POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 8. Dinner Bareng Camer


__ADS_3

Pukul 18:55. Asha berjalan mondar-mandir didalam kamar. Ia sedang mencari alasan agar tak ikut acara makan malam di keluarga Arlan.


"Aku harus gimana? Bunda- " ucapan Asha terpotong oleh suara ketokan dipintu rumahnya.


Jantung Asha semakin menggila, detaknya sampai terdengar.


Dengan langkah ragu ia membuka pintu dan bernafas lega saat yang datang Mbak Ningsih tetangga Asha yang lebih tua tiga tahun dari Asha.


"M-Mbak Ningsih? Ada apa ya?" Tanya Asha sedikit gugup.


Mbak Ningsih mengernyit bingung dengan nada gugup Asha.


"Kamu nggak papa Sha?" Menghiraukan pertanyaan Asha mbak Ningsih malah kembali bertanya.


Sebelum Asha menjawab mobil Lamborghini Veneno warna merah mengkilap berhenti tepat didepan halaman rumah Asha.


Mbak Ningsih menatap bingung sedangkan Asha gugup tapi berekspresi datar.


Saat mesin mati dan pintu mobil terbuka menampakkan sosok tampan seorang prince dari keluarga Megantara.


Kaos hitam polos celana jeans sepatu sneaker Buscemi 100 MM Diamond. Sungguh fashionable sekali. Mbak Ningsih terpana oleh ketampanan seorang Arlan Megantara terlihat dari sorot matanya dan mulutnya yang terbuka.


Asha memutar bola matanya malas. Asha akui laki-laki itu tampan tapi tidak dengan sifat dan sikapnya yang semena-mena terhadap orang lain.


Degup jantung Asha semakin cepat seiring dengan langkah Arlan yang mendekat.


"Ayo!" Ucap Arlan tanpa basa basi setelah sampai dihadapan Asha yang menatapnya datar.


Mbak Ningsih berdeham agar dilirik Arlan, tapi yang didapat hanya lirikan malas dari laki-laki itu.


"Kamu mau kemana Sha? Ini udah malem lho." Ucap mbak Ningsih kepada Asha yang hanya diam. Mbak Ningsih khawatir sebab ia mendapat amanah dari bunda Asha agar menjaga putrinya dan tidak biasanya Asha keluar malam kalau tidak ada keperluan mendesak. Selama Asha tinggal disini, ia tidak pernah melihat gadis muda itu dekat dengan laki-laki.


"Mbak Ningsih ada perlu sama Asha?" Tanya Asha menghiraukan tatapan tajam yang Arlan berikan untuknya.


"Mbak, kesini buat ngecek kamu udah makan apa belum. Soalnya bunda kamu nitipin kamu sama mbak." Jawab mbak Ningsih.


"Kamu mau pergi?" Lanjut mbak Ningsih sembari malihat Arlan yang menatap Asha datar.


"I-ak- " ucapan Asha terpotong oleh ucapan Arlan.


"Saya mau mengajak Asha makan malam." Ucap Arlan lalu menggenggam tangan Asha.


"Kunci pintu rumah Lo!" Ucap Arlan datar.


Dengan menahan kesal Asha menghempaskan genggaman tangan Arlan padanya.


"Aku mau ganti baju dulu." Ucap Asha dengan nada datar.


"Ck. Dari tadi ngapain?! Gue udah bilang kalau bakal jemput Lo jam 7! Harusnya gue bawa langsung Lo aja tadi pulang sekolah. Jadi nggak lama!" Ucap Arlan kesal menghiraukan orang yang menatap perdebatan nya dengan Asha.


"Ash-" ucapan mbak Ningsih terhenti oleh nada dingin dari Arlan.


"Mbak udah liat Asha kan?! Dia baik-baik aja! Dia juga mau pergi sama saya. Jadi mbak nggak usah khawatir, saya yang jaga dia!" Ucap Arlan dingin dengan ekspresi datar.


"Kamu-" kini ucapan Asha terhenti kala Arlan menggeser tubuhnya dan mengunci pintu rumahnya setelah mengambil kunci yang tergantung di pintu bagian dalam.

__ADS_1


Selesai mengunci pintu Arlan menarik Asha dengan sedikit kasar. Meninggalkan mbak Ningsih yang menatap kepergian mereka dengan pandangan terkejut.


Apa tadi secara tidak langsung dia diusir dan dibentak?


'dasar bocah!' batin mbak Ningsih tidak terima. Kemudian beliau pergi meninggalkan rumah Asha.


...


Hening. Itulah suasana didalam mobil milik Arlan. Setelah tadi Arlan menyeret Asha dengan kasar Arlan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak peduli pada gadis yang duduk disebelah nya dengan raut wajah ketakutan yang ketara.


Arlan melirik sekilas lalu menurunkan kecepatan mobilnya. Hal itu membuat Asha bernafas lega dan raut wajahnya yang awalnya takut kini sedikit lega.


"Lain kali jangan buat gue kesel!" Ucap Arlan setelah lama diam.


Asha tak membalas atau pun melirik Arlan. Ia sibuk mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdegup kencang akibat ulah Arlan Megantara.


Ingin rasanya Asha berteriak tapi ia urungkan dan memilih diam.


Setelah menepuh perjalanan lumayan lama, kini mobil Arlan memasuki rumah mewah milik keluarga Megantara.


Saat sampai di halaman rumah, Arlan lebih dulu keluar dari mobil meninggalkan Asha yang masih berdiam diri didalam mobil.


Arlan yang melihat tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan keluar pun berdecak kesal, kemudian berjalan mendekati pintu mobil penumpang. Arlan membuka pintu dengan kesal.


"Lo mau mati didalem mobil?!" Ucap Arlan kesal.


Asha tak menjawab atau pun melihat Arlan, ia menatap kedepan melihat pintu utama rumah Arlan.


"Lo yang maksa gue!" Setelah mengucapkan itu Arlan melepas sabuk pengaman yang dipakai Asha, kemudian menggendong Asha seperti karung beras.


"Siapa suruh Lo mengabaikan gue!" Balas Arlan tetap melanjutkan langkahnya.


"Kak Arlan turunin! Kepala aku pusing." Ucap Asha .


Tanpa perasaan Arlan melempar tubuh Asha disofa ruang tamu milik keluarga Megantara.


"Auww!" Ringis Asha


"Lebay. Sofa gue empuk dan lembut nggak bakal sakit kalau Lo jatuh disitu." Ucap Arlan datar.


Tanpa menjawab Asha berdiri, melangkah pergi tapi ditahan oleh Arlan yang menatapnya datar.


Mereka saling tatap dengan ekspresi datar diwajah mereka.


Hingga suara lembut khas seorang ibu membuat aksi saling tatap mata itu terputus.


"Eh Asha sudah datang?" Tanya Cia- mama Arlan.


"I-iya Tante." Jawab Asha sedikit gugup. Ini alasan ia tak mau ikut acara makan malam dirumah Arlan. Suasana canggung yang harus ia hadapi, sekaligus takut jika bundanya tahu kalau dia keluar malam-malam tanpa ijin. Meskipun bunda Asha berada di Bandung tapi tidak menutup kemungkinan sang bunda tahu. Mbak Ningsih. Itu yang dipikirkan Asha.


Ekhem suara deheman dari mama Arlan membuat Asha tersadar dari lamunannya.


"Eh, ma-maaf ta-nte" ucap Asha gugup tapi tidak sesuai dengan ekpresi nya yang datar.


Mama Arlan tersenyum ramah, wajahnya yang sudah berusia terlihat cantik.

__ADS_1


Kemudian senyum ramah itu terganti senyum jail dan...... menggoda?


Asha menatap arah pandang dari mama Arlan.


Terkejut. Asha buru-buru melepas genggaman tangan Arlan yang masih menggenggam tangan nya sedari tadi.


Arlan yang awalnya diam sembari melamun menatap wajah Asha, tersadar saat Asha berusaha melepas genggaman mereka.


"Lepas dong Ar! Asha nggak mau nyebrang." Ucap mama Arlan dengan nada menggoda anaknya.


Dengan sedikit kasar Arlan melepas genggaman itu.


Kemudian Cia menggandeng tangan Asha untuk menuju ruang makan. Disana terlihat sosok foto copy Arlan versi tua.


Asha menghela nafas pelan saat sudah duduk disalah satu kursi diikuti oleh Arlan yang duduk disebelahnya.


Asha benci situasi yang membuat dirinya harus gugup dan canggung. Ia gadis yang susah bergaul, karena sejak kecil dia terlalu tertutup bahkan dengan bundanya sendiri. Ia mandiri.


"Malam." Suara bass dari arah ruang tengah membuat lamunan Asha buyar dan semua menatap sosok pria tua yang menyapa dengan suara dingin dan datar.


"Akhirnya kau datang juga." Ucap papa Arlan kemudian berdiri dan berpelukan ala pria.


Lagi-lagi Asha menghela nafas. Kenapa ia berada di situasi seperti ini.


Terdengar dengusan tak suka disebelah Asha, hal itu membuat Asha menoleh dan melihat raut wajah Arlan yang tidak bersahabat.


"Oh iya Cel, kenalin calon menantu ku." Ucap papa Arlan yang membuat Asha dan Arlan terkejut. Sedangkan orang tua Arlan tertawa geli sedangkan orang yang disebut 'Cel' oleh papa nya Arlan menaikkan alis.


"Daddy apaan sih!" Gerutu Arlan kesal.


"Kau serius?" Ucap pria itu


Hingga membuat semua mata menatapnya bingung.


Pria itu menghela nafas kasar lalu berkata


"Aku kira tidak ada yang mau sama bocah songong ini." Ucap pria itu santai.


"Hey, Pak tua! Asal kau tau aku itu banyak yang suka. Semua perempuan mengejar-" ucapan Arlan terpotong oleh suara datar disebelahnya.


"Aku tidak!" Ucap Asha datar.


Hal itu mendapat senyum geli dari para orang tua.


"So? Ternyata gadis ini sangat pintar." Ucap pria tersebut.


Arlan menatap Asha kesal, kemudian dengan percaya diri nya Dia berkata


"Ati-ati nanti Lo jatuh cinta lagi sama gue."


"Gimana kalau itu sebaliknya?" Balas Asha santai.


Para orang tua hanya diam menatap perdebatan kedua remaja tersebut.


Hingga suara lirihan dari sang pria yang dipanggil 'Cel' mengalihkan pandangan padanya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2