POSESIF BOYFRIEND

POSESIF BOYFRIEND
Chapter 16. Sebuah Rasa Baru


__ADS_3

JANLUP VOTE AND KOMEN.


Senin pagi ini dimulai dengan cuaca yang mendung. Matahari bersembunyi di balik awan hitam. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Banyak orang mengeluh karena basah oleh air hujan yang turun di pagi hari menghambat aktivitas mereka. Tapi tidak dengan gadis berhoodie putih yang sedang duduk melamun di bangku perpustakaan.


Asha. Gadis dingin, cuek, dan berekspresi datar itu duduk termenung di perpustakaan sejak pukul 06:00 gadis itu sudah tiba di sekolah untuk menghindari sang bunda. Asha belum siap untuk berbicara dengan sang bunda. Rasa kecewa itu masih ada.


Asha menatap keluar jendela yang sudah basah oleh air hujan. Menghela nafas, Asha memejamkan mata untuk menenangkan hati nya.


Hingga elusan di rambutnya membuat Asha menengok kesamping nya. Disana berdiri laki-laki yang sudah memaksanya untuk menjadi pacarnya. Arlan.


"Jam berapa kamu disini?" Tanya Arlan lembut kemudian duduk di bangku samping Asha.


"Entalah." Jawab Asha kembali menatap jendela yang memperlihatkan pemandangan luar.


"Pulang sekolah ikut aku yuk?" Lagi  Arlan berbicara dengan lembut.


"Kemana?" Balas Asha sembari menatap Arlan datar.


"Ikut aja, aku jamin kamu pasti lebih baik nanti." Ucap Arlan dengan senyum manis.


"Kakak udah tau rupanya." Ucap Asha pelan sembari mengalihkan pandangan.


"Tau apa?" Tanya Arlan menatap Asha bingung.


"Kakak tadi jemput aku kan? Pasti bunda udah cerita ke kakak kan?" Tanya Asha tanpa melihat Arlan.


Arlan menghembuskan nafas panjang. Ya memang Arlan tadi menjemput Asha dan ia tau bahwa gadis ini dan ibunya sedang ada masalah. Tetapi Arlan tidak tau apa masalahnya. Tadi waktu Arlan menjemput Asha dirumah gadis itu yang ia temui bukan Asha melainkan Zia Bunda Asha.


...


*Flashback


Pukul 06: 30 Arlan sudah berada di rumah Asha. Sedikit berlari karena hujan Arlan mendekat ke rumah Asha.


Bajunya sedikit basah terkena air hujan.


Tok tok tok


"Assalamualaikum." Ucap Arlan


Dengan wajah sembab Zia membuka pintu dan sedikit terkejut saat melihat Arlan teman Asha datang.


"Eh, nak Arlan. Mau jemput Asha?" Tanya Zia sembari tersenyum.


Arlan mengangguk dan berkata 'Ya'. Arlan tau itu senyum paksa.


"Asha udah berangkat dari pagi. Dia nggak ngabarin kamu?" Tanya Zia.


"Emmm,  Arlan nggak ngecek hp Tante." Jawab Arlan dengan senyum tapi tidak dengan hatinya yang kesal akibat Asha tak menuruti perkataannya.


"Kalau begitu saya pamit Tante." Ucap Arlan sembari bersalaman dengan Zia.


"Arlan?" Panggil Zia sembari menahan tangan Arlan.


Arlan menatap Zia yang menunduk menahan tangis.


"Tante titip Asha ya. Jaga dia, dia pergi tanpa sarapan tadi." Ucap Zia lirih hingga satu air mata lolos keluar.


Arlan terkejut melihat bunda Asha menangis. Dia bingung apa yang harus ia lakukan?


"Tante kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Arlan sembari membawa tubuh Zia duduk di kursi yang ada di teras.

__ADS_1


"Tante..." Ucapan Zia terpotong oleh Isak tangisnya.


Tanpa pikir panjang Arlan masuk ke dalam rumah dan kembali dengan membawa segelas air minum untuk Zia.


"Tante minum dulu." Ucap Arlan lembut.


Zia meminum air yang dibawa Arlan dan berusaha untuk tidak menangis. Tapi hatinya sakit saat tau anaknya tak ingin berbicara dengan nya. Anaknya marah padanya.


"Tante membuat kesalahan besar pada Asha." Ucap Zia setelah sedikit tenang.


Zia tak banyak bercerita hanya meminta Arlan untuk menjaga Asha. Dengan senang hati Arlan akan melakukan itu bahkan tanpa disuruh pun Arlan akan melakukan nya.


* Flashback off


...


Suara deburan ombak masuk kedalam indra pendengaran Asha, angin pantai membuat rambut Asha yang digerai berterbangan. Asha melihat ke sekeliling mencari orang yang telah mengajaknya kesini. Hingga tatapan matanya jatuh pada sosok laki-laki yang datang dengan seragam sekolah dan kacamata hitam itu berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku tau aku ganteng." Ucap Arlan PD saat sampai di depan Asha yang menatap dirinya.


"Buat apa kamu ngajak aku kesini?" Tanya Asha menghiraukan ucapan Arlan tadi.


"Pengen menghibur pacar aku yang lagi sedih." Jawab Arlan lalu menarik Asha untuk mengikuti dirinya.


Arlan membawa Asha ke tebing yang ada di pantai tersebut.


"Kamu mau bunuh aku?" Tanya Asha asal saat tau kemana ia akan dibawa.


Arlan menyentil kening Asha dengan keras hal itu membuat Asha mengaduh.


"Kalau ngomong." Ucap Arlan.


Arlan menghela nafas dan menyingkirkan tangan Asha yang sedang mengelus kening.


"Sakit ya? Maaf ya.Makanya lain kali jangan bicara ngasal.Aku nggak suka." Ucap Arlan sembari melihat kening Asha dan meniupinya.


Asha diam tak menjawab tubuhnya kaku seperti patung saat jarak wajahnya dengan wajah Arlan sangat dekat.Jantung nya berdetak kencang akibat perilaku Arlan yang meniup kening nya.


Arlan menatap Asha yang sedang menatapnya juga. Mereka saling pandang dengan detak jantung yang berdetak tak karuan.


"Jantung gw kenapa pada disko anjir." batin Arlan.


"Jantung aku kenapa? Ko jedag jedug." Batin Asha yang masih fokus menatap mata Arlan.


Hingga tiba-tiba-


cup


satu ciuman mendarat dengan apik di kening Asha membuat tubuh gadis itu kaku tapi tidak dengan jantung nya yang berdetak kencang.


"Udah nggak sakit lagi kan?" Tanya Arlan dan tersenyum kecil saat melihat respon Asha yang menatap nya terkejut.


"Bernafas Asha." Ucap Arlan bercanda atau lebih tepatnya menggoda Asha.


Tawanya meledak saat melihat Asha menuruti perintah nya untuk bernafas.


Jadi dari tadi Asha menahan nafas.


"Nggak lucu." Ucap Asha datar saat tau dirinya ditertawakan.


"Maaf deh. Nggak lagi deh, habisnya kamu lucu banget sih." Ucap Arlan sembari mencubit pipi chubby Asha.

__ADS_1


"Arlan. Sakit." Teriak Asha sembari melepas tangan Arlan yang mencubit pipinya.


"Kamu gemesin" ucap Arlan gemas.


Tak disangka pipi chubby Asha memerah karena malu. Gadis dingin itu bisa bulshing juga rupanya.


"Cie yang bulshing cie." Ucap Arlan menggoda Asha yang malu tapi ekspresi nya datar.


Asha tak menjawab dan berlalu pergi tapi ditahan oleh Arlan. Arlan membawa Asha di tepi tebing yang menghadap pantai.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Arlan tiba-tiba membuat Asha terkejut dan menatap nya.


"Kamu coba deh." Ucap Arlan menyuruh Asha.


Asha menaikan sebelah alisnya tanda bertanya.


"Teriak kaya aku tadi." Jawab Arlan.


"Nggak mau." Ucap Asha menolak.


"Kata orang berteriak kayak tadi bisa bikin hati kamu lega dan ya. Aku membenarkan kata orang tersebut." Ucap Arlan sambil menatap pantai.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaa....aaaaaaaaaaaa....aaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Asha


Arlan tersenyum melihat Asha yang sedang mengatur nafas nya. Asha ikut menatap Arlan dan tersenyum tulus kepada Arlan membuat Arlan kembali terkejut. Senyum Asha masih sama, masih membuatnya diam-diam terpesona.


"Terimakasih..." Ucap Asha pada akhirnya.


Arlan tersenyum dan mengangguk. Mereka duduk di  tepi tebing menikmati indahnya sunset yang mulai tenggelam. Ini  pengalaman pertama untuk Asha.


Karena seumur hidup Asha baru pertama kali ini Asha menginjakan kaki di pantai dan berteriak seperti orang gila. Asha tertawa kecil mengingat apa yang baru saja ia lakukan. Arlan yang melihat Asha tertawa kecil terkejut.


"Kamu kenapa? Kesurupan setan pantai ya? Eh, setan keluar kamu! Ngapain masuk ke tubuh pacar saya?" Ucap Arlan menatap Asha takut-takut lebih tepatnya meledek.


Asha tertawa semakin kencang melihat tingkah dan ucapan konyol Arlan. Cowok kejam? Apakah iya cowok yang dibilang orang kejam bisa mengucapkan hal konyol. Tapi tunggu.


Kini Asha menatap Arlan datar dan malah membuat Arlan tertawa.


"Nyebelin." Ucap Asha kemudian membuang muka.


"Kamu marah? Aduh duh perut aku sakit." Ucap Arlan memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.


"Ko marah? Tadi aja ketawa?" Goda Arlan.


Asha diam tak menjawab, kemudian berdiri saat sunset sudah benar-benar tenggelam mengubah langit menjadi gelap. Arlan ikut berdiri disamping Asha.


"Makasih" Ucap Asha tanpa melihat Arlan.


"Makasih buat apa?" Tanya Arlan.


"Untuk semuanya." Jawab Asha lalu mengajak Arlan turun untuk pulang.


Arlan tak akan pernah lupa momen ini. Momen dimana gadis ice tertawa lepas oleh ucapan konyol nya. Wajah bahagia gadisnya yang pertama kali ia lihat.


"Terimakasih Ya Allah.." batin Arlan bahagia.


Tak jauh berbeda dengan Arlan, Asha juga sangat bahagia saat ini. Bebannya sedikit berkurang karena Arlan. Ia tak akan pernah melupakan momen ini.


Bersambung.........


Makasih udah mampir.

__ADS_1


__ADS_2