POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 12. Bunda Asha


__ADS_3

JANLUP VOTE AND KOMEN.


Semua warga School Cendrawasih berkumpul di lapangan untuk mengadakan penyambutan juara olimpiade matematika antar sekolah. Dengan cuaca sedikit mendung membuat siswa-siswi senang karena tidak kepanasan oleh teriknya matahari. Semua terdiam saat kepala sekolah menaiki podiom untuk memberi kata sambutan.


Meskipun terkenal dengan murid yang nakal. Siswa-siswi school Cendrawasih memiliki sopan santun yang tinggi terhadap guru yang telah memberi mereka ilmu.


"Assalamualaikum wr.wb.


Untuk bapak/ibu guru dan karyawan yang saya hormati dan untuk anak-anak ku yang saya banggakan. Telah diketahui bahwa sekolah kita mengikuti lomba olimpiade matematika antar sekolah. Menurut informasi yang akurat dan dapat dipercaya mengatakan bahwa sekolah tercinta kita ini mendapat juara pertama untuk kesekian kalinya. " Ucap kepala sekolah kemudian diikuti tepuk tangan dari semuanya.


Disisi lain Ana dan Dito mencari keberadaan sahabat mereka yang dari kemarin tidak ada kabar sama sekali.


"Dit, ko gue nggak liat Asha ya?" Ucap Ana celingukan mencari keberadaan Asha.


Hingga tepukan dipundak Ana membuat nya terkejut.


"Dimana Asha?" Pertanyaan dengan nada datar itu meluncur santai dari mulut Arlan.


"N-ngak tau kak, ini kita juga lagi nyari. Dari kemarin nomornya tidak bisa dihubungi." Jawab Ana dengan sedikit gugub.


"Bukan kah kal.." ucapan Arlan terpotong oleh suara kepala sekolah.


"Sebelum kita menyambut juara olimpiade matematika sekolah kita. Saya ingin menyampaikan kabar duka. Kemarin siang nenek dari teman kalian Asha Kavilla meninggal dunia." Ucap kepala sekolah.


Semua terdiam dengan berbagai ekspresi. Ada yang biasa saja, ada juga yang menunjukkan ekspresi sedih.


Ana, Dito, dan Arlan yang mendengar itu menampilkan raut wajah terkejut.


Tanpa mendengar perkataan sang kepala sekolah Arlan pergi meninggalkan acara penyambutan tersebut. Sebelum pergi Arlan melangkah mendekati Denis yang berdiri di koridor dengan wajah sedikit gugup saat tau Arlan berjalan ke arahnya.


"Lo tau kan tempat tinggal Asha?!" Ucap Arlan dengan wajah datar dan nada sedikit emosi.


Hingga tepukan di pundak Arlan membuat Arlan menoleh.


Dapat Arlan lihat wajah pak Jogi guru killer itu menatap Arlan dengan wajah menahan amarahnya.


"Apa yang kamu la-" ucapan pak Jogi terpotong oleh suara dingin Arlan.


"Jangan ikut campur kali ini pak!" Ucap Arlan dengan nada rendah.


Ia masih menghormati gurunya.


"Kamu! Be-" Ucap pak Jogi geram.


Hingga Zian sahabat Arlan mendekat membisikkan sesuatu ke arah Arlan.


Arlan terdiam kemudian pergi setelahnya.


Pak Jogi memanggil Arlan namun diabaikan oleh sang pangeran Megantara.

__ADS_1


"Harusnya pak Jogi berterimakasih kepada saya." Ucap Zian mengalihkan pandangan pak Jogi dan Denis kepadanya.


"Jika Arlan tidak pergi maka bapak yang akan pergi ke rumah sakit." Lanjut Zian kemudian berlalu pergi menuju barisan murid lainnya.


Meninggal kan pak Jogi dan Denis yang menatap nya dengan pandangan berbeda.


Disisi lain Arlan melaju'kan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata menyalip mobil membuat pengemudi lain mengumpat karena kesal oleh tingkah Arlan.


Setelah 2 jam lebih melakukan perjalanan kini Arlan menghentikan mobilnya di depan rumah mewah dengan alamat yang diberikan Zian kepada.


Arlan masih belum keluar dari mobil dan masih menatap rumah mewah itu dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Hingga pandangan nya terpusat oleh seorang gadis yang ia kenal keluar dengan seorang laki-laki yang sedikit lebih tua 2-3 tahun dari Arlan.


Tangan Arlan terkepal saat melihat tangan Laki-laki itu merangkul gadis yang ia klaim sebagai kekasihnya.


Asha dan laki-laki itu keluar dari pekarangan rumah mewah itu berjalan kaki menuju rumah didepannya yang lebih sederhana. Arlan masih diam memantau kedua orang beda gender dan usia itu. Hingga amarah Arlan tidak bisa ditahan lagi saat melihat laki-laki itu memeluk dan mencium kening Asha dengan lembut.


Dengan emosi Arlan keluar dari mobil dan menghampiri Asha dan laki-laki tersebut kemudian.....


Bughh


Satu tinjuan dari Arlan membuat laki-laki itu tersungkur.


"Kak Mario?!" Teriak Asha melihat kakaknya tersungkur di tanah.


Saat akan mendekati Mario tangan Asha ditarik kasar oleh Arlan.


"Mau belain selingkuhan kamu?" Ucap Arlan dingin.


Asha menatap Arlan tak percaya.


"Asha? Di.." Belum selesai Mario berucap sudah disela oleh Arlan.


"Gue pacarnya Asha." Ucap Arlan dengan wajah datar dan sorot mata tajam.


Mario yang mendengar itu sedikit terkejut. Bukan apa-apa adek kecilnya ini tidak pernah bercerita tentang laki-laki kepada nya. Apa yang telah ia lewatkan? Itulah yang ada dibenak Mario saat ini.


Mario menghembuskan nafas dengan kasar lalu menatap Arlan dingin.


"Gue kakaknya Asha." Tiga kata terucap dari Mario membuat Arlan terkejut namun ia berusaha menutupi nya dengan raut wajah datar.


"Bagaimana kakak bisa disini? Dengan seragam sekolah?" Tanya Asha dengan Wajah datar.


Kini tatapan Arlan melembut saat melihat wajah kekasihnya yang terlihat ada mata panda dan kantung mata di wajah imutnya.


Tanpa aba-aba Arlan menarik Asha dan memeluknya dengan erat.


"Maaf tidak ada disamping kamu saat kamu lagi bersedih. Maaf in aku ya belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu" ucap Arlan lembut.

__ADS_1


Asha mengurai pelukan Arlan kemudian menatap Arlan dengan pandangan datar. Sedetik kemudian Arlan terkejut saat melihat senyum tulus pertama dari seorang gadis dingin. Kekasih nya tersenyum tulus kepadanya.


Senyum yang membuat hati Arlan menghangat membuat aliran darah Arlan bedesir hebat.


Tidak dapat dielak lagi. Seorang Arlan Megantara telah jatuh sejatuh jatuhnya kedalam pesona dingin seorang gadis es bernama Asha Kavilla.


"Asha nggak papa kak. Asha jauh lebih baik. Kakak nggak perlu minta maaf." Ucap Asha dengan nada lembut untuk pertama kalinya kepada Arlan.


"Ekhem.." suara deheman Mario mengalihkan perhatian Asha dan Arlan tidak suka itu. Ia mengumpat dalam hati atas kelakuan kakak dari kekasihnya itu.


"Asha?" Panggilan lembut khas seorang ibu terdengar membuat perhatian ketiga orang yang sedang berdiri dipinggir jalan beralih kepada wanita seumuran dengan mama Arlan.


"Bunda." Ucap Asha lembut.


Wanita yang dipanggil bunda mendekat dan melihat ada pemuda dengan seragam sekolah yang sama dengan seragam sang putri tersenyum hangat.


"Kamu temannya Asha ya?" Tanya bunda Asha dengan wajah ramah.


Arlan tersenyum lalu menyalimi tangan bunda Asha dan berkata


"iya Tante. Lebih tepat calon menantu Tante." Ucap Arlan di akhir di dalam hati.


"Kenapa temannya nggak disuruh masuk Sha? Ayo nak masuk kita ngobrol didalam." Ucap bunda kemudian menggandeng Arlan masuk ke dalam rumah sederhana nan nyaman.


Diikuti oleh Asha dan Mario. Dengan sengaja Mario merangkul Asha dan hal itu tidak lupat dari mata tajam Arlan.


"Oh ya nama kamu siapa?" Tanya bunda setelah menyuruh Arlan duduk di kursi ruang tamu.


"Arlan Tante." Ucap Arlan dengan ramah.


"Kamu teman sekelas nya Asha?" Tanya bunda kembali.


Arlan terdiam sejenak kemudian melihat Mario yang sedang sibuk memainkan ponsel dan Asha yang belum kembali dari dapur.


"Bukan Tante. Sebenarnya..... " Ucapan Arlan terhenti saat Mario dengan sengaja mmenyela.


"Bun..mama minta bunda buat ke rumah ada yang mau di bicarakan." Ucap Mario santai tanpa melihat perubahan wajah Arlan yang kesal.


Asha kembali dari dapur membawa tiga cangkir teh hangat, sepiring kue kering, dan sepiring buah pisang.


"Bunda mau kemana?" Tanya Asha saat melihat sang bunda berdiri.


"Bunda mau kerumah mama. Kata kak Mario mama mau bicara sama bunda." Ucap bunda kepada Asha.


Asha hanya mengangguk dan menatap Mario yang sedang bersitatap dingin dengan Arlan.


"Arlan?" Panggil bunda kepada Arlan.


Merasa namanya dipanggil Arlan menoleh dan melihat bunda dari sang kekasih dengan wajah ramah.

__ADS_1


"Bunda tinggal dulu ya." Ucap bunda yang dibalas Arlan dengan anggukan kepala dan senyum ramah.


Bersambung....


__ADS_2