempat yang aman tentunya."


"Jangan sungkan jika membutuhkan bantuanku Gib." menepuk pelan bahu sahabatnya.


"Tentu saja."


Setelah obrolan keduanya berakhir, masing-masing diantara mereka pun memutuskan untuk pulang.


..


"Arthur Dara, kemasi baju Kalian, besok kita akan kembali ke Indonesia." ujar papa Arga sembari mengemasi beberapa berkas ke dalam tas kerjanya, yang berserakan diatas meja sofa.


"Lho kok pulang, baru juga 2 hari pa?" sahut mama Sinta yang baru saja muncul dari belakang.


"Sepertinya penyelidikan papa sudah selesai, lagi pula papa Ada kepentingan mendadak di perusahaan papa yang berada di Jakarta."


"Dan Arthur, kamu jangan khawatir soal perusahaan itu, semuanya masih aman, Dan kamu tahu, perusahaan itu sudah di wasiatkan ayahmu untuk berganti nama pemilik sebelum dia pergi."


"Semuanya atas nama kamu, kamu mulai bisa mengelolanya setelah kamu berumur 20 tahun." jelas papa Arga.


"Tapi om,"


"Sudah, makan siang lah dulu bareng Dara, soal itu kita bisa bahas nanti setelah pulang ke Jakarta."


"Baik om!"


"Dara, siapin makan gih buat Arthur."


"Kok Dara sih pa?"


"Terus siapa, papa?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Yaudah iya, ayo Ar!" dengan wajah sedikit di tekuk, Dara menarik tangan Arthur agar mengikutinya kearah dapur.


Sedangkan papa Arga Dan mama Sinta, hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu.


...

__ADS_1


"Pa,?" ucap Dara Menghampiri sang papa yang duduk termenung ditaman Belakang rumahnya.


Setelah kepulangan mereka dari singapura 3 jam yang lalu, papa Arga lebih banyak diam Dan melamun, padahal kemarin ia bilang, bahwa hari ini papa akan kekantor untuk menyelesaikan pekerjaan nya yang sudah menumpuk, terlebih Ada hal mendadak lainnya yang juga harus ia kerjakan.


"Dara perhatiin papa ngelamun terus dari tadi, kenapa sih pa, papa Ada masalah?"


Papa Arga menoleh sambil tersenyum, menepuk sebelah kursinya agar Dara duduk Disampingnya.


Papa Arga mengelus rambut Dara penuh kasih sayang.


"Kamu mau denger cerita papa nak?"


"Tentu saja."


"Tapi, papa harap Dara tidak menceritakannya pada siapapun termasuk Arthur."


"Arthur?"


Papa Arga mengangguk, "Ini semua tentang Arthur dan keluargnya Ra."


"Papa tahu sesuatu?"


Papa Arga mengangguk, "Dara inget om Mahesa yang di ceritain Dara kemarin?"


"Iya, Dara inget pa!"


"Dia papanya Arthur sayang."


"A-apa, papa serius?" pekik Dara.


"J-jadi selama ini_"


"Selama ini mereka ada disingapura nak, ada banyak hal yang harus mereka lakukan untuk mengungkap kejahatan dari saudaranya."


"Dengar papa nak, terkadang orang yang paling dekat dengan kita, justru dialah yang akan menusuk kita dari belakang."


"Ya sudah ayo kedalem, kebanyakan ngelamun malah bikin papa laper." ucap papa Arga sambil terkekeh.


"Lagian!"


..


"Ra, ada Arthur tuh didepan, samperin gih, katanya mau ngajakin kamu jalan." seru mama Sinta Menghampiri kamar anak gadisnya tersebut.


"Yaudah ma, bentar lagi Dara kesana."


"Jangan lama-lama."


"Iya."


..


"Kok nggak bilang sih kalau mau kesini?"


"Surprise dong!"


"Dih, surprise apaan coba?"


"Yaudah nggak jadi surprise deh, udah siap kan, Ayo berangkat, tadi aku udah minta izin kok sama mama papa kamu."


"Yaudah."

__ADS_1


Sore ini Arthur sengaja membawa mobil, karena di luar udaranya cukup dingin, akibat gerimis kecil turun satu jam yang lalu.


"Kita mau kemana?" tanya Arthur ketika kini keduanya sudah sampai di jalan raya.


"Kamu yang ngajakin malah nanya aku sih."


"Yaudah kita ke mall aja ya, selama ini kan aku belum beliin kamu barang apapun yang!"


"Males ah ke mall, bosen tahu nggak sih, hampir tiap minggu aku kesana sama si Puspa."


"Terus kemana dong?"


"Dirumah ada tante Anna nggak?" tanyanya antusias.


"Tadi pagi ada sih, tapi nggak tahu kalau sekarang."


"Yaudah kesana aja deh, aku kangen sama tante Anna."


"Baiklah tuan putri."


..


Sesampainya dirumah Arthur segera memarkirkan mobilnya, lalu membawa Dara untuk masuk ke dalam.


"Tante Anna ada bi?" ujar Arthur ketika berpapasan dengan Asisten rumah tangganya.


"Bu Anna belum pulang den, tadi dia bilang mau kekantor."


"Oh ok deh bi."


"Gimana yang, tante Anna nya nggak ada?"


"Ya mau gimana lagi udah sampai sini."


"Yaudah kita keatas aja yuk!" tanpa menunggu persutujuan dari Dara, Arthur segera menarik tangannya untuk menaiki anak tangga.


Arthur menutup pintu lalu menguncinya, mendorong pelan tubuh Dara Dan memepetkannya di dinding, sebelah tangan Kirinya memegangi pinggang Dara, sedangkan sebelah tangan kanannya memegangi tengkuk gadis tersebut.


Memiringkan wajah, lalu mempertemukan bibir nya dengan bibir kekasihnya, mengecup, kemudian Mel umatnya dengan lembut Dan menuntut, sedangkan Dara mencengkram erat kemeja milik Arthur.


Sadar gairahnya semakin tak terbendung, Arthur pun segera mendorong tubuh Dara agar menjauh.


Jika tidak, Ia khawatir akan merusak kehormatan gadisnya.


..


Setelah mengatur perasaan nya yang di penuhi kabut gairah, Arthur pun segera menyambar kunci mobil yang tadi dilemparnya diatas kasur.


Menarik pelan tangan Dara dan membawanya keluar, karena jika terus-terusan hanya berduaan di dalam rumah, ia khawatir khilaf batinnya.


Arthur menoleh ke arah Dara, dan menghentikan mobilnya di bahu jalan.


"Sayang, aku minta maaf, aku sama sekali nggak bermaksud kurang ajar tadi." ujar Arthur membuka percakapan, ketika menyadari gadisnya sejak tadi hanya diam dan menunduk.


"Kamu marah yang?" Arthur mengangkat dagu Dara, agar balas menatap nya.


"Kamu mau aku marah?" Dara balik bertanya.


Arthur menggeleng, "Mana ada begitu, aku cuma khawatir kamu marah, dan menganggap aku ini berengsek, yang!"


"Emang iya kan?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2