POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 9. Pacaran?


__ADS_3

Hingga suara lirihan dari sang pria yang dipanggil 'Cel' mengalihkan pandangan padanya.


...


"Ekhem" suara dehaman dari papa Arlan membuat pria tersebut tersadar.


"Oh ya Cel, kamu belum kenalan kan. Acel ini Asha dan Asha ini om Acel temen om."


Ucap papa Arlan memperkenalkan mereka.


Asha berdiri kemudian mendekati pria yang bernama Acel dan papa Arlan berdiri.


Asha mengulurkan tangannya untuk menyalimi tangan Acel.


"Asha om." Ucap Asha


Dengan sedikit ragu Acel menerima uluran tangan Asha. Rasa hangat tercipta dihati Acel saat Asha menyentuh tangannya. Senyum tipis Asha kepadanya mengingatkan dia akan wanita yang dicintainya.


Asha mencoba melepas tangan Acel yang masih menjabat tangannya. Hingga tangan seseorang melapas tautan tangan Asha dan Acel dengan kasar.


"Udah tua masih aja suka yang muda" gumam Arlan dengan sedikit keras kemudian kembali ketempat duduknya diikuti Asha.


"Kalau ngomong sama yang tua itu sopan!" Ucap Cia - mama Arlan dengan tegas.


Arlan hanya mendengus dan bergumam.


"Aku berani bertaruh kalau orang tua Asha tidak akan menerima putra mu sebagai menantunya. Dilihat dari sikap dan sifatnya ini." Ucap Acel sembari duduk di kursi yang berada tepat didepan Asha.


"Aku yakin putra ku bisa meluluhkan hati orang tua Asha. Karna keturunan Megantara tidak pernah ditolak." Ucap papa Arlan dengan sombongnya.


"Benarkah? Bahkan sebelum Arlan kenal orang tua Asha . Anaknya sudah menolak putra mu." Ucap Acel tidak mau kalah.


"A-" ucapan papa Arlan terpotong oleh suara sang istri.


"Bisa kita mulai makan?! Anak-anak pasti lapar" ucap Cia galak.


Semua makan dengan teratur dan suasana hening.


...


Selepas makan malam semua orang berkumpul di ruang tamu. Kecuali Asha dan Cia.


"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot sayang, biar Tante aja." Ucap Cia lembut.


"Tidak papa Tante, selagi saya bisa membantu." Balas saya sopan.


"Oh ya gimana hubungan kamu sama Arlan?" Tanya Cia- sembari menyiapkan kue kecil ke piring.


"Ha? Mak-maksud Tante hubungan apa ya?" Asha balik bertanya dengan gugup.


"Tidak mungkin kamu dan Arlan tidak ada hubungan. Karena Arlan tidak pernah membawa teman perempuan nya kesini kecuali orang itu spesial." Jawab Cia.


"Se-" ucapan Asha terpotong oleh suara Arlan yang memasuki dapur.


"Mom dipanggil Daddy" Ucap Arlan kemudian berjalan mendekati Asha berdiri.


"Oke, Asha Tante minta tolong ini dimasukkan ke dalam toples ini ya." Ucap Cia berlalu pergi dengan membawa kue dan minuman setelah mendengar jawaban Asha.


"Lo sama nyokap gue lagi gibahin gue ya?" Tuduh Arlan kepada Asha.


"Iya! Dan kamu tau apa yang kita bicarakan?! Tante Cia mengira kita pacaran. A-" ucapan Asha terpotong oleh ucapan Arlan .


"Lalu masalahnya apa?" Tanya Arlan santai.


"What?! Kamu harus jelasin -"


"Gue nggak mau."


"Harus mau!"


"Apa yang gue dapet?"


Tanya Arlan dengan wajah tengil

__ADS_1


"K- " lagi lagi ucapan Asha terpotong tapi kini oleh suara dering hp miliknya.


"Bunda" lirih Asha kemudian sedikit menjauh dari Arlan.


"Assalamualaikum Bun." Ucap Asha.


"Wa'alaikumsalam. Kamu pergi keluar nak?" Ucap bunda Asha.


"I-iya Bun. Asha minta maaf nggak ijin bunda. Sebentar lagi Asha pulang Bun." Jawab Asha dengan nada cemas.


"Bunda tidak marah Asha. Hanya saja bunda khawatir. Kamu seorang gadis dan ini juga sudah malam." Ucap bunda Asha lembut.


"Asha minta maaf Bun. Asha akan segera pulang. Lalu..... Bagaimana keadaan nenek?" Ucap Asha.


"Sudah lebih baik. Kalau gitu bunda tutup dulu telfonnya. Hati-hati di jalan." Ucap bunda Asha lembut.


"Iya Bun. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam"


"Nyokap Lo marah?" Suara seseorang dibelakang Asha membuat Asha terkejut.


"Tidak. Dia hanya khawatir. Aku harus pulang." Jawab Asha datar.


"Gue anter." Ucap Arlan kemudian berlalu pergi terlebih dahulu.


Asha menghampiri para orang tua untuk berpamitan.


"Tante, om terimakasih untuk makan malamnya. Tapi Asha harus pulang sudah malam." Ucap Asha sedikit canggung.


"Ouw, apa harus secepat ini? Kenapa tidak menginap disini sayang?" Bujuk Cia


"Sudah malam Tante, besok Asha harus sekolah. Bunda juga mencari Asha." Jawab Asha menolak halus.


"Ya sudah hati-hati sayang. Besok main lagi ya kesini." Ucap Cia- mama Arlan.


Dengan senyum canggung Asha mengangguk kaku.


"Kamu pulang naik apa Sha?" Tanya Acel sedikit kaku karena berbicara lembut.


"Gue yang nganter Asha pulang. Kenapa mau nawarin ngater pulang?!" Ucap Arlan dengan kasar diakhir kalimat.


"Arlan!"  Ucap Apolo, Cia dan Asha bersamaan.


Arlan mendengus tidak suka saat melihat senyum mengejek dari Acel. Dengan kesal Arlan menarik tangan Asha keluar dari rumahnya.


Tanpa perasaan Arlan mendorong Asha ke bangku sebelah kemudi.


'auw'


Kemudian menutup pintu dengan keras dan ia berlari kecil menuju kursi kemudi.


"Kamu tuh apa-apaan sih?!" Ucap Asha marah karena merasakan punggungnya sakit.


Tanpa menjawab Arlan melaju'kan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Arlan?!" Teriak Asha karena Arlan tidak menurunkan kecepatan mobilnya.


Hingga tiba-tiba Arlan berhenti dijalan sepi yang tidak dilalui banyak orang.


Asha mengatur nafas karena ketakutan.


"Nggak. Nggak mungkin. Itu nggak boleh terjadi." Gumam Arlan tak jelas.


Asha menatap Arlan datar dengan nafas yg mulai teratur.


"Nggak!" Ucap Arlan kesal lalu memukul setir mobil.


"Kamu kenapa?" Tanya Asha datar.


Arlan diam. Pandangan nya beralih melihat Asha. Memperhatikan setiap inci wajah Asha. Wajah bulat, mata indah, hidung tidak mancung tidak pesek, bibir mungil bewarna pink alami, pipi chubby, kulit putih lembut.


Asha cantik, manis, imut, dan....

__ADS_1


"Sudah puas menatap ku?!" Tanya Asha dingin.


Tatapan matanya tajam menatap tepat dimanik mata milik Arlan.


Dengan gugup Arlan kembali melajukan mobilnya, kali ini dengan kecepatan sedang.


Asha memperbaiki posisi duduknya dengan melihat keluar jendela. Tidak ada lagi percakapan diantara mereka.


Hingga tiba di rumah Asha. Ia turun dari mobil Arlan, namun sebelum itu dia berterima kasih kepada Arlan. Selepas kepergian Asha. Arlan mengacak rambutnya frustasi.


"Ada apa dengan gue?! Kenapa gue nggak suka kalau Asha Deket dengan pria lain! Nggak. Ini nggak boleh terjadi. Masa iya gue suka sama tuh cewek dingin." Monolog Arlan lalu meninggalkan rumah Asha.


...


*Keesokan harinya


Pukul 06:15 Asha sudah duduk tenang membaca salah satu novel koleksinya.


Hingga satu persatu teman kelas Asha berdatangan.


"Asha?!" Suara lembut membahana milik satu satunya sahabat Asha membuat seisi kelas memandangnya, tapi tidak dengan Asha yang hanya diam.


"Sha, jawab pertanyaan gue!" Ucap Ana dengan ekspresi galak yang malah terlihat lucu.


Asha tersenyum kecil, dan hal itu membuat Ana bingung.


"Liat Lo ketawa. Apa ini karena kak Arlan?" Ucap Ana yang langsung mengubah mimik wajahnya menjadi datar.


"Apa hubungannya dengan Dia?!" Tanya Asha dengan nada tak suka.


"Sebelumnya kamu nggak pernah ketawa untuk hal-hal kecil. Aku sedang marah dan kau tertawa. Itu aneh. Apa yang dilakukan kak Arlan sama kamu? Apa Di-" ucapan Ana terhenti oleh suara gebrakan dimeja mereka.


Brak


"Jam berapa Lo disini?!" Tanya Arlan dengan wajah marah. Ya, orang yang menggebrak meja Asha dan Ana adalah Arlan dan disampingnya ada Zian.


Asha menatap Arlan datar lalu berdiri menghadap Arlan.


"Ada apa?" Tanya Asha santai.


"Lo tanya ada apa?! Gue nunggu Lo didepan rumah Lo setengah jam dan Lo ta-" ucapan Arlan terpotong oleh Asha.


"Kamu nggak bilang mau jemput aku. Jadi bukan salah ku."  Sela Asha santai.


"Seenggaknya jawab telfon gue. Kalau bukan karna tetangga Lo bilang Lo udah berangkat gue pasti masih nunggu Lo disana." Ucap Arlan masih tak terima.


"Hpnya aku mode diam." Jawab Asha


"Lo tau gue khawatir sama Lo. Gu-" ucapan Arlan terhenti saat ia sadar apa yang baru saja ia ucapkan.


Arlan melihat sekitarnya dan ia mendapati banyak tatapan dari orang-orang yang ada disana.


"Tunggu dulu. Lo tadi bilang kalau-" ucapan Zian dipotong oleh Arlan.


"Nggak. Gue nggak ngomong gitu. Gue nggak khawatir sama dia." Bantah Arlan.


"Tapi gue denger dengan jelas. Mungkin, nggak cuma gue." Balas Zian sembari melihat kesekelilingnya dan hal itu mendapat anggukan dari orang - orang disana.


"Apa yang gue lewat'in. Jangan bilang kalau kalian...." Ucap Zian menggantung kan kalimatnya.


"Bukan seperti yang kamu/Lo pikirin" jawab Arlan dan Asha bersama.


Asha dan Arlan saling pandang dengan ekspresi datar.


"Gue yakin ada sesuatu diantara kalian." Ucap Zian dengan memicingkan matanya curiga.


Semua menatap Arlan dan Asha yang saling pandang.


Tiba-tiba Asha melihat senyum miring dari Arlan. Asha sudah memiliki firasat buruk soal ini, hingga Arlan ber ucap


"Ya. Kita pacaran." Ucap Arlan tegas.


Disambut teriakan kaget dari semua orang dan tatapan tajam oleh Asha.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2