Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Penasaran


__ADS_3

Setelah selesai makan, papa Arga membawa Arthur menuju ruang tamu, untuk melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda tadi.


"Boleh om tanya sesuatu Ar, tapi om minta maaf sebelumnya, om sama sekali bukan mau mencampuri urusan kamu dan keluarga kamu."


"Hanya saja, ada sesuatu yang harus diluruskan disini." lanjut papa Arga dengan nada serius.


"Apa itu om?"


"Bagai mana hubungan dengan om dan tante kamu sekarang?"


"Kurang baik om!" balasnya dengan suara lirih.


"Hanya tante Anna yang selalu ada disamping saya, dari sejak kepergian orang tua saya dulu, hingga sekarang."


"Begini Ar, sebetulnya 3 bulan yang lalu om habis mengunjungi perusahaan om yang juga ada disingapura, om juga sempat melewati gedung perusahaan milik ayahmu, dan om lihat suasananya masih sama seperti dulu."


"Minggu depan ada libur sekolah setelah semester, selama satu minggu, mungkin om akan kesana lagi, menyelidiki keamanan disana, sekalian bawa tante Sinta, dan juga Darren, adiknya Dara."


Arthur diam, mendengarkan.


"Soal Dara, mungkin om akan titipkan lagi ke kamu, atau dengan tante mu, karena om yakin, Dara tidak akan ikut, dia itu tidak seperti gadis biasanya, yang suka jalan-jalan atau berlibur jauh."


Arthur mengangguk-angguk mengerti.


Setelah membicarakan hal yang bagi Arthur terasa menegangkan, ia pun pamit untuk pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul 22:31malam.


"Berhati-hatilah dengan orang yang berada di sekelilingmu Ar, karena bisa jadi mereka adalah musuh yang tak terlihat." papa Arga menepuk pundaknya pelan.


"B-baik om!"


"Ra, anterin Arthur gih kedepan." ucap papa, Dara yang tengah asik menonton tv pun langsung beranjak, dan berjalan mendahului Arthur.


"Gue pulang ya, jangan lupa mimpi indah, kalau bisa mimpiin gue." ucap Arthur sembari mengelus kepalanya lembut.


"Apaan sih?" balas Dara, namun detik kemudian ia pun tersenyum.


"Nah gitu dong, senyum! kan jadi tambah cantik, tambah sayang juga gue nya." lanjut Arthur mengulum senyum.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut kasian motornya!"


Arthur berdecak, "Kok malah kasian ke motornya sih, ke gue nggak?"


"Nggak,"


"Eish, yakin minta di cium keknya ini." Arthur hendak mendekati tubuh Dara, namun tertahan dengan ucapan Dara selanjutnya.


"Ihs buruan sana pulang, mau ketahuan papa, terus lo di omelin, dapet kepercayaan dari papa itu susah lho, langka banget malah!"

__ADS_1


"Iya deh gue pulang, baik-baik ya." Arthur kembali mengusap kepalanya, yang menciptakan perasaan asing dan menghangat bagi Dara.


Arthur menaiki motornya, meninggalkan pekarangan rumah Dara, sedangkan Dara ia masih berdiri ditempat semulanya, meski Arthur sudah menghilang di balik pandangannya.


Ada rasa kasihan yang mendalam pada Arthur, rupanya laki-laki sedingin dan se Playboy Arthur memiliki kehidupan keluarga yang rumit, yang tentunya ridak semua orang banyak yang tahu.


..


Pukul 1:15 malam, Dara terbangun dengan nafas ngos-ngosan, bahkan keringat sebesar biji jagung mengucur di dahinya, meski Ac didalam kamarnya menyala dengan level dingin yang tinggi.


"Rupanya ini cuma mimpi." gumamnya, sembari mengelap dan mengusap wajahnya yang penuh keringat, tidak pernah sebelumnya ia bermimpi semenakutkan ini.


Ia menghela nafas, lalu meneguk air yang selalu ia siapkan di atas nakas hingga tersisa setengah, dan kini perasaannya terasa sedikit lega.


..


"Ra, pulang sekolah gue jemput ya!" Ucap Athur, ketika mereka berpapasan di jam istirahat.


"Gue kan di jemput mang Rahmat Ar!"


"Bilang aja hari ini nggak usah jemput gitu, please mau ya." pintanya dengan nada memohon.


"Yaudah deh."


"Aseek, yaudah gue tinggal dulu ya, mau nemuin si trio kunyuk dulu." ucapnya, lalu melenggang pergi.


"Heh, lo anak baru itu kan?" mendorong bahu kanan Dara, membuat sang pemiliknya tersentak kaget.


"Eh, ini ada apa ya, main dorong-dorong gue segala, kayaknya kita nggak pernah ada masalah deh sebelumnya." tantang Dara tak terima.


"Kaya gini nih, muka-muka pelakor yang di buat-buat sok polos, munafik, najis banget!" gadis yang tak lain adalah Monica itu menunjuk-nunjuk wajah Dara menggunakan telunjuk cantiknya.


"Eh tunggu, maksud lo apaan sih gue nggak ngerti ya, salah gue dimana, gila kali lo ya?"


"Apa lo bilang gue gila, lo nantangin gue, lo nggak tahu siapa gue?"


"Denger ya, gue nggak kenal siapa lo, dan lagi gue nggak pernah ada urusannya sama elo, jadi minggir, gue mau lewat!" bentak Dara dengan keberaniannya yang tinggi, lalu menerobos melewati Monica yang berada ditengah-tengah kedua sahabatnya.


"Gila, itu cewek berani juga ya, padahal selama ini kan semua cewek disini pada takut sama lo Mon, secara lo itu queen nya sekolah ini, wah ini sih nggak bisa di biarin, secepatnya lo kasih pelajaran sama tuh cewek." ucap Devi memprovokasi.


"Bener Mon, masa lo kalah sama tuh cewek, payah!" timpal sandra.


"Lihat aja nanti, apa yang bakalan gue lakuin sama cewek sok itu, tunggu aja!" ucap Monica, dengan rahang mengeras.


...


Bel sekolah kembali berbunyi, menandakan bahwa waktu belajar sudah habis, seluruh murid berhamburan menuju gerbang, untuk menghampiri jemputannya masing-masing.

__ADS_1


Dan banyak juga di antara mereka yang berhamburan menuju area parkir, untuk mengambil kendaraannya.


"Helmnya tuan Putri." Arthur menyerahkan helm cadangannya pada Dara, ketika mereka sudah bertemu di depan pintu gerbang sekolah.


"Makasih!" balas Dara singkat.


"Mau langsung pulang apa mampir dulu?"


"Kemana?"


"Terserah, kemanapun gue anterin!"


Dara menimbang-nimbang tawaran Arthur, lalu tiba-tiba sebuah ide melintas dalam pikirannya.


"Gue mau ke Cafe yang waktu itu boleh?"


"Ok, dengan senang hati."


..


Arthur memperhatikan Dara yang hanya mengaduk-ngaduk jusnya seperti tidak berniat untuk meminumnya.


Sedari tadi Dara juga lebih banyak diam, membuat Arthur merasa bingung sendiri.


"Ra, kenapa sih dari tadi kok diem aja, lo juga nggak minum jus nya, apa mau diganti yang lain?"


Dara menggeleng, "Nggak usah Ar, lo tahu nggak sih gue cuma lagi mikir, gimana caranya ya, masuk ke kampung mati, tanpa harus merasa takut."


"Lo penasaran nggak sih, sama kampung mati.?" lanjutnya dengan tatapan lesu.


"Yaampun Ra, jadi dari tadi lo mikirin itu?" tanyanya tepat sasaran.


"Abisnya gue penasaran, gimana dong?"


"Jangan coba-coba buat kesana Ra, itu tempat berbahaya." ucap Arthur lembut, berharap Dara berhenti untuk terus memikirkan hal tersebut.


Dara mengangguk mengiyakan, tapi tidak dengan hatinya.


Merasa jenuh, Dara pun segera meminta Arthur untuk mengantarnya pulang.


Setelah motor Arthur berlalu, Dara pun kembali memesan Taxi online untuk mengantarnya pada suatu tempat, yang akhir-akhir ini membuatnya penasaran.


.


.


Hallo Readers tercinta, 😘😘😘 terimakasih bagi kalian yang sudah mengikuti karya Author yang satu ini, jangan lupa, like, komen, dan vote nya ya! terimakasih😊☺

__ADS_1


__ADS_2