Playboy Jatuh Cinta

Playboy Jatuh Cinta
Bukti awal


__ADS_3

"Pegangan yang kuat Ra." ucap Arthur, ketika ia hendak melajukan motornya.


"Nggak mau."


"Ra."


"Bawel, jadi jalan nggak sih?"


Arthur menghela nafas, sebelum kemudian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Awww!" pekik Dara kaget, yang repleks memeluk tubuh Arthur erat, membuat Arthur tersenyum penuh kemenangan.


"Lo gila ya, bisa pelanin dikit nggak bawa motornya."


teriak Dara, ditengah angin yang berhembus kencang, yang disertai suara berisik yang berasal dari kendaraan disekitarnya.


"Apa?! gue nggak denger." Arthur balas berteriak, dan pura-pura tidak mendengar ucapannya.


"Pelanin bawa motornya."


"Gue nggak denger!"


Dara akhirnya memilih diam, dengan wajah mencebik kesal.


Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, Kini Dara baru menyadari jika jalan yang dilewatinya bukanlah jalan menuju rumahnya.


Bahkan kini Arthur mulai memasuki wilayah yang jumlah rumahnya semakin sedikit.


"Kita mau kemana, ini kan bukan jalan menuju rumah gue?" Suara Dara terdengar gugup, bahkan hatinya sudah mulai merasa tak tenang.


"Emang bukan," jawabnya santai.


"Terus mau kemana, gue mau pulang!"


"Nanti juga lo tahu, bentar doang Ra."


Dan tidak lama kemudian, ia menepikan motornya di sebuah Cafe, lalu mengajak Dara untuk memasuki Cafe tersebut.


"Ngapain sih kesini?" Dara hendak menarik tangannya dari genggaman Arthur.


"Ra please, ikut gue bentar!" Arthur kembali menarik pelan Dara, agar mengikutinya.


"Sayang!" ucap ke 5 perempuan yang duduk melingkar di meja Cafe, dan berdiri menghampiri Arthur.


"Sayang ini_"


Arthur menahan mereka, yang hendak memeluknya.


"Sorry, gue ngumpulin kalian disini, karena gue mau ngomong sesuatu sama kalian, dan sorry kalau keputusan gue ini terlalu mendadak, gue mau kita putus."


"Gue udah nemuin orang yang bener-bener gue sayang, dan berarti dalam hidup gue."


"Sayang, aku nggak mau putus sama kamu."


"Aku juga nggak mau." ucap mereka.


"Sorry gue nggak bisa lanjutin ini, gue yakin suatu hari bakalan ada cowok yang sayang dan cinta sama elo semua."


"Sayang?"


Arthur menoleh kearah Dara, yang terlihat syok, menggenggam tangannya, lalu segera menariknya untuk keluar.

__ADS_1


Diluar, Dara masih terbengong, dengan pikiran yang melanglang buana, bahkan ia tidak mempedulikan ucapan Arthur yang menyuruhnya untuk segera naik keatas motor.


"Ra, heii!" Arthur mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Dara.


"Apaan sih?"


"Elo yang apaan, ngelamun mulu dari tadi."


"Lo kok tega banget sih sama cewek-cewek yang tadi?"


Arthur menoleh, dengan kening berkerut.


"Jadi lo dari tadi bengong karena mikirin mereka, iya?"


Dara mengangguk.


Arthur yang sudah menaiki motornya pun kembali turun, "Lo udah lihat sendiri kan sekarang, kalau gue udah nggak punya pacar, jadi gue mau setelah ini, lo nggak ada alasan lagi buat nolak jalan sama gue!"


"Tapi kan gue nggak minta elo putusin mereka?"


"Anggap aja itu bukti awal keseriusan gue sama lo, ayo naik, gue anterin lo pulang."


Dara menghela nafas, lalu menaiki motor Arthur.


.


"Makasih," ujar Dara, ketika telah sampai dirumahnya.


"Nggak di ajak mampir, atau di tawarin minum dulu gitu?" Arthur tersenyum geli.


"Ehmm, kapan-kapan." balasnya dan beranjak pergi meninggalkan Arthur.


"Gue bakalan terus berusaha buat dapetin hati lo Ra, gimanapun caranya." gumam Arthur, lalu mengenakan helm, dan kembali melajukan motornya.


Di pintu gerbang utama, Arthur memicingkan mata melihat dua mobil mewah yang terparkir cantik dihalaman rumahnya.


Tentu ia tahu siapa pemilik mobil tersebut, karena baginya sudah tidak asing lagi.


"Wah Arthur, akhirnya kamu pulang juga, dari mana aja sih, jam segini baru pulang." om Banu berdiri dari sofa, menghampirinya, lalu menepuk pundaknya pelan.


"Ada perlu apa om kesini?" ucap Arthur tanpa basa-basi, membuat om Banu terkekeh.


"Kamu ini kok kaku banget sih sama om, om kesini tuh pengen tahu keadaan kamu Thur."


Arthur berdecih, entah mengapa dalam hati Arthur, selalu beranggapan bahwa sikap lembut om Banu yang ditujukan padanya hanyalah sebuah kepalsuan belaka.


"Si Rafael udah mulai mahir di perusahaan Thur, bahkan dia udah bisa menangin tender besar kemarin, kamu sendiri kapan mau belajar di perusahaan?"


Arthur mendudukan dirinya disamping tante Anna, menghela nafas, mencoba untuk tidak terpancing dengan semua ucapan om nya tersebut.


"Sorry om, saya belum minat."


"Sayang sekali ya, padahal om rasa kamu udah pantes menduduki jabatan yang seharusnya milik kamu."


"Mungkin Arthur belum siap mas, saya yakin jika sudah waktunya pasti dia mau kok." bela tante Anna.


"Tapi menurut om, harusnya kamu itu lebih berpikir dewasa sekarang, sayang dong warisan orang tua kamu segitu banyaknya tiba-tiba dikuasai orang lain." lanjut om Banu, tanpa mempedulikan ucapan tante Anna.


"Kamu jangan membiarkan seseorang yang kamu percaya, menguasai seluruh kekayaan yang seharusnya jadi milik kamu." Om Banu melirik kearah tante Anna dengan tatapan sinis.


"Maksud om apa ya, aku nggak ngerti."

__ADS_1


"Jangan polos-polos banget makanya Thur, banyakin belajar tuh sama si Rafael, biar pinteran dikit." ucap om Banu sambil beranjak dari duduknya.


"Om nggak bisa lama-lama nih, sibuk banyak kerjaan, pikirin baik-baik ucapan om tadi!" ucapnya, lalu melangkah pergi.


"Dia kayanya sengaja deh, ngomong kaya gitu didepan kamu, pake acara ngebangga-banggain si Rafael segala lagi, emang dia pikir tante nggak tahu apa, tentang semua kebusukan anaknya itu."


"Pake acara nyindir-nyindir tante segala lagi, gila tu orang."


"Udahlah tan biarin aja, ngeladenin orang kek dia itu cuma buang-buang energi tahu nggak."


"Eh tapi, kok tante udah balik sini lagi, nggak ke apartemen.?"


"Tante tuh keingetan terus sama kamu, ya kali aja kamu kangen sama tante, butuh temen curhat, atau apalah."


"Pede banget, gue udah biasa kali hidup sendiri."


"Halahh, tinggal akuin doang, apa susahnya sih, gengsian banget jadi orang."


Ck!


Arthur berdecak, berdebat dengan tantenya memang selalu membuatnya kalah telak.


Hening, sesaat..


"Eh tan, gue mau minta saran dong," ucap Arthur, dengan kepala bersender di senderan sofa, sedangkan kedua kakinya ia naikan keatas meja.


"Tuh kan, butuh tante kan, makanya jangan sok jual mahal aelah."


Arthur mengacak rambutnya, "Ok ok, gue butuh lo tan, puas?"


"Nah kan ngaku juga." kekeh tante Anna.


"Jadi, kamu mau minta saran apa dari tante?" ucap tante Anna dengan gaya santainya.


"G-gue suka sama seorang cewek."


"Terus?"


"Tapi dia benci sama gue!"


Tante Anna menggerenyit, dan detik kemudian tertawa terbahak-bahak, sama sekali tak menyangka jika keponakan playboynya itu mendapat penolakan dari seorang perempuan.


Arthur mendesis, "Apanya yang lucu sih?"


"Jelas lucu lah, yang bener aja, si playboy tampan, bisa dapat penolakan juga ternyata."


"Gini ni kalau ngomong sama tante-tante, dapet saran kagak, di ejek iya." dengus Arthur.


"Yeee, ngambekan kamu mah."


"Coba, ceritain sama tante, kaya gimana sih seorang cewek yang udah bikin sang pangeran playboy jatuh cinta?".


.


Art



Arthur Reynald Al-tezza


__ADS_1


Adara Nashwa Larasati


__ADS_2