
Dara hampir saja terjungkal dari tangga, kalau saja tidak dipegangi oleh sang mama.
Sama sekali tidak terpikirkan bahwa tamu yang dimaksud mama adalah Arthur, siplayboy tampan yang sering mengganggunya akhir-akhir ini.
Dari kejauhan Ia terlihat seperti sedang berbicara sangat serius dengan sang papa, namun sesekali mereka juga tertawa, seperti ada hal yang lucu.
Yang membuat Dara kini merasa heran dan bertanya-tanya, entah apa yang dilakukan Arthur pada sang papa, hingga kini membuatnya seperti terhipnotis.
Ia menuruni anak tangga dengan sangat pelan disamping mama, demi apapun, rasanya saat ini ia ingin sekali pura-pura pingsan.
Sepanjang menuruni anak tangga, Dara Membelalakan matanya lebar-lebar, untuk memastikan bahwa ia benar-benar tidak salah lihat.
Dan ketika kini langkahnya semakin dekat, Dara menundukan wajahnya dengan perasaan takut, bercampur khawatir.
"Ra, sini duduk." ucap papa, menepuk sofa sebelah kirinya, yang repleks membuatnya mengangkat wajah, menatap sang papa bingung, raut wajah papa malam ini begitu santai dan tenang, tidak setegang dan segarang tadi pagi.
"Kamu kok nggak bilang sih, kalau yang semalam itu Arthur, anaknya pak Gibran Al-tezza."
"Hah?" hanya kata itu yang keluar dari mulut Dara, pasalnya saat ini ia benar-benar dibuat bingung, atas semua yang terjadi.
Sedangkan Arthur, sejak tadi ia tak berhenti untuk terus tersenyum.
"Jadi, nak Arthur ini anaknya Almarhum pak Gibran, sama Almarhum bu Nia ya, nggak nyangka ya pa, udah segede ini, ganteng lagi." ucap mama sembari tersenyum.
"Iya, tan." balasnya, yang terlihat tenang dan santai, dimata Dara.
"Ngomong-ngomong pak Firman bagai mana kabarnya?" lanjut papa.
Untuk sesaat Arthur hanya terdiam, "K-kakek hilang om," ucapnya kemudian.
"H-hilang, hilang bagai mana maksudnya?" papa Arga mencondongkan tubuhnya pada Arthur, untuk memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Benar om, kakek sudah menghilang sejak 5 tahun yang lalu."
"Sudah lapor polisi?"
"Sudah om, tapi sampai saat ini belum nemuin titik terang tentang keberadaan kakek."
Papa Arga mendadak gundah, mengusap kasar wajahnya, frustasi.
"Kok bisa ya?" gumamnya.
"Entahlah om."
Hening, sesaat..
"Oh iya Ra, katanya kamu sama Arthur pacaran?" papa menoleh kearah Dara yang wajahnya mendadak pias.
"Tapi Dara sama Ar_"
"Yasudah papa ijinin, kalau memang kalian pacaran, tapi ingat, jangan melampaui batasan," potong papa cepat, membuat Dara kini terperangah layaknya orang bo doh.
Sedangkan Arthur, jangan ditanya, perasaannya sekarang seperti apa, dilihat dari senyumnya pun sudah bisa di pastikan bahwa saat ini hatinya tengah berlompat kegirangan.
__ADS_1
"Om percaya sama kamu Ar, tolong jaga Dara buat om ya!"
Arthur mengangguk patuh, "Baik om!"
Arthur menoleh kearah Dara yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Yasudah kalian kalau mau ngobrol berdua silahkan, tapi ingat jangan terlalu larut ya." lanjut papa.
"Baik om, makasih banyak, kalau gitu saya pinjem Dara sebentar ya, om tante."
..
Dara melipat kedua tangannya didepan Dada, memperhatikan penampilan Arthur dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Malam ini laki-laki itu menggunakan atasan kaos putih polos yang di balut kemeja denim, dengan celana jeans yang warnanya senada dengan kemejanya, rambutnya ia sisir rapi keatas, sedangkan untuk alas kaki ia mengenakan sneakers abu-abu, yang membuat dirinya kini semakin terlihat err...
Ganteng parah!
"Kenapa sih dari tadi ngelihatin gue terus, gue ganteng ya?" ucapnya, mengedipkan sebelah mata.
"Apaan sih pede banget." repleks Dara memalingkan muka, menatap kesembarang arah, yang sialnya kini malah tak sengaja melihat 2 orang anak manusia yang sedang di landa cinta.
Arthur terkekeh, saat melihat kemana arah pandang Dara tertuju, "Lo mau nyoba kaya mereka,?" ucapnya yang membuat Dara tersentak kaget.
"Apaan sih!" desisnya.
"Disini tuh yang kek gituan udah biasa Ra," Arthur menarik tubuh mungil Dara agar duduk dikursi besi yang sedang didudukinya.
Saat ini keduanya sedang berada disebuah taman yang letaknya tidak jauh dari rumah Dara.
.
"Ar, lo ngomong apa sama bokap gue?" ucap Dara kemudian, yang memang masih penasaran, tentang apa yang dilakukan pemuda disampingnya hingga membuat sang papa begitu mudahnya mengatakan bahwa, sekarang ia diizinkan pacaran dengannya.
"Gue nggak bilang apa-apa." Arthur menggidikan bahunya acuh.
"Bohong!"
"Serius sayang."
Deg!
Ia kembali memalingkan wajah, rasanya tubuhnya selalu mendadak panas jika Arthur mengucapkan kata sayang padanya.
"Tapi kok bisa papa ngizinin elo buat deket sama gue?" lanjut Dara kemudian.
"Bilang apa ih?" Dara terus mendesaknya, dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bokap lo kenal baik sama keluarga gue, mungkin karena itu alesannya, bokap lo jadi ngizinin gue buat deketin lo."
"Masa sih?" Dara belum sepenuhnya percaya, ia yakin ada alasan lain yang coba Arthur sembunyikan darinya.
"Gue udah berjuang sampai sejauh ini, buat bisa deketin elo Ra, lo nggak punya inisiatif apa gitu, buat nyenengin hati gue?"
__ADS_1
"Apaan?" ucapnya polos.
"Cium gue!"
"Elo gila."
"Iya, gue gila Ra, karena elo."
"Buka hati lo sedikit aja buat gue Ra, gue janji bakal ngelakuin apapun yang lo suruh, asal izinin gue jadi pacar elo ya, please!" ucapnya dengan wajah memohon.
Kini Arthur berganti posisi, berlutut didepan Dara yang sedang duduk diatas kursi.
"Jadi pacar gue, mau ya?"
Dara menelan ludahnya susah payah, ia bingung harus menjawab apa, karena saat ini ia sendiri masih belum mengerti dengan perasaannya.
"Ar S-sorry G-gue_"
"Ok, nggak usah diterusin, lo bisa jawab besok lagi." potong Arthur, ia belum siap mendengar penolakan dari Dara, jadi ia memutuskan untuk tetap menunggu, berharap Dara berubah pikiran, dan menerima cintanya.
Dara terdiam, ia merasa sedikit bersalah pada Arthur, tetapi mau bagaimana lagi, karena ia sendiri belum yakin dengan perasaannya kini.
"Pakai ini Ra, biar nggak masuk angin!" Arthur memakaikan kemejanya pada Dara, yang sejak tadi terus menerus memeluk tubuhnya sendiri.
"Eh?" Dara terkesiap dengan sikap manis Arthur terhadapnya.
"Jangan di lepas, udara disini dingin!"
"Elo sendiri?"
"Gampang, gue kan masih pake kaos panjang."
Keduanya kini terdiam, membiarkan hening kembali mengambil alih.
Dan ditengah lamunannya, terlintas ucapan sang papa saat berada di ruang keluarga tadi.
"Ar, orang tua elo udah meninggal?"
Arthur bergeming.
"S-sorry, kalau pertanyaan Gue_"
"Iya Ra, mereka udah nggak ada, waktu gue masih berumur 10 tahun, mereka meninggal karena sebuah kecelakaan,"
"Ar?"
"Jangan merasa kasihan sama gue Ra." ucap Arthur dengan tatapan lurus kedepan.
"Sorry Ar, terus selama ini lo tinggal sama siapa?"
"Sendiri, tapi kadang tante gue sering datang, buat nengokin dan nemenin gue."
.
__ADS_1
.